Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.
Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.
Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.
Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 — Sang Pemilik Helm Merah Muda Datang!
Tidak jauh dari sana, Sienna Hartono merasa paru-parunya seperti akan meledak.
Udara panas masuk ke tenggorokannya bersama rasa logam yang membuat napasnya semakin berat. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup bara.
Kamera kecil yang terpasang di dadanya berguncang hebat mengikuti gerak tubuhnya. Alat itu terus merekam, seolah menjadi saksi bisu dari perjuangannya untuk tetap hidup.
“DOR!”
Sebuah peluru menghantam pasir hanya setengah meter di depan kakinya.
Pasir panas berhamburan dan menghantam betisnya.
Sienna tersentak.
Tiga kendaraan taktis bersenjata telah mengepungnya dari tiga arah. Para anggota Blood Viper yang berada di atas kendaraan tidak terburu-buru membunuhnya.
Mereka justru tertawa.
Bersiul.
Menikmati kepanikan buruannya.
Ini bukan sekadar pengejaran.
Ini adalah permainan kucing dan tikus.
Dan Sienna adalah tikus yang sudah kehabisan tenaga.
Sebagai pengamat lapangan termuda dari unit intelijen Indonesia, Sienna mendapat tugas menyamar sebagai jurnalis perang untuk menyelidiki transaksi bahan baku senjata biologis antara Blood Viper dan sebuah kekuatan asing.
Misinya hampir berhasil.
Bukti yang dia butuhkan sudah berada di tangannya.
Namun, saat melakukan evakuasi, penyamarannya terbongkar.
Dua personel pasukan khusus terbaik yang ditugaskan untuk melindunginya—Raven dan Falcon—tewas mengenaskan di tengah hujan peluru.
Belasan senapan mesin berat mengubah tubuh kedua pria itu menjadi sasaran hidup.
Sienna masih bisa mengingat wajah mereka.
Dan kalimat terakhir yang mereka teriakkan sebelum jatuh.
“Tetap hidup!”
Suara itu terus terngiang di kepalanya.
“Haah... haah...”
Langkah Sienna tiba-tiba goyah.
Kakinya kehilangan tenaga.
Bruk!
Tubuhnya jatuh menghantam pasir panas.
Rasa sakit menusuk pergelangan kakinya.
Dia mencoba bangkit.
Tidak bisa.
Sekali lagi.
Tetap tidak bisa.
Sienna menggertakkan gigi.
Selesai.
Dia benar-benar sudah tidak mampu berlari lagi.
Tiga kendaraan taktis perlahan bergerak mendekat dan membentuk lingkaran.
Pintu-pintu kendaraan terbuka.
Belasan anggota Blood Viper turun sambil membawa senjata.
Wajah mereka dipenuhi senyum mengejek.
Salah satu pemimpin regu bahkan mengeluarkan ponsel dan mengarahkannya kepada Sienna.
Sepertinya dia berniat merekam pembantaian itu.
Sienna memejamkan mata.
Tangannya yang gemetar perlahan bergerak ke kerah bajunya.
Jarinya menekan sebuah tombol kecil yang nyaris tidak terlihat.
Klik.
Sinyal terenkripsi langsung dipancarkan dari perangkat yang tersembunyi di balik pakaiannya.
Sinyal itu menembus atmosfer dan menuju satelit komunikasi.
Itu adalah informasi terakhir yang berhasil dia kirimkan.
Sekaligus mungkin menjadi pesan terakhir dalam hidupnya.
[Koordinat markas Blood Viper telah dikonfirmasi.]
[Kode senjata biologis: “Hell's Kiss”.]
[Pihak yang melakukan transaksi...]
Sinyal terputus.
Jari Sienna terkulai.
Dia sudah melakukan semuanya.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan.
Di atas kendaraan terdepan, seorang penembak senapan mesin perlahan memutar laras senjatanya.
Moncong senapan itu kini mengarah tepat ke tubuh Sienna.
Jarinya mulai menarik pelatuk.
Sienna memikirkan kedua orang tuanya.
Memikirkan Raven.
Memikirkan Falcon.
Lalu perlahan menutup mata.
Maaf...
Aku sudah berusaha.
Namun—
Tepat ketika jari penembak itu hampir menarik pelatuk...
“Trrr... trrr... trrr...”
Suara aneh terdengar dari kejauhan.
Bukan suara kendaraan taktis.
Bukan suara jip militer.
Bukan pula suara mesin perang.
Suara itu terdengar seperti mesin tua yang sedang sekarat.
“Trrr... trrr... prut... prut...”
Semua orang terdiam.
Penembak yang hendak menembak Sienna menghentikan gerakannya.
Beberapa anggota Blood Viper saling menatap.
Sienna sendiri membuka matanya dengan bingung.
Suara itu semakin dekat.
Semua kepala akhirnya menoleh ke arah yang sama.
Dan pemandangan yang mereka lihat membuat mereka terdiam.
Di ujung jalan gurun, sebuah motor bebek tua sedang melaju ke arah mereka.
Motor itu tampak seperti bisa copot menjadi beberapa bagian kapan saja.
Asap hitam mengepul dari knalpotnya.
Kecepatannya tidak mengesankan.
Tetapi entah bagaimana, pengendaranya terlihat sangat percaya diri.
Di atas motor itu duduk seorang pemuda.
Kaos putih bertuliskan “Harapan Seluruh Desa” menempel di tubuhnya.
Celana pendek bermotif warna-warni.
Sandal jepit.
Namun yang paling mencolok adalah helmnya.
Helm anak-anak berwarna merah muda dengan gambar karakter kartun.
Di jok belakang motor, dua kardus besar diikat menggunakan tali rafia.
Tulisan besar di atas kardus itu masih terlihat jelas.
Mi instan sapi panggang.
Di sampingnya terdapat sebuah tas plastik besar bergaris merah, putih, dan biru.
Pemandangan itu benar-benar tidak masuk akal.
Di tengah gurun.
Di tengah baku tembak.
Di tengah pengejaran maut.
Muncul seorang pria dengan helm anak-anak merah muda, membawa dua kardus mi instan.
Para anggota Blood Viper saling pandang.
Tidak ada seorang pun yang memahami situasi ini.
Apa-apaan ini?
Apakah ada orang yang salah jalan?
Atau seseorang benar-benar datang ke medan perang untuk piknik?
Motor itu terus mendekat.
Tidak mengurangi kecepatan.
Tidak berbelok.
Bahkan langsung menuju pusat pengepungan.
Sienna membelalakkan mata.
“Jangan!”
Dia memaksa tubuhnya bangkit.
“Jangan datang ke sini!”
Namun pemuda itu seolah tidak mendengar.
Motor tua itu terus melaju.
Trrr... trrr... trrr...
Salah satu pemimpin Blood Viper akhirnya tertawa.
“Hahaha!”
Dia menunjuk ke arah pemuda itu sambil memegang rokok di sudut bibirnya.
“Dari mana orang bodoh itu muncul?”
Beberapa anak buahnya ikut tertawa.
“Lihat helmnya!”
“Dia membawa mi instan!”
“Dia pikir ini tempat piknik?”
Penembak di atas kendaraan ikut tertawa.
“Bos, dia datang langsung ke sini. Mau saya habisi sekalian?”
Pemimpin itu mengibaskan tangan.
“Jangan buang peluru penembus baja.”
Dia menunjuk Sienna.
“Habisi perempuan itu dulu.”
Kemudian matanya kembali mengarah kepada pemuda berhelm merah muda.
“Kalau bocah itu masih mendekat, beri beberapa peluru. Biar dia tahu ini bukan tempat bermain.”
Sienna menggertakkan gigi.
Dia sempat mengira bala bantuan datang.
Ternyata bukan.
Yang datang justru seorang pria yang tampaknya sedang mengantarkan mi instan ke neraka.
“Lari!”
Sienna berteriak sekuat tenaga.
“Jangan kemari!”
Motor itu justru semakin mendekat.
Mesinnya meraung lebih keras.
TRRRR—TRRRR—TRRRR!
Asap hitam menyembur semakin tebal.
Pengendaranya akhirnya mengangkat pergelangan tangan.
Sebuah jam digital murah terlihat di sana.
Adrian melirik layar kecil itu.
Waktu terus berjalan.
Sisa waktu misi S-Level terus berkurang.
Delapan jam untuk membersihkan markas Blood Viper yang berisi ratusan personel bersenjata bukanlah waktu yang panjang.
Dan sekarang...
Sekelompok orang malah menghalangi jalannya.
Adrian menyipitkan mata.
Ekspresinya berubah sedikit.
Bukan takut.
Bukan gugup.
Melainkan kesal.
Dia datang untuk bekerja.
Dia ingin menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin.
Lalu kembali ke penginapan, menyalakan pendingin ruangan, makan mi instan, dan bermain gim.
Tetapi orang-orang ini justru membuatnya terlambat.
Penyakit khas pekerja keras yang paling tidak boleh diganggu akhirnya muncul.
Amarah di jalan.
Adrian meraih tuas kopling dengan tangan kiri.
Tangan kanannya bergerak ke setang.
Kemudian ibu jarinya menekan tombol klakson berkali-kali.
“TIIIN—NGIIIIIK!”
Suara klakson motor tua itu menggema di tengah gurun.
Semua orang terdiam.
Adrian menatap tiga kendaraan bersenjata yang menghalangi jalan di depannya.
Kemudian dia menarik napas panjang.
“Geser.”
Suaranya tidak keras.
Tetapi cukup jelas.
“Aku lagi buru-buru masuk kerja.”