Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOKTRIN
Setelah perjalanannya bersama Rabu tilawang Sena akhirnya sampai ke panawijen tempat mpu Parwa, saat Sena dan Rabu datang seorang abdi langsung menyuruh mereka masuk dan mengatakan kalau mpu sudah menunggu didalam.
Sena masuk di iringi Rabu dibelakangnya "salam guru" ucap Sena
"Aku belum mengajarkan apapun kepadamu kenapa kau memanggilku guru."
"Dulu saat aku pertama kali kesini dan dijanjikan setelah tiga belas tahun untuk kembai kesini anda sudah menerimaku sebagai muridmu guru."
Mpu Parwa tersenyum mendengar jawaban Sena lalu menyuruh mereka berdua duduk.
Sena mengenalkan kalau dia datang bersama temannya dan meminta untuk mpu Parwa sudi membimbingnya juga, mpu Parwa tidak mengatakan apapun dan hanya menyuruh mereka untuk beristirahat dia kemudian menyuruh abdinya untuk mengantarkan Sena dan temannya ketempat yang akan mereka tempati selama tinggal disana.
Malam harinya mereka mendengarkan nasihat-nasihat yang disampaikan oleh mpu Parwa, setelah semua orang kembali ketempat masing-masing Sena tetap ditempatnya Rabu disuruhnya untuk duluan karena ada percakapan pribadi antar dia dan gurunya "guru ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan."
"Tanyakanlah Sena."
"Aku ingin bertanya kemana orang-orang setelah mati"
"Kenapa kau menanyakan itu."
"Tadi siang aku baru membunuh orang, dan aku memikirkannya jika mati kemana dia akan pergi."
"Dunia ini hanyalah Wadah, Sena. Jiwa adalah Isi. Ketika wadah itu pecah oleh pedang atau usia, jiwanya tidak hilang, melainkan kembali melayang mencari jalan pulang."
Sena Menunduk, menatap telapak tangannya sendiri "Jika jiwa tidak pernah hilang... apakah jiwa dari tempat lain dari masa yang sangat jauh bisa terlempar ke dalam wadah baru di zaman ini? Dan apakah jiwa yang mati di sini bisa kembali ke tempat asalnya?"
Mpu Parwa Tersenyum tipis, memahami arah pertanyaan terselubung Sena "Jiwa yang terikat karma akan terus berputar dalam roda Samsara. Jika jiwa itu datang dari ranah atau era lain, berarti ada janji atau takdir yang belum selesai ia tuntaskan di bumi ini. Ia tak bisa 'pulang' sebelum tugasnya genap."
"Tugas...?"
"Ya. Preman yang kau bunuh tadi telah menyelesaikan jalannya di dunia ini lewat tanganmu. Sedangkan kau... kau dikirim ke sini bukan untuk mempertanyakan kapan bisa kembali, melainkan untuk menjadi benteng dan pedang bagi saudaramu, Anusapati. Setelah takdir itu tuntas, barulah jalan pulang atau Moksa itu akan terbuka dengan sendirinya."
Sejak saat itu mpu Parwa sering menyebut Anusapati dan menanamkan doktrin kalau dirinya adalah pelindung dan pedang bagi Anusapati saudaranya, tapi bagi Sena semua itu hanyalah permainan politik.
Hingga suatu hari Dedes datang menemui ayahnya lalu mpu Parwa berkata kepada Dedes "lihatlah anak itu apa kau mengenalinya?."
"Siapa dia bapa?."
Mpu Parwa tersenyum tipis "Dialah yang akan menjadi pedang untuk cucuku Anusapati, disini aku akan mengasahnya dan menajamkannya"
"Jangan- jangan orang yang bapa maksud waktu itu adalah dia?."
"Benar, dia adalah anak dari suamimu dan saudara Anusapati."
Sena kemari sebentar ucap mpu Parwa, Sena pun menghentikan latihannya dan bergegas menghampirinya gurunya itu "Iya guru, ada apa"
"Beri salam kepada ibumu"
"Ibu?."
"Dia adalah istri dari ayahmu penguasa Tumapel dulu Ken Dedes, ibu dari saudaramu Anusapati."
Dedes tidak langsung percaya begitu saja, dan dia meminta bukti kepada Sena kalau benar dia memang benar anak Tunggul ametung apa yang bisa membuktikan pengakuannya benar
"Maafkan aku, aku tidak bisa membuktikan apapun ibundaku meninggal ketika melahirkan dahulu lalu saya diasuh oleh kerabat dari ibu, saya tidak punya bukti apapun selain ini." Sena menunjukkan cincin yang dipakainya kepada Dedes.
Setelah melihat itu Dedes kembali teringat memori ketika dia menanyakan tentang cincin yang hilang kepada Tunggul ametung, ternyata cincin itu bukan hilang tetapi diberikan kepada seorang wanita dan sekarang anaknya membawa itu kepada dirinya, Dedes tidak berkomentar apapun dia hanya bertanya kalau begitu artinya kamu adalah kaka atau adik dari Anusapati, Sena menjawab kalau dia tidak tahu pastinya tapi dari cerita-cerita yang dia dengar kalau Tunggul ametung mati dia sudah lahir.
Setelah mendengar itu Dedes mengatakan kalau adiknya saat ini tengah terkurung di Kedaton tanpa diperbolehkan mempelajari ilmu perang, Dedes meminta Sena untuk belajar sungguh-sungguh dan membantu adiknya karena Sena tidak punya siapapun lagi kecuali adiknya, Dedes juga mencoba menanamkan doktrin ke Sena.
Tapi Sena hanya tersenyum dan berjanji akan berusaha melakukan yang terbaik untuk menjaga adiknya nanti, setelah mendengar itu hati Dedes menjadi lega lalu mpu Parwa kemudian menyuruhnya untuk melanjutkan latihannya, setelah berdiri dia tidak langsung kembali untuk latihan Tangannya secara kasual terulur ke samping, meraih sebatang bambu runcing bekas pagar kecil yang tergeletak di dekatnya. Tanpa ancang-ancang yang berarti, tanpa mengumpulkan aura kanuragan yang mencolok, Sena menyentak pergelangan tangannya.
CUSSS!
Bambu itu melesat membelah udara seperti anak panah yang dilepaskan dari busur raksasa. Gerakannya begitu cepat dan presisi hingga menciptakan siulan tipis.
BLEB! CRAGK!
Penguping: "AAAGHH—!"
Sebuah jeritan tertahan terdengar dari balik semak-semak rindang di luar pagar. Bunyi daging dan tulang yang tertembus bambu terdengar sangat jelas, disusul suara tubuh berat yang roboh menghantam tanah kering.
Mpu Parwa dan Dedes kaget setelah melihat orang yang tanpa mereka sadari sedari tadi ada disekitar sana, lalu Mpu Parwa menyuruh abdinya untuk segera membereskan mayat itu, Dedes juga disuruh untuk segera kembali ke kedaton dan Sena kembali melanjutkan latihannya.
Pengawasan Mpu Parwa dari Jauh:
Mpu Parwa berdiri sambil memperhatikan Sena yang bergerak kembali mengulang beberapa gerakan yang diajarinya.
Dalam batin Mpu Parwa "Anak ini tidak pernah diajari cara membunuh secara formal oleh Mpu Pala, tapi instingnya refleks mencabut nyawa tanpa ragu demi melindungi rahasia. Dia bukan sekadar murid... dia adalah badai yang sedang tumbuh."
Malam harinya sesuai pengajaran dari mpu Parwa dan hanya ada Sena sendiri disana "Sena... tindakanmu tadi siang menyelamatkan nyawa kita semua dan rahasia Anusapati. Tapi itu juga menandakan bahwa mata dan telinga Arok sudah menyebar sampai ke balik semak-semak Panawijen. Mulai malam ini, kamu bukan hanya diajari tentang nasihat-nasihat tapi juga tentang sejarah dan taktik politik"
Mpu Parwa menjelaskan bahwa Ken Arok naik takhta lewat pertumpahan darah Karena itu, Arok diliputi ketakutan konstan bahwa takhtanya akan direbut dengan cara yang sama.
Analisis modern Sena di batin: "Oh, classic tyrant syndrome. Orang yang naik pake cara kotor akan selalu takut dikumpulin/dieksekusi pake cara kotor juga. Arok lagi ada di fase super paranoid."
Kemudian mpu Parwa melanjutkan bahwa Anusapati sengaja dipisahkan dari akses militer. Arok membentuk opini umum bahwa Anusapati adalah pangeran yang "lemah, pemalu, dan tidak berbakat perang" agar rakyat Tumapel tidak menaruh harapan padanya.