Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putriku Sayang!
Pagi harinya, Daniel terbangun dengan tubuh yang terasa seolah baru saja dilindas truk kontainer. Setiap inci kulitnya yang memar berdenyut mengikuti detak jantungnya, ia duduk di pinggiran kasur dan menatap tangannya yang gemetar bukan karena takut, tapi karena kelelahan fisik yang ekstrem.
Daniel memaksakan diri berdiri dan menyambar kaos dalam putih yang bersih meski tetap berbau apek deterjen murah, ia melangkah keluar ke area bengkel, sinar matahari pagi yang masuk melalui celah seng atap terasa seperti silet yang mengiris matanya.
"Bos, lo masih hidup?" Dandi menyapa tanpa dosa dari balik kap mobil pelanggan yang terbuka.
Dandi melihat wajah Daniel yang makin hancur dibanding semalam, satu matanya sedikit menyipit karena bengkak keunguan.
Daniel tidak menjawab, ia berjalan menuju keran air dan membasuh wajahnya dengan air dingin yang terasa menusuk luka-lukanya. Ia mengambil sebuah kunci torsi besar dan mulai bekerja pada mesin yang terbengkalai sejak kemarin, suara logam yang beradu menjadi satu-satunya pelarian yang ia miliki.
"El, lo nggak bisa terus-terusan kayak gini," ucap Dandi mendekat dan kali ini suaranya lebih serius, tanpa nada bercanda.
"Lo kerja kayak orang kesurupan, berantem kayak orang pengen mati. Kalau lo kayak gini terus, bisa-bisa orang bakal bicarain lo," ucap Dandi.
Daniel berhenti sejenak, napasnya memburu dan ia menatap Dandi dengan mata merah yang menyala. "Biarin mereka ngomong apa aja, gue nggak peduli," ucap Daniel.
"Gue peduli, El! Gue temen lo!" ucap Dandi membanting lap kotor ke lantai.
"Om Brian tadi datang dan dia nanya kabar lo, dia kelihatan sedih banget, dia ngerasa bersalah karena udah bikin hidup lo berantakan. Dia bilang Rachel bakal dikirim ke luar negeri sama Ibunya, mungkin Inggris atau ke Amerika. Sekali dia pergi, dia nggak bakal balik lagi ke tempat sampah ini," lanjut Dandi
Tangan Daniel yang sedang memegang kunci pas membeku, kata itu terasa begitu jauh, seolah menegaskan bahwa Rachel benar-benar akan menghilang dari dunianya untuk selamanya.
"Terus kenapa?" tanya Daniel parau, meski hatinya mencelos.
"Itu tempat dia yang sebenernya, bukan di sini," ucap Daniel.
Daniel kembali memutar baut dengan tenaga yang berlebihan hingga tangannya tergores pinggiran blok mesin yang tajam, d*r*h segar menetes di atas besi hitam yang berminyak, tapi ia bahkan tidak meringis, ia justru menatap tetesan darah itu dengan pandangan kosong.
Sepanjang siang ini, Daniel bergerak seperti robot. Ia tidak makan, hanya menenggak air putih dan menghisap rokok satu demi satu. Namun, setiap kali ia melihat sudut bengkel yang kosong, ia seolah melihat Rachel sedang berdiri di sana dan mengomelinya karena lukanya atau sekadar memperhatikannya bekerja dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu.
.
Sementara di lobi keberangkatan internasional yang tampak begitu gemerlap, Mommy Viona berdiri dengan anggun dan sesekali memeriksa jam tangannya yang bertahtakan berlian.
Di sampingnya, Rachel berdiri diam seperti patung, ia mengenakan coat wol panjang berwarna hitam, sebuah syal sutra melilit lehernya yang memberikan kesan elegan.
"London adalah panggungmu yang sebenarnya, Rachel. Di sana, kamu tidak hanya mengelola cabang, tapi kamu akan membangun citra baru, jangan mempermalukan Mommy. Kamu tidak boleh pulang sebelum mencapai keuntungan lebih besar 20 persen dari tahun sebelumnya," ucap Mommy Viona.
"Rachel, tahu. Dalam dua tahun, Rachel akan mendapatkan keuntungan yang Mommy maksud," ucap Rachel.
Mommy Viona tersenyum puas, sebuah senyum kemenangan yang tidak menyentuh matanya lalu ia mengelus pipi Rachel dengan ujung kukunya yang tajam.
"Bagus, ini baru putri Mommy," puji Mommy Viona.
Penerbangan menuju London terasa sangat panjang dan sunyi bagi Rachel, duduk di kelas bisnis yang mewah tidak mampu mengusir rasa hampa yang kian meluas di dadanya. Rachel menatap hamparan awan dari jendela kecil pesawat dan membayangkan jika di bawah sana, di sebuah tempat yang berdebu, ada seorang pria yang mungkin sedang mengumpat karena baut mesin yang keras kepala atau sekadar sedang menyesap kopi pahitnya.
"Apa sih Rachel, jangan mikirin dia lagi. Dia mungkin sudah bahagia dengan hidupnya," gumam Rachel.
...###...
Dua tahun kemudian, London sedang berada di puncak musim gugur. Angin dingin berhembus menyapu jalanan Regent Street, menerbangkan daun-daun kering yang berwarna kecokelatan. Di lantai atas sebuah gedung perkantoran bergaya Victoria yang telah direnovasi menjadi modern, Rachel berdiri menatap keramaian kota.
Penampilannya semakin elegan dan melambangkan perempuan dari kalangan atas, saat ini Rachel menjabat sebagai Direktur Operasional Trinity Beauty Eropa yang dikenal cantik, baik, ramah dan pintar dalam mengurus bisnisnya hingga ia berhasil mendapatkan keuntungan besar.
"Nona Rachel, laporan audit kuartal ketiga sudah siap. Keuntungan kita naik menjadi 35 persen, melampaui target yang ditetapkan Nyonya Viona," ucap Jeslyn, asisten pribadinya yang merupakan warga negara Inggris, sambil meletakkan map di meja kerja Rachel yang bersih.
"Bagus, kirimkan salinannya ke Jakarta sore ini. Aku ingin Ibuku tahu bahwa aku sudah memenuhi janji konyolnya," jawab Rachel datar tanpa menoleh.
Jeslyn mengangguk kecil, namun ia tetap berdiri di tempatnya dengan raut wajah yang sedikit ragu. "Sebenarnya, ada pesan tambahan dari Nyonya Viona, Nona. Beliau meminta Anda untuk segera mengatur jadwal kepulangan ke Jakarta minggu depan," ucap Jeslyn.
Rachel perlahan membalikkan tubuhnya, alisnya terangkat sedikit. "Pulang? Untuk apa? Bukankah kontrak ekspansi di Paris baru akan dimulai bulan depan?" tanya Rachel.
"Nyonya Viona mengatakan bahwa target dua tahun Anda sudah tercapai dengan sangat luar biasa. Beliau merasa sudah saatnya Anda kembali, mungkin Nyonya ingin Anda segera memimpin Trinity Beauty di Jakarta," ucap Jeslyn.
"Baik, siapkan penerbangannya, Jeslyn. Tapi jangan beri tahu Mommy jadwal pastinya, aku ingin datang tanpa ada kerumunan wartawan atau sambutan berlebihan," perintah Rachel.
"Baik," jawab Jeslyn.
.
Satu Minggu kemudian, udara Jakarta yang lembap dan padat menyambut Rachel begitu ia melangkah keluar dari terminal kedatangan internasional dan ia sengaja memilih penerbangan pagi hari untuk menghindari sorotan media yang biasanya sudah mengintai di bandara jika jadwal kepulangannya bocor.
Rachel melangkah anggun dengan kacamata hitam yang menutupi matanya yang kini tampak lebih lembut dan dewasa. Saat mobil jemputan memasuki halaman mansion megah milik keluarganya, Rachel menarik napas panjang. Tembok emas ini masih sama, namun ia merasa seperti orang asing yang sedang berkunjung.
Begitu pintu besar itu terbuka, Rachel tertegun. Mommy Viona berdiri di tengah lobi dengan gaun sutra berwarna champagne, wajahnya tidak lagi menampilkan ekspresi kaku yang menuntut. Sebaliknya, sebuah senyum lebar yang entah mengapa terasa sangat tidak natural bagi Rachel, mengembang di bibir Ibunya.
"Putriku sayang! Selamat datang di rumah!" seru Mommy Viona dan melangkah cepat dan langsung memeluk Rachel dengan erat.
Rachel membeku dalam pelukan itu, aroma parfum bunga lili yang sama masih ada, namun pelukan ini terasa begitu hangat, seolah-olah Mommy Viona adalah Ibu yang paling penyayang di dunia.
.
.
.
Bersambung.....
Semoga Mommy Viona segera tersingkir dari kehidupan mereka