Bagaimana rasanya dibesarkan ayah tunggal yang kurang perhatian?
Hidup Eldrey adalah jawabannya.
Lahir dari latar adidaya, membuatnya tidak tahu arti keluarga. Terlebih dengan sepak terjangnya sebagai bekas orang rumah sakit jiwa, sosoknya pun jadi dipoles sedemikian rupa.
Namun dia tetaplah boneka. Cantik tapi tak bisa diraih perasaannya. Sampai pesonanya pun berhasil mengusik hati para lelaki yang tak dianggapnya.
Jadi, akankah para pemuja itu mampu meluluhkannya? Mengingat Eldrey ternyata menderita sakit mental dalam menjalani kehidupannya.
IG : miqaela_isqa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alice dan Eldrey
Suara langkah kaki yang santai, diiringi tatapan orang-orang di sekitar mereka, membuat Eldrey dan sekretaris Roma jadi perbincangan penghuni kantor.
Berita tentang putri presdir Betrand yang magang di perusahaan ayahnya pun, sudah tersebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Walau tidak semua orang tahu, seperti apa sosok putri atasan mereka.
Gosip-gosip yang mengatakan bahwa presdir Betrand akan segera turun dari singgasananya dan digantikan putrinya mulai tersebar.
Seolah-olah, kedatangan gadis itu ke kantor merupakan tanda-tanda kalau ia sedang bersiap untuk duduk di kursi tertinggi.
Sayangnya, kenyataannya berbeda.
Kedatangan Eldrey dan semua pelajaran tentang perusahaan ayahnya, bukanlah persiapan sebagai pewaris tahta presdir Betrand, melainkan sebagai bidak catur ayahnya.
Benar, gadis itu akan menjadi pion bagi kemajuan keluarga tersebut. Ia akan diletakkan presdir Betrand digaris terdepan untuk memuluskan rencananya menggulingkan bisnis-bisnis saingannya.
Tidak ada pion sebaik dirinya, sekalipun dia jadi pion tak berguna, setidaknya dirinya masih memiliki fisik yang luar biasa sebagai modal dan daya jual presdir Betrand untuk melebarkan sayap bisnisnya.
Siapa pun pasti mengira jika presdir Betrand tidak menyayangi putrinya, tapi tidak.
Justru sebaliknya, dia sangatlah menyayangi putrinya. Karena itu, jika seandainya putrinya terlahir sebagai kerikil, maka dia akan berusaha memoles Eldrey menjadi permata tidak peduli bagaimana dan apa pun caranya.
Baginya tidak ada yang tidak mungkin. Selama ada uang, semua akan bisa terlaksana, tak peduli apa pun yang harus ditempuhnya.
Di ruangannya, Eldrey sibuk membaca serta mempelajari dokumen-dokumen dan laporan perusahaan. Baik itu dokumen ataupun laporan dari manajemen keuangan, sistem divisi keamanan, fungsi tiap divisi perusahaan, jual beli saham, dan lain-lain pun ia baca dan pelajari sampai sekretaris Roma yang melihatnya terasa menyedihkan.
Gadis itu bahkan hampir saja melewatkan makan siangnya jika tidak diingatkan sekretaris Roma. Cuaca yang cukup panas dan jam yang sudah menunjukkan pukul 15.00 pun menghentikan aktivitas Eldrey. Ia terpaksa menghentikannya karena panggilan yang masuk ke ponsel.
Eldrey hanya menatap ponselnya di atas meja. Tertera nama Alice dipanggilan masuk itu. Gadis tersebut tidak peduli dan memilih mensilent ponselnya.
Alice yang berusaha menghubungi Eldrey pun bingung karena panggilannya tidak diangkat.
“Eldrey, apa kamu sedang sibuk?” gumam Alice pelan.
Dari semenjak bu Ann pergi tadi pagi dan sampai sekarang, gadis itu masih terbaring di tempat tidurnya. Tidak ada tanda-tanda ia akan bangun, wajahnya sangat keruh dan matanya masih sedikit sembab walau ia sudah tidak menangis lagi.
Here’s to the ones that we got
Cheers to the wish you were here
But you’re not
‘Cause the drinks bring back all the memories
Of everything we’ve been through
Toast to the ones here today
Toast to the ones that we lost on the way
Itu adalah penggalan dari nyanyian lagu penyanyi terkenal yang dijadikan Alice sebagai nada dering panggilannya yang berbunyi.
“Liz? Ada apa kamu meneleponku?” tanya Eldrey dari seberang telepon begitu panggilan diangkat.
“Bisakah kita bertemu?”
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan ke rumahmu nanti malam."
“Mm,” balas Alice lalu memutus panggilan.
*******
Masih di kantor dalam ruangannya, Eldrey pun meletakkan laporan yang sedang dipegang.
“Sekretaris Roma. Malam ini aku ada urusan, jadi cukup sampai di sini saja,” tukas gadis itu.
“Baiklah Nona, kalau begitu mari kita pulang,” balas sekretaris Roma.
Mereka berdua pun melangkah keluar ruangan untuk pulang ke rumah. Saat akan memasuki lift, keduanya berpapasan dengan predis Betrand.
“Sudah mau pulang?”
“Iya Ayah,” balas Eldrey.
“Mm, pulanglah dan istirahatlah, wajahmu terlihat pucat,” tukas presdir Betrand sambil menyentuh wajah Eldrey.
“Baik ayah, kalau begitu aku pulang dulu,” balas Eldrey sambil memasuki lift.
Sekretaris Roma pun mengikuti langkahnya begitu ia selesai memberi hormat dengan sikap sempurna pada presdir Betrand.
“Kudengar si pak tua Charlie akan segera kembali,” ucap Eldrey sambil membuka pintu mobil di parkiran.
“Benar Nona, dua hari lagi dia akan mulai bekerja lagi,” sahut sekretaris Roma yang sudah masuk ke dalam mobil dan mulai mengendarainya.
“Menarik sekali. Sekarang tangan kirinya pun sudah kembali. Bagus untukmu bukan? Kau tidak perlu sendirian lagi mengurus semuanya,” ledek Eldrey.
“Benar Nona, karena bagaimanapun juga, saya bukanlah apa-apa dibandingkan tuan Charlie,” balas sekretaris Roma sopan.
“Hm? Sekretaris Roma terlalu merendah. Bahkan jika kamu mau, kamu bisa saja menelan perusahaan ayahku,” puji Eldrey.
“Maaf Nona, sepertinya anda sudah salah paham pada saya,” sergahnya.
Gadis itu tiba-tiba tertawa. "Aku tidak salah paham, aku hanya memujimu,” sambung Eldrey.
Sekretaris Roma lalu menoleh pada gadis itu. “Bahkan jika Nona menganggap itu pujian, tapi itu tidaklah benar."
“Hah,” Eldrey menghela napas kasar. “Kau itu tidak menyenangkan, kau terlalu kaku, pak tua Charlie jauh lebih baik darimu,” sindirnya.
“Benar Nona. Bagaimanapun juga, saya bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan tuan Charlie."
Eldrey menatapnya dingin, “tutup mulutmu, aku muak mendengar ocehanmu.”
Setelah memasuki kediaman mewah itu, seperti biasa Eldrey langsung pergi begitu saja meninggalkan sekretaris Roma tanpa bicara begitu keluar dari mobil.
Sesampainya di kamar, ia langsung mandi dan bersiap-siap dengan dandanan santainya. Memakai ripped jeans dan kaos oblong serba hitam, serta jaket denim yang ia ikatkan di pinggang.
Dirinya juga hanya mengenakan sunblock, tidak ada blush on atau lipstik maupun liptint di bibirnya yang memang aslinya sudah berwarna merah. Sehingga, wajahnya bertambah pucat karena dandanan polosnya itu.
Setelah merasa tidak ada yang kurang, ia pun keluar kamar dan pergi menemui sekretaris Roma.
“Nona, anda mau ke mana?” tanya sekretaris itu melihat Eldrey menghampirinya.
“Bukankah sudah kubilang kalau aku ada urusan malam ini?”
Sekretaris Roma melirik gadis itu dari atas ke bawah. “Urusan? Dengan dandanan santai begini?” gumam sekretaris Roma.
“Maaf Nona. Tapi saya yakin kalau anda tidak lupa jika tuan sudah meminta anda untuk istirahat di rumah,” lanjutnya.
“Istirahat? Aku tidak sakit, kenapa aku harus istirahat?” balas gadis itu.
“Wajah anda pucat. Bahkan sudah begitu sejak tadi pagi, saya pikir sebaiknya anda tidak ke mana-mana.”
“Itu karena aku tidak memakai blush on, berhentilah bersikap berlebihan! Kalau kau secemas itu, lebih baik kau antar aku pergi!” perintahnya.
“Baiklah kalau begitu Nona,” sekretaris Roma meninggalkannya sebentar untuk mengambil kunci mobil dan mengantarnya.
Sesampainya di depan rumah Alice, “aku mungkin lumayan lama di sini, aku akan menghubungimu jika aku mau pulang."
“Baik Nona.”
Mendengar itu, Eldrey pun meninggalkan sekretaris Roma. Sang sekretaris hanya memperhatikan setiap langkah Eldrey sampai gadis itu masuk ke dalam rumah. Setelahnya, barulah ia pergi.
Tidak ada satu pun orang yang terlihat di rumah Alice. Eldrey bisa menebak jika gadis itu hanya di kamarnya saja seharian, mengingat lampu rumah yang mati padahal sudah malam.
“Liz?” panggil Eldrey membuka pintu kamar. “Aku sudah mengunci pintu, apa kamu sadar jika ini sangat beresiko membiarkan pintu tidak di kunci karena kamu seharian saja di kamar?” sambungnya.
“Rey,” panggil Alice.
Eldrey hanya berdiri menatapnya, kondisinya terlihat cukup menyedihkan, dengan rambut siap mandi yang belum disisir dan wajah lesu seolah tidak menginginkan apa-apa.
“Hah,” hela napas Eldrey.
Spontan ia langsung membuka lemari pakaian Alice, memilih hotpants abu-abu dan kaos putih lalu memberikannya pada Alice. “Pakai ini,” tukasnya pada Alice.
Alice hanya menatapnya heran, “kenapa aku harus pakai ini?”
“Karena kita akan keluar malam ini,” ajak gadis itu sambil mengambil sisir dan alat-alat make up Alice.
Selesai ganti baju, Eldrey mendandani Alice sebaik-baiknya, wajahnya jauh lebih fresh dari yang tadi, make up feminin dengan rambut yang terurai.
Berbeda sekali dengan Eldrey yang terlihat agak tomboi juga tanpa make up dan agak pucat, dengan rambut yang digulung asal-asalan namun berkelas.
Mereka berdua benar-benar memiliki aura yang berbeda. Jika Alice terlihat lebih ceria, hangat dan juga terbuka. Sedangkan Eldrey hanya memiliki satu kata untuknya, auranya misterius hanya itu.
Mereka berdua pergi dari rumah dan memesan taxi online. “Kita akan ke mana Rey?” tanya Alice heran.
“Nightclub, untuk menghilangkan stres,” balas gadis itu sambil tersenyum manis pada sahabatnya yang melongo mendengarnya.
walaupun agak berat isi ceritanya...
sejauh ini cukup menghibur sekali
good job, Thor...?!
dah lah van, hancurkan aja semuanya
Mksih kak udah ubek ubek perasaanku di cuaca mendung ❤️❤️❤️,,
Jadi mager kan 🤭
nyesek sih bikin mereka pada kayak gitu, tapi itulah arti dari judulnya.
Jujur aku gak tahu gimana sensasi yg dirasakan readers saat membaca, tapi semoga kalian terhibur, maaf banget kalo aku bkin ny kadang kurang mendetail, takutnya trnyata risetku salah, atau takutnya ada mengandung unsur gimana2.
lain kali aku bakalan bkin novel yg gk tragis lagi deh, 👍🏿
oh ya ini IG otor 👉🏿 miqaela_isqa
Nantiin ya karya otor selanjutnya, genre romansa komedi sih, moga2 bab ny gak panjang 👍🏿 terus dukung ane y para readers, sampai jumpa lagi di bulan baru. Babay 🙌🏿😚
Tegang hati aku thor 😍