Syakira Anandita. Gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun, rela bekerja menjadi apa saja demi menghidupi diri dan adiknya-Jonathan.
Sepuluh tahun lalu, ibu yang menjadi sandaran satu-satunya harus menghadap Sang Ilahi setelah melahirkan Jonathan, sedangkan sang ayah entah di mana rimbanya.
Hadirnya dua lelaki merubah perjalanan hidup Syakira. Sedih, tangis dan tawa mewarnai hari-harinya.
"Aku memang tak pandai mengungkapkan rasa cinta, tetapi izinkan aku menjagamu semampu dan sepanjang usiaku." Edric Michael Anderson.
"Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihanku, tetapi jatuh cinta padamu di luar kendaliku." Alex Gavin Diaz.
Namun, Syakira, Edric dan Alex harus sama-sama menelan pil pahit karena sebuah kenyataan yang membuat mereka enggan mengenal cinta kembali.
Apa yang sebenarnya terjadi dan siapakah yang menjadi pelabuhan terakhir cinta Syakira?
Daripada penasaran, simak ceritaku, yuk!😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Komala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syakira Siuman
Tiga minggu telah berlalu.
Alex dan Jonathan dengan setia berada di samping Syakira setiap saat. Alex merasa bersyukur dan tak henti membisikkan kata terima kasih di telinga Syakira kerena gadis itu tetap berjuang untuk hidup, setelah sempat gagal napas beberapa minggu lalu. Memang, semua tak terlepas dari tangan dan kehendak Tuhan Sang Pencipta serta tim medis.
Pun dengan Edric. Dirinya menebus kesalahan dengan mengunjungi Syakira setiap pulang kantor. Ia merutuki kebodohannya sendiri ketika melihat tubuh Syakira terbaring lemah bahkan belum sadarkan diri. Rasa bersalahnya kian bertambah kala melihat Jonathan yang selalu menangisi sang kakak.
Benturan keras di kepala mengakibatkan Syakira koma. Namun, sekarang kondisinya berangsur membaik. Dokter pun sudah melepas selang ventilator yang selama ini membantu Syakira untuk bernapas.
"Kakak, ayok bangun!" bisik Jonathan di telinga Syakira sembari menggenggam tangannya.
"Kakak, enggak kangen ya, sama Jo?" sambungnya dengan sendu.
"Sarapan dulu, Jo. Sebentar lagi kan berangkat sekolah," titah seorang wanita paruh baya.
Setelah tahu Syakira terluka parah, Jonathan berangkat sekolah dari rumah sakit, pun pulang ke rumah sakit. Alex menyewa satu kamar VVIP untuk Jonathan dan Hani tinggali selama di sana. Bahkan sarapan pun Jonathan lakukan di samping Syakira.
Hasan dengan setia antar jemput Tuan Mudanya ke sekolah.
***
Jarum jam menunjuk pada angka lima sore ini.
Angin berembus kencang. Petir mulai meraung seolah menyampaikan kabar jika air akan tumpah dari langit.
Jonathan dengan setia berada di samping sang kakak. Ia mau jika Syakira sadar, dialah orang pertama yang kakaknya lihat.
"Kakak segalanya buat Jo. Dari dulu, Kakak tidak pernah membuat Jo sedih. Akan tetapi, sekarang ... kenapa Kakak buat Jo sedih dan Jo takut kehilangan Kakak. Jo mohon, bangunlah, Kak," ucapnya sembari menggenggam tangan Syakira.
Syakira menggerakkan tangannya, membalas genggaman Jonathan.
"Ka-Kakak, sudah bangun?" gumam Jonathan tak percaya.
"Hmm ...." Syakira menggumam.
Jonathan menitikkan air mata haru. Ia berlari keluar memanggil Hani dan meminta Hasan untuk memanggilkan dokter.
Syakira membuka matanya perlahan.
Seorang dokter gegas menghampiri Syakira dan mengecek kondisinya.
"Nama Anda siapa, Nona?" tanya dokter itu.
Syakira terdiam sejenak, membuat orang-orang berdebar menunggu jawaban.
"Namaku?" Syakira balik bertanya.
"Iya, nama Anda siapa?"
Syakira menarik napasnya dalam-dalam. "Nama saya ... Syakira Anandita."
"Ini siapa?" Dokter itu merangkul Jonathan.
Syakira tersenyum, "Jonathan, adik saya."
Jonathan memeluk Syakira erat sembari menangis.
Semua merasa senang karena Syakira masih mengingat semuanya. Sedari awal pikiran mereka kalut, takut Syakira hilang ingatan karena efek dari benturan itu. Bahkan dokter pun mengatakan besar kemungkinan Syakira akan kehilangan daya ingatnya-amnesia. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain.
Dokter menyarankan agar Syakira jangan dulu banyak bergerak terlebih lagi memaksanya untuk berpikir atau mengingat kejadian tragis itu.
Tanpa mereka sadari Edric berada di dekat pintu dan mendengarkan apa kata dokter. Ia berlalu pergi karena jika Syakira melihatnya bisa jadi gadis itu marah dan akan memperburuk keadaannya.
Edric merogoh ponsel dalam sakunya dan menghubungi seseorang.
"Ada kabar apa?"
"Syakira sudah sadar dan tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi," terang Edric di sambungan telepon.
"Syukur kalau begitu. Aku titipkan Syakira padamu. Aku baru saja sampai."
Sambungan telepon terputus. Edric menatap layar ponselnya dengan berat hati kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.
Pukul delapan malam, Syakira kembali tertidur setelah meminum obat dan tentu saja sebelumnya ia menanyakan dirinya kenapa sampai berada di rumah sakit dan berapa lama dirinya terbaring.
Begitu pun dengan Jonathan, Hani dan Hasan, mereka tidur menemani Syakira di ruang itu. Akhirnya mereka bisa tidur lebih awal dengan nyenyak tanpa rasa waswas.
Guyuran hujan mengiringi mereka ke alam mimpi.
***
Embun pagi bergelayut manja pada dedaunan. Semilir angin dingin tergantikan oleh hangatnya sinar mentari yang menyapa kulit.
Kemarin mendung, sekarang cerah. Seolah menggambarkan suasana hati Jonathan dan orang-orang terdekat Syakira. Kemarin dirundung sedih, hari ini kembali ceria.
Syakira duduk bersandar di ranjang pesakitan sembari disuapi bubur oleh Jonathan. Dengan telaten, anak baru beranjak gede itu menyuapi sang kakak.
Suara pintu terbuka dan langkah kaki mengalihkan perhatian keduanya.
"Bibi," sapa Syakira tidak percaya.
Ya, dia adalah Arini--adik kandung dari Arumi.
Arini tersenyum seraya bertanya, "Bagaimana keadaanmu sekarang, Sayang?"
"Seperti yang Bibi lihat. Sya sudah sehat," sahutnya sambil tersenyum,"Bibi kapan datang dan tahu dari siapa kalo Sya di rumah sakit?"
"Em ... em ... Bibi ke sini dijemput ol-"
"Pagi semua," sapa Rachel yang datang tiba-tiba. Tak hanya Rachel, Diaz pun ikut bersamanya.
Syakira menyipitkan matanya, menatap dua orang yang datang menghampiri.
"Pagi," jawab mereka serempak.
"Bagaimana keadaanmu, Nak," tanya Diaz.
"Baik," jawab Syakira, "Maaf, Anda berdua siapa?" sambungnya bertanya.
Rachel tersenyum dan ia berkata bahwa mereka adalah orang tua Alex.
Syakira membulatkan matanya seakan tak percaya lalu tersipu.
"Akhirnya aku bisa melihat Tuan dan Nyonya," tutur Syakira lalu menutup mulutnya, "terima kasih sudah menyempatkan datang ke sini."
Apa aku jawab sekarang saja ya ajakan Kak Alex untuk menikahiku? Tapi ... malu gak ya? Dan apa mereka mau menerimaku? Batin Syakira.
"Tuan dan Nyonya, bo-bolehkah saya berbicara sesuatu?" Syakira memberanikan diri bertanya.
"Katakan saja, Nak," jawab Rachel, sedangkan Diaz hanya mengangguk seraya tersenyum.
Syakira menarik napasnya, mencoba mengatur rasa takut dan groginya.
"Be-begini, Kak Alex mengajak untuk menikah, tetapi belum saya jawab. Sekarang mumpung ada Tuan dan Nyonya di sini, maka saya putuskan untuk menerima lamaran Kak Alex. Bagaimana? Apa Tuan dan Nyonya sudi memiliki menantu sepertiku?" tutur Syakira tanpa ragu.
Diaz dan Rachel saling menatap dan terdiam. Mulut mereka terasa kelu dan bingung harus berkata apa.
Degh!
Kedua pasangan paruh baya itu tercengang, tidak menyangka jika Syakira berbicara seperti itu. Entah bagaimana jika ia tahu yang sebenarnya, pikir keduanya.
"Ah, te-tentu ... tentu saja kami senang jika kamu menjadi menantu kami," sahut Rachel membenarkan.
"Astaga! Kenapa aku lupa," ucap Syakira sembari menepuk jidatnya pelan, "Jo, mana ponsel Kakak."
Jonathan mengambil benda pipih sang kakak dari dalam laci pakaian yang ada di ruangan itu.
Tangan Syakira terulur meraih ponselnya dari tangan Jonathan.
"Mau menghubungi siapa?" tanya Arini.
"Tentu saja pacarku, Bi. Aku sampai lupa sama dia. Pokoknya bibi harus kenalan sama Kak Alex. Eh, tapi ... kenapa Kak Alex tidak menemani Sya di sini?"
"Jo, apa Om kesayanganmu tahu kalau Kakak masuk rumah sakit?" sambungnya bertanya kepada sang adik.
Anak itu tentu saja menjawab tahu dan omnya itu selalu menemani Syakira setiap waktu.
"Ah ... kamu benar Jo, tentu saja Kak Alex akan menemani Kakak. Kakak hanya luka kecil saja dia sangat perhatian dan khawatir, apalagi sampai Kakak masuk rumah sakit begini," tuturnya seraya tersenyum penuh bangga kepada Alex.
Semua orang yang mendengar penuturan gadis itu merasa terharu dengan iringan sayatan di hati mereka-sedih.
Jemari lentik Syakira mengusap layar ponselnya dan menekan dial number sang kekasih. Netranya fokus pada layar ponsel. Ya, rupanya Syakira mengubungi Alex melalui panggilan vidio.
Syakira melambaikan tangan saat gambar Alex muncul di layar ponselnya.
"Hai, Kak!" sapa Syakira sumringah.
"Hai, gimana kabarmu, Sya?"
"Baik. Oh ya, Kak ... di sini ada orang tua Kakak. Coba tebak apa yang sudah Sya katakan kepada mereka?"
Alex tersenyum seraya bertanya, "Em ... apa itu?"
"Sya sudah mengatakan kalau Sya menerima ajakan Kakak untuk menikah. Bagaimana, apa Kakak senang? Oh iya, Kakak di mana sekarang? Kenapa Kakak gak nemenin Sya?" tanya Syakira tanpa jeda.
Pernyataan dan pertanyaan Syakira tentu saja membuat Alex bingung.
"Kakak ada di Amerika, Sya," jawab Alex santai.
"Apa! Sejak kapan? ada apa Kakak berkunjung ke sana?"
Hening.
Tidak ada jawaban dari Alex.
"Eh, sudah, sudah ... sekarang kamu harus istirahat, Sayang," tutur Arini sembari meraih ponsel Syakira.
"Hai!" Arini menyapa, "kamu Alex, kan? Biarkan pacarmu istirahat, ya? Nanti disambung lagi."
Arini mematikan sambungan telepon menyisakan bibir Syakira yang mengerucut.
"Tapi Bi, Sya ha-"
"Soal pernikahan kita bahas nanti. Apa kamu lupa, di sini ada kedua orang tua Alex?" ungkap Arini mencoba mengalihkan perhatian Syakira.
Syakira meminta maaf kepada Rachel dan Diaz. Ia pun bercerita tentang kebaikan apa saja yang Alex beri kepadanya. Akan tetapi, perhatian Syakira kembali teralih kepada Arini.
"Bibi belum jawab pertanyaan Sya tadi."
"Yang mana, Sayang?" tanya Arini pura-pura lupa.
"Bibi tahu Sya masuk rumah sakit dari siapa dan siapa juga yang jemput Bibi? Karena seingat Sya, Bibi itu paling tidak hafal jalanan di Jakarta dan Sya juga tidak memberi tahu alamat Bibi kepada siapa pun."
"Em ... itu ... anu, Sya. Bibi datang ke Jakarta sendiri, kok. Tiba-tiba saja Bibi mimpi buruk malam itu. Tahunnya benar, kamu masuk rumah sakit jadi Bibi memberanikan diri. Be-begitu, Sya ... i-iya begitu."
Melihat gerak-gerik Arini membuat Syakira menaruh curiga. Terlebih lagi netranya menangkap wajah Diaz dan Rachel yang tegang.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa hatiku tidak percaya dengan penuturan Bibi. Lalu, Kak Alex pergi ke Amerika dan kenapa kedua orang tuanya di sini? Batin Syakira berkecamuk.
Tiba-tiba saja Syakira merasakan sakit kepala yang luar biasa dan tak sadarkan diri.
SheRaz suka smaa ceritanya🤗🤗🤗🤗🤗