Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Nilai Sempurna yang Tersembunyi
"Kau bahkan tidak tahu aku sekolah di mana."
Kalimat Keira tidak diucapkan keras, tetapi berhasil membuat seluruh ballroom menunggu jawaban Kevin.
Kevin menatap lambang sekolah yang benangnya sudah terurai. "Bukankah kamu sekolah di SPH bersama Vanessa?"
Keira menggeleng.
"Vanessa yang sekolah di SPH. Aku di SMAN 1 Jakarta."
Seorang lelaki paruh baya di antara tamu mengangkat kepala. Ia mengenali lambang pada seragam itu, lalu mendekat setengah langkah.
"SMAN 1?" katanya. "Sekolah negeri dengan persaingan masuk paling ketat itu?"
"Ya."
Bisikan kembali menyebar.
Kevin masih tampak tidak percaya. "Kenapa tidak pernah bilang?"
Pertanyaan itu hampir membuat Keira kehilangan ketenangannya.
Ia pernah bilang.
Tiga tahun sebelum masuk penjara, Keira berdiri di depan ruang kerja Kevin dengan formulir pendaftaran di tangan. Saat itu usianya lima belas tahun. Seragam SMP-nya masih kebesaran karena berasal dari kotak sumbangan panti asuhan.
"Ko Kevin, aku butuh dua juta rupiah untuk daftar ulang dan ongkos bulan ini."
Kevin sedang berbicara melalui headset. Ia menutup mikrofon dengan telapak tangan, menatap Keira sekilas, lalu wajahnya langsung mengeras.
"Dua miliar? Baru beberapa minggu tinggal di rumah ini kamu sudah berani meminta sebanyak itu?"
"Bukan dua miliar. Dua juta, Ko. Aku bisa kembalikan setelah mendapat beasiswa."
"Jangan ganggu aku saat bekerja. Belajar dulu dari Vanessa bagaimana menjadi anak yang tahu diri."
Pintu ruang kerja ditutup di depan wajahnya.
Keira berdiri di lorong cukup lama sampai kertas di tangannya basah oleh keringat. Malam itu, ia mencari informasi beasiswa melalui komputer tua di gudang. Ia tidak pernah meminta lagi.
Ingatan itu berlalu dalam satu tarikan napas.
"Aku sudah bilang," jawab Keira. "Ko Kevin tidak mendengarkan."
Rahang Kevin mengeras. "Aku tidak ingat."
"Tentu saja. Bagi Ko Kevin, dua juta dan dua miliar terdengar sama kalau yang meminta adalah aku."
Beberapa tamu menahan ekspresi. Lelaki yang mengenali lambang sekolah tadi memandang Kevin dengan keterkejutan terbuka.
"Kamu pasti salah paham," sela Yolanda. "Kevin sangat sibuk waktu itu. Mama juga mengira biaya sekolahmu sudah diurus bagian rumah tangga."
"Bagian rumah tangga tidak tahu aku tinggal di sini."
Keira melirik pembantu yang tadi mengiranya anak magang hotel. Perempuan itu langsung menunduk, bukan karena bersalah, melainkan karena takut terseret ke dalam aib keluarga majikannya.
Edmond maju satu langkah. "Cukup membicarakan urusan keluarga di depan orang luar."
"Papa yang mengundang mereka," kata Keira. "Aku tidak."
Mata Edmond menyipit. "Jaga caramu bicara."
Tubuh Keira mengenali nada itu. Bahunya sempat menegang. Kulit punggungnya seolah mengingat bunyi sabuk yang ditarik dari pinggang. Namun kakinya tidak mundur.
Lima tahun lalu, satu tatapan Edmond cukup untuk membuatnya meminta maaf bahkan sebelum tahu kesalahannya.
Hari ini, ia terlalu lelah untuk takut.
Lelaki paruh baya tadi membuka percakapan dengan hati-hati. "Maaf, saya hanya penasaran. Tahun berapa kamu lulus dari SMAN 1?"
"Lima tahun lalu."
"Nama lengkapmu Keira Pratama?"
"Ya."
Pria itu terdiam, lalu menoleh kepada beberapa tamu di sampingnya. "Saya ingat namanya. Putri saya mengikuti seleksi olimpiade tahun itu. Keira Pratama selalu berada di peringkat pertama."
Kevin menatapnya tajam. "Peringkat pertama di kelas?"
Keira menjawab sebelum tamu itu sempat bicara. "Di angkatan. Setiap tahun."
"Tidak mungkin." Kevin menggeleng kecil. "Laporan yang kami terima bilang kamu sering membuat masalah dan nilaimu biasa saja."
"Laporan dari siapa?"
Kevin tidak menjawab.
Semua orang di ruangan itu tahu nama yang menggantung di antara mereka.
Vanessa.
Keira menggeser berat tubuh ke kaki kanan. Rasa sakit dari tulang kirinya merayap sampai pinggang. Ia menahan sandaran kursi lebih kuat, tetapi suaranya tetap tenang.
"Kalau Ko Kevin ingin bukti, catatan sekolahku masih ada. Piagamnya juga mungkin masih tersimpan di gudang, kalau belum dibuang."
"Piagam apa?"
"Peringkat pertama. Lomba matematika. Debat. Sains. Ada beberapa."
Kening Kevin berkerut makin dalam, seolah setiap jawaban mencabut satu bagian dari Keira yang selama ini ia kira ia kenal.
"Lalu setelah lulus?" tanya seorang tamu perempuan. "Kamu masuk universitas mana?"
Keira menatap layar raksasa dengan wajah Vanessa di atas tulisan kelulusan. Di bawahnya, meja hadiah dipenuhi kotak yang mungkin berisi jam, tas, dan perhiasan. Lima tahun lalu, ketika surat penerimaannya tiba, Keira hanya menyelipkannya ke bawah kasur lipat agar tidak terinjak.
"UI."
Suara gelas menyentuh meja terdengar dari belakang.
"Jurusan apa?" tanya lelaki paruh baya itu.
"Aku diterima melalui hasil UTBK. Nilainya sempurna."
Ballroom benar-benar sunyi.
Kevin menatap Keira seolah baru pertama kali melihat wajah adiknya. "Nilai sempurna?"
"Surat penerimaannya ada di gudang."
Yolanda menggenggam tas kecilnya. "Kenapa kamu menyimpan surat penting di gudang?"
Keira menoleh perlahan.
"Karena itu kamarku."
Satu kalimat itu jatuh lebih berat daripada semua angka sebelumnya.
Tamu-tamu yang sejak tadi berusaha menjaga sopan santun mulai saling bertukar pandang tanpa menyembunyikannya. Rumah keluarga Pratama memiliki tiga lantai, kamar tamu berderet, dan sayap belakang yang cukup luas untuk staf. Namun putri kandung mereka menyebut gudang sebagai kamar.
"Tidak mungkin kami menempatkanmu di gudang," kata Kevin.
"Ada ranjang lipat dan meja tua di sana. Tidak ada jendela. Ko Kevin boleh melihatnya sendiri."
"Kenapa kamu tidak pernah mengeluh?"
Keira tersenyum tipis. Pertanyaan Kevin selalu datang terlambat.
"Kalau aku mengeluh, siapa yang akan mendengar?"
Kevin membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Yolanda mengangkat tisu ke sudut mata. Air mata muncul tepat ketika semakin banyak tamu menatapnya.
"Keira, Mama benar-benar tidak tahu semuanya separah ini. Mama pikir kamu nyaman. Kamu selalu bilang tidak apa-apa."
"Aku bangun pukul empat pagi," ujar Keira.
Tisu di tangan Yolanda berhenti.
"Dari sini aku naik angkot, lalu KRL. Kalau tidak terlambat berganti kendaraan, perjalanan ke sekolah sekitar dua jam."
"Kamu bisa minta sopir," kata Kevin cepat.
"Vanessa memakai mobil dan sopir untuk pergi ke SPH. Aku dilarang ikut karena arah kami berbeda."
"Seharusnya ada mobil lain."
"Ada. Papa bilang bahan bakarnya terlalu mahal untuk mengantar anak yang bukan siapa-siapa."
Semua mata beralih kepada Edmond.
Wajah lelaki itu berubah gelap. "Jangan memelintir kata-kataku."
"Aku tidak perlu memelintir apa pun. Kata-kata Papa sudah cukup tajam."
Edmond hendak mendekat, tetapi beberapa ponsel yang terangkat membuat langkahnya tertahan. Di ruang rapat, ia bisa memerintah orang menutup pintu. Di depan puluhan mitra bisnis dan keluarga elite Jakarta, satu gerakan kasar akan langsung menjadi rekaman.
Keira melanjutkan, "Aku tidak mendapat uang makan. Saat istirahat, aku minum air putih di dekat ruang guru. Malam hari aku menunggu sampai semua selesai makan, lalu mengambil sisa dari dapur."
Seorang pembantu lama di dekat pintu dapur menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca. Ia mengangguk kecil, nyaris tidak terlihat, membenarkan setiap kata.
Kevin melihat gerakan itu.
Warna wajahnya memudar.
"Tiga tahun?" tanyanya, suara mulai serak. "Kamu melakukan itu selama tiga tahun?"
"Tidak setiap hari. Kadang tidak ada sisa."
Kalimat sederhana itu membuat seorang tamu perempuan menunduk. Di seberang ruangan, seorang lelaki mematikan ponselnya setelah mengirim pesan. Aib keluarga Pratama tidak lagi berada di dalam rumah. Ia sedang bergerak ke grup WhatsApp, meja arisan, dan ruang direksi Jakarta.
Yolanda mulai menangis sungguhan, atau setidaknya air matanya kini jatuh lebih cepat.
"Maafkan Mama, Nak. Mama lalai. Mama terlalu banyak urusan. Kalau Mama tahu, Mama pasti tidak akan membiarkanmu kelaparan."
Keira memandang perempuan yang melahirkannya.
Ia teringat sebuah layar CCTV yang mati. Teringat Yolanda memegang kedua tangannya di kantor polisi dan berbisik, "Kamu lebih kuat dari Vanessa. Akui saja dulu. Mama akan menolongmu nanti."
Pertolongan itu tidak pernah datang.
Seperti uang saku. Seperti mobil sekolah. Seperti kunjungan ke penjara.
"Tante Yolanda tidak perlu meminta maaf," kata Keira.
Tangis Yolanda terputus. "Tante?"
"Anda memang tidak pernah salah, setidaknya di mata Anda sendiri. Bukan saat uangku dihentikan. Bukan saat rekaman yang bisa menyelamatkanku tiba-tiba hilang."
Mata Yolanda melebar.
Edmond langsung memotong, "Jangan membuka kasus lama tanpa bukti."
"Aku tidak bilang rekaman apa."
Edmond membeku.
Beberapa tamu menangkapnya. Bisikan baru muncul, kali ini lebih tajam. Yolanda memegang lengan suaminya, tetapi Edmond menepisnya.
Kevin berdiri di antara mereka dengan wajah pucat. Ia melihat seragam Keira, kaki yang bengkok, lalu meja hadiah Vanessa. Setiap benda di ruangan itu seolah sedang menuduhnya.
"Kei..." Untuk pertama kalinya, panggilan itu tidak terdengar seperti teguran. "Surat UI itu masih ada?"
"Seharusnya."
"Aku akan mencarinya."
"Untuk apa?"
Kevin tidak punya jawaban. Memastikan bahwa adiknya memang jenius tidak akan mengembalikan lima tahun. Menemukan surat itu juga tidak akan membuat Keira sempat menjalani satu hari pun sebagai mahasiswa UI.
Sebelum siapa pun sempat bicara lagi, pintu ballroom terbuka.
Seorang gadis melangkah masuk dengan gaun desainer putih bernilai ratusan juta rupiah. Berlian kecil berkilau di telinganya. Rambutnya ditata lembut, senyumnya manis seperti wajah di layar raksasa.
Semua kepala menoleh kepadanya.
"Ko Kevin, aku pulang!"
Vanessa berjalan masuk dengan tangan terbuka, siap menerima pelukan yang selalu menunggunya.
Keira memandang wajah perempuan yang lahir pada hari yang sama dengannya itu.
Tatapannya sedingin pintu besi yang baru tertutup pagi tadi.