Ini adalah kisahku dalam menunggu cinta pemuda yang kata peramal keluarga adalah keturunan ksatria.
Pemuda yang katanya menguasai ilmu-ilmu Jawa yang sudah tua umurnya.
Pemuda yang membuatku takut akan terkena mantra peletnya saat berjumpa pertama kali dengannya.
Pemuda yang banyak pacarnya, yang untuk mendapatkannya aku harus antri dan berebut dengan wanita lainya.
Namaku Selia, wanita yang terjebak cinta paranormal muda tapi tidak diceritakan dalam petualangan asmaranya.
Kan kam*pret namanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ch 21
Dengan satu kali lompatan, Al sudah menyingkir dan berniat hanya jadi penonton. Aku melihatnya dengan kesal, setengah memaki orang yang kukasihi itu. Siapa yang menyangka ujung dari ilmu pengasihan yang aku minta membawaku hingga sejauh ini?
Terbersit sedikit saja tidak pernah kalau aku harus menghadapi makhluk buas seperti ini. Aku ini seorang putri, Al. Jangan keterlaluan kamu!
"Ayolah sayang… ini waktunya menjajal apa yang kamu punya, pengasihan itu juga kedigdayaan. Ini debutmu…!"
Debut? Ini bukan pertunjukan seni tari. Ini ujian hidup dan mati. Aku mengeluh aku tidak punya senjata apapun, sepertinya Al memaksaku bertarung dengan tangan kosong.
"Kamu gila, Al. Kalau saja aku tidak selamat menghadapi makhluk jelek ini, aku ingin kamu tau sesuatu?"
"Apa itu?"
"Aku mencintaimu," kataku serius. Aku ingat aku belum sekalipun mengatakan isi hatiku padanya.
Bukannya membalas pernyataan cintaku, dia malah senyum-senyum sinting seraya memberikan isyarat cium jauh untukku.
Aura hitam menyelubungi harimau besar itu, sedangkan aku hanya terbungkus oleh aura tipis kekuningan. Aku bernafas panjang untuk memantapkan hati sebelum memasang kuda-kuda.
Putri Solo ehh... Yogya siap bertarung…!!!
Aku berkonsentrasi penuh pada tiap gerakan harimau besar itu, meski gerakannya gesit secepat kilat tapi mataku ternyata mampu mengikutinya.
Terkaman pertama dengan mudah aku patahkan. Aku melompat ke kiri dan membiarkan dia menangkap udara. Harimau itu mengerang marah, mungkin tidak menyangka kalau aku bisa menghindar.
Al tidak berbohong, ternyata aku punya kekuatan karena menguasai empat cabang pengasihan itu. Bahkan gerakanku juga jadi amat cepat seolah ada orang lain yang menggerakkanku. Mantra itu benar-benar bernyawa dan hidup dalam diriku.
Aku bersiaga kembali saat bayangan hitam besar berkelebat mengarah padaku, harimau itu menambah kecepatan hingga wujudnya tidak terlihat jelas. Aku menjejak dengan keras dan melenting menyambut bayangan itu, tangan kananku mengambil momentum seperti menampar ketika bertubrukan. Memukul keras hingga terdengar suara berdebam karena harimau itu jatuh dan terlempar beberapa meter.
Wujudnya tampak jelas lagi, dia berusaha berdiri dengan erangan kesakitan. Di bawah telinganya ada bekas telapak tangan berwarna kuning pucat menembus aura hitam yang menyelubunginya.
Aku melirik telapak tanganku dengan penasaran, ada pendar kuning emas keluar dari sana membentuk lingkaran dan simbol rumit yang tidak aku mengerti. Rajah yang ditulis Al menyala dengan indah.
Senyumku mengembang saat meliriknya, ternyata tanganku tidak kosong. Al sudah mengisinya tanpa aku sadari.
My boyfriend emang misterius dan banyak kejutan. Kapan ya aku dapat kejutan bunga darinya?
Aku belum sempat melanjutkan imajinasiku tentang Al ketika harimau itu mengaum dengan sangat keras. Warnanya yang hitam semakin pekat dan auranya menekan sekitar dengan kuat.
"Ayo beb, nggak pakai lama! Kita harus segera kembali, tubuhmu belum siap 100%," seru Al yang sama sekali tak berniat membantu.
Baiklah, kali ini biar aku saja yang mengejarnya. Aku langsung mengikis jarak dan tiba di depan harimau itu hanya dalam waktu sepersekian detik. Hewan jadi-jadian itu menyambutku dengan cakar cepatnya yang membuat guratan tajam di lengan kiriku. Aku hanya meringis menahan nyeri dari luka tak berdarah ini.
Tapi aku juga sudah menangkap satu kaki depannya dan memukul sangat keras dengan telapak kananku hingga keluar asap kuning. Aku meremukkan satu kakinya, hal itu membuat dia putar arah hendak pergi meninggalkan area pertarungan.
Enak saja mau kabur!
Aku melompat dan duduk dipunggung harimau itu. Sebelum dia melemparkanku, aku kembali memukul batok kepalanya hingga terdengar suara rengkahan sesuatu yang pecah dari dalam tubuhnya. Aku melompat turun sebelum dia terjatuh dengan tragis.
Harimau itu mengaum rendah dan mengerang kesakitan. Aku mendekatinya dengan waspada, dia sudah tidak banyak bergerak. Hanya mata merahnya saja yang terus mengawasi penuh dendam.
Aku memeriksa kepalanya, dan terkejut karena harimau itu tiba-tiba mengangkat kepalanya. Aku reflek mencengkeram moncongnya, mencabut taringnya dan memukul dengan kekuatan penuh. Harimau itu menggelepar dan berubah jadi abu, meninggalkan taring dan beberapa kumisnya di tanganku.
Belum sempat aku mengamati apa yang ada di tangan, seseorang berkelebat cepat dan menarikku menyebrangi dimensi. Aku terduduk lemas di ruang tamu dan tak kuat melakukan apapun selain bernafas dan berkedip.
"Nizar… bisa minta air putih buat kakakmu?"
"Iya," Nizar tergesa mengambilkan air minum untukku.
Aku lihat Kalingga masih belum sadar, orang pintar yang dibawanya sedang memijat kepala bagian belakangnya.
Al membantuku minum dan duduk. Kondisiku berangsur membaik, hanya saja lelah yang aku rasakan makin bertumpuk. Rasanya tubuhku remuk luar dalam.
"Kamu butuh meditasi, Beb! Itu penting untuk penyembuhan, bisa rusak tubuh dan mentalmu kalau tidak melakukannya." Tutur Al lirih di depanku.
"Iya, Sayang."
Al mendekati Kalingga yang masih tergeletak tak sadar. Dia meminta orang pintar itu untuk bergeser. Aku hanya mendengar Al membaca bismillah, tapi tidak mendengar apa yang diucapkan berikutnya.
Dia mengusap telapak kaki, telapak tangan dan wajah Kalingga. Menunggunya sebentar dan kemudian meninggalkannya untuk kembali padaku.
Kalingga menggeliat, memiringkan badannya melengkung dan mengeluhkan sakit pada badannya. Tangannya memegang kepala, "Kepalaku sakit sekali!"
Orang pintar itu membantunya duduk dan memberikan pijatan pada bahunya. "Mas Lingga terlalu tegang."
"Apa aku pingsan lagi?"
"Iya, kayaknya Mas Lingga terlalu banyak pikiran. Butuh istirahat agak banyak biar nggak mudah pingsan!"
Kalingga mengangguk dengan ekspresi bodoh, mungkin pikirannya belum kembali utuh. "Iya kayaknya kita harus pulang, Ki. Saya pingin tidur, ngantuk berat."
"Apa urusan kita sudah selesai di sini, Mas?" Tanya orang pintar itu pada Kalingga.
"Iya sudah, nggak ada apa-apa dengan Selia. Dia baik-baik saja, dia juga sepertinya butuh istirahat, jadi bimbingannya besok saja!" Jawab Kalingga dengan wajahnya yang membosankan. Persis seperti ekspresi yang selalu ditunjukkan padaku sebelum terkena ajian pengasihan.
Kalingga? Kamu nggak amnesia kan? Kok ngomongnya ngelantur, apa itu karena mantranya sudah luntur?
"Al… apa Kalingga baik-baik saja?"
"Ofcourse yes, Dear. Kamu yang mungkin bakalan nggak baik-baik saja!"
"Kok bisa?"
"Iya, kamu harus ketemu dia yang menyebalkan lagi. Belajar yang rajin!" Ujar Al dengan seringai mengejek.
Aku menarik nafas berat, masalahku dengan Kalingga ternyata tidak bisa selesai dengan mudah. Aku tidak tau lagi harus menangis atau tertawa jika begini kejadiannya.
"Mantranya sudah luntur?" Tanyaku memastikan lagi pada Al.
Al mengangguk, "Itu yang kamu mau kan?"
"Iya sih, tapi…"
"For next jangan main-main lagi ya sama mantra pengasihan yang kamu punya. Gunakan sebagai mana tempatnya, tempat dimana dan pada siapa kamu seharusnya memasangnya!"
Aku mengangguk berat, meskipun singkat kata-katanya sudah menjelaskan semuanya. Seharusnya itu memang digunakan saat genting, saat menyelamatkan rumah tangga yang kemudinya sedang oleng misalnya.
"Aku percaya padamu, Beb!" Sambungnya serius tapi dengan kedipan mata jenaka.
Lagi-lagi sihirnya bekerja, membuat kepalaku mengangguk dengan cepat. " Ohya Al, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."
"Hem, apa itu?"
Aku menunjukkan sesuatu yang masih ada dalam genggaman tanganku, "Aku tidak sengaja membawa ini dari alam sana, apa ini tidak apa-apa? Jujur saja aku agak takut."
Al tertawa terbahak-bahak, "Kamu benar-benar mencabut taringnya, Beb! Iseng banget kamu, sampai kumisnya ikut terbawa juga…"
Orang pintar yang bersama Kalingga langsung mendekat penasaran, "Apa itu, Mas?"
Al membuka tangan dan menunjukkan apa yang aku berikan pada orang pintar itu. Matanya langsung terbelalak dengan takjub, mengambil satu bulu kumis dan menjilatnya. Setelah itu diletakkan di telapak tangan satunya. Aku ikut melihat dengan ngeri, bagaimana tidak kumis harimau gaib itu menggeliat dan bergerak seperti cacing kepanasan.
"Wow ini barang berharga, Mas! Bisa buat jimat." Puji orang pintar yang menurutku tidak cukup pintar itu.
Jimat? Setauku jimat itu adalah lelucon yang berarti barang siji dirumat.
***