Pacar Palsu, Jodoh Asli
Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Pria Menyebalkan di Tempat Parkir
Siang itu, kawasan pusat bisnis kota dipenuhi kendaraan mewah yang keluar masuk seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti.
Di antara deretan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, Hotel Grand Aurora berdiri megah dengan fasad kaca berkilauan yang memantulkan cahaya matahari.
Hotel bintang lima itu menjadi lokasi berlangsungnya Indonesia Future Business Summit, sebuah acara yang mempertemukan para pengusaha, investor, dan pewaris perusahaan terbesar dari seluruh negeri.
Bagi sebagian orang, acara itu adalah kesempatan emas untuk membangun relasi.
Bagi Almira Valencia Pradipta, acara itu hanyalah kewajiban yang tidak bisa dihindari.
Wanita berusia dua puluh enam tahun itu menghela napas panjang sambil memegang kemudi mobilnya.
Sejak pagi, jadwalnya sudah padat dengan rapat dan presentasi.
Ia bahkan belum sempat menikmati makan siang dengan tenang.
Dan kini, setelah berhasil tiba tepat waktu di hotel, satu masalah baru muncul.
Tempat parkir.
"Kenapa hari ini penuh sekali?" gumamnya kesal.
Mobilnya bergerak perlahan menyusuri area parkir VIP.
Satu tempat kosong terlihat di kejauhan.
Mata Almira langsung berbinar.
"Akhirnya."
Ia sedikit menambah kecepatan.
Namun sebelum mobilnya mencapai lokasi tersebut, sebuah sedan hitam mengilap tiba-tiba muncul dari sisi kanan dan meluncur masuk dengan mulus ke tempat parkir yang sama.
Almira langsung menginjak rem.
"Kamu serius?"
Mulutnya terbuka tidak percaya.
Tempat yang sejak tadi ia incar kini telah ditempati mobil lain.
Dan yang lebih menyebalkan, pengemudi mobil itu tampak sama sekali tidak merasa bersalah.
Pintu sedan hitam terbuka.
Seorang pria tinggi keluar dengan tenang.
Setelan jas hitam yang dikenakannya terlihat mahal.
Jam tangan di pergelangan tangannya mungkin bernilai lebih tinggi daripada harga sebuah mobil keluarga.
Ia melepas kacamata hitamnya perlahan.
Rahang tegas.
Tatapan tajam.
Wajah yang bisa dengan mudah menghiasi sampul majalah bisnis.
Sayangnya, kesan pertama Almira terhadap pria itu langsung hancur.
"Hei! Itu tempat saya!"
Suara Almira membuat beberapa orang menoleh.
Pria itu menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah Almira.
Ekspresinya datar.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Maaf?" katanya santai.
Almira turun dari mobil.
"Tempat itu sudah saya incar dari tadi."
Pria itu melihat ke arah marka parkir, lalu kembali menatap Almira.
"Benarkah?"
"Iya."
"Kalau begitu saya minta maaf."
Almira sedikit terkejut.
Mungkin pria ini masih punya sopan santun.
Namun harapannya runtuh pada detik berikutnya.
"Tapi sekarang tempatnya sudah saya pakai."
Almira berkedip.
Sekali.
Dua kali.
"Jadi?"
"Jadi Anda bisa mencari tempat lain."
Hening sesaat.
Almira merasa tekanan darahnya naik.
Pria ini bahkan tidak berusaha terdengar menyesal.
"Kamu menyerobot."
"Saya lebih cepat."
"Saya sudah menunggu dari tadi."
"Saya baru datang dan berhasil mendapatkannya."
Almira menggeleng tidak percaya.
Bagaimana mungkin seseorang bisa terdengar begitu menyebalkan hanya dalam beberapa kalimat?
"Anda selalu seperti ini?"
Pria itu mengangkat alis.
"Seperti apa?"
"Tidak tahu malu."
Sudut bibir pria itu bergerak tipis.
Bukan marah.
Bukan tersinggung.
Malah seperti menahan tawa.
Hal itu justru membuat Almira semakin kesal.
"Aneh sekali."
"Apa?"
"Biasanya orang marah kalau dihina."
"Saya tidak mudah tersinggung."
"Bagus."
"Tapi saya mudah bosan."
Almira memejamkan mata sesaat.
Ia benar-benar sedang berhadapan dengan manusia paling menjengkelkan yang pernah ditemuinya.
Pria itu melirik jam tangannya.
"Saya harus pergi."
"Pindahkan mobil Anda dulu."
"Bisa."
"Kalau begitu lakukan."
"Tapi saya tidak mau."
Almira hampir tersedak oleh kekesalannya sendiri.
Beberapa petugas valet yang menyaksikan kejadian itu saling berpandangan.
Mereka jelas ingin tertawa, tetapi berusaha keras menahannya.
Pria itu mulai berjalan menuju pintu masuk hotel.
Almira mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
"Hei!"
Pria itu tidak berhenti.
"Hei!"
Kali ini ia menoleh.
"Apa lagi?"
"Kamu benar-benar menyebalkan."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
"Saya tahu."
Almira menatapnya dengan kesal.
Pria itu malah terlihat santai.
Sangat santai.
Terlalu santai.
Seolah-olah pertengkaran ini hanyalah hiburan kecil di tengah harinya.
"Tunggu."
Pria itu berhenti lagi.
"Apa sekarang?"
"Siapa nama kamu?"
Alis pria itu terangkat.
"Kenapa?"
"Supaya kalau suatu hari saya menulis daftar orang paling menyebalkan yang pernah saya temui, saya bisa menaruh nama kamu di urutan pertama."
Untuk pertama kalinya, pria itu tertawa kecil.
Suara tawanya rendah dan singkat.
Anehnya, itu justru membuat Almira semakin kesal.
"Menarik."
"Jadi siapa nama kamu?"
Pria itu berpikir beberapa detik.
"Lupakan saja."
"Lihat? Bahkan nama pun kamu pelit memberitahu."
"Karena saya yakin kita tidak akan bertemu lagi."
"Syukurlah."
"Saya setuju."
Mereka saling menatap beberapa detik.
Tak satu pun mau mengalah.
Tak satu pun mau tersenyum.
Jika tatapan bisa berubah menjadi api, mungkin area parkir itu sudah terbakar habis.
Akhirnya pria itu mengangguk kecil.
"Sampai jumpa."
"Tidak, terima kasih."
Pria itu kembali berjalan pergi.
Almira memperhatikannya hingga menghilang di balik pintu hotel.
Lalu ia menghela napas panjang.
"Pria aneh."
Dengan kesal, ia kembali masuk ke mobil dan mencari tempat parkir lain.
Beruntung, beberapa menit kemudian ia menemukan satu slot kosong di area yang lebih jauh.
Meski harus berjalan lebih jauh menuju hotel, setidaknya ia tidak perlu melihat wajah pria tadi lagi.
Atau begitulah yang ia kira.
Dua puluh menit kemudian, Almira memasuki ballroom utama Grand Aurora.
Ruangan itu dipenuhi tokoh-tokoh penting dunia bisnis.
Lampu kristal besar menggantung di langit-langit.
Suara percakapan bercampur dengan alunan musik lembut.
Almira mengambil kartu peserta dari panitia.
Saat matanya membaca daftar pembicara utama hari itu, langkahnya terhenti.
Nama pertama yang tertera membuatnya mengernyit.
Reynard Arsenio Mahardika.
CEO muda Mahardika Holdings.
Pembicara Utama.
Almira merasa nama itu tidak asing.
Namun ia belum sempat memikirkannya lebih jauh karena seorang panitia mengumumkan dimulainya acara.
Semua peserta mulai duduk.
Almira mengambil tempat di baris depan.
Tak lama kemudian, pembawa acara naik ke atas panggung.
"Hadirin sekalian, mari kita sambut salah satu pemimpin muda paling berpengaruh di negeri ini..."
Tepuk tangan bergema di seluruh ruangan.
Almira ikut melihat ke arah panggung.
Lalu matanya membelalak.
"Mustahil."
Dari balik layar panggung, muncul pria yang baru saja bertengkar dengannya di tempat parkir.
Pria menyebalkan itu.
Pria arogan itu.
Pria yang merebut tempat parkirnya.
Ia berjalan dengan percaya diri menuju podium.
Dan seluruh ruangan menyambutnya dengan tepuk tangan meriah.
Almira menatap tidak percaya.
Sementara itu, Reynard yang berdiri di atas panggung sedang menyapu ruangan dengan pandangan santai.
Tatapannya tiba-tiba berhenti.
Tepat pada seorang wanita di barisan depan.
Wanita yang sangat dikenalnya.
Wanita yang lima belas menit lalu menyebutnya tidak tahu malu.
Almira.
Mata mereka bertemu.
Beberapa detik.
Reynard tampak sedikit terkejut.
Lalu sesuatu yang tidak disukai Almira muncul di wajah pria itu.
Senyum.
Senyum tipis penuh kemenangan.
Seolah-olah semesta sedang bercanda dan ia menikmati setiap detiknya.
Almira langsung memalingkan wajah.
Dalam hati ia mengutuk nasibnya.
Dari ribuan orang yang bisa ditemuinya hari ini, mengapa harus pria itu?
Dan mengapa pria itu harus menjadi pembicara utama?
Yang tidak mereka sadari adalah ini baru permulaan.
Karena dalam beberapa bulan ke depan, hidup mereka akan terus bersinggungan.
Bukan karena kebetulan.
Melainkan karena seseorang telah lama merencanakan semuanya.
Dan jauh dari hotel itu, dua keluarga sedang tersenyum puas ketika menerima laporan bahwa putra dan putri mereka akhirnya bertemu.
Meski pertemuan pertama itu berakhir dengan pertengkaran.
Bagi mereka, itu sudah lebih dari cukup.
Karena kadang-kadang, kisah cinta terbesar tidak dimulai dengan pandangan pertama.
Melainkan dengan keinginan kuat untuk saling menjauh.