Kirania, gadis berusia 23 tahun, sedang merasakan kebahagiaan di mana dia akan menjadi seorang pengantin. menikah dengan seorang pemuda tampan dari keluarga wijaya grub. salah satu keluarga terkaya di indonesia. dia bernama Devano wijaya.
Namun kebagian nya hancur saat Kirania tahu kalo Devano menikahinya nya hanya untuk segera mendapatkan hak waris dari orang tuanya, dan lebih parah lagi, Devano ternyata memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Kirania yang tau hal itu masih berusaha untuk menerima semua itu, bukan harta yang ia kejar, tapi Devano adalah teman masa kecil nya yang lama pergi. Di tambahan Kirania sangat mencintai Devano.
📿📿📿📿
Seperti apa perjuangan kirania merebut hati suami nya dan bagai mana perjuangan nya untuk tetap bertahan dengan Devano yang memutuskan untuk menikah kembali dengan kekasih nya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Hebat! dirumah kamu terlihat istri yang lugu dan penyabar, tapi nyatanya...," ucap Devano dengan sinis.
"Devan?,"
"Mas Devano?!,"
Baik Kirania maupun Julian terkjut saat melihat Devano berada di sana, Kirania berniat bangkit namun ia melihat pakaian berserakan di lantai, ia pun mengurungkan niat nya.
"Mas, i-ini… ini tidak seperti yang kamu lihat, sungguh, Aku-"
" STOP!, Tidak perlu kamu jelaskan lagi, apa yang aku lihat sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?." menyela ucapan Kirania yang berniat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
" Aku mulai ragu, anak yang kamu kandung itu anakku atau bukan!," tegas Devano lagi.
" Tapi mas ini-,"
"Aku akan mengurus semuanya, dan setelah itu kamu bisa bebas melakukan apa yang kamu mau!" kembali menyesal ucapan Kirania dan pergi tanpa menunggu penjelasan Kirania.
"Mas tunggu mas, ini cuma salah paham, i-ini… ini tidak seperti yang kamu lihat!!," jelas Kirania, namun itu semua percuma, Devano pergi dan tidak lagi mau mendengarkan penjelasan Devano.
"Kiran, maaf-"
"Maaf!?, maaf untuk apa! ini semua salah kamu?, kenapa kamu menculik dan meniduri ku!!," tengas Kirania, menyela dan menyalahkan Julian.
"Kirani! aku sendiri tidak tahu kenapa ini semua terjadi, yang aku tahu kamu di culik dan di bawa ke hotel ini, aku…. aku berniat menolong mu tapi..."
" Maaf, aku gagal menolongmu dan malah ikut terjebak dalam permainan ini." jelas Julian sendu.
" Terjebak?, masud dokter ini semua jebakan dan ada seseorang yang merencanakan ini semua?"
"Benar, tapi aku tidak tahu siapa pelakunya."
Beralih ke Devano. Dengan perasaan yang kecewa Devano kembali dimension, setibanya disana dan dengan emosi yang masih menguasai nya Devano masuk kedalam kamar yang ditempati Kirania, meraih koper dan memasukan semua barang-barang kiran kedalam koper.
Nara yang melihat halitui bergegas mendatangi Devano dan mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Dev, ada apa?, kamu kenapa mengemas barang-barang embak Kiran?!"
" Jangan kamu sebut nama itu lagi dihadapanku!," bentak Devano.
" Tapi Dev-
ucapan Nara terhenti saat melihat Devano pergi dengan membawa koper dan tas yang berisi barang-barang Kirania, namun masih ada barang Kirania yang tertinggal yang berada di dalam laci paling bawah.
Devan menarik koper menuju pintu keluar dan melempar koper itu dengan keras, sehingga membuat isi dalam koper berhamburan keluar dan berantakan. Dan bertepatan itu pula Kirania datang dengan berlari dari arah gerbang.
" Mas! aku bisa jelaskan ini semua, ini cuma-
" Pergi!, dan jangan pernah kamu datang lagi ke rumahku, aku tidak mau lagi melihat wajah munafikmu itu lagi!," tegas Devano menyela ucapan Kirania.
" Mas! tolong dengarkan aku dulu, ini… ini tidak seperti yang kamu lihat!"Kirania masih mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
" Kau bilang pergi!," tegas Devano. " Pengawal!!, usir dia!!!," tegas Devano lagi. beberapa pengawal datang dan bersiap menarik paksa Kirania.
" Tidak perlu!," Tegas Kirania. "Baik!, aku kan pergi, aku akan pergi jauh darimu dan tidak akan kembali, aku harap kamu tidak menyesal dengan semua keputusanmu tanpa mendengar penjelasan ku. Mungkin ini semua yang aku lakukan sudah cukup membalas budi akan kebaikanmu dulu pada ku, dan aku berharap kamu tidak lagi kehilangan hak waris mu lagi!," tegas Kirania Dengan suara bergetar. kiran membuka tas kecilnya dan mengeluarkan kartu kredit yang diberi Devano untuk nya.
"Mas, terimakasih dengan apa yang sudah kamu beri untukku, dan terimakasih kamu sudah menepati janjimu pada ku." ucap kirania lagi, lalu pergi dengan membawa koper berisi barang bawaan dengan perasan hancur.
Devano yang masih diselimuti dengan amarah tidak memahami semua ucapan Kirania, di pergi begitu saja saat setelah melihat Kirania pergi.
"Dev, kamu yang sabar yah, ini bukan salah kamu, ini semua salah aku, coba saja ayah merestui kita, mungkin ini semua tidak akan terjadi." Nara mencoba menenangkan Devano yang kini sudah berada di dalam kamar yang ditempati Nara.
"Ini bukan salah kamu, jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri."
"Dev, aku mencintaimu," Nara memeluk Devano yang berdiri di pinggir jendela.
"Aku juga," Devano membalas pelukan Nara.
Kembali ke Kirania, dengan perasaan hancur dan derai air mata yang terus saja mengalir, Kirania berjalan menyusuri jalanan yang sangat sepi, jarang ada pengendara yang melintas.
"Berudu, aku harap kamu baik-baik saja tanpa aku, semoga Nara bisa mengurusmu dengan baik," Kirania masih saja mencemaskan Devano, bukanya mencemaskan dirinya yang yang belum tahu akan pergi dan tinggal di mana.
"Sayang, kamu jangan benci papa yah, dia tidak salah, ini cuma salah paham, dan papa sedang marah sama mama, nanti kalau papa sudah reda emosinya papa pasti jemput kita." berbicara pada anak yang masih didalam kandungan bahkan belum terlihat membuncit.
Tak lama sebuah mobil putih berhenti menghampiri Kirania.
"Kiran!" pengendara mobil itu turun dan ternyata itu adalah Julian.
"Julian?," Kirania menoleh ke arah Julian dan tak lama Kirania jatuh tak sadarkan diri. Julian berusaha menolong agar Kirania tak jatuh di atas aspal namun ia sedikit terlambat.
"Kiran bangun," Julian menepuk pelan pipi Kirania, Mata kiran perlahan terbuka, namun keadaan Kirania sangat lemah. " Aku akan membawamu ke rumah sakit, bertahan lah," Julian mapah Kirania dan memasukan ke dalam mobil nya.
Dalam perjalan, Julian berusaha menghubungi Indira namun ponselnya tak bisa di hubungi.
" Kemana ini orang, di saat seperti ini malah tidak aktif." omela Julian.
Setibanya di rumah sakit, dokter yang tadi pagi Kirania temui melihat Kirania dan Julian langsung menghampiri mereka.
" Dokter Julian, dia kenapa?,"
" Sepertinya karena dia stres, jadi pingsan lagi."
"Apa ini sudah sering terjadi?," masih terus mendorong brankar yang membawa Kirania masuk ke dalam UGD.
"Ini ketiga kalinya Dok. Tolong selamatkan dia dan bayinya Dok." pinta Julian.
"Aku akan berusaha, jadi berdoalah."
"Aku percaya dengan mu,"
Dokter wanita itu masuk kedalam IGD, dan dengan cemas Julian menunggu di depan ruang IGD.
Malam nya, Indira yang sudah bisa di hubungi langsung kembali dari luar kota dan pergi ke rumah sakit memastikan keadaan Kirania.
"Julian, di mana Kirania?" tanya Indira, yang melihat Julian berjalan di koridor rumah sakit.
"Dia masih di ruang IGD, di belum juga sadar."
"Memang apa yang sebenarnya terjadi,"
" Ceritanya panjang, dan terjadi begitu saja, aku sendiri masih syok dengan semua yang terjadi.
" Kenapa bisa kamu yang syok?,"
" Pastinya, tapi... " Kalian tidak tahu harus menceritakan ini semua atau tidak, Julian juga takut Indira akan salah paham padanya seperti Kirania dan Devano.
" Ceritakan saja apa masalah nya." desak Indira.
" Aku takut kamu akan salah paham juga padaku."
" Salah paham?, salah paham pada mu?, maksud nya?,"
" Aku ragu kamu percaya atau tidak dengan ku, apalagi kita belum lama kenal, Tapi percayalah semua yang aku katakan ini semua benar, bukan aku yang menculik Kirania dan Gaby,"
"Menculik?, Maksudnya apa?, cepat jelaskan padaku, jangan buat aku cemas seperti ini!" Desak Indiria yang tidak sabar mendengar apa yang sebenarnya terjadi.
salfok sama boneka kudanya kirania mirip kudanya J-HOPE BTS