NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sambal Korek Mercon

Dari kejauhan, iring-iringan sepeda motor memasuki halaman rumah Pak Kades. Setelah memarkirkan motor di area parkir yang terletak di kanan pendopo omah ndalem, petugas Pustu dan Paino berjalan memasuki Pendopo.

"Assalaamu'alaikum ..." salam mereka kepada Bu Kades.

"Wa'alaikumussalaam ... Ya Allah senangnya njanur gunung tenan iki. Mimpi apa ya saya tadi malam, disambangi pasukan kesehatan," sambut Bu Kades tergopoh-gopoh.

"Bu Kades, saya nderek maem di sini juga nggih. Hehehe ..." Paino menyembul dari belakang tubuh Yanto.

"Iyo, ra popo, ayo gek ndang masuk sekalian," ajak Bu Kades, setelah bersalaman dengan semua tamu yang datang.

Tidak berapa lama, Pak Kades datang berjalan kaki dengan tergesa, "Assalaamu'alaikum .... Waduh maaf ... maaf ... saya yang mengundang malah baru datang, bagaimana ini," seloroh Pak Kades sambil melepas sepatu dan kaos kaki.

Mencuci kaki dan tangan di bawah kran yang terletak di depan pendopo, lalu mengeringkannya dengan handuk yang disodorkan Bu Kades.

Bu Kades menyimpan handuk, kemudian mencium tangan suaminya, dan Pak Kades mencium kening Bu Kades lembut. Semua keuwuan itu disaksikan oleh seluruh mata tamu yang ada di pendopo.

"Ya Allah romantisnya ..." bisik Linda pelan di telinga Siti.

"Bikin iri yo ..." lanjut Siti. Dan kedua gadis itu pun mengangguk-angguk setuju.

"Siti, kamu bisik-bisik apa sama Linda?" tanya Pak Kades setelah ikut duduk lesehan bersama para tamu.

"Mboten, Pak. Ini lho ... hehe ... tikarnya kok buagus. Motifnya beda dari yang biasa ada di sini," jawab Siti tersipu sambil mengelus-elus tikar yang diduduki.

"Yo mesti bedo, ra enek di sini. Wong itu dikirim sama Mas Fajar dari Aceh sana. Nama motifnya Merdu Pijay, kata Mas Fajar," jelas Bu Kades yang duduk di sebelah Pak Kades.

"Oooo ...," Siti mengangguk paham.

"Siti bohong, Pak Kades. Ngapusii," ucap Linda tiba-tiba.

"Eh ... ngopo toh, Mbak Linda ini. Mboten, Pak, Bu, saya cuma dibilangi Mbak Linda, kalau panjenengan berdua itu romantis sekali. Ya saya bilang iya, jadi bikin iri." sergah Siti cepat-cepat. Tertegun dengan apa yang diucapkan, refleks Siti menutup mulutnya.

Pecah tawa semua yang ada di pendopo. Azra dan Linda yang hafal karakter Siti, tertawa terbahak-bahak, sampai keluar air di sudut mata mereka berdua.

"Kenapa kalian berdua sampai terpingkal-pingkal begitu?" tanya Dokter Pras keheranan.

"Mbak Siti ini, tidak bisa diajak bohong, Dokter Pras. Kalau sudah kepergok, refleks dia jujur. Jadi kalau mau bohong, jangan ajak-ajak Mbak Siti ya, Dok," jelas Linda sambil menyeka matanya.

Pak Kades dan istri ikut tertawa melihat tingkah lucu petugas Pustu. Dokter Pras yang baru bergabung pun ikut tertawa merasakan ke- random-an tingkah rekan-rekannya.

"Tenang saja Mbak Siti, nanti kalau Paino sudah melamar sampeyan, baru bisa mempraktikkan adegan romantis tadi," hibur Yanto dengan maksud menggoda.

Siti melotot sebal ke arah Yanto, wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus.

"Heh, kok aku digowo-gowo nyapo?" tanya Paino pura-pura bingung, "Oh, Mbak Siti mau toh, kalau tak lamar? Oke, nanti aku segerakan melamar!" lanjut Paino sambil menaikturunkan-alisnya di hadapan Siti.

"Cieee ... mau ... mau ..." sorak Linda, Yanto dan Pak Tejo ramai-ramai.

Siti menyembunyikan mukanya diantara lutut. Duh bumi, telanlah aku ke dalam perutmu, batin Siti menahan malu yang sudah tak tertahankan.

Dokter Pras sampai tergelak melihat Siti digoda rekannya habis-habisan. Begitu juga Pak Kades dan istri, berkali-kali menggelengkan kepala menyaksikan tingkah polah petugas Pustu.

Melihat situasi yang sudah membuat Siti terpojok, Azra langsung mengganti topik pembicaraan, "Ehhem ... Pak Kades dan Ibu, maturnuwun sudah berkenan mengundang kami untuk bersantap di sini. Semoga keanehan rekan-rekan saya, tidak mengganggu ketenangan dan istirahat panjenengan berdua. Sekalian, saya kenalkan, ini Dokter Prasetyo. Dokter gigi yang baru di Pustu kita."

Dokter Prasetyo tersenyum menganggukkan kepala dan mengulurkan tangan pada Pak Kades, "Salam kenal, Pak. Saya Prasetyo. Dulu saya bertugas di Puskesmas Lembu Jaya."

"Salam kenal juga, saya Sastro, saat ini masih dipercaya jadi Kades di Desa Sukamakmur," jawab Pak Kades sambil menjabat erat tangan Dokter Pras, " Semoga krasan ya di sini ..."

"Eh, ayo ... monggo, sambil makan yaa. Ini nanti keburu dingin makanannya. Nanti ngobrolnya bisa lanjut sambil makan," saran Bu Kades.

"Iya, betul itu. Monggo silakan. Jangan sungkan, ini semua hasil kebun sendiri," ujar Kepala Desa ramah, sambil menyodorkan sebakul nasi.

Aroma gurih nasi liwet siang itu berhasil menghentikan gelak tawa yang tadi memenuhi pendopo. Setelah seharian menghadapi tensi darah warga yang naik-turun di Pustu, dan juga insiden truk yang terguling, kini semua memenuhi panggilan perut mereka yang minta diisi.

Hidangan ayam kampung goreng, sambal korek dengan minyak yang berkilauan, lalapan daun singkong yang hijau segar dan tumpukan petai bakar yang aromanya menguar, langsung berpindah ke atas piring-piring yang tadinya kosong.

Seketika, formalitas kerja hancur lebur, tidak ada laporan bulanan atau antrean pasien, yang ada hanyalah aksi saling rebut paha ayam terbesar.

Suasana kian heboh saat Paino ditantang Pak Tejo makan sambal korek buatan Bu Kades, "Alaaah, sambal beginian mah biasa," Paino nekat mencocol sambal korek buatan istri Pak Kades dalam porsi besar.

Dalam hitungan detik, wajahnya berubah merah padam, matanya berair, dan ia mulai mendesis seperti ular kobra kepedasan.

"Air! Air! Mana air? Ini bukan sambal cabe, ini sambal mercon!" pekiknya sambil mengibas-ngibas lidah.

Siti yang duduk berseberangan dengan Paino tergopoh menyodorkan satu gelas penuh teh manis panas—yang justru membuat sensasi pedasnya makin menjadi-jadi.

"Mbak Sitii ... saya kepedasan, bukan masuk angiiin ..."

Tawa riuh pun pecah.

Siang yang menghangatkan hati.

Pak Kades merasa terhibur hatinya, setelah masalah datang bertubi-tubi menghantam pikirannya yang mulai merapuh.

_____

"Kakak mau datang ke undangan nikahan dokter Wita?" tanya Linda duduk bergeser mendekati Azra.

Gadis bermata hazelnut itu menutup Al Quran yang baru selesai dia baca, dan melepas mukenanya.

"Insya Allah. Diajak bareng-bareng sama Pak Kades dan staf Pustu yang lain. Eh, gimana kalau kamu ikut juga?" Azra menggeser duduknya menghadap ke arah Linda.

"Emoh, kak. Ora kenal aku. Nggak enak juga, bukan siapa-siapa kok datang di pesta orang."

"Nggak papa, nanti aku yang bilang ke Wita. Ya ... ikut ya ..." ajak Azra sambil menarik-narik lengan baju Linda.

"Heeeh, piye toh iki, lha acaranya di hotel gitu lho. Pake undangan resmi. Kalau di kondangan orang dusun, yaaa, aku ikut-ikut aja, Kak. Nggak papa wis aku mau jaga di sini saja. Sambil baca novelku yang belum selesai," Linda menolak halus dan tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi.

Azra menyerah, tidak membujuk Linda lagi. Tangannya mulai melipat mukenanya ...

"Eh, Kak. Aku tanya sesuatu boleh?"

Azra melirik sebentar. "Hmmm ... tanya apa?"

"Kenapa warna mata kakak hazelnut? Maaf ... maaf ...

Aku sudah lama penasaran, lek nggak tak tanyakan, nanti aku bisa mati penasaran. Tapi kalau kakak tidak mau bercerita ... yaa tidak apa-apa. Nanti aku bisa cari info dari orang lain," ujar Linda sambil mengetukkan jari telunjuknya ke dagu.

Plak! Azra menggeplak punggung Linda pelan.

"Kebiasaan! Sudah dibilang, kalau mau tahu informasi, apapun itu tanya langsung ke yang bersangkutan. Jangan suka nggosip. Hal yang sebenarnya sepele, bisa jadi parah gegara gosip." Azra berdiri, meletakkan Al Quran di rak buku paling tinggi.

"Lha, Kak Azra nggak mau jawab pertanyaanku." Linda cemberut dengan lutut ditekuk di atas sofa.

"Emang aku bilang begitu?"

"Hehehe ... enggak," Linda nyengir sambil menggelengkan kepalanya.

Gadis bermata hazelnut itu mengambil air minum dan meletakkannya di meja.

Menghempaskan tubuh di samping Linda, lalu meminum air putih di depannya.

Tangannya meraih penjepit rambut dan mencepol rambut panjangnya yang hitam kebiruan. Linda diam-diam memandangi Azra yang sedang mencepol rambutnya asal. Cantik, batinnya kagum.

Azra menarik napas dalam, kemudian tersenyum menoleh ke arah Linda, "Nenekku orang Indonesia, Kakekku orang Turki."

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!