NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 19: Membela Diri di Depan Valerie

Langkah kaki Gisella menuju ruang makan terasa sedikit mengambang.

Sisa-sisa kehangatan dari telapak tangan Adrian yang sempat membingkai wajahnya seolah masih tertinggal, membakar permukaan kulitnya dengan sensasi yang mendebarkan.

Namun, begitu dia melewati pilar pembatas dan memasuki ruang makan yang berisikan meja kayu panjang berukir, realitas kembali menghantamnya.

Di sana, di bawah pendar lampu gantung porselen yang mewah, Nyonya Arthur sudah duduk dengan anggun, sementara Valerie duduk di sebelahnya dengan tatapan mata yang tidak lepas dari pintu masuk.

Wajah gadis muda itu masih menyiratkan kecanggungan yang jelas setelah tidak sengaja memergoki momen intim antara kakaknya dan Gisella beberapa menit lalu.

Gisella mengambil napas dalam-dalam, mengembalikan topeng ketenangan humasnya, dan mengambil tempat duduk di sisi kiri meja—posisi yang biasa dia tempati.

Tak lama kemudian, Adrian menyusul.

Pria itu sudah kembali mengenakan topeng formalnya yang kaku, meskipun ada sedikit riak yang berbeda pada tatapan matanya saat dia melirik Gisella sebelum duduk di kepala meja.

Makan malam berlangsung dalam keheningan yang sedikit tidak biasa.

 Menu malam ini adalah sisa sup tomat basil dari siang hari yang dihangatkan kembali, ditambah dengan tumis sayuran hijau tanpa minyak yang disiapkan Bibi Martha di bawah instruksi tertulis Gisella.

Nyonya Arthur menyeka bibirnya dengan serbet kain setelah beberapa suapan.

"Adrian, Valerie... Ibu mendengar dari pelayan bahwa kalian pulang bersama sore ini dengan wajah yang agak pucat. Apakah ada masalah di universitas?"

Adrian meletakkan sendoknya dengan gerakan yang presisi.

"Tidak ada masalah di universitas, Ibu. Hanya saja... jalanan kota hari ini agak padat karena ada pengalihan arus lalu lintas."

Valerie melirik kakaknya, lalu beralih menatap Gisella yang sedang memotong sayurannya dengan tenang.

Rasa ingin tahu dan kecurigaan yang sempat mereda setelah insiden di taman kota dan kecelakaan truk kini kembali bergejolak di dalam dada mahasiswi seni itu.

Ditambah lagi dengan pemandangan di ruang tengah tadi—melihat Kak Adrian yang biasanya sedingin gunung es bersikap begitu intens dan protektif terhadap Gisella—membuat kepala Valerie dipenuhi ratusan pertanyaan.

Setelah Nyonya Arthur pamit terlebih dahulu ke paviliun belakang untuk meminum obat jantungnya, ruang makan hanya menyisakan tiga orang muda tersebut.

Ketegangan yang tertahan akhirnya pecah.

Valerie meletakkan garpunya dengan denting yang sengaja dibuat agak keras di atas piring porselen.

"Gisella."

Gisella mendongak, menatap adik iparnya dengan tenang.

"Ya, Valerie?"

"Aku tahu kau menyelamatkan kami dari kecelakaan maut tadi pagi dengan menyuruh kami lewat jalur pusat kota. Aku juga tahu kau pintar memasak sup ini," kata Valerie,

nadanya terdengar ketat, mencoba membangun kembali dinding pertahanannya yang sempat runtuh.

"Tapi aku tidak bisa mengabaikan apa yang kulihat di ruang tengah tadi. Trik apa lagi yang sedang kau mainkan pada Kak Adrian?"

Adrian mengernyitkan dahi di balik kacamatanya, bersiap untuk menegur adiknya.

"Valerie, jaga bicaramu—"

"Tidak apa-apa, Adrian. Biarkan dia bicara,"

potong Gisella lembut namun tegas, menahan intervensi Adrian dengan lambaian tangan kecil.

Dia menatap Valerie lurus-lurus, tanpa ada kilat kemarahan atau ketakutan di matanya.

"Trik apa yang kau maksud, Valerie? Jelaskan padaku agar tidak ada kesalahpahaman."

Valerie menopang kedua tangannya di atas meja, memajukan tubuhnya dengan ekspresi menuntut.

"Kau berubah terlalu tiba-tiba! Enam bulan ini kau memperlakukan Kak Adrian seperti pajangan yang tidak berharga. Kau terus-menerus meminta uang, pergi berbelanja dengan teman-teman sosialita mu, dan selalu membela Julian di depan kami. Sekarang, setelah kepalamu terbentur, kau tiba-tiba menjadi menantu ideal. Kau mengatur diet Kak Adrian, bermain piano dengan sangat anggun, dan bertingkah seolah kau adalah wanita paling tulus di dunia ini!"

Suara Valerie sedikit bergetar oleh emosi.

"Bagiku, ini semua terlihat seperti sebuah strategi baru. Kau tahu Kak Adrian sedang berada di puncak riset besarnya yang bernilai jutaan dolar. Apakah kau sedang mencoba membuat Kak Adrian jatuh cinta padamu, membatalkan perceraian tiga puluh hari itu, lalu merebut seluruh aset keluarga Arthur setelah risetnya sukses? Jawab aku, Gisella!"

Mendengar tuduhan yang begitu blak-blakan dan tersusun rapi dari sudut pandang seorang adik yang protektif, Gisella tidak marah.

Sebaliknya, dia justru merasa kagum pada kepintaran Valerie dalam menganalisis risiko, meskipun landasan analisisnya salah sasaran.

Gisella menyandarkan punggungnya pada kursi kayu, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Valerie dengan pandangan mata seorang wanita dewasa yang sedang membela diri dengan wibawa penuh.

"Analisis yang sangat menarik, Valerie. Jika aku berada di posisimu, aku mungkin akan mencurigai hal yang sama,"

buka Gisella, suaranya terdengar jernih dan tenang, mendominasi ruang makan.

"Tapi mari kita bedah argumenmu dengan logika sederhana. Pertama, tentang draf perceraian. Jika tujuanku adalah merebut aset Kakakmu melalui pernikahan, mengapa aku yang pertama kali mengajukan draf cerai itu di rumah sakit? Mengapa aku menetapkan batas waktu tiga puluh hari yang sangat merugikan posisi finansialku menurut hukum pernikahan kita?"

Valerie tertegun, mulutnya sedikit terbuka namun tidak ada kata yang keluar.

"Kedua, tentang perubahan diriku,"

lanjut Gisella, matanya berkilat di bawah cahaya lampu.

"Kau bilang aku bertingkah seolah-olah menjadi wanita paling tulus. Valerie, menjaga kesehatan kakakmu dengan mengatur makanannya dan meredakan stresnya dengan melodi piano bukanlah sebuah trik untuk merayu. Itu adalah bentuk pertanggungjawaban moral karena aku masih menyandang nama 'Nyonya Arthur' saat ini. Jika Kak Adrian jatuh sakit atau gagal dalam risetnya, reputasiku juga akan ikut hancur di mata publik. Apakah salah jika aku memilih untuk bersikap produktif dan berguna daripada terus menjadi beban di rumah ini?"

Gisella memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Valerie dengan binar mata yang melelehkan permusuhan.

"Dan ketiga, tentang membuat Kak Adrian jatuh cinta padaku... Valerie, kakakmu bukan pria bodoh ber-IQ rendah yang bisa dimanipulasi hanya dengan semangkuk sup tomat dan satu lagu Chopin. Dia adalah seorang ilmuwan senior. Jika aku sedang bermain sandiwara yang jahat di depan matanya, dia adalah orang pertama yang akan mendepakku keluar dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun uang."

Adrian yang duduk di kepala meja diam-diam menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang sangat samar.

Dia sangat menikmati bagaimana Gisella membela diri di depan adiknya—menggunakan logika, struktur argumen yang bersih, dan wibawa yang tidak bisa dibantah. Wanita ini benar-benar tahu cara mengendalikan situasi.

Valerie kehilangan seluruh kata-katanya.

Dinding pertahanan dan kecurigaan yang dia bangun dengan penuh emosi hancur berantakan oleh tiga poin pembelaan diri yang sangat rasional dari Gisella.

Dia menatap kakaknya, mencari dukungan, namun Kak Adrian hanya menatap Gisella dengan binar mata yang sarat akan rasa takjub dan persetujuan implisit.

"Tapi... tapi kau benar-benar berbeda dari Gisella yang dulu,"

gumam Valerie, suaranya kini melunak, kehilangan seluruh taring permusuhannya.

"Gisella yang dulu tidak akan pernah sudi memijat kakiku yang kram di taman, atau berbicara tentang literatur dengan Nyonya Eleanor."

Gisella mengembuskan napas lembut.

Dia mengulurkan tangan kanannya di atas meja, perlahan menyentuh punggung tangan Valerie yang masih mengepal.

Sentuhan hangat itu seketika membuat Valerie tersentak kecil namun tidak menarik tangannya menjauh.

"Manusia bisa berubah setelah menghadapi titik balik dalam hidupnya, Valerie. Benturan di kepala kemarin membuatku menyadari betapa sia-sianya hidupku yang dulu,"

ucap Gisella dengan nada suara yang sangat tulus, mata cokelatnya memancarkan kejujuran yang murni.

"Aku tidak meminta dirimu untuk langsung memercayai atau menyukaiku dalam satu malam. Tapi setidaknya, beri aku kesempatan untuk menyelesaikan sisa waktu tiga minggu ini di rumah ini sebagai seorang kakak ipar yang bisa kau andalkan, bukan sebagai musuh."

Mendengar kata "kakak ipar yang bisa kau andalkan", benteng gengsi terakhir di dalam hati Valerie runtuh sepenuhnya.

Gadis muda itu mengalihkan pandangannya ke samping, wajahnya merona merah muda karena malu sekaligus haru.

"T-terserah kau saja..."

 gumam Valerie pelan, menarik tangannya dari jangkauan Gisella dengan canggung, lalu bangkit berdiri dari kursi.

 "Aku sudah selesai makan. Aku mau ke kamar untuk mengerjakan tugas kuliah."

Valerie setengah berlari meninggalkan ruang makan, namun kali ini langkah kakinya tidak lagi menghentak kasar karena marah, melainkan karena rasa malu yang manis.

Setelah pintu ruang makan tertutup kembali, keheningan malam menyisakan Gisella dan Adrian berdua.

Gisella mengembuskan napas lega yang panjang, menyandarkan kepalanya ke belakang kursi dengan letih.

"Membela diri di depan adikmu ternyata jauh lebih menguras energi daripada menghadapi krisis komunikasi korporat."

Adrian terkekeh rendah, sebuah suara tawa bariton yang sangat seksi di telinga Gisella.

Pria itu berdiri dari kursinya, melangkah mendekat, lalu berdiri tepat di belakang kursi Gisella.

 Dia menundukkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Gisella, membuat napas hangatnya kembali menggelitik kulit leher wanita itu.

"Pembelaan diri yang sangat luar biasa, Nyonya Arthur,"

bisik Adrian, suaranya sarat akan apresiasi yang mendalam.

"Kau berhasil menjinakkan Valerie dengan logikamu. Tapi ingat... poin ketiga tentang membuatku jatuh cinta... kau salah satu hal."

Gisella menoleh sedikit, membuat hidung mereka nyaris bersentuhan dalam jarak yang sangat intim.

"Salah dalam hal apa, Profesor?"

Adrian menatap lekat-lekat ke dalam manik mata cokelat Gisella, seulas senyuman tipis yang memikat terukir di bibirnya.

"Kau bilang aku tidak akan bisa dimanipulasi oleh semangkuk sup dan satu lagu Chopin. Faktanya... manipulasi menawanmu itu sudah bekerja terlalu baik sejak kemarin malam."

Setelah melemparkan kalimat yang kembali mengacaukan arah kompas detak jantung Gisella itu, Adrian menegakkan tubuhnya, berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan gaya angkuhnya yang menawan, meninggalkan Gisella yang kembali membeku di kursinya dengan wajah yang merona merah sempurna di bawah pendar lampu malam.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!