Fiona Delvina
Seorang psychopath gila, itulah panggilan yang pantas bagi seorang gadis berdarah dingin ini. kasus pembunuhan yang ia lakukan sudah tak terhitung jumlahnya, kelihaian gadis itu dalam menyembunyikan jati diri membuat orang orang disekitarnya tidak ada yang mengira bahwa dialah pelaku pembunuhan tersebut. Fiona melakukan itu semata-mata hanya untuk mencari siapa pembunuh adik, kakak, serta papanya, dendam lama Fiona membuat gadis itu menjadi serigala pembunuh tanpa jejak.
Elbara Cesar Roosevelt
Pria yang tak kalah kejamnya dari Fiona, Elbara merupakan CEO dari bidang perfilman action tentu saja semua itu hanya topeng untuk menyembunyikan sifat aslinya karena orang orang mengenal Bara sebagai pria hebat yang selalu berhasil mengantar para aktor debut dalam filmnya. Bara juga terkenal ramah pada staf dan orang orang sekitar tapi siapa yang tau bahwa pria itu hidup penuh dengan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Dari luar seorang yang telah ditunggu datang, seseorang yang sangat amat langka kehadirannya dalam sebuah acara, inipun dia diminta datang karena calon tunangannya tewas tanpa sebab.
Saat keluar dari mobil pria itu juga menggunakan pakaian serba hitam untuk menghargai pihak keluarga. Dia adalah Elbara Cesar Roosevelt, pria yang semula akan menjadi tunangannya.
"Silahkan tuan."
Rezza sebagai asistennya membukakan pintu mobil.
"Anda datang tuan Bara? Syukurlah luka di hati kami sedikit terobati karena telah kehilangan putri semata wayang kami." Ucap tuan Albert.
"Saya ikut berduka cita tuan Albert." Kata Bara.
"Terimakasih tuan silahkan masuk kedalam, anda bisa melihat putri kami untuk terakhir kali."
Bara mengangguk lalu masuk kedalam rumah, banyak aktor aktor yang ikut melayat karena Liliana merupakan anak produser film.
Sampai di dalam Bara hanya melihat dari belakang, dia tidak ingin mengganggu keluarga mantan calon tunangannya.
"Putri kami tidak berpikir panjang tuan, dia menembak dirinya diatas jurang kami sangat terpukul melihatnya."
"Bisa aku melihat calon tunangan ku untuk terakhir kali?" Tanya Bara.
"Tentu saja tuan."
Tuan Albert mengajak Bara mendekat lalu membukakan kain putih yang ada diatas tubuh Liliana.
Bara memperhatikan sedikit detail dibelakang leher gadis itu ada memar begitu juga dengan tangannya, Bara menutup kain putih tersebut lalu menatap satu persatu pelayat.
Tatapan Bara menyapu seluruh ruangan hingga berhenti disatu arah.
"Dia siapa?" Tanya Fiona.
"Astaga kau benar benar tidak tau?"
Fiona menggelengkan kepala karena memang dia tidak tau siapa orang yang sedang menatapnya ini.
"Dia calon tunangan Liliana, dia CEO dari Roosevelt Group dimana perusahaan itu menggeluti bidang perfilman,banyak aktor yang debut dan sukses dari agensinya." Tutur Ella.
Fiona mendengar sambil membalas tatapan Bara hingga pria itu yang mengalihkan pandangannya terlebih dahulu.
"Ella kita ada jam kuliah satu jam lagi kau tidak ingin pergi?"
"Ya kita harus pergi karena kita sedang ujian dan itu tidak bisa ditunda." Jawab Ella.
Fiona mengangguk lalu keluar dari rumah duka, tatapan Bara sama sekali tidak menakutkan baginya karena tatapan seperti sudah sangat sering ia dapatkan dari korban korban yang ia bunuh.
Sementara didalam Bara dan Rezza menjauh dari kerumunan, ada sesuatu yang menarik perhatiannya sedari tadi tapi sekarang sesuatu itu menghilang.
"Rezza siapa gadis yang tadi?" Tanya Bara.
"Gadis yang mana tuan, ada banyak gadis disana." Jawab Rezza.
"Gadis yang menggunakan pakaian hitam."
"Semuanya menggunakan pakaian hitam."
Bara menahan kekesalannya untuk sementara, bagaimana ia bisa mendeskripsikan gadis yang tadi.
"Begini saja, teman Liliana yang datang melayat hanya teman satu kampusnya?"
"99% begitu tuan karena teman teman SMA nona Liliana sekolah diluar negeri."
"Baiklah cari alasan agar aku bisa kembali tanpa mengantar gadis itu ketempat peristirahatan terakhirnya."
"Baik tuan."
Rezza menjauh sembari memikirkan alasan agar tuannya bisa pergi dari acara membosankan itu.
"Permisi tuan Albert kami harus kembali karena ada tamu dari luar."
"Baiklah dimana Bara?"
"Tuan Bara sudah berada didalam mobil."
"Begitu rupanya baiklah terimakasih banyak atas kunjungannya sampaikan salam ku pada Bara."
Rezza mengangguk dengan senyum tipisnya lalu keluar dan masuk kedalam mobil.
"Pergi ke kampus Liliana."
"Baik tuan."
Rezza melajukan mobilnya menuju kampus, diperjalanan Bara tidak bisa menghilangkan bayangan dari tatapan gadis yang ia lihat tadi.
Jam 3 dini hari sampai sore??
🤔🤔