PART DUA Novel KETIKA KEHORMATAN KU DI PERTANYAKAN.
"BISMILLAH CINTA" seru Khadijah sebelum ia bersujud di sepertiga malam nya. Setelah pagi tadi ia merasakan gugup dan jantung nya berdetak kencang untuk pertama kali nya saat dekat dengan seorang laki-laki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumtazah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
"Dari siapa, dek" Tanya Akbar
"Tidak tau, mas"
"Assalamu'alaikum" Teriak Bilal dan Ali
"Waalaikumsalam"
"Maa syaa Allah, banyak sekali" Bilal langsung mengambil satu snack, diikuti oleh Ali.
"Kau ini," Akbar menyentil telinga Bilal dan Ali sevara bergantian, "Taruh semua itu," Bentak nya sambil menuding Snack yang di pegang oleh kedua nya.
"Ya kali, mas. Kami lapar"
"Itu belum jelas dari siapa"
"Maksdnya ini, barang Haram?" Ali langsung melemparkan snack tersebut, diikuti oleh Bilal.
Khadijah masih diam, ia juga tak mau menyentuh semua paket yang baru saja datang tersebut.
"Sungguh Khadijah tidak tau, mas. Percayalah" Khadijah meyakinkan Akbar "lihat ini semua, dia terus saja mengirim pesan kepada Dijah"
Akbar mengambil Handphone tersebut, setelah itu ia mengecek nya. Membaca se semua pesan singkat yang masuk ke handphone Khadijah.
"Kenapa gak bilang sama mas Akbar sejak dulu?"
"Khadijah awalnya gak mau respon, mas. Gak nyangka kalo dia jauh begini" Jawab Khadijah takut "Maaf," Selanjutnya ia menunduk.
"Mas bawa Handphone Khadijah boleh?"
"Sampean kan mau nikah, mas. Jangan ribut ini dulu. Dari pada mubazir kita makan saja dulu"
Celetukan Ali membuat Akbar bepikir, apa yang di katakan nya memang benar. Besok ia menikah, tidak ada waktu untuk mencari tau nomor ini.
"Jangan di hapus, setelah nikah mas akbar akan cari tau"
"Terus?" Tanya Bilal
"Apa nya yang terus?" Kesal Akbar
"Ini," Bilal menunjuk sesuatu dengan tatapan matanya
"Khadijah tetap tidak mau makan, mas Ali dan mas Bilal bisa ambil semua nya"
Bibir mereka langsung tersenyum, tanpa melihat Akbar, merekapun membawa pergi semua nya. Kecuali bunga mawar merah segar yang sangat harum.
"Ini seperti nya bukan wangi bunga mawar, tapi seperti parfum. Bunga mawar tidak menyengat seperti ini bau nya"
***
"Dijah benar-benar gak mau ikut?"
"Enggak, bi. Dijah gak mau keluar rumah, entah kenapa dijah malu"
Hati usman terasa sakit, sejak kejadian itu sikap Khadijah berubah total. Ia lebih sering diam, tidak lagi se ceria dulu. Jika dulu Khadijah sangat khawatir dan tidak akan mau tinggal diam jika ada acara ataupun atau pun sakit. Kini Khadijah bersiap biasa-biasa saja.
"Ikutlah, dijah. Kan mas Akbar kamu mau nikah"
"Lagian cuma nikah siri, umi. Biarkan nanti kalau resepsi saja"
"Dijah jangan begini terus, abi sama umi sedih"
"Maafin Khadijah, umi, abi" Khadijah meraih tangan usman dan Hanum lalu menggenggam nya "Khadijah sayang sama abi dan umi, tapi biar kan Khadijah begini dulu. Khadijah ingin sendiri seperti ini dulu"
"Baiklah sayang, tapi bagaimana TPQ kamu? Kenapa kamu lewatin pahala yang satu itu"
"Khadijah masih ingin di dalam rumah, sementara Dijah serahkan kepada Risma"
"Ya sudah, abi memaklumi nya. Kamu memang masih sedih, tapi abi minta kamu jangan sampai seperti kemarin"
Khadijah tersenyum dan mengangguk.
Luka itu memang kecil, tapi sangat perih. Bagi Khadijah, wanita yang slalu menjaga dirinya agar tidak jatuh cinta, menjaga hati nya agar tidak mudah luluh, menjaga pandangan nya agar tidak sampai mengagumi siapapun. Dan ketika semua secara tiba-tiba ia melepaskan semua pegangan nya, tak lagi menjaga dirinya, hati dan pandangan nya hingga ia jatuh cinta, namun dalam sekejap ia merasa kecewa.
Hari ini ia sudah kuat, sudah berusaha menyembuhkan luka nya sendiri. Khadijah tidak ingin siapapun menjadi obat hati nya, ia ingin menyembuhkan nya sendiri agar ketika luka itu sudah sembuh, ia merasa sangat lega.
Penasaran ......
ko gak up
lama lohh nunggu nya...