NovelToon NovelToon
The Wiragata Legacy

The Wiragata Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Mafia
Popularitas:264
Nilai: 5
Nama Author: Mellsqueen

​Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
​Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
​Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelinci Merah Yang Terperangkap

Suasana di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang menuju Wiragata terasa seperti sebuah detonator yang siap meledak. Sano tidak mengeluarkan sepatah kata pun, namun tekanan udara di dalam kabin begitu berat hingga membuat sopir dan pengawal pun tak berani melirik kaca spion. Begitu mobil berhenti di depan paviliun, Sano tidak menunggu pintu dibukakan. Ia turun, menarik napas panjang yang menderu, lalu membuka pintu penumpang dengan sentakan kasar.

Tanpa basa-basi, Sano mencengkeram lengan Halra dan menariknya keluar. Ia membawa istrinya masuk ke dalam paviliun dengan langkah yang lebar dan terburu-buru, mengabaikan tatapan heran para pelayan yang kebetulan berpapasan dengan mereka.

Halra tidak melawan. Ia membiarkan dirinya ditarik, langkah kakinya yang mengenakan stiletto tinggi tetap tegak, bahkan saat mereka menaiki tangga menuju kamar utama.

Begitu pintu kamar tertutup dengan bunyi dentuman keras, Sano menghempaskan tubuh Halra ke atas ranjang empuknya. Halra jatuh dengan posisi yang masih anggun, namun matanya menatap Sano tanpa rasa takut sedikit pun. Sano berdiri di depannya, napasnya memburu, matanya berkilat dengan amarah yang bercampur gairah yang berusaha ia tekan sekuat tenaga.

"Apa tujuanmu, Halra?" suara Sano rendah, serak, dan penuh dengan penekanan. "Kau mempermalukan diriku di pesta Nathan Greck. Kau membiarkan semua mata pria brengsek itu menyentuhmu dengan tatapan mereka, hanya untuk memancing amarahku? Apa kau sudah muak dengan hidup yang tenang, hah?"

Sano melangkah mendekat, mengurung Halra di atas ranjang dengan kedua tangannya yang menumpu pada kasur. "Pakaian ini... belahan ini... punggung yang kau pamerkan itu... Apa ini bentuk kemarahanmu padaku? Apa kau pikir dengan cara rendahan seperti ini kau bisa membuatku menyerah pada keinginanmu?"

Halra, alih-alih terlihat ketakutan, justru tertawa. Tawa yang terdengar sangat muak dan meremehkan. Ia menatap Sano dengan tatapan yang seolah menelanjangi kepalsuan pria itu.

"Apa karena pakaianku ini membuatmu goyah, Sano?" tantang Halra dengan nada suara yang menggoda namun dingin.

Dengan gerakan yang sangat berani, Halra menjulurkan tangannya. Jemarinya yang lentik mencengkeram dasi sutra Sano, menarik pria itu mendekat ke wajahnya dengan satu sentakan yang kuat. Jarak mereka kini hanya terpaut hitungan sentimeter. Napas Sano tercekat; ia bisa merasakan aroma parfum Halra yang memabukkan dan melihat binar menantang di mata wanita itu.

"Jika kau merasa aku murahan karena pakaian ini," bisik Halra tepat di depan bibir Sano, "lalu apa sebutan untuk pria yang bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari istrinya sendiri sejak dari pesta tadi?"

Sano mengerang frustrasi. Ia mencoba menjauh, namun Halra tidak melepaskan cengkeramannya pada dasinya.

"Jangan lakukan ini, Halra," geram Sano, suaranya kini terdengar seperti peringatan terakhir. "Kau sedang bermain dengan api. Jika aku lepas kendali malam ini, aku tidak akan bisa menahan diriku lagi. Dan kau tahu persis apa yang akan terjadi jika itu sampai terjadi."

"Lalu lakukan saja," tantang Halra tanpa ragu. Ia menatap bibir Sano, lalu kembali menatap matanya dengan tatapan yang sangat menantang. "Jika kau memang pria yang selalu ingin memegang kendali, tunjukkan padaku malam ini, Sano. Tunjukkan padaku bahwa kau masih memiliki kendali atas dirimu sendiri, atau akui bahwa kau hanyalah pria lemah yang dikuasai oleh bayang-bayang masa lalumu."

Sano terdiam. Tantangan itu menghujam tepat di ulu hatinya. Ia tahu bahwa Halra sedang mengujinya—bukan hanya menguji kesabarannya, tapi menguji sejauh mana ia bisa bertahan sebelum pertahanannya hancur berkeping-keping. Sano menatap Halra, mencoba mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah dinding kebencian yang disusun dengan begitu rapi.

"Kau membenciku," bisik Sano, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Halra.

"Lebih dari yang kau bayangkan," jawab Halra tegas, namun tangannya justru semakin erat melilit dasi Sano, menariknya semakin dekat hingga Sano tidak punya pilihan lain selain menyerah pada kedekatan itu.

Ruangan itu mendadak menjadi sangat panas. Di luar, hujan mulai turun lagi, menambah kesan mencekam dalam paviliun yang kini menjadi saksi bisu dari perang ego yang semakin liar. Sano tahu bahwa jika ia mencium Halra sekarang, ia akan kalah dalam permainan ini. Namun, gairah yang telah ia tahan selama berminggu-minggu, ditambah dengan kecemburuan yang membakar saat melihat istrinya diperhatikan oleh banyak pria di pesta, telah mematikan logikanya.

"Kau yang memintanya," gumam Sano sebelum ia akhirnya benar-benar membiarkan dirinya jatuh ke dalam lubang yang telah digali Halra untuknya.

Sano tidak lagi peduli pada harga diri atau permainan catur emosional yang selama ini mereka mainkan. Begitu kata-kata terakhir Halra keluar, pertahanan yang telah ia bangun dengan susah payah selama berminggu-minggu runtuh bagai benteng yang dihantam ombak badai.

Tanpa peringatan, Sano menunduk dan melumat bibir merah Halra dengan penuh gairah yang buas—ciuman yang tidak lagi meminta izin, melainkan sebuah tuntutan. Itu adalah ciuman yang terasa seperti akumulasi dari kecemburuan, kerinduan yang terpendam, dan kemarahan yang meluap. Napasnya memburu, kasar, dan panas, memenuhi ruang di antara wajah mereka.

Halra, yang tadinya merasa di atas angin, tersentak. Ciuman itu jauh lebih intens dan membabi buta dari apa yang ia bayangkan. Ia merasa seolah ditarik ke dalam pusaran yang membuatnya kewalahan. Tangannya yang tadinya mencengkeram dasi Sano, kini beralih mendorong bahu pria itu sekuat tenaga. Namun, Sano adalah dinding yang kokoh. Tubuh pria itu seolah terbuat dari baja, tidak bergeming sedikit pun meski Halra mengerahkan seluruh kekuatannya.

Sano menarik tubuh Halra hingga wanita itu terasa sangat ringan dalam dekapannya, seolah ia bisa dengan mudah meremukkan atau memilikinya sepenuhnya dalam satu gerakan. Dengan napas yang masih menderu, Sano melepaskan tautan bibir mereka sejenak, hanya untuk menatap mata Halra dengan tatapan yang gelap dan liar, bersiap untuk menindih tubuh istrinya dan menenggelamkan dunianya dalam gairah.

Namun, tepat sebelum Sano meruntuhkan jarak terakhir di antara mereka, Halra melakukan satu gerakan yang membuat waktu seolah berhenti.

Di tengah napas yang terengah-engah, dengan keringat yang mulai bercucuran dari dahi Sano dan jatuh tepat ke batang hidung Halra, wanita itu tidak membalas dengan gairah. Ia justru menyunggingkan sebuah senyum sinis yang sangat dingin—senyum yang mampu merobek nyali pria mana pun.

"Apa ciuman ini..." bisik Halra dengan suara parau yang menusuk, "sambil membayangkan Savhelicha, Sano?"

Dunia Sano seolah terhenti.

Kalimat itu seperti seember air es yang disiramkan ke tengah kobaran api. Cengkeraman tangan Sano yang tadi sangat posesif dan liar di pinggang Halra sedikit mengendur. Ia menatap mata Halra, mencari apakah itu sebuah pertanyaan atau sebuah penghinaan, dan ia menemukan keduanya.

Sano tertegun. Jarak wajah mereka yang masih sangat dekat membuat Halra bisa melihat gejolak hebat di balik iris mata suaminya. Ada kilatan rasa sakit, keterkejutan, dan kemarahan yang kini bercampur menjadi satu.

"Jangan pernah..." suara Sano tertahan, begitu rendah hingga hampir tak terdengar, namun dipenuhi dengan peringatan yang menggetarkan. "...jangan pernah menyebut namanya di saat seperti ini, Halra."

"Kenapa?" Halra masih mempertahankan senyum sinisnya, meski jantungnya sendiri berpacu tidak karuan akibat serangan tadi. "Bukankah itu yang kau inginkan? Membayangkan wanita yang pernah kau miliki di balik punggungku? Atau kau sedang membandingkan rasa bibirku dengan bibirnya, sang wanita yang kini sudah menjadi milik ayahmu sendiri?"

Sano mengerang, sebuah suara yang terdengar seperti pria yang sedang terluka parah. Ia melepaskan tindihannya sejenak, menatap Halra dengan napas yang masih kacau. Kepercayaan diri pria itu tampak retak. Halra telah berhasil—ia telah merusak momen gairah tersebut dengan satu kalimat yang paling bisa menghancurkan ego Sano.

"Kau pikir kau tahu segalanya?" Sano mendesis, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih gelap. Ia mendekatkan wajahnya kembali, hampir menempelkan dahinya ke dahi Halra. "Kau pikir kau bisa mengendalikan ini dengan menghinaku? Kau salah besar, Halra. Sangat salah."

Sano tidak melepaskan Halra. Sebaliknya, ia menarik tubuh istrinya lebih rapat lagi, membuat tidak ada ruang tersisa di antara mereka. Ia kembali menatap bibir Halra, namun kali ini dengan tatapan yang jauh lebih berbahaya—tatapan seorang pria yang telah memutuskan untuk tidak lagi peduli pada rasa sakit, selama ia bisa membungkam mulut wanita di depannya dengan cara yang paling dominan.

"Malam ini," bisik Sano di depan bibir Halra, "aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa menyebut nama wanita lain lagi. Karena malam ini, kau hanya akan fokus padaku. Hanya padaku, Halra."

Dengan itu, Sano kembali merendahkan wajahnya, namun kali ini bukan dengan ciuman liar, melainkan dengan ciuman yang lambat, menuntut, dan penuh dengan dominasi yang membuat Halra menyadari bahwa ia telah memancing monster yang sebenarnya. Permainan ini baru saja berubah menjadi jauh lebih berbahaya daripada yang ia rencanakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!