Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Kunjungan.
Siang itu, koridor mansion mewah Tanubrata tampak sedikit sibuk. Prisha berdiri di dekat kamarnya sambil menggenggam sebuah kartu kredit black card tak terbatas yang tadi pagi diberikan langsung oleh Nyonya Ratih sebelum wanita itu bersiap pergi.
Kartu itu terasa berat di jemarinya, membawa sebuah tanggung jawab besar yang tak kasat mata. Guna melancarkan misinya untuk memikat Saka Tanubrata, Prisha harus mengubah penampilannya secara total. Ia tidak bisa lagi tampil dengan pakaian seadanya yang tersisa di kopernya.
Atas perintah Nyonya Ratih, siang itu juga Prisha berangkat menuju pusat perbelanjaan paling mewah di ibu kota. Ia tidak pergi sendiri; sebuah mobil sedan premium beserta seorang sopir pribadi dan seorang pelayan muda bernama Bora dikerahkan untuk mendampinginya.
Aroma wangi toko-toko desainer papan atas menyambut langkah kaki Prisha. Didampingi Bora yang dengan sigap membawakannya beberapa contoh pakaian, Prisha mulai memilih gaun-gaun elegan, perhiasan berkilau, sepatu tumit tinggi, hingga tas branded berharga fantastis. Semua barang yang ia pilih sengaja dikurasi dengan satu tujuan: ia harus mempersiapkan segala sesuatu yang bisa menarik perhatian Saka.
Saat sedang duduk di sebuah sofa beludru empuk di gerai sepatu ternama untuk mencoba sepasang heels kristal, Prisha melirik pelayan di sampingnya. Bora adalah pelayan termuda di kediaman Tanubrata. Wajahnya yang polos dan cekatan membuat Prisha merasa cukup nyaman.
"Bora," panggil Prisha pelan sembari mengancingkan tali sepatu di pergelangan kakinya. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
Bora langsung menundukkan kepala dengan sopan. "Tentu saja, Nona Prisha. Apa ada yang bisa Bora bantu?"
Prisha memperbaiki posisi duduknya. "Ayahmu adalah kepala pelayan di rumah, kan? Dan aku mendengar kamu selalu ditugaskan untuk mendampingi tamu wanita di mansion."
Bora tersenyum canggung, lalu mengangguk pelan. "Benar, Nona. Ayah meminta saya menjadi asisten pribadi untuk setiap gadis yang datang sebagai calon istri Tuan Muda Saka. Sebelum Nona Prisha datang, gadis-gadis lain yang dibawa oleh Nyonya Besar juga saya yang mendampingi dan melayani keperluan mereka."
Mendengar konfirmasi itu, rasa ingin tahu Prisha seketika membubung. Ini adalah kesempatan bagus untuk mencari tahu kelemahan targetnya. "Kalau begitu, kamu pasti tahu banyak hal. Kenapa gadis-gadis sebelum aku ... semuanya gagal? Apa karena Tuan Saka terlalu kejam, atau ada alasan lain?"
Bora terdiam sejenak, tampak menimbang-nimbang apakah ia pantas membeberkan hal tersebut. Namun, melihat tatapan Prisha yang tulus dan tidak mendikte, Bora akhirnya berbisik pelan, "Sejujurnya, saya tidak tahu alasan pastinya, Nona. Tuan Muda Saka tidak pernah berbuat kasar atau mengusir mereka. Beliau hanya ... mengabaikan mereka sepenuhnya. Menganggap mereka seperti angin lalu. Pada akhirnya, gadis-gadis itu tidak tahan dan memilih menyerah dengan sendirinya karena merasa diabaikan."
'Menyerah dengan sendirinya karena diabaikan,' kalimat Bora terus terngiang-ngiang di telinga Prisha. 'Cuman karena itu mereka menyerah? Memangnya hidup mewah meskipun diabaikan tidak menarik, ya?' Prisha heran, namun kemudian tidak ambil pusing.
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu, aktivitas belanja itu akhirnya selesai. Puluhan kantong belanjaan mewah bermerek internasional dipindahkan oleh sang sopir ke dalam bagasi mobil hingga penuh.
Prisha kini duduk di dalam kabin mobil yang melaju membelah jalanan kota, bersandar lemas pada jok kulit. Ia menatap keluar jendela, memandangi langit siang yang perlahan beranjak sore dari balik kaca yang temaram.
Sebuah senyuman getir terukir di bibirnya yang tipis. Prisha tertawa meratapi dirinya sendiri di dalam hati. Siapa yang menyangka, seorang Prisha Kaelen yang dulu hidup terhormat, kini harus memutar otak dan menurunkan harga dirinya sejauh ini, berdandan secantik mungkin hanya untuk memikat pria asing demi bisa bertahan hidup dari kejaran rentenir? Takdir benar-benar suka bercanda.
Setibanya di mansion Tanubrata, Prisha langsung melangkah cepat menuju kamarnya di lantai atas. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang yang empuk, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan pandangan kosong.
Gadis itu mendadak menggusar rambutnya sendiri dengan frustrasi. Kepalanya mendadak pening. 'Bagaimana cara memulai menggoda seorang pria?' Prisha benar-benar buta dalam hal ini. Ditambah lagi, keadaan rumah mendadak sepi karena Nyonya Ratih ternyata sudah berangkat berlibur ke Bali bersama teman-teman sosialitanya siang ini, menyerahkan seluruh urusan penaklukan Saka sepenuhnya ke tangan Prisha. Pelindung sekaligus sekutunya telah pergi, meninggalkan Prisha sendirian di medan perang.
Malam pun merambat naik, membawa kesunyian yang kian mencekik. Ketika waktu makan malam tiba, Prisha duduk sendirian di meja makan yang sangat panjang dan luas. Hidangan mewah tersaji di depannya, namun kursi di ujung seberang tetap kosong melompong. Saka belum juga pulang.
Prisha menopang dagunya, menatap makanan yang mulai mendingin dengan perasaan campur aduk. Ini terasa sangat sulit. Bagaimana mungkin ia bisa menjalankan misinya jika waktu bertatap muka dengan Saka hanya terjadi selama sepuluh menit saat sarapan pagi tadi?
Sebuah ide nekat mendadak melintas di kepalanya. Jika Saka tidak pulang, maka dialah yang harus menjemput bola.
Prisha segera berdiri dan memanggil asisten pribadinya. "Bora!"
"Iya, Nona?" Bora bergegas menghampiri dari arah dapur.
"Tolong siapkan wadah bekal dan masukkan makanan ini ke dalamnya. Aku akan mengantarkan makan malam ini ke kantor Kak Saka. Dia pasti belum makan karena terlalu sibuk bekerja," perintah Prisha dengan nada mantap yang menutupi kegugupannya.
Sembari Bora menyiapkan bekal, Prisha kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Ia memilih salah satu gaun kasual namun elegan yang baru dibelinya tadi siang, memoles wajahnya dengan riasan tipis yang natural namun segar, serta mengurai rambut panjangnya yang hitam berkilau. Penampilannya malam ini sangat anggun, tipe riasan yang enak dipandang tanpa terkesan berlebihan.
Dengan ditemani Bora di dalam mobil, Prisha menempuh perjalanan menuju gedung pencakar langit yang menjadi kantor pusat korporasi Tanubrata. Bangunan itu berdiri kokoh di pusat bisnis kota, dengan lampu-lampu ruangan yang masih menyala di beberapa lantai, menandakan aktivitas lembur.
Begitu melangkah masuk ke dalam lobi kantor yang megah dan sunyi, Bora berjalan di depan menuntun Prisha menuju meja resepsionis. Petugas resepsionis yang berjaga malam itu langsung mengenali seragam khas pelayan kediaman Tanubrata yang dikenakan Bora.
Saat matanya beralih pada gadis cantik yang berdiri di samping Bora, sang resepsionis tidak menunjukkan ekspresi terkejut yang berlebihan. Ia hanya tersenyum formal, seolah-olah pemandangan gadis cantik yang datang mengantarkan makanan untuk sang CEO bukanlah hal yang aneh lagi di gedung ini, mengingat rekam jejak Nyonya Ratih yang sering mengirimkan wanita-wanita sebelumnya.
Tanpa banyak bicara atau proses birokrasi yang rumit, resepsionis itu langsung memberikan akses. "Tuan Muda Saka masih berada di ruangannya, di lantai paling atas. Silakan langsung naik saja, Nona."
Prisha mengangguk sopan sebagai tanda terima kasih. Mereka berdua kemudian naik menggunakan lift privat menuju lantai tertinggi gedung tersebut. Denting halus lift berbunyi, menandakan mereka telah sampai di lantai tujuan yang lantai koridornya dilapisi karpet tebal nan mewah.
Bora mengantarkan Prisha hingga tepat di depan pintu ganda kayu jati raksasa yang menjadi pembatas ruangan kerja sang CEO. "Nona Prisha, saya hanya bisa mengantar sampai di sini. Saya akan menunggu Nona di ruang tunggu lantai bawah saja agar tidak mengganggu," ucap Bora berbisik pelan seraya membungkuk hormat.
"Baiklah, terima kasih banyak, Bora. Nanti aku akan menyusul ke bawah," jawab Prisha, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian menggila.
Setelah memastikan Bora melangkah pergi dan menghilang di balik belokan lift, Prisha menarik napas dalam-dalam. Ia menggenggam erat paper bag berisi kotak bekal di tangan kirinya, sementara tangan kanannya terangkat untuk mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam ruangan.
Prisha menggigit bibir bawahnya, menunggu selama beberapa saat. Apakah Saka sedang mengadakan rapat darurat di dalam? Ataukah pria itu sedang tidak ingin diganggu? Didorong oleh rasa penasaran dan nekat yang tersisa, Prisha memberanikan diri menyentuh gagang pintu jati tersebut. Ternyata, pintu itu tidak dikunci.
Perlahan dan tanpa menimbulkan suara, Prisha mendorong daun pintu besar itu dan melangkah masuk ke dalam ruangan kantor yang sangat luas dan berdesain minimalis modern dengan dinding kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu kota malam hari.
Suasana di dalam ruangan sangat tenang, hanya diterangi oleh lampu meja kerja yang temaram dan pendaran cahaya dari layar monitor yang masih menyala. Prisha mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari keberadaan Saka.
Detik berikutnya, netra Prisha terpaku pada sebuah sofa panjang berbahan kulit hitam yang terletak di sudut ruangan. Di sana, terlihat sosok Saka Tanubrata tengah berbaring telentang. Pria itu tampaknya benar-benar kelelahan hingga tertidur sangat pulas.
Prisha melangkah mendekat dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara di atas karpet tebal. Ia memperhatikan penampilan Saka yang tampak berantakan namun entah mengapa justru terlihat berkali-kali lipat lebih menawan.
Jas formalnya sudah dilepas dan disampirkan sembarangan di sandaran sofa, dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka menampilkan pangkal lehernya yang kokoh, dan yang paling membuat Prisha tak habis pikir, pria itu bahkan masih mengenakan sepatu pantofel lengkap di kakinya saat tertidur.
Bersambung....