Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Batas Garis Merah
Bab 35: Batas Garis Merah
Ketegangan di arena pacuan kuda menyisakan kecurigaan yang semakin menebal di benak Adrian. Namun, riak konflik domestik itu terpaksa tenggelam ketika sebuah iringan mobil sedan hitam mewah antipeluru melintasi gerbang utama Mansion Dirgantara siang itu.
Hari ini adalah hari di mana struktur tertinggi klan akan diuji. Salah satu dewan tetua paling berpengaruh sekaligus pemimpin faksi konservatif dunia bawah, Gideon Dirgantara, datang berkunjung. Gideon adalah paman jauh Adrian—pria tua berwajah keriput dengan sorot mata sedingin reptil yang selalu menginginkan klan tetap bergerak di jalur perdagangan ilegal murni, menentang keras visi Adrian yang mulai membersihkan nama keluarga lewat jalur korporasi legal.
Dan yang paling krusial bagi Aline: berdasarkan data kriptografi Operasi Chrysalis yang ia pecahkan tadi pagi, sidik jari digital yang meloloskan perintah eksekusi mati terhadap Kak Rena bermuara langsung pada komputer privat milik Gideon.
Bajingan itu ada di sini, batin Aline, otot rahangnya mengetat di balik topeng lugunya saat melihat sosok Gideon turun dari mobil dengan tongkat berkepala perak.
Mata-Mata di Antara Cangkir Teh
Rapat darurat digelar di ruang privat lantai satu, sebuah ruangan kedap suara dengan penjagaan perimeter yang teramat ketat. Rendra dan pasukannya berdiri di luar pintu ganda dengan senjata lengkap. Tidak ada yang diizinkan masuk, kecuali pelayan yang ditunjuk untuk mengantarkan jamuan.
Di sinilah peran taktis si kembar kembali bermain.
Melalui manipulasi manifes tugas harian pelayan yang dilakukan Kenzo dari kamarnya, nama Aline tiba-tiba muncul di papan digital dapur sebagai pelayan khusus yang wajib mengantarkan teh Earl Grey kesukaan para tetua.
Aline melangkah menyusuri koridor dengan nampan perak di tangannya. Ia mengenakan seragam pelayan katun lamanya yang kedodoran, lengkap dengan kacamata bingkai emas tipisnya. Langkah kakinya canggung dan sedikit bergetar, menampilkan gestur pelayan kelas bawah yang ketakutan menghadapi para petinggi mafia.
"B-Permisi, Tuan Besar... Saya mau mengantarkan teh..." cicit Aline dengan logat desanya yang kental saat pintu ruang rapat dibuka oleh pengawal.
Adrian yang duduk di kepala meja panjang langsung menoleh. Sepasang mata elangnya menyipit tajam begitu melihat Aline yang masuk. Ada kilat ketidaksetujuan di matanya—Adrian tahu ruangan ini terlalu berbahaya untuk seorang "gadis desa polos"—namun ia tidak bisa membatalkan prosedur di depan Gideon tanpa memicu kecurigaan dewan tetua.
"Letakkan di meja dan segera keluar," perintah Adrian dingin, suaranya sarat akan proteksi tersembunyi.
"B-Baik, Tuan..."
Aline melangkah maju dengan kepala menunduk dalam-dalam. Dengan gerakan yang sengaja dibuat agak lambat dan canggung, ia meletakkan cangkir porselen satu per satu. Namun, di balik lensa kacamatanya, mata jernih Aline bergerak mikro. Ia tidak hanya melihat wajah-wajah di ruangan itu, tetapi juga dengan sengaja menjatuhkan sebuah audio-bug mikro berukuran sebesar sebutir pasir di bawah lipatan taplak meja beludru tepat di depan tempat duduk Gideon.
Begitu Aline berbalik dan melangkah keluar, pintu ganda tertutup rapat kembali. Aline segera berjalan menuju toilet pelayan yang sepi di ujung koridor, memasang earpiece mikro nirkabel di telinga kirinya, dan mulai mendengarkan transmisi suara dari dalam ruangan.
Suara berat dan serak Gideon terdengar melalui frekuensi radio yang terenkripsi:
"Adrian, kau terlalu lunak pasca-serangan di Gala tempo hari. Klan Valerius sudah menguasai jalur logistik pelabuhan utara karena kau menolak mengirimkan tim eksekutor. Jika kau tetap bersikeras membawa klan ini menjadi perusahaan legal murni, kami para dewan tetua tidak akan segan-segan mengambil alih takhta Dirgantara secara paksa malam ini juga."
Suara bariton Adrian menjawab dengan nada yang teramat dingin dan penuh ancaman: "Cobalah melangkah satu tapak melewati garis merahku, Paman. Dan aku akan memastikan tongkat perakmu itu tertanam di dadamu sendiri sebelum rapat ini selesai."
"Kau sombong, Adrian. Kau tidak tahu bahwa tim taktis bersenjata dari faksi dalam sudah mengambil alih sistem keamanan gerbang barat semenjak satu jam lalu. Malam ini, mansion ini akan menjadi kuburanmu," desis Gideon licik.
Dilema di Batas Akhir
Aline bersandar pada dinding marmer toilet, napasnya tertahan pendek. Jantungnya berdegup dengan ritme yang liar.
Kalkulasi taktisnya berjalan dalam kecepatan penuh. Informasi ini adalah emas. Jika faksi internal Gideon melakukan kudeta dan membunuh Adrian malam ini, maka musuh yang selama ini ia incar—Gideon—akan naik takhta. Namun di sisi lain, Adrian... pria mafia yang telah menggendongnya dengan penuh kehati-hatian, pria yang mengobati luka kakinya dengan kelembutan yang nyata, dan pria yang secara murni selalu melindungi anak-anaknya... akan tewas dalam pembantaian berdarah.
Aline menatap bayangan dirinya di cermin. Sifat lugunya menguap sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi dingin dari seorang operator siber papan atas yang mematikan.
Jika aku diam saja, Adrian akan mati dan balas dendam Kak Rena mungkin akan menjadi lebih rumit. Tapi jika aku bergerak melindunginya... aku harus melepaskan kemampuan tempur asliku di hadapannya. Penyamaranku akan hancur total malam ini, batin Aline bimbang.
Tepat saat itu, jam tangan Rolex di pergelangan tangannya bergetar tiga kali secara beruntun. Sebuah sinyal darurat manual yang dikirimkan oleh Kenzo dari kamar atas:
SISTEM_PERIMETER_RUNTUH. MEREKA_MULAI_BERGERAK. JAGA_DADDY.
Aline memejamkan matanya rapat-rapat selama satu detik, lalu membukanya kembali dengan kilat tekad yang tajam bagai bilah pisau. Ia melepaskan kacamata bingkai emasnya, menyimpannya di saku apron, dan menarik napas dalam-dalam.
"Persetan dengan misi," bisik Aline dingin pada dirinya sendiri di dalam kegelapan toilet. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh pria itu sebelum aku sendiri yang menuntut kebenaran darinya."
Aline melangkah keluar dari toilet, siap menembus batas garis merah yang akan mengubah seluruh takdir hidupnya dan klan Dirgantara untuk selamanya.