Membaca novel ini, bisa menyebabkan shampo di rumah cepat habis.
Kehidupan Natahania berubah total setelah diperistri Elang Adhitama Gunardi, pria yang merupakan pemilik rumah tempatnya bekerja. Nathania yang polos, harus bisa mengimbangi gaya hidup Elang yang jauh berbeda dengannya. Dia kebingungan menentukan rasa, yang tak pernah Elang tunjukan dengan jelas. Kecewa, Nathania memutuskan pergi.
Apa yang Nathania lakukan berhasi membuat Elang sadar. Pria itu berusaha mencari dan membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rayuan untuk Nastya
Nastya berdiri dengan harap-harap cemas di depan pintu kamar Elang, sang kakak tercinta. Ia tidak mengerti, karena tidak biasanya Elang membuka pintu kamarnya dengan sangat lama.
Sesaat kemudian, Elang pun membuka pintu kamarnya seraya merapikan kaos oblong biru yang dipakainya. Rambutnya tampak sedikit acak-acakan.
Elang pun berusaha untuk bersikap wajar di depan sang adik yang menatapnya dengan mata nakalnya.
Memang benar, karena setelah melihat keadaan sang kakak, timbulah niat jahil dari gadis itu. Tanpa permisi ia melongo ke dalam kamar dan melihat Nathania dengan lingerie merahnya.
Ia barusaja turun dari tempat tidur dengan rambutnya yang juga tampak sedikit acak-acakan.
Nathania sempat menoleh padanya, sebelum akhirnya ia berlalu ke dalam kamar mandi.
Dengan segera Elang mendorong kening sang adik untuk keluar dari kamar itu, ia pun menjitak kening gadis itu. "Tidak sopan!" ucap Elang sambil melotot kepada gadis itu.
Nastya mengusap keningnya yang terasa lumayan sakit itu. Ia hanya tersenyum nakal di depan sang kakak.
Elang tertegun melihat penampilan gadis itu. Sepertinya Nastya akan keluar sore ini.
"Mau kemana?" selidik Elang.
"Aku mau minta izin. Sore ini aku ada janji bertemu dengan Dean. Aku harap Kakak memberiku izin dan juga uang jajan," ucapnya seraya tersenyum manja.
Elang menatap gadis itu dengan intens. Ia pun mengerutkan alisnya.
"Ayolah, Kak! Aku bahkan sudah mengizinkan Kakak untuk menikahi si ... ah, maksudku Tania ...."
"Panggil dia kakak!" sela Elang dengan tegas.
Nastya tidak menjawab. Ia hanya memutar bola matanya yang berwarna kebiruan itu.
Elang melirik jam yang menempel di dinding bagian atas kamarnya. Saat itu sudah menunjukan pukul 17.30 petang.
"Pulang sebelum jam 9!" titah Elang dengan tegas.
Mendengar ucapan Elang barusan, Nastya pun tersenyum lebar. Ia senang karena itu artinya ia diizinkan untuk keluar petang ini, ya ... meskipun hanya sampai jam 9 malam batas waktunya.
Sesaat kemudian, Elang mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan senilai 100 ribu rupiah.
"Sebelum jam 9! Jika lebih, kamu tahu apa akibatnya, kan?" ancam Elang. Ia pun menyodorkan uang itu kepada Nastya yang segera menerimanya dengan wajah sumringahnya.
Nastya tersenyum, ia pun mengagguk setuju.
Sesaat kemudian, kepalanya kembali melongo ke dalam kamar. Nathania belum juga keluar dari kamar mandinya. Nastya tertawa pelan.
"Sudah sana!" usir Elang. Ia kembali mendorong kepala gadis itu keluar. Nastya hanya tertawa cekikikan. Ia pun segera berlalu meninggalkan Elang yang dengan segera menutup kembali pintu kamarnya rapat-rapat.
...🍀🍀🍀...
Nastya duduk manis di sudut ruangan coffe shop itu, sendirian. Mata indah gadis itu tak henti-hentinya menatap kearah pintu masuk tempat itu.
Namun, sudah hampir satu jam berlalu, akan tetapi orang yang ia tunggu nyatanya tak kunjung datang.
Lagi, gadis itu harus menelan pil pahit seperti kemarin malam.
Dean, benar-benar tidak akan datang. Dan ia hanya mewakilkan kata-katanya lewat sebuah pesan singkat centang biru.
Nastya, maafkan aku karena tidak bisa menjadi pacar yang baik untukmu, menjadi kekasih impianmu.
Aku hanya berharap jika kamu dapat menemukan pria yang bisa membuatmu untuk menjadi jauh lebih dewasa dalam bersikap dan juga berfikir.
Aku lelah dengan hubungan kita. Dan aku sudah memutuskan untuk mengakhirinya.
Maaf, karena aku mengatakan ini semua hanya lewat sebuah pesan.
Mulai saat ini, lupakan saja jika kita pernah menjalin kebersamamaan.
Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Dan doakan aku juga, karena aku akan menikah bulan depan.
Nastya tertegun. Ia tidak dapat berkata apa-apa.
Kecewa dan sedih, sudah pasti ia rasakan meskipun ia sudah tahu jika hal ini akan terjadi.
Ya, mengingat dari perjalanan cintanya bersama si penyiar radio itu akhir-akhir ini, yang memang sudah seperti telur di ujung tanduk.
Malam itu, hanya satu pintu yang ingin ia ketuk, yaitu pintu apartemen Roni.
Ketika pintu itu terbuka, tanpa basa-basi lagi Nastya segera memeluk Roni bersama sebuah tangisan.
Roni pun balas memeluk gadis itu. Ia seakan tahu, apa yang tengah dirasakan oleh Nastya saat itu.
Pria berkulit sawo matang itupun mengajaknya masuk.
"Minumlah!" Roni menyodorkan kaleng soft drink berwarna merah itu kepada Nastya, dan
gadis itupun menerimanya meski dengan wajah yang tidak berseri sama sekali.
Roni kini duduk di sofa, tidak jauh dari tempat Nastya duduk. Ia menatap gadis yang tengah meneguk habis isi dari dalam kaleng itu. Akan tetapi, Roni tidak membiarkan hal itu.
Ia segera meraih kaleng minuman itu dan meletakannya di atas meja.
Nastya menatapnya dengan mata manjanya.
"Sudah, hentikan! Aku tidak suka melihatmu seperti ini!" Roni tampak cemas dengan keadaan Nastya yang sedang patah hati itu.
"Kamu benar, Ron. Dean bukanlah pria yang tepat untukku. Dia hanya seorang pengecut," keluh Nastya disela wajah sendunya.
Roni menghela nafas panjang. Ia menatap Nastya dengan intens.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Roni seraya menghabiskan sisa minuman kaleng bekas Nastya tadi.
"Aku tidak tahu. Mungkin melanjutkan kuliahku. Aku ingin mencari kesibukan agar dapat melupakan semua ini dengan cepat," jawab Nastya mencoba untuk bersikap tegar.
"Sungguh?" tanya Roni meyakinkan. Ia tidak percaya Nastya punya fikiran seperti itu.
Nastya terdiam. Sesaat kemudian, ia menatap pria berjenggot tipis yang ada disebelahnya itu.
Ia pun terisak dengan manjanya.
"Aihh ...." keluh Roni. Ia tidak heran dengan sikap manja gadis itu. Memang inilah Nastya yang sesungguhnya.
Ia pun meletakan telapak tangannya di atas kepala Nastya dan mengkucek-kucek rambut gadis itu dengan gemasnya.
Nastya protes dengan memukul lengan pria itu.
Ia pun segera merapikan kembali rambutnya yang kusut.
Sementara Roni masih menatapnya sambil tersenyum geli. Ia memang suka sekali menggoda gadis manja itu.
"Dean menganggapku terlalu manja dan kekanak-kanakan," gumam Nastya tanpa menoleh kepada Roni.
"Memang," jawab Roni dengan segera.
Nastya pun melirik pria itu.
"Seperti itukah?" tanya Nastya.
Roni mengangguk pelan. "Aku tidak mengerti, padahal pak Elang sangat tegas dan sangat dewasa. Tapi kamu merupakan kebalikannya. Apa dia tidak pernah menjitak kepalamu agar kamu bisa berfikir dengan lebih dewasa sedikit saja?"
Nastya mendelik kepada Roni. Wajah manjanya makin terlihat dengan sangat jelas.
"Aku dan kak Elang terlahir dari ibu yang berbeda. Tapi dia adalah kakak terbaik untukku. Dan dia akan selalu menjadi panutanku, meskipun terkadang dia kerap bersikap sangat arogan. Tapi aku tahu, dia adalah pria yang sangat baik. Dan aku berharap bisa mendapatkan pria seperti dia," tutur Nastya.
"Tetapi menurutku, gadis sepertimu tidak akan cocok berdampingan dengan pria seperti pak Elang," bantah Roni.
Nastya mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanyanya heran.
"Karena kamu akan jauh lebih cocok dengan pria sepertiku," jawab Roni diselingi tawa renyah. Ia merasa sangat puas karena sudah melihat wajah Nastya menjadi semakin berkerut.
Nastya menatap pria itu dengan intens. Wajahnya kini berangsur seperti Nastya yang sedia kala. Dan sepasang mata kebiruan itu, menatap dengan penuh kelembutan pada seraut wajah dengan beberapa bekas jerawat itu.
"Ajari aku," ucapnya pelan tanpa melepas pandangannya.
Roni menghentikan tawanya. Ia balas menatap Nastya.
"Untuk apa?" tanyanya dengan nada bicara yang sama dengan Nastya.
"Untuk menjadi lebih dewasa," jawab Nastya masih dengan tatapan lembutnya.
Roni terdiam. Ia menatap dalam-dalam kedua bola mata indah itu. Ada desiran aneh dalam hatinya. Ini adalah pertama kalinya ia menatap mata itu dengan sebuah perasaan yang tak biasa. Perasaan yang makin lama semakin mendorongnya dengan kuat, untuk melakukan sesuatu yang tak pernah ia fikirkan akan ia lakukan kepada gadis manja berwajah bule itu.
Roni tidak pernah menyangka, jika ia akan membuat Nastya mendesah pelan ketika gadis itu merasakan bibirnya menempel dengan sempurna di bibir mungilnya. Sejenak, Roni terhanyut dalam ciuman pertamanya dengan adik dari bosnya itu.
Tetapi tak lama, karena Roni segera melepaskan bibir itu. Ia tampak kikuk.
"Kenapa?" tanya Nastya.
Roni menatap gadis itu untuk sejenak. "Aku tidak mau punya masalah dengan pak Elang," jawabnya.
"Dia tidak ada disini," ucap Nastya pelan.
Roni masih menatap gadis itu dengan lekat. Tanpa banyak bicara, ia pun kembali meraih wajah manis itu dan melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda. Menikmatinya dengan penuh gairah dan desahan manja meski tanpa harus bermandi keringat. Mereka berdua sudah cukup merasa puas. Hampir setengah jam lamanya mereka berdua asik bermain-main di atas sofa itu. Hanya sebuah permainan ringan tentunya, karena Roni tidak akan berani melakukan hal yang jauh lebih dari itu.
Meskipun kenyataannya, ia sudah tidak kuasa menahan dirinya. Namun, ia masih dapat mengendalikan dirinya dengan baik.
"Aku harus pulang," ucap Nastya seraya membetulkan tali dari halter dress yang terlepas dari lehernya itu. Ia pun berdiri dan diikuti oleh Roni yang masih tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukannya barusaja dengan Nastya.
Nastya mengerti jika Roni mungkin sedikit risih saat itu. Akan tetapi gadis itu meyakinkan jika ia baik-baik saja.
"Aku menyukainya," bisik Nastya pelan.
Raut wajah Roni seketika berubah. Ia pun tersenyum, dan berbalas senyuman manis dari gadis manja itu.
Senyuman yang mengandung arti lain di mata Roni sebagai seorang pria yang sudah jauh lebih dewasa dari gadis itu.
Maka, ia pun melanjutkan adegan sesi keduanya di depan pintu berwarna putih itu. Seandainya tidak ada batas waktu, mungkin saja mereka akan melakukan hal itu dalam ronde ketiga.
Nastya kembali menyunggingkan senyumnya. Ia tampak puas dengan apa yang ia dapatkan malam ini dari pria yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya itu.
Setidaknya ia tidak pulang dalam keadaan yang terlalu kecewa dan sedih malam ini.
Ya, meskipun ia juga tidak percaya karena ia bisa melakukan permainan kecil itu bersama si makaroni seblak kesayangannya.
semangat selalu dalam menulis
cerita ini bikin baper banget