Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Lampu meja berkulit kayu jati memancarkan temaram hangat yang serasa menyesakkan di dalam kamar utama milik Rafael. Ruangan luas yang berhiaskan perabot mewah itu kini menjelma menjadi penjara tak kasat mata bagi Freya. Udara terasa dingin dan menusuk kulit, namun atmosfer di sekitar mereka begitu pekat, sarat akan tekanan dan ketegangan yang meremukkan dada.
"Nghh... Papa, hentikan... sakit," rintih Freya, suaranya tercekat di dasar tenggorokan.
Kedua tangannya mencengkeram sprei abu-abu berteknologi tinggi di bawah tubuhnya dengan amat erat. Jemari mungilnya gemetar hebat, membiarkan kuku-kukunya menancap dalam-dalam ke dalam serat kain halus tersebut demi menyalurkan rasa sakit yang mengoyak batin dan harga dirinya. Setiap detik terasa bagaikan siksaan lambat yang merenggut bongkahan kebahagiaan yang tersisa dalam hidupnya.
Rafael tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membiarkan keheningan malam menyerap tangisan itu. Deru napasnya terdengar kian berat, hangat, dan memburu tepat di sisi telinga Freya, menciptakan kontras yang mengerikan dengan hawa dingin kamar tersebut.
Pria matang itu sepenuhnya dikuasai oleh gabungan mematikan: dorongan racun kimia perangsang yang membakar alur darahnya, dipadukan dengan dorongan emosi terlarang dan rasa kepemilikan yang selama ini terpendam rapat. Setiap detik yang berlalu di kamar sunyi itu seolah kian memanas, memekat, dan mencekam, mengikis seluruh akal sehat dan pertimbangan moral sang Tuan Besar.
"Bagaimana bisa Sean menyia-nyiakan wanita seindah dirimu, hm? Katakan padaku..." bisik Rafael parau.
Suara baritonnya yang serak dan penuh wibawa kini terdengar begitu menekan, bergema di antara dinding-dinding kamar yang bisu. Ia menunduk, menatap wajah Freya yang memerah padam, berhiaskan peluh dingin yang mulai bercucuran dari pelipisnya.
Tatapan Rafael dipenuhi badai emosi—perpaduan antara murka pada ketidakpedulian putranya, obsesi mendalam, dan keputusasaan yang dipicu oleh pengaruh obat.
"Kumohon... c-cukup, Papa..." Freya terus memohon, suaranya serak meliuk dalam keputusasaan.
Air matanya yang panas kembali luruh, menetes deras membasahi bantal sutra di bawah kepalanya. Isakannya yang tertahan menyuarakan penderitaan jiwa yang luar biasa.
"Ini salah... Ini tidak benar... Jangan lakukan ini lagi, Papa..."
"Sudah terlambat untuk berhenti, Freya," geram Rafael rendah, suaranya bergetar dengan ketegasan yang tak tergoyahkan.
Dengan gerakan mendominasi, Rafael meraih kedua tangan Freya yang ringkih, menguncinya rapat-rapat di atas kepala wanita itu hanya dengan menggunakan satu genggaman tangannya yang kokoh dan berurat.
Ia menahan setiap gerakan rontaan dan perlawanan dari menantunya tanpa kesulitan berarti. Pengaruh obat racun di tubuh Rafael berangsur-angsur menyatu dengan karakter dasarnya yang dominan, menciptakan dorongan yang meledak-ledak.
Ia bertindak tanpa memedulikan lagi rasa kemanusiaan, batas etik, maupun batasan norma yang selama ini memagari status mereka sebagai mertua dan menantu.
Freya memalingkan wajahnya ke samping, menolak menatap pria yang sedang menghancurkan hidupnya. Ia menggigit bibir bawahnya rapat-rapat hingga memutih dan terasa kebas, berjuang mati-matian mengunci suaranya di dalam tenggorokan.
Ia tidak ingin memberikan sedikit pun respons atau kepuasan emosional pada pria yang sedang menjajah eksistensi dan harga dirinya ini.
Namun, di tengah situasi kelam dan menakutkan itu, sebuah perasaan hampa yang teramat besar dan dingin mendadak menyeruak di dada Freya.
Air matanya terus mengalir tanpa henti, bukan lagi sekadar karena trauma fisik atas perlakuan kasar ini, melainkan karena rasa sakit yang merobek-robek hatinya.
Di dalam benaknya yang berkabut dan dipenuhi bayang-bayang ketakutan, bayangan wajah Sean—suaminya—tiba-tiba terlintas begitu jelas.
Seandainya... seandainya pria yang berada di depanku saat ini adalah suamiku... batin Freya menjerit pilu dalam kerinduan yang terabaikan.
Seandainya Sean yang memperlakukanku dengan kesungguhan dan fokus seratus persen seperti ini... seandainya Sean yang menatapku dengan tatapan memuja dan penuh intensitas begini, pasti aku akan menyerahkan seluruh jiwa, raga, dan cintaku tanpa sisa sedikit pun...
Pikiran itu membuat tangisnya kian pecah. Kenyataan bahwa ia harus mengalami intensitas perhatian seperti ini dari ayah mertuanya sendiri—bukan dari pria yang ia cintai dan nikahi—merupakan ironi paling kejam dalam hidupnya.
"Kau memikirkan pria lain, hm?"
Rafael, dengan kepekaan naluriahnya yang tajam, langsung menyadari kekosongan dan jarak di dalam tatapan mata Freya. Seringai tipis yang berbahaya dan dingin muncul di wajah matangnya yang tegas. Cemburu yang membakar hatinya kian tersulut mengetahui pikiran wanita itu melayang pada pria lain.
"Tatap aku, Freya! Aku yang berada di hadapanmu saat ini, bukan putraku! Pria yang kau pikirkan itu bahkan tidak pernah menganggapmu ada!" tekan Rafael dengan nada berwibawa yang menuntut ketaatan mutlak.
"Nghh!" Freya akhirnya memekik pelan ketika Rafael memaksa perhatiannya kembali terfokus sepenuhnya pada kehadiran pria itu di atasnya.
"Katakan, Freya... apa suamimu pernah memperlakukanku dengan intensitas seperti ini? Apakah dia pernah menatapmu seakan kau adalah satu-satunya hal penting di dunia ini? Tidak, kan?" cecar Rafael, menguliti kenyataan pahit hubungan pernikahan menantunya. "Pria berengsek itu bahkan tidak pernah peduli padamu. Dia meninggalkanmu yang sedang demam tinggi demi wanita lain di klub malam!"
"Hentikan... j-jangan bicara tentang Sean... kumohon jangan..." rintih Freya. Dadanya naik turun dengan cepat dan tidak beraturan, kewalahan menghadapi tekanan mental dan emosional bertubi-tubi dari ayah mertuanya. Kata-kata Rafael bagaikan sembilu yang menancap tepat di lukanya yang paling dalam.
"Kenapa? Kau sakit hati karena kenyataan itu?" Rafael tertawa rendah, suara parau yang terdengar sangat provokatif dan penuh penguasaan. Ia membungkuk rapat, menatap lurus ke dalam manik mata Freya yang basah. "Terima kenyataannya, Freya. Di dalam kamar ini, di atas ranjang ini... hanya ada kau dan aku. Tidak ada tempat untuk Sean."
Malam yang panjang dan mencekam itu akhirnya menjadi saksi bisu bagaimana sang Tuan Besar mendominasi penuh kehidupan menantunya yang selama ini terabaikan dan kesepian.
Di bawah temaram lampu yang kian redup, Freya hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan dirinya tenggelam dalam takdir pahit dan keputusan terlarang yang dipaksakan padanya, sementara jiwanya pelan-pelan membeku dalam kehampaan yang tak bertepi.
Pergulatan emosi, tekanan mental, dan penderitaan batin itu berlangsung begitu lama di bawah kungkungan Rafael yang tidak memberikan ampun sedikit pun. Didorong oleh efek racun kimia yang kian membakar dan rasa memiliki yang begitu pekat, Rafael terus memburu penyelesaian atas pergolakan di dalam dadanya.
Hingga akhirnya, pada titik puncak dari tindakan terlarang tersebut, Rafael meluapkan seluruh dorongan gairah dan emosinya yang tertahan.
Dengan satu helaan napas berat dan erangan yang menggelegar pelan di kamar sunyi itu, ia mengunci penyatuan terlarang mereka malam itu—sebuah tindakan berisiko tinggi yang mengikat takdir mereka bertiga dalam sebuah kesalahan besar yang tidak akan pernah bisa diperbaiki atau dihapus lagi seumur hidup mereka.
Ruangan itu kembali hening, menyisakan deru napas berat Rafael dan isakan samar Freya yang meratapi kehancuran harapannya di tengah kegelapan malam.
*
*
*