Ini kisah berbagi cinta.
Amira menjatuhkan cintanya pada Gilwang seorang pria yang baru di pertemukannya saat hari pernikahannya. Tidak dengan Gilwang, tak menjatuhkan cintanya pada Amira, karena Gilwang sudah mempunyai kekasih yang berjanji akan menikahinya yaitu Anita.
Karena Gilwang orang yang pertama bisa membuatnya jatuh cinta, Amira akan tetap mempertahankan cintanya dan pernikahannya, meski Gilwang tak mencintainya. Bahkan Amira rela Gilwang menikah dengan kekasihnya asal tidak di ceraikan.
Apakah Amira akan tetap bertahan dengan pernikahannya setelah kehadiran Anita istri kedua yang ingin menjadi istri Gilwang satu-satunya?
Ikuti kisahnya hingga bab akhir. Jadikan cerita ini favorit.
kasih like dan votenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon munasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Teringat masa kecil
Tiada henti Anita merintih kesakitan karena luka di kakinya. Gilwang sungguh dibuat bingung dan gusar merasakan sikap Anita. Dirinya saja baru reda dari syoknya, sekarang harus merasakan Anita yag merengek kesakitan seperti anak kecil. Membuatnya kupingnya terasa panas.
"Sakit sekali Gilwang kakiku...," rintih Anita entah yang keberapa kalinya.
"Kepalaku juga sakit sekali. Kenapa semua ini menimpaku. Kenapa tidak menimpa Amira," decak Anita.
"Sudahlah Anita. Sabar tenangkan dirimu nggak usah banyak mengeluh. Jangan bikin aku makin bingung," ucap Gilwang menenangkan Anita.
Kedua orang tua Anita sudah sampai di ruangannya. Neni ibunya Anita berteriak histeris saat mendapati kaki dan kepala Anak tercintanya di perban.
"Ya Allah, kenapa keadaanmu jadi seperti ini. Apa yag sebenarnya terjadi Anita. Kenapa ada luka di kepala dan di kaki?" Tanya Nei histeris
Neni mendekat ke arah Anita yang berbaring, tangannya meraba seluruh tubuh Anita.
Rintihan Anita semqkin ri tunjukjan pada Ayah dan Ibunya.
"Ibu ini sakit sekali." Anita mengeluh pada ibunya.
"Ibu ngerti sayang ini pasti sakit sekali."
"Harusnya kamu hati-hati Anita, di dapur saja sampai kecelakaan parah seperti ini. Kapan kamu akan dewasa tidak manja seperti itu," cetus Ayah Anita.
Anita tertegun mendengar ucapan Ayahnya. Ayah yang selalu menegaskan pada Anita untuk menjadi dewasa dan mandiri bisa membantu membagkitkan perusahaan Ayahnya yag bangkrut. Tapi tak ada yang bisa diadalkan dari dirinya yang suka hidup semaunya sendiri dan foya-foya.
"Tenang sayang jangan mengeluh pasti sembuh kok lukamu," imbuh Neni.
"Ya harus sembuh dong, aku nggak mau kesakitan terus Bu dan nggak mau di sini."
"Gilwang pokoknya kamu harus cari dokter yang hebat supaya aku cepat sembuh," pinta Anita pada Gilwang.
"Iya sayang, iya," jawab Gilwang memyanggupi permintaan Anita.
Sudah ada kedua orang tua Anita, Gilwang akan keluar cari makan, karena perutnya terasa keroncongan. Sejak kecelakaan Anita tadi pagi Gilwang belum sempat sarapan.
Saat keluar dari ruangan Anita, Gilwang mengamati baju yang ia kenakan. Gilwang melihat bajunya terkena darah Anita.
"Hah darah!"
Seketika Gilwang kembali takut melihat darah. Namun dia mencoba meredamnya dengan mengingat ucapan Amira, kalau darah itu seperti air yang berwarna merah.
"Kamu nggak boleh takut Gilwang. Ini hanya air yang berwarna merah," tegasnya menenangkan dirinya.
Tidak mungkin Gilwang akan makan di tempat umum dengan baju yang bersimbah darah. Akhirnya Gilwang tidak jadi cari makan diluar, dia memilih akan pulang saja membersihkan diri.
Gilwang menuju tempat parkir dan mengemudi mobilnya yang akan membawanya pulang ke rumah. Mobil mukai melaju menbelah jakanan ramai karena hari sudah siang.
Sembari megemudi Gilwang mengingat saat dalam dekapan Amira dia begitu tenang sangat menyentuh dan tak ingin melepaskannya.
Tak kusangka orang yang aku benci begitu menenangkan hatiku dalam menghadapi ketakutan yang hebat
Gilwang seperti ingin merasakan lagi pelukan Amira yang menenangkan hatinya.
Gilwang kembali mengingat lagi masa kecilnya dia pernah merasakan hal yang sama ketakutan melihat darah dari salah satu temannya yang terluka karena terjatuh.
Seseorang memberikan pelukan yang menenangkannya dan mengatakan hal yang sama seperti yang di katakan Amira. Gilwang jadi bertanya-tanya dalam hatinya.
"Apakah gadis kecil yang dulu menenangkanku dalam ketakutan adalah Amira?"
Gilwang sungguh penasaran, ingin rasanya cepat sampai di rumah dan menanyakan semuanya pada Amira.
Gilwang melajukan mobilnya supaya cepat sampai ke rumah.
Dan benar hanya dalam beberapa menit Gilwang sampai di rumahnya.
Gilwang segera keluar dari dalam mobil dan akan masuk kedalam rumah.
Baru sampai di depan pintu rumah, Gilwang mencium aroma masakan yang menggugah selera.
"Hem..., bau masakan ini lagi. Ini persis masakan ibuku," ucap Gilwang membuka pintu sembari menikmati aroma masakan.
"Apakah Amira sedang memasak. Wah.., tepat sekali perutku sangat lapar."
Dengan penuh rasa gembira Gilwang melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Dan benar Gilwang mendapati Amira tengah sibuk mengaduk masakannya yang masih belum matang di atas kompor.
Amira memasak untuk sarapan sekaligus makan siang, karena sekarang sudah siang, namun Amira belum sarapan pagi. Perut Amira yang keroncongan tak sabar ingin menikmati masakanya yang hampir matang.
"Hem.., enak sekali aroma masakanmu Amira."
Gilwang menciumi bau masakan Amira yag berdiri tepat dibelakang Amira.
Amira reflek menengok kebelakang. Ucapan Gilwang yang tiba-tiba membuat Amira sangat terkejut yang tak tau kedatangan Gilwang.
"Gilwang!!"
"kapan kamu pulang?"
"Baru saja," jawab Gilwang.
Amira meninggalkan masakannya lalu mendekati Gilwang meraih tangannya dan mencium punggung tangannya.
Gilwang sedikit terpaku melihat sikap Amira yang mencium tangannya. Membuat Amira kembali takut dan teringat kemarahan Gilwang saat dia mencium tangannya.
"Maaf aku lancang," ucap Amira takut Gilwang marah.
Namun kali ini Gilwang tidak memarahi Amira yang mencium punggung tangannya. Gilwang malah tersenyum sumringah, ketampanan wajahnya semqkin terlihat membuat Amira ikut tersenyum lega karena Gilwang tidak marah padanya.
"Ya Allah bajumu terkena darah!" Amira terkejut saat melihat baju Gilwang bersimbah darah.
"Cepat kamu lepas baju itu, pasti tidak membuatmu nyaman." Amira merasa khawatir.
"Kenapa kamu khawatir melihat bajuku terkena darah. Tenang saja aku nggak papa kok. Ini hanyalah air yang berwarna merah yang menempel di bajuku. Itu kan katamu," tegas Gilwang.
"Oh iya, itu hanya air yang berwarna merah."
"Syukurlah kalau kamu sudah nggak takut lagi dengan darah." Amira merasa tenang.
"Ini berkat kamu Amira, Kamu yang sudah membuatku tidak takut lagi."
"Aku?" Amira sedikit tak percaya.
"Iya kamu?"
"Benarkah?" Tegas Amira.
"Iya benar!"
"Aku tidak melakukan apa-apa Gilwang," tegas Amira.
Gilwang ingin menjelaskannya lebih detil, tiba-tiba saja tercium bau gosong dari masakan Amira.
"Bau apa ini? Seperti gosong," ucap Gilwang.
Amira teringqt dengan masakannya, dia berlari melihat masakannya.
"Ya gosong masakannya," keluh Amira.
Gilwang minta maaf pada Amira yang sudah mengganggunya memasak.
Amira megaskan oada Gilwang tidak papa hanya dia yang lalai.
Gilwang pamit akan membersihkan diri. Sedangkan Amira akan kembali memasak lagi karena masakannya tadi gosong.
"Huh! Aku harus mengulang memasak lagi, padahal tadi masakanku hampir tersaji," Gumam Amira sembari memulai meracik bumbu lagi.
"Nggak papa lah memasak lagi demi Mas Gilwang yang sudah bersikap manis padaku dan menganggapku sebagai orang yang sudah membuatnya tenang tidak takut lagi dengan darah," gumam Amira lagi sembari mengulas senyumnya berulang-ulang.
Saat didalam kamarnya Gilwang baru teringat ingin menanyakan tentang gadis kecil yang sudah menolongnya dulu pada Amira.
Gilwang ingin kembali menemui Amira di dapur namun langkahnya terhenti takut mengganggu Amira memasak nanti bisa gosong lagi dan nggak jadi ngisi perut yang sudah membuncah rasa laparnya.