Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 3
Setelah perjalanan kurang lebih satu jam, BMW milik Riven melaju tenang memasuki kawasan Real Estate elite yang terkenal dengan jalan-jalannya yang lebar dan tertata rapi.
Tak lama kemudian, mobil itu mendekati sebuah gerbang besar yang terbuka secara otomatis. Riven sengaja menekan pedal gas sedikit lebih dalam, membuat suara mesin mengaum pelan sebagai tanda kepulangannya.
Kebiasaan itu begitu khas.
Dan hanya ada satu orang yang selalu mengenalinya sejak dulu.
Nana.
Begitu mendengar suara mesin mobil tersebut, Nana yang sedang sibuk mengaduk adonan brownies segera menghentikan pekerjaannya. Ia baru saja menyiapkan beberapa loyang brownies yang nantinya akan dibagikan ke panti asuhan langganannya.
Tanpa memedulikan mixer yang masih tergeletak di atas meja dapur, wanita tua itu buru-buru melangkah menuju pintu depan.
Kakinya yang mulai dipenuhi kerutan usia bergerak perlahan, namun hatinya berlari begitu cepat. Kerinduan yang selama ini ia pendam seakan tidak lagi bisa ditahan.
Begitu mobil masuk, hamparan halaman rumah yang luas membentang di hadapan Riven. Halaman itu hampir seluas lapangan sepak bola, bedanya memiliki jalan yang bisa di lewati dan setiap lahannya memiliki rumputa yang rapi dan terawat, sepanjang halaman pun dipenuhi pepohonan rindang yang telah tumbuh sejak puluhan tahun lalu.
Tak banyak yang berubah.
Rumah itu masih sama.
Pohon-pohon itu masih sama.
Namun bagi Riven, bertemu Nana adalah hal yang paling ia tunggu. Begitupun Nana, kepulangan sang cuculah yang membuat semuanya kembali terasa hidup.
Riven pun keluar dari mobilnya. Ia melepas kacamata hitam dan menatap ke arah rumah besar itu.
Senyuman tipis terukir di bibirnya.
Namun senyuman itu segera berubah menjadi luapan emosi yang sulit ia bendung ketika melihat sosok yang paling ia rindukan berdiri di depan pintu.
Nana.
Wanita tua itu berdiri dengan wajah penuh kebahagiaan. Senyuman hangat menghiasi bibirnya, sementara kedua matanya mulai berkaca-kaca.
Setetes air mata jatuh tanpa mampu ia tahan saat melihat cucunya berjalan mendekat.
“Riv…” panggil Nana lirih.
Hanya satu kata.
Namun cukup untuk membuat seluruh pertahanan Riven runtuh seketika.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Riven mempercepat langkahnya. Sesampainya di hadapan Nana, ia langsung merengkuh tubuh renta itu ke dalam pelukannya.
Pelukan yang telah lama ia rindukan.
Pelukan yang selalu mampu membuatnya merasa pulang, tak peduli sejauh apa ia pergi.
“Nana…” bisiknya serak.
Riven memeluk wanita tua itu erat-erat, seakan takut kehilangan lagi waktu yang telah berlalu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang hanya bisa diberikan oleh seorang nenek yang mencintainya tanpa syarat.
Dan di dalam pelukan itu, keduanya menangis.
Bukan karena kesedihan.
Melainkan karena rindu yang akhirnya menemukan tempat untuk pulang.
Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah.
Seperti yang selalu terjadi setiap kali Riven berkunjung, ia langsung mengambil tempat favoritnya di meja makan yang berada dekat dapur. Tempat itu seolah sudah menjadi miliknya sejak kecil. Dari sana, ia bisa menemani Nana beraktivitas sambil menikmati berbagai camilan dan makanan kesukaannya.
Sementara Nana kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur, Riven duduk dengan santai, memperhatikan wanita tua itu yang masih sibuk mengurus banyak hal meski usianya tak lagi muda.
Tak lama kemudian, Nana meletakkan sepiring spageti spesial di hadapan cucunya.
Aroma saus yang menggoda langsung memenuhi udara.
“Itu makanan favoritmu. Nana buat sendiri,” ucapnya dengan senyum hangat.
Riven tersenyum kecil.
“Terima kasih, Nana.”
Nana lalu menarik kursi di seberangnya sebelum menatap Riven penuh perhatian.
“Kenapa tidak pulang dulu ke rumah?” tanyanya lembut. “Oakley menelepon Nana tadi. Katanya kau bandel, padahal ibu mu sedang menunggumu.”
Sebelum Riven sempat menjawab, ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar.
Nama yang muncul di layar membuat sudut bibirnya terangkat. Ruby. Ruby sendiri adalah permata yang melambangkan kemakmuran, perlindungan, dan kemewahan. Dan permata itu adalah Elena Ruby Chamron. Adik perempuan kesayangannya.
Riven menghela napas pelan sebelum menggeser ikon hijau di layar tanpa mengangkat ponsel tersebut ke telinganya. Ia langsung mengaktifkan pengeras suara dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
Belum sempat ia menyapa, suara Elena sudah terdengar nyaring dari seberang sana.
“Riv! Jangan bilang kau kabur lagi ke rumah Nana!”
Suara gadis itu terdengar kesal, membuat Nana langsung terkekeh geli.
Sedangkan Riven hanya menggeleng sambil menusukkan garpu ke spagetinya.
“Terlambat. Aku sudah sampai.”
“Aku tahu!” seru Elena frustrasi. “Ayah marah karena kau bahkan belum pulang ke rumah setelah mendarat. Ibu juga sudah bertanya-tanya dari tadi.”
Riven hanya tersenyum tipis.
Di hadapan keluarganya yang lain, ia mungkin adalah pewaris keluarga Chamron yang sempurna.
Namun di hadapan Elena, ia tetaplah kakak laki-laki yang sering membuat adiknya gemas sekaligus kesal.
“Aku akan pulang besok pagi. Biarkan aku menikmati beberapa jam kebebasanku. Setelah aku pulang, aku akan kembali menjadi Riven, putra sulung Tuan Thomas Chamron,” kata Riven santai sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Kau mau mati?!” teriak Elena dari seberang telepon.
Riven meringis pelan, mendengar teriakan adiknya.
“Ruby… Ruby… Ruby…”
“Aku benci kalau kau memanggilku seperti itu!Aku bukan permatamu! Carilah kekasih dan panggil dia ruby mu!” pekik Elena. “Mana kimono yang kusuruh belikan?”
Riven menghela napas panjang.
“Kau ini benar-benar… Bukankah beberapa bulan lalu aku sudah membelikanmu satu set kimono dari Jepang?”
“Aku tidak suka memakai pakaian yang sama di acara lain!” bantah Elena tanpa merasa bersalah. “Kimono itu sudah pernah kupakai. Aku butuh yang baru!”
Riven memijat pelipisnya.
“Cepat pulang atau…”
“Jangan lakukan sesuatu yang aneh,” potong Riven dengan nada mengancam yang sudah terdengar sangat terbiasa.
Namun Elena justru terkekeh.
“Kalau begitu aku akan memakai salah satu kimono milikku, lalu pergi menggunakan BMW-mu yang ada di garasi. Aku mau menghadiri ulang tahun Saron bersama teman-temanku! Dress Code nya bertema Jepang!”
Mata Riven langsung membelalak.
“Jangan! Jangan pakai mob—”
Tut.
Sambungan telepon terputus begitu saja.
Riven menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum perlahan menurunkannya. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya ke udara dengan ekspresi pasrah yang sangat kentara.
“Nah, kan…”
Entah sudah berapa kali adik semata wayangnya itu merusak mobil-mobil miliknya.
Mulai dari baret kecil, velg penyok, spion patah, hingga insiden yang membuat satu sisi body mobil harus dicat ulang. Semua itu selalu berakhir dengan senyum manis Elena yang membuat siapa pun sulit benar-benar marah padanya.
Nana yang menyaksikan semuanya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Ia sudah terlalu mengenal cucu perempuannya itu.
Jika menyangkut Elena Ruby Chamron, larangan tidak pernah berarti larangan.
Justru sebaliknya.
Semakin keras seseorang melarangnya, semakin besar keinginannya untuk melakukannya.
Bagi Elena, larangan adalah tantangan.
Dan bagi keluarga Chamron, itu adalah awal dari masalah baru.
“Aku kasihan pada BMW-mu,” ujar Nana akhirnya.
Riven menoleh dan menghela napas panjang.
“Aku juga, Nana.”
Mendengar jawaban itu, Nana tak kuasa menahan tawanya. Sedangkan Riven hanya bisa menatap langit-langit rumah dengan pasrah, seolah sedang mendoakan keselamatan mobil kesayangannya.
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor