Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.
Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.
Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."
Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.
Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
"Belum cukup."
Kalimat itu mengikuti Arka sampai ia kembali ke kost-kostan.
Di layar ponselnya, saldo Rp 10.000.000.000 masih terpampang seperti angka yang salah ketik. Namun setelah melihat Planet Biru, Arka tahu uang hanyalah alat. Di dunia sana, satu botol air lebih tajam dari kartu kredit platinum. Satu bungkus roti bisa membuat orang kuat menundukkan kepala.
Malam itu, ia tidak membeli pakaian mahal. Tidak memesan makanan mewah. Tidak mengirim pesan pada Viona.
Ia pergi ke minimarket dan toko grosir kecil yang masih buka, membeli air mineral, roti tawar, biskuit, mi instan, obat luka, korek, baterai, senter, pisau lipat, dan beberapa kaleng makanan. Kasir menatap aneh ketika melihat tumpukan barangnya.
"Mau camping, Mas?"
Arka hanya menjawab, "Kurang lebih."
Semua barang itu masuk ke ruang Dimensi begitu ia tiba di kamar. Tanpa emas, ruang satu meter kubik terasa lebih lega. Gelang Giok Imperial ia biarkan di sudut terdalam, terpisah dari makanan dan obat.
Pukul 21.30, Arka berbaring.
Ia tidak takut tidur.
Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, ia menunggu mimpi itu datang.
Gelap turun.
Lalu dingin menggigit tulangnya.
Arka membuka mata di balik barikade ruang penyimpanan bank. Punggungnya kaku, mulutnya kering, dan udara di ruangan itu berbau logam tua. Dari luar pintu besi, suara garukan masih terdengar sesekali.
Zombi belum pergi.
Ia mengecek tubuhnya. Masih utuh. Barikade bertahan.
"Bagus," gumamnya.
Ia mengambil botol air dari ruang Dimensi, meneguk setengahnya, lalu makan dua potong roti. Rasa makanan biasa itu hampir membuat matanya panas. Di Planet Biru, makanan dari minimarket Depok terasa seperti benda suci.
Setelah tenaga kembali, Arka bergerak.
Ia menarik satu lemari arsip sedikit, cukup untuk membuat celah. Seekor zombi terdorong masuk. Arka sudah menunggu di sisi pintu.
Goloknya turun.
Tubuh itu ambruk setelah dua hantaman. Tangan Arka masih tegang, namun tidak lagi gemetar seperti kemarin.
Satu Kristal putih masuk ke genggamannya.
Ia menyimpannya. Kalau mau naik level, ia butuh tempat aman.
Arka keluar dari bank lewat pintu samping, bergerak di antara mobil-mobil beku. Matahari Planet Biru hanya terlihat sebagai noda pucat di balik awan abu. Jalanan SCBD versi dunia mati itu dipenuhi gedung miring, kaca pecah, dan papan iklan kosong.
Dalam tiga jam berikutnya, ia bergerak pendek-pendek di sekitar bank. Dua zombi yang menghalangi jalan ia jatuhkan dengan cara paling aman.
Hasilnya sederhana.
Tiga Kristal putih di genggaman.
Arka ingin mencari tempat aman untuk menelannya ketika mendengar suara manusia.
Suara itu tidak mirip geraman atau angin.
Suara manusia.
"Jangan dekat-dekat! Kami tidak punya apa-apa!"
Suara perempuan itu serak, tetapi masih punya ketegasan.
Arka mengikuti suara tersebut ke sebuah butik mewah yang pintunya tertutup papan kayu. Di balik kaca pecah, ia melihat tiga orang penyintas. Dua pria kurus memegang tongkat besi. Di belakang mereka, seorang perempuan muda duduk bersandar pada lemari pajangan.
Wajahnya pucat karena lapar, rambutnya berantakan, tetapi matanya tetap terang.
Di lehernya, ada kalung berlian biru.
Batu itu tidak besar secara berlebihan, namun warnanya terlalu bersih untuk dunia yang sudah mati. Biru dalam, dingin, seperti langit sebelum bencana menelannya.
Arka mengenali jenis tatapan itu dari Galeri Permata.
Barang mahal.
Sangat mahal.
Salah satu pria kurus mengangkat tongkat. "Pergi!"
Arka berhenti lima langkah dari pintu. Ia tidak mengangkat golok. "Kalau aku mau merampok kalian, aku tidak akan bicara dulu."
Perempuan itu menatap tas kecil di pinggang Arka. Tatapannya turun ke botol air yang terselip di sana.
Rasa lapar bisa membuat manusia melihat lebih tajam daripada elang.
"Kamu punya makanan?" tanyanya.
"Ada."
Dua pria di depannya langsung tegang. Salah satu menjilat bibir pecah-pecahnya.
Arka melihat mereka, lalu kembali menatap perempuan itu. "Namamu?"
"Kirana," jawabnya setelah jeda pendek. "Kirana Permata Larasati."
Larasati.
Arka hampir tertawa. Di dunia nyata, nama itu mungkin terpampang di gedung perusahaan permata. Di sini, pewaris keluarga seperti itu duduk kelaparan di butik rusak, menjaga kalung seolah masih ada bank dan pengacara yang bisa melindunginya.
"Aku Arka."
"Kalau kamu punya makanan, kami bisa tukar." Kirana melepas kalung biru di lehernya dengan tangan gemetar. Gerakan itu berat; harga dirinya ikut tertarik bersama rantainya. "Ini Biru Semesta. Berlian biru keluarga Larasati. Di dunia lama, nilainya bisa membeli satu gedung kecil."
Salah satu pria menoleh panik. "Nona Kirana, jangan! Itu warisan keluarga!"
Kirana menatap pria itu dengan lemah. "Warisan tidak bisa dimakan."
Arka menatap Biru Semesta yang tergeletak di telapak Kirana. Batu itu memantulkan cahaya abu-abu dari langit mati, namun warnanya tetap hidup.
"Kamu mau berapa?" tanya Arka.
"Makanan untuk dua hari. Air untuk tiga orang." Kirana menelan ludah. "Kalau ada obat luka, aku tambah terima kasih."
Salah satu pria langsung berseru, "Dua hari? Kalung itu nilainya miliaran!"
Arka menatap pria itu. "Di luar sana, miliaranmu bisa menghentikan zombi?"
Pria itu terdiam.
Kirana memejamkan mata sebentar, lalu membuka lagi. "Aku tahu ini tidak adil. Tapi yang aku butuhkan bukan harga. Yang aku butuhkan adalah hidup sampai besok."
Kalimat itu membuat Arka menghormatinya satu tingkat.
Ia meletakkan ransel kecil di lantai, seolah mengambil barang dari dalamnya. Padahal semua keluar dari ruang Dimensi. Enam botol air mineral, dua roti tawar, biskuit, empat kaleng makanan, mi instan, dan obat luka ia susun di antara mereka.
Mata dua pria itu hampir keluar.
Kirana tidak langsung menyambar. Ia menatap makanan itu, lalu menatap Arka.
"Kamu yakin?"
"Kamu yang menawarkan harga."
"Kamu bisa saja mengambil kalung ini tanpa memberi apa-apa."
"Bisa," kata Arka. "Tapi aku tidak suka membangun bisnis pertama dengan merampok orang yang sudah kelaparan."
Kirana menatapnya lebih lama. Sesuatu di matanya berubah. Ia belum percaya penuh, hanya cukup untuk membedakan Arka dari banyak pria bersenjata yang pernah ia temui sejak dunia runtuh.
Ia menyerahkan Biru Semesta.
Saat rantai itu menyentuh telapak Arka, ruang Dimensi seperti bergetar halus. Benda itu masuk ke dalam penyimpanan bersama Gelang Giok Imperial, menjadi cahaya biru kecil di antara persediaan.
Transaksi selesai.
Namun suara jatuh terdengar dari luar butik.
Satu zombi menabrak papan kayu, mungkin tertarik oleh suara mereka. Dua pria langsung mundur. Kirana mencoba berdiri, tetapi tubuhnya terlalu lemah.
Arka bergerak lebih dulu.
Ia membuka celah pintu dan menyelesaikannya sebelum makhluk itu masuk penuh.
Dua penyintas laki-laki menatapnya dengan wajah pucat. Kirana juga melihat. Kali ini, kecepatan Arka bertindak membuatnya ikut diam.
Tidak ada Kristal.
Sial.
Ia menutup pintu lagi, lalu berkata, "Jangan membuat suara besar. Makan sedikit-sedikit. Kalau langsung rakus, perut kalian bisa kram."
Kirana mengangguk. "Kamu akan kembali?"
Pertanyaan itu sederhana, tapi di Planet Biru, pertanyaan seperti itu hampir sama dengan meminta janji hidup.
Arka menatap jam retaknya. Masih ada waktu, tapi tidak banyak. Ia harus mencari tempat aman untuk menyerap Kristal.
"Kalau kalian masih hidup, mungkin."
Salah satu pria tampak tidak puas dengan jawaban itu, tapi Kirana justru tersenyum lemah.
"Itu jawaban paling jujur yang kudengar minggu ini."
Arka tidak membalas. Ia pergi melalui gang samping, masuk ke sebuah ruang kantor kecil yang pintunya masih bisa dikunci. Setelah memastikan tidak ada zombi, ia menelan tiga Kristal sekaligus.
Rasa sakit langsung meledak.
Tubuhnya jatuh ke lantai. Ototnya berdenyut seperti kabel dialiri listrik. Kali ini panasnya lebih kuat, merayap ke tulang, paru-paru, mata, dan pusat kesadarannya. Ruang Dimensi di dalam dirinya bergetar, retak seperti cangkang telur, lalu mengembang.
Satu meter kubik.
Tiga meter.
Tujuh.
Sebelas meter kubik.
Arka membuka mata dengan napas berat. Keringat dingin membasahi lehernya. Tetapi dunia terlihat lebih tajam. Suara gerakan zombi di lantai bawah terdengar jelas. Tubuh gemuknya masih belum berubah banyak, tapi di balik lemak itu, tenaga baru mulai padat.
Evolvor tingkat dua.
Arka mengepalkan tangan.
Di dunia nyata, Rp 10 Miliar sudah membuatnya berdiri.
Di sini, tiga Kristal membuatnya tidak mudah dibunuh.
Dua jalur itu kini terbuka bersamaan.
Beberapa jam kemudian, pergantian kesadaran menariknya kembali.
Arka terbangun di kamar kost dengan napas memburu. Langit Depok sudah pagi. Burung berkicau di luar jendela seolah dunia tidak pernah runtuh di tempat lain.
Ia langsung mengambil ponsel dan menghubungi nomor pribadi Hendry Wibisana.
Panggilan tersambung pada dering ketiga.
"Pagi, Pak Arka," suara Hendry terdengar masih berat. "Ada barang lagi?"
Arka tersenyum tipis. Pedagang tua itu cepat belajar.
"Bukan emas. Berlian biru. Namanya Biru Semesta. Aku ingin Anda lihat hari ini."
Hening di seberang sana.
"Biru Semesta?" Nada Hendry berubah. "Pak Arka, jangan bercanda dengan nama itu. Kalau yang Anda maksud benar, barang seperti itu tidak pantas ditaruh di etalase biasa. Itu barang lelang internasional."
"Berapa kira-kira?"
Hendry menarik napas. "Kalau asli dan kondisinya bagus... bisa mendekati Rp 200 Miliar. Mungkin lebih untuk kolektor yang tepat."
Arka menatap kotak mi instan di sudut kamar.
Dua hari makanan.
Di minimarket, nilainya tidak sampai Rp 200.000.
Di Planet Biru, benda yang sama membeli berlian senilai dua ratus miliar.
Ia menutup mata, lalu tertawa pelan.
Inilah aturan dunia barunya.
Orang yang paling cepat memahami harga di dua dunia akan berdiri paling tinggi.