Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sapuan Bersih dan Panggung Penentuan
Kehancuran Sun Hao dalam satu pertukaran serangan mengirimkan gelombang kejut ke seluruh penjuru arena. Jika sebelumnya kemenangan Lin Tian atas Zhao Kuang masih dianggap sebagai keberuntungan semata, hari ini, ia baru saja membuktikan bahwa kekuatannya adalah sebuah teror yang nyata.
Babak penyisihan terus berlanjut, namun bagi Panggung Nomor Empat, turnamen seolah telah kehilangan ketegangannya.
"Pertandingan selanjutnya, Lin Tian melawan Wu Fang!"
Seorang pemuda tingkat lima melangkah naik ke panggung dengan kaki gemetar. Begitu wasit memberi aba-aba, sebelum Lin Tian sempat mengangkat tangannya, Wu Fang langsung menjatuhkan pedangnya dan mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi.
"S-Saya menyerah! Saya menyerah!" teriaknya panik, lalu buru-buru melompat turun dari panggung mengundang gelak tawa dari sebagian penonton, meskipun jauh di lubuk hati mereka, tidak ada yang berani menyalahkan pemuda itu.
Hal yang sama terulang pada tiga pertandingan berikutnya. Lawan-lawan Lin Tian yang berada di tingkat lima atau enam memilih mundur tanpa bertarung. Hanya satu orang kultivator tingkat enam menengah yang nekat mencoba peruntungannya. Hasilnya? Lin Tian hanya menjentikkan jarinya, melepaskan gelombang kejut Qi murni yang menghantam dada kultivator itu hingga terlempar keluar arena dalam keadaan pingsan.
Di paviliun melayang, para Penatua kini tidak lagi menatap Lin Tian dengan sebelah mata.
"Apakah kalian melihatnya?" gumam seorang Penatua berwajah keriput, mengelus jenggotnya dengan takjub. "Fluktuasi Qi yang ia lepaskan saat menjentikkan jari tadi... itu bukan tingkat empat. Itu adalah ranah Mortal tingkat lima yang sangat, sangat padat! Hanya dalam satu bulan ia melompat dari tingkat tiga ke tingkat lima?"
"Kecepatan kultivasi yang mengerikan. Fisiknya pun tak masuk akal," timpal Penatua lain. "Namun sayang, sifatnya terlalu arogan. Memprovokasi Zhao Lie yang berada di tingkat tujuh puncak secara terbuka adalah tindakan bodoh. Perbedaan antara tingkat lima dan tujuh puncak adalah jurang yang tak bisa dijembatani oleh bakat semata."
Matahari mulai condong ke barat saat babak penyisihan akhirnya selesai. Sepuluh murid luar terbaik telah terpilih, dan Lin Tian berdiri di barisan tersebut dengan jubah putih yang bahkan tidak memiliki setetes keringat pun.
Wasit utama turnamen, seorang Penatua dengan aura ranah Earth (Bumi), melayang ke udara dan memberikan pengumuman.
"Babak Penyisihan selesai! Sepuluh dari kalian telah membuktikan diri sebagai elit sekte luar. Namun, untuk melangkah melewati gerbang Sekte Dalam, kalian harus melewati ujian terakhir: Panggung Penentuan!"
Sang Penatua menunjuk ke arah panggung batu giok raksasa di tengah alun-alun yang dikelilingi oleh pilar-pilar naga.
"Lima Penjaga Gerbang dari Sekte Dalam telah bersiap. Aturannya sederhana: Bertahan sepuluh jurus dari Penjaga Gerbang, dan kalian resmi menjadi murid Sekte Dalam. Mengalahkan mereka, dan kalian akan langsung mendapatkan status Murid Elit Sekte Dalam serta akses ke perpustakaan lantai tiga!"
Begitu pengumuman itu berakhir, lima sosok melesat dari paviliun melayang layaknya meteor yang jatuh dari langit, mendarat di atas Panggung Utama dengan dentuman keras yang menggetarkan fondasi arena.
Di tengah-tengah kelima murid sekte dalam tersebut, Zhao Lie berdiri dengan jubah awan peraknya. Ia tidak membuang waktu. Sambil memancarkan Qi elemen logam yang membuat udara di sekitarnya terasa setajam silet, ia menunjuk lurus ke arah Lin Tian.
"Lin Tian! Naiklah ke panggung ini! Aku, Zhao Lie, akan menjadi Penjaga Gerbangmu hari ini!" raungan Zhao Lie menggema ke seluruh alun-alun.
Para peserta lain secara refleks mundur beberapa langkah, tidak ingin terseret dalam niat membunuh yang begitu kental. Di tribun, Lin Chen mencengkeram pembatas batu dengan tegang.
Lin Tian tersenyum tipis. Sebuah senyum yang sedingin angin musim dingin. Ia melangkah santai meninggalkan barisan peserta, menaiki tangga Panggung Utama satu per satu. Setiap langkahnya tidak mengeluarkan suara, namun entah mengapa, membuat jantung para penonton berdetak lebih cepat.
Begitu Lin Tian berdiri berhadapan dengan Zhao Lie di tengah panggung raksasa, suhu arena seolah anjlok.
"Kau benar-benar berani naik," seringai Zhao Lie, mencabut sebuah pedang panjang berwarna perak mengkilap dari sarungnya. Pedang itu memancarkan aura dingin yang mengiris. Itu adalah senjata tingkat fana tinggi. "Dengar baik-baik, Sampah. Tidak akan ada hitungan sepuluh jurus. Wasit mungkin bisa menghentikan pertarungan jika kau menyerah, tapi aku jamin, sebelum mulutmu bisa terbuka untuk menyerah, lidah dan anggota tubuhmu sudah terpotong."
"Kau terlalu banyak omong kosong, sama seperti anjing-anjing faksi Zhao yang lain," jawab Lin Tian datar. Ia meregangkan bahunya perlahan, membiarkan siluet naga di dadanya mulai memanas. "Bukannya kau bilang ingin melihat tulangku dicabut? Kalau begitu, gunakan seluruh tenagamu. Jangan sampai kau mati hanya dengan satu sentuhan."
"CARI MATI!"
Mata Zhao Lie memerah karena amarah. Ia tidak bisa mentolerir arogansi pemuda tingkat lima di depannya. Qi elemen logam tingkat tujuh puncak meledak dari tubuhnya layaknya badai pisau. Ubin giok di bawah kakinya retak dan hancur seketika.
WUSH!
Zhao Lie melesat ke depan, kecepatannya meninggalkan bayangan buram di udara. Pedang peraknya bergetar, menciptakan ratusan ilusi bilah yang mematikan.
"Seni Pedang Awan Perak: Tebasan Penghukum Langit!"
Ini adalah teknik tingkat fana tinggi yang dikuasai dengan sempurna! Bilah pedang yang membawa daya hancur luar biasa itu menebas lurus ke arah kedua bahu Lin Tian, berniat untuk memotong kedua lengan pemuda itu dalam satu serangan pembuka.
Angin tajam dari tebasan itu menyapu hingga ke batas arena, membuat para penonton di baris terdepan harus memejamkan mata dan melindungi wajah mereka.
Di tengah badai pedang itu, mata Lin Tian berkilat keemasan. Ia tidak mundur, tidak juga mencabut senjata. Ia membiarkan Qi ungu keemasan meledak dari dalam meridiannya, melapisi lengan kanannya yang kini memancarkan kilau tembaga tebal berkat esensi Beruang Punggung Besi.
"Mari kita lihat apakah logammu lebih keras dari tulang nagaku," gumam Lin Tian.
Alih-alih menghindar, Lin Tian melontarkan tinju kanannya lurus ke depan, menghantam secara frontal bilah pedang baja perak milik Zhao Lie yang meluncur dengan kekuatan penuh.
"Dia gila! Dia menggunakan tinju kosong melawan senjata fana tinggi tingkat tujuh?!" teriak para Penatua di paviliun, melompat dari kursi mereka karena syok.
BOOOOOOOOOOM!
Sebuah ledakan memekakkan telinga bergema saat tinju daging berbenturan dengan baja perak. Gelombang kejut dahsyat menyapu seluruh panggung utama, menciptakan retakan seperti jaring laba-laba raksasa di lantai giok putih yang diklaim tak bisa dihancurkan.
Di tengah kepulan debu dan puing-puing giok yang beterbangan, waktu seolah membeku.
Mata Zhao Lie, yang awalnya dipenuhi oleh seringai kejam, kini membelalak dalam kengerian absolut. Pedang perak kebanggaannya... bilah yang telah diinfusi oleh 100% Qi logam tingkat tujuh puncaknya... terhenti total hanya satu inci dari buku-buku jari Lin Tian!
Bukan hanya terhenti. Pedang tingkat fana tinggi itu mulai membengkok dengan sudut yang tidak wajar akibat gaya tolak dari tinju pemuda di depannya.
"Logam yang rapuh," suara dingin Lin Tian menembus debu.
KRAK! PRANG!
Pedang perak itu hancur berkeping-keping layaknya kaca yang dipukul palu dewa. Sisa gaya dorong dari tinju Lin Tian tidak terhenti, melesat menembus pecahan pedang dan menghantam lurus dada Zhao Lie dengan tenaga yang menghancurkan bumi.