NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:701
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Rumah yang Tak Lagi Sama

​​Tiga hari kemudian, dokter akhirnya mengizinkan Hanifah pulang. Kondisinya mulai membaik, meski wajahnya masih tampak pucat pasi.

​Arkana membantu memasangkan helm ke kepala istrinya. "Sudah nyaman helmnya, Dek?" tanyanya pelan.

​Hanifah hanya mengangguk singkat. "Sudah, Mas."

​Sejak kehilangan ketiga buah hati mereka, ia menjadi jauh lebih pendiam. Sepanjang perjalanan pulang di atas motor, tak satu pun dari mereka bersuara.

​Begitu motor berhenti di depan rumah, Arkana membantu Hanifah turun. Di teras, beberapa orang sudah berdiri menunggu. Ayah dan Ibu Hanifah, serta Ayah dan Ibu Arkana.

​"Assalamu'alaikum..." ucap Hanifah lirih.

​"Wa'alaikumsalam..." sahut mereka berbarengan.

​Hanifah melangkah perlahan mendekati ibunya. Baru dua langkah, air matanya menetes. "Ibu..." tangisnya pecah, merangkul ibunya erat. "Maaf, Bu... Hanifah gagal..."

​Ibu Hanifah mengusap lembut kepala putrinya. "Jangan berkata begitu, Nak. Kamu tidak gagal. Kamu sudah menjadi ibu yang baik. Allah hanya menitipkan mereka sebentar."

​Ibu Arkana mendekat, ikut memeluk punggung Hanifah. "Nak... Ibu tahu ini sangat berat. Tapi jangan salahkan dirimu ya. Kamu sudah menjaga mereka semampumu."

​Hanifah mengangguk terisak di balik pelukan kedua ibunya.

​Sementara itu, Ayah Arkana merangkul bahu putranya. "Kamu juga jangan terus menyalahkan diri sendiri, Arkana. Kalian berdua sudah berusaha."

​Arkana menunduk dalam-dalam. "Maaf, Yah... Aku tidak bisa menjaga mereka."

​"Bukan salahmu," bisik ayahnya menepuk pelan punggung Arkana. "Kadang ada ujian yang memang tidak mampu kita hindari."

​Setelah sedikit tenang, mereka melangkah masuk. Hanifah menghentikan langkahnya di ambang pintu, menatap sekeliling.

Rumah ini terasa berbeda. Dinding ruang tamu kini dicat putih bersih, dan di samping jendela ada sofa kecil yang tertata rapi.

​Ia melangkah ke kamar utama dan membuka pintunya perlahan. Tempat itu sunyi. Tiga keranjang bayi dan kardus perlengkapan bayi yang dulu menumpuk di sana kini sudah tak ada.

​Hanifah melangkah ke lemari pakaian, lalu membuka pintunya. Sebagian besar pakaian bayi sudah dibersihkan, tetapi di rak paling bawah masih ada tiga stel baju bayi mungil. Biru, kuning, dan putih.

​Tangannya gemetar mengambil ketiga baju itu, lalu mendekapnya erat ke dada. "Eka... Dwi... Tri..." bisiknya terengah-engah dalam tangis. "Ibu sudah pulang... tapi kalian tidak ikut pulang..."

​Di luar kamar, Arkana hendak menerobos masuk mendengar tangisan istrinya, namun sang ayah menahan tangannya.

​"Biarkan dulu, Arkana," tahan ayahnya.

​"Tapi, Yah... aku takut Hanifah kenapa-kenapa!" panggil Arkana cemas.

​Ayahnya menggeleng pelan. "Percayalah, dia hanya butuh waktu. Kadang seseorang perlu menangis sendirian sebelum kembali berdiri."

​"Kalau dia nekat didalam sana bagaimana, Yah?" desak Arkana menatap pintu kamar.

​"Hanifah itu wanita kuat. Biarkan dia berbicara dengan rasa rindunya," bisik ayahnya menenangkan. "Nanti kalau tangisnya reda, barulah kamu masuk."

...----------------...

​Menjelang sore, kedua orang tua Hanifah bersiap pulang.

​Ayah Hanifah menjabat tangan Arkana erat. "Hanifah kami titip ya, Nak. Tolong jaga dia baik-baik."

​"InsyaAllah, Yah," janji Arkana mengangguk mantap.

​Ibu Hanifah memeluk putrinya sekali lagi. "Kalau rindu Ibu, langsung telepon ya, Nak."

​"Iya, Bu..." sahut Hanifah pelan.

​Ayah Hanifah tersenyum tipis. "Besok Ayah sudah mulai bekerja lagi. Kalau Ayah tidak bekerja, dapur di rumah tidak mengepul. Ayah harus kembali mencari nafkah."

​"Semoga pekerjaan Ayah selalu dimudahkan," doa Arkana tulus.

​"Aamiin," jawab mereka serentak sebelum berpamitan.

​Sebelum beranjak pulang, Ayah Arkana berjalan menuju rumah sebelah untuk menemui Pak Hadi dan Bu Sulastri.

​Pak Hadi membuka pintu rumahnya. "Eh, silakan masuk, Pak."

​Ayah Arkana tersenyum lalu menjabat tangan Pak Hadi erat. "Saya hanya sebentar, Pak Hadi. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak."

​Pak Hadi menaikkan alisnya bingung. "Terima kasih untuk apa, Pak?"

​"Kalau bukan karena Bapak dan Bu Sulastri yang menemukan Hanifah dan membawanya ke rumah sakit... mungkin kedaan akan jauh lebih buruk," tutur Ayah Arkana haru.

​Pak Hadi menggeleng pelan. "Jangan begitu, Pak. Itu sudah kewajiban kami sebagai tetangga."

​"Orang tua Hanifah juga menitipkan rasa terima kasih kepada Bapak sekeluarga," tambah Ayah Arkana. "Sebab besok mereka sudah harus kembali bekerja."

​"Sampaikan pada mereka, kami tidak mengharapkan balasan apa pun. Yang terpenting Hanifah selamat," balas Pak Hadi tersenyum hangat.

​Ayah Arkana merogoh ponselnya dari saku. "Kalau berkenan... bagaimana kalau kita saling bertukar nomor telepon, Pak Hadi? Siapa tahu suatu saat ada hal yang perlu dikabarkan."

​"Tentu, dengan senang hati," sahut Pak Hadi mengangguk setuju.

​Sementara itu, di dalam kamar yang terkunci rapat, Hanifah masih terduduk di tepi ranjang. Ia memeluk tiga stel pakaian bayi kecil itu di dadanya, membiarkan sisa-sisa air matanya menetes pelan menembus kain mungil tersebut.

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!