Warning 21+
Dosa tanggung sendiri jika melanggar😚😚
Jonathan, seorang penguasa pemilik Asian Grup, berusaha mencari cinta pertamanya yang bernama Keynara Anastasia, untuk membalas dendam atas pembullyan yang terjadi saat masa sekolah..
Setelah beberapa tahun mencari, keduanya di pertemukan di sebuah acara pernikahan. Jonathan tidak ingin kehilangan lagi, sehingga jeratan pernikahan langsung di lilitkan kuat pada leher Nara..
Setelah pernikahan terjadi, Jonathan baru menyadari jika Nara tidak seperti dulu. Dia bukan lagi Nara yang jahat dan penuh ambisi dan berubah menjadi Nara yang polos bahkan cenderung bodoh..
Namun di balik sikap polosnya, Nara menyembunyikan sisi gelap yang mungkin akan bisa bangkit kapan saja. Sisi yang tidak di ketahui oleh siapapun tidak terkecuali Ayahnya sendiri...
Cerita ini mengandung unsur dewasa💦 Kekerasan 💢dan bahasa yang sedikit fulgar...
Harap bijak dalam membaca...
Ini karya pertamaku...
Silahkan klik ♥️, like dan share sebanyak-banyaknya..
~Tere Liye
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TereLiye21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 20
Nara tiba di markas milik Joy yang di bangun di tengah wilayah yang terbengkalai. Tempat itu sulit ditemukan sebab Joy membangunnya di atas bangunan yang rusak. Joy membangun sebuah bungker di bawahnya dengan fasilitas lengkap. Terdapat beberapa ruangan khusus dan kamar. Anak buah Joy yang tidak memiliki keluarga bisa tinggal di tempat itu dengan bebas.
"Ini tempatnya?" Gumam Nara memperhatikan dari dalam mobil yang masih melaju. Tiba-tiba sebuah pintu yang mengarah ke bawah terbuka, mobil Joy masuk menuruni turunan dan terparkir rapi. Terdapat beberapa mobil berjajar di dalam sana dan juga beberapa motor." Ini keren sekali Joy, mirip film yang sering ku tonton." Begitulah kesan pertama Nara saat dia keluar dari mobil.
"Aku terkesan sayang, kamu tidak takut melihat tempat ini." Joy merangkul pundak Nara dan mengiringnya masuk lift.
"Apa ini ada di dalam tanah?"
"Iya."
"Kenapa tidak panas?" Joy tersenyum menjawab pertanyaan dari Nara.
"Panas itu ketika kita saling berdekatan lalu berciumam dan berakhir di ranjang." Nara mengerucutkan bibirnya lalu Joy mengecupnya sejenak." Pintu lift terbuka, dan terlihat beberapa anak buah Joy tengah berbincang dengan penampilan santai dan tubuh penuh tato.
"Mereka siapa sayang?"
"Anak buah ku."
Sore Tuan... Sapa semuanya serentak. Joy hanya membalasnya dengan lambaian tangan.
"Silahkan Nona." Seseorang membawakan minuman ringan untuk Nara dan Joy.
"Tidak terimakasih, aku ingin melihat tempat ini bukan minum."
"Minum dulu sayang." Joy mengambilkan minuman untuk Nara.
"Aku tidak mau minum, ayo ke dalam." Pinta Nara.
"Di sini sudah cukup sayang, kamu sudah tahu tempatnya kan?" Joy hanya tidak ingin Nara melihat tempat itu lebih dalam lagi.
"Ayolah sayang, sudah terlanjur datang."
"Apa yang ingin kamu lihat?"
"Ini mirip di film, keren sekali." Anak buah Joy bahkan mirip preman namun sedikitpun Nara tidak merasa takut dan merasa risih.
"Ini nyata bukan di film."
"Bawa aku masuk."
"Oke ayo."
Joy membawa Nara berkeliling bungker tersebut, hingga Joy menghentikan langkahnya saat sampai di ujung bangunan.
"Ini sudah paling ujung sayang." Ucap Joy hendak mengiring Nara kembali.
"Itu ruangan apa?" Menunjuk ke salah satu ruangan berpintu baja.
"Masih penasaran?"
"Aku ingin tahu."
"Apa bedanya?" Joy menggiring Nara dan membuka ruangan tersebut dengan sidik jarinya. Mata Nara melebar, melihat berbagai macam senjata terdapat di sana.
"Untuk apa senjata sebanyak ini? Memangnya akan ada perang?" Nara menatap ke arah Joy heran.
"Untuk anak buahku sayang." Joy menutup pintu ruangan kembali.
"Memangnya harus membawa senjata?"
"Bukan harus tapi wajib. Kamu tidak takut setelah melihat tadi?"
"Tidak. Tapi aku binggung." Joy mengusap puncak kepala Nara lembut.
"Musuhku banyak, itulah alasan kenapa kamu tidak boleh bebas berkeliaran sendiri."
"Seperti aku dulu maksudmu?"
"Tidak sesederhana itu sayang. Dunia bisnis begitu luas,jika kamu selalu menang sudah pasti musuhmu akan bertambah. Mereka iri, ingin menjatuhkan dan ingin memiliki sesuatu yang saat ini ku raih."
"Aku masih tidak mengerti."
"Intinya, tetap bersamaku dan jangan pernah berkeliaran sendirian. Kita pulang oke."
"Hm iya.."
Mobil Joy meninggalkan bungker dengan dua mobil pengawalan yang melaju cukup jauh dari mobilnya. Nara cukup senang dengan pengalaman baru yang di lihatnya tadi sehingga membuat suasana hatinya kembali baik.
"Aku tadi tidak jadi memesan makanan, sekarang kamu mau makan apa? Agar sampai rumah bisa langsung tidur."
"Tidur saja kan?" Tanya Nara seraya tersenyum.
"Jika kamu mau memberikannya, aku terima dengan suka rela."
"Besok saja, aku sangat lelah."
"Okay Baby, kamu suka seafood?"
"Ada nasinya?"
"Iya tentu ada."
"Iya aku mau." Joy membelokan mobilnya ke restoran seafood yang sejalan dengan tujuannya. Setelah memesan mereka di giring untuk duduk di salah satu gazebo yang ada di sana.
Beberapa menit berlalu, pesanan pun datang. Nara segera menikmati sajiannya, begitupun Joy.
"Sebelum bersamaku, kehidupanmu pasti sulit sayang?" Tanya Joy memperhatikan Nara makan dengan lahapnya.
"Iya. Aku ingin menyerah tapi tidak tega pada Ayah."
"Menyerah?"
"Aku tidak bisa berkerja dengan benar saat menjadi pelayan. Selain tidak pernah berkerja, aku pelupa dan teledor jadi... Aku sering kena marah." Jawab Nara tersenyum meski dia tidak ingin kembali lagi seperti dulu.
Flash back
Hari ini hari pertama Nara berkerja, dia berpamitan pada Pak Anto yang tengah berbaring di tempat tidur yang tidak seberapa empuk.
"Kamu yakin sayang?" Tanya Pak Anto mengulang.
"Iya Yah, jika tidak berkerja bagaimana caranya mendapatkan uang?" Jawab Nara mencoba yakin meski dia sendiri tidak yakin akan bisa.
"Maafkan Ayah."
"Tidak. Maafkan aku."
"Ahhh sudahlah, berangkatlah."
"Aku pergi.." Nara tersenyum sejenak lalu melangkah pergi. Ada rasa gugup berlebihan sebab ini kali pertama dia berkerja. Aku pasti bisa. Ibu itu sudah berbaik hati menerima ijazah SMP ku..
Karena kecelakaan tersebut, Nara tidak bisa melanjutkan sekolah karena pemulihan yang membutuhkan waktu berbulan-bulan. Di saat dia ingin kembali bersekolah, otaknya sudah terlalu lemah berfikir sehingga dia memutuskan untuk di rumah saja.
Meski ragu, kaki Nara tetap melangkah masuk restoran. Dia mencoba tersenyum ramah ke pemilik resto.
"Tolong bersihkan etalase depan." Pintanya ketus.
"Alatnya Bu?"
"Ambil di belakang sendiri." Ada getaran hebat pada tubuh Nara ketika mendengar suara kasar tersebut. Dia takut dan sangat takut namun dia sembunyikan rapat karena sangat menginginkan perkerjaan ini.
Setibanya di belakang, Nara merasa binggung dengan lap yang akan di pakainya. Dia sama sekali tidak pernah melakukannya hingga tepukan pundak cukup keras mengagetkannya.
"Suruh bersihin etalase malah melamun??!" Entah siapa yang bersalah tapi bukankah seharusnya pemilik tempat itu memberi tahu dahulu di mana letak lapnya.
"Saya tidak tahu lapnya yang mana Bu."
"Ini apa!!" Menunjuknya kasar.
"Hm iya Bu maaf." Nara tersenyum dan mengambil lap yang terasa keras. Dia semakin binggung, bagaimana caranya bisa membersihkan kaca dengan lap keras itu." Maaf Bu, ini lapnya kenapa keras?" Tanyanya pelan.
"Itu kanebo! Kamu tidak tahu? Rendam dalam air agar bisa di pakai." Nara secepat mungkin mengambil baskom dan air untuk merendam namun suara cempreng pemilik depot kembali mengagetkannya." Astaga Naraaaaa... Itu baskom buat memasak kok kamu buat bersihin etalase!!!" Nara melebarkan matanya dan segera membuang air dari baskom.
"Maaf Bu saya tidak tahu."
"Kalau tidak tahu itu tanya!!!"
Nara pikir dia akan mendapatkan perlakuan itu di awal, namun karena ingatannya payah, membuatnya sering melupakan aturan dan perkataan dari pemilik resto. Nara selalu di umpat dan di marahi setiap hari. Hingga sepulang kerja dia selalu menangis seperti sekarang.
"Ya Tuhan... Aku tidak tahu jika berkerja itu sulit." Nara meraih obat pusing dan meminumnya." Ini berat, hiks, hiks, hiks, aku mencoba mengingat-ingat tapi tetap saja aku melupakannya begitu saja." Itu sering di lakukan hingga seorang pelanggan mengeluh karena tehnya terasa asin.
Nara di seret kasar pemilik resto seraya memberikan sebuah amplop putih.
"Hari ini hari terakhirmu berkerja." Ucapnya kesal.
"Maafkan saya Bu, otak saya memang sedikit terganggu, saya sering lupa."
"Itu bukan urusan saya!!! Kamu tidak becus berkerja dan hanya membuat saya rugi!!!" Nara berlutut di hadapan pemilik resto seraya menangis terisak.
"Jika saya tidak berkerja, kasihan Ayah saya Bu. Dia harus minum obat dan jika saya tidak berkerja bagaimana saya bisa menebus obatnya hiks hiks hiks hiks." Pemilik resto itu terdiam mendengar alasan klasik Nara yang sering di lontarkan.
"Ini kali terakhir!! Jika kau salah lagi, kamu saya pecat!!!" Pemilik resto pergi begitu saja meninggalkan Nara yang masih terduduk di lantai kotor dapur.
Syukurlah Tuhan, sebaiknya aku membuat catatan..
Permohonan seperti sekarang, tidak hanya di lakukan hari ini tapi beberapa kali di lakukan. Nara tidak perduli, seberapa banyak dia harus merendahkan diri untuk memohon, asal dia di maafkan dan kembali mendapatkan perkerjaan maka itu akan di lakukan demi sang Ayah.
Flash back off
"Jika mengingat itu, aku menjadi sangat beruntung bisa bersamamu. Aku merasa jika hidupku sudah kamu beli.."
"Hentikan.." Joy merangkul pundak Nara erat." Aku mencintaimu, jadi tidak ada yang di jual dan di beli." Joy jadi tahu jika selama ini Nara sudah mengalami banyak penderitaan. Dia menganggap jika itu semua sudah cukup untuk membalas perbuatannya dulu.
"Terimakasih sayang, tapi ini sangat pedas." Nara mendongak ke atas seraya memejamkan mata." Tolong mataku sangat perih." Joy meraih tisu dan membersihkan keringat di sekitar mata dan wajah.
"Jangan terlalu banyak sambalnya, nanti perutmu sakit."
"Ini enak tapi sangat pedas."
"Makan yang lain." Joy menyingkirkan udang balado dari hadapan Nara.
"Aku masih kuat sayang."
"Aku takut bayi kita tidak kuat." Nara terpekik ketika Joy mengangkat tubuhnya lalu mengusap perut ratanya.
"Aku tidak hamil."
"Bisa saja sudah ada janin di sini, kita sudah sering melakukannya." Nara mengangguk-angguk seraya menikmati makanannya dan tidak perduli pada Joy yang berusaha menggodanya." Bukankah dingin sayang." Joy menyandarkan kepalanya pada punggung Nara.
"Berat sayang, tidak dingin." Pengunjung yang saling berhadapan dengan gazebo mereka, merasa malu sendiri melihat kemesraan yang di suguhkan oleh Nara dan Joy. Keduanya tidak perduli pada sekeliling dan benar-benar menganggap jika semua tempat adalah miliknya.
"Jika setelah ini aku memintanya bagaimana?" Nara tersenyum, Joy meraih tengkuk Nara dan menjilati saus yang ada di sekitar bibirnya." Manis sekali sayang, aku ingin melakukannya terus." Jilatan itu berubah menjadi l*matan panas sehingga Nara terpaksa menjauhkan wajah Joy dengan tangannya yang kotor.
"Aku sedang makan sayang."
"Jadi setelah makan?"
"Setelah makan kita pulang dan tidur."
Craaaaaaasssssszzzzzz...
Tiba-tiba hujan turun dan membuat udara semakin dingin, Nara menghentikan makan dan mencium aroma hujan yang sangat khas.
"Baunya khas ya, aku menyukainya." Gumam Nara tersenyum.
"Iya, habiskan makannya lalu pulang."
"Ini hujan. Bagaimana bisa pulang?"
"Kamu sudah selesai?"
"Iya, ingin cepat pulang dan tidur." Joy menghubungi seseorang dan tidak berapa lama kemudian, seorang pelayan membawakan payung untuknya.
"Tidak ingin membungkus?"
"Tidak." Joy melepaskan jaketnya dan mengenakannya pada Nara. Dia turun dari gazebo dan mengulurkan kedua tangannya pada Nara.
"Naiklah, bukankah kamu takut basah?"
"Apa bisa sambil membawa payung?" Tanya Nara memastikan.
"Aku tidak akan membiarkanmu jatuh." Nara tersenyum lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Joy. Tangan kanan Joy mengangkat tubuhnya dan menahannya sementara tangan kirinya membawa payung berukuran besar.
"Tidak berat sayang?"
"Tidak. Aku melakukannya dengan cinta jadi terasa ringan. Pegangan yang erat." Nara merapatkan kalungannya seraya menciumi pipi Joy lalu sesekali Joy menoleh dan membuat bibir keduanya bertemu. Dengan gerakan cepat, Joy membuka pintu mobil sehingga Nara segera masuk dengan baju sedikit basah. Joy juga masuk dan meninggalkan payungnya begitu saja di luar.
"Jangan nyalakan pendingin." Pinta Nara mengusap-usap kedua tangannya. Joy ingin memanfaatkan keadaan dan tetap menyalakan pendingin." Sayang dingin sekali." Joy sengaja tidak melajukan mobilnya dulu, dia melepaskan kancing kemejanya dan melepaskan bajunya yang basah. Nara melongok ke arah Joy yang sudah bertelanjang dada sehingga membuatnya ingin mendekat.
Itu pasti hangat, ah tidak, dia pasti ingin melakukan itu, aku sangat lelah tapi... Gigi Nara mulai di rapatkan, rasanya Joy sengaja menambah suhu pendinginnya agar dia kedinginan seperti sekarang.
"Naik sini." Joy menepuk-nepuk kedua pahanya.
"Aku lelah sayang, jangan lagi." Nara melipat kedua tangannya di perut.
"Aku hanya ingin menghangatkanmu sampai rumah."
"Aku tahu kamu menggodaku."
'Oke." Joy kembali menaikan pendinginnya lalu mulai melajukan mobilnya." Satu jam lagi kita sampai." Tutur Joy tersenyum.
"Lama sekali."
"Ini hujan jadi harus pelan-pelan." Jawab Joy beralasan.
Satu jam? Ini sangat dingin. Nara melihat ke arah Joy yang mulai mengoyak pertahanannya.
"Kamu akan membeku sayang."
"Sayang..." Ucap Nara memohon.
"Iya, sini ku hangatkan."
"Hanya menghangatkan, tidak untuk yang lain?"
"No Baby. Get over here." Pertahanan Nara yang tipis membuatnya naik ke pangkuan Joy lalu memeluknya erat. Kepalanya di sandarkan pada dada Joy dengan bibir yang menempel pada leher.
"Hangat sekali." Gumam Nara semakin merapatkan tubuhnya dan tanpa sadar Nara mengigit leher Joy lembut sehingga membuatnya memanas.
"Milikmu berkedut sayang, aku merasakannya." Nara yang sudah pasti tergoda, menghirup kuat-kuat leher Joy merasakan kehangatan serta hasrat yang bercampur menjadi satu.
"Kamu menggerjaiku sayang.." Rasa dingin yang menusuk membuat milik Nara berkedut dan menginginkan Joy memasukinya saat ini juga. Nara kembali mengingat bagaimana panasnya percintaan mereka sehingga tanpa sengaja bibirnya mengigit leher Joy sedikit keras.
"Katanya lelah? Kenapa menggodaku seperti ini?"
"Sudah ku bilang, aku selalu ingin melakukannya jika seperti ini." Nara semakin merapatkan tubuhnya lagi dan lagi. Terdengar deru nafas memburu keluar begitu saja. Joy terkekeh mendengarnya dan sudah bisa di pastikan jika Joy sengaja melakukan ini. Dia ingin melakukan itu tanpa meminta, sehingga dia sedang menunjukkan pada Nara, bagaimana pesonanya yang mematikan dan membuat ratusan wanita bertekuk lutut di hadapannya." Sayang, kamu menertawakanku. Aku tidak tahan." Bisik Nara mulai menggesek-gesekkan miliknya pada milik Joy yang sudah mengeras sejak tadi.
"Kamu lelah sayang, aku tidak tega melakukannya." Jawab Joy tersenyum menang, dia ingin menggoda Nara dan membuat Nara memohon padanya.
"Aku benar-benar ingin." Nara mendekatkan bibirnya pada bibir Joy namun Joy tidak membalasnya.
"Ingin apa?" Joy mengecup sebentar bibir Nara.
"Sudah basah.." Nara melenguh lembut hanya dan merasakan milik Joy yang menekan miliknya. Joy tersenyum dan memarkir mobilnya di bagasi." Katamu satu jam?" Protes Nara.
"Aku berbohong karena kamu juga berbohong."
"Aku tidak pernah berbohong."
"Lalu ini? Katamu lelah dan tidak ingin tapi kenapa kamu seperti ini sayang." Joy mengusap lembut pipi Nara dan menatapnya lembut hingga beberapa detik berlalu kedua sudah saling *******." Kita lakukan di dalam." Nara hanya mengangguk seraya mengeratkan kalungannya sebab Joy mulai berdiri lalu berjalan.
Bik Yanti yang melihat itu tersenyum seraya mengalihkan pandangannya ke arah Andra." Tidak ingin seperti itu Ndra?" Andra merupakan keponakan dari Bik Yanti yang di percaya sebagai kaki tangan Joy.
"Belum ada yang cocok Bik hehe."
"Cari Ndra, biar bisa merasakan kasmaran seperti Tuan."
"Sibuk Bik, Bibik kan tahu kalau aku harus siap setiap saat. Bagaimana bisa mencari gadis."
"Belum bertemu jodoh Ndra, nanti kalau ketemu meskipun kamu sibuk juga tetep ketemu."
"Iya Bik doain ya.." Andra jadi mengingat kejadian beberapa hari lalu saat tidak sengaja memergoki Joy bercinta dengan Nara. Aku ingin mencari istri yang agresif tapi manja seperti Non Nara.. Ahh belum apa-apa sudah kepanasan, sebaiknya aku beristirahat saja, mumpung Tuan sedang bercinta..
~Tere Liye
itu joy naranya dijaga benar benar jangan disia sia in kasian dia🥰🥰
korban selanjutnya....