Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: PRANK YANG GAGAL TOTAL
Raina tertegun. Cowok paling berisik dan paling gengsi se-SMA Garuda itu kini berdiri menunduk di depannya, mengakui kesalahan tanpa ada sedikit pun niat bercanda.
"Gua udah buang semua mainan prank gua ke tempat sampah," lanjut Devan sambil menyerahkan kantong kertas dan susu stroberi ke tangan Raina yang tidak sakit. "Ini... bekal roti lapis sama susu hangat. Gua ingat kamu pernah bilang suka rasa stroberi waktu di kantin."
Raina menatap kantong kertas itu, lalu beralih menatap wajah Devan yang diwarnai ketakutan murni—takut jika Raina benar-benar berhenti menjadi tuturnya.
"Kenapa kamu melakukan ini?" bisik Raina pelan.
"Karena kamu satu-satunya orang yang peduli sama nilai gua, padahal gua sering bikin kamu susah," jawab Devan tulus. "Plis, jangan berhenti jadi tutor gua, Raina. Gua janji bakal penurut dan gak bakal bikin gara-gara lagi."
Melihat kesungguhan di mata Devan, perlahan-lahan dinding pertahanan di hati Raina melunak. Ia mengambil sekotak susu stroberi itu, lalu menghela napas panjang.
"Jam empat sore di perpustakaan. Kalau terlambat satu menit, rotinya aku kembalikan," kata Raina dingin, walau sudut bibirnya tertahan agar tidak menyunggingkan senyum.
Mata Devan seketika berbinar cerah. "Siap, Bu Wakil! Gua bakal nunggu sepuluh menit sebelum jam empat!"
BAB 12: PROYEK AKHIR TAHUN MUNCIUL
Suasana aula SMA Garuda mendadak bising oleh kasak-kusuk siswa dari berbagai perwakilan kelas dan ekstrakurikuler. Kepala Sekolah, Pak Ridwan, baru saja mengumumkan bahwa Festival Seni dan Budaya Tahunan akan digelar dalam waktu dua bulan. Acara terbesar di sekolah ini selalu menjadi taruhan gengsi antarangkatan.
Raina duduk di jajaran pengurus OSIS dengan catatan di pangkuannya. Sebagai Wakil Ketua OSIS, ia siap jika ditunjuk menjadi sekretaris atau bagian acara. Namun, pengumuman berikutnya membuat pena di jemarinya terhenti seketika.
"Untuk memastikan acara tahun ini berjalan segar dan melibatkan seluruh elemen siswa, sekolah memutuskan menunjuk dua orang penanggung jawab utama," suara Pak Ridwan menggelegar lewat pengeras suara. "Ketua Pelaksana Festival Seni tahun ini adalah Raina Callista dari kelas 11 IPA 2, dan Wakil Ketua Pelaksana adalah Devan Adhitama dari kelas 11 IPA 2."
Satu aula mendadak hening seketika, sebelum suara bisik-bisik dan gelak tawa kecil mulai pecah di berbagai sudut.
Raina mendongak kaget, matanya membelalak menatap Pak Ridwan di atas panggung. Di sudut lain aula, Devan yang sedang menyender santai di dinding tempat tim basket berkumpul hampir saja menyemburkan air mineral yang baru diminumnya.
"Pak! Mohon maaf, apa tidak ada kekeliruan?" potong Raina sambil berdiri dari kursinya, suaranya panik. "Devan dan saya punya gaya kerja yang sangat berlawanan!"
"Tidak ada kekeliruan, Raina," sahut Bu Sisca yang berdiri di sebelah Kepala Sekolah sambil tersenyum tenang. "Raina punya ketelitian dan disiplin yang luar biasa, sementara Devan punya pengaruh besar, kepemimpinan di lapangan, dan disukai banyak siswa. Kalian berdua adalah kombinasi sempurna."
"Kombinasi sempurna atau resep bencana, Bu?" bisik Devan pelan dari kejauhan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah pembubaran rapat, Raina melangkah cepat menghampiri Devan di luar aula. Wajahnya berlipat penuh rasa tidak percaya.
"Ini gila, Devan. Benar-benar gila," cerceh Raina sambil menepuk dahinya. "Memegang nilai Fisikamu saja sudah bikin kepalaku mau pecah, sekarang kita harus mengurus acara sebesar ini bersama-sama?"
Devan menyunggingkan senyum tipis, menyilangkan dada sambil menatap Raina yang tampak panik. "Kenapa, Bu Wakil? Takut gak bisa mengendalikan gua?"