Di kota Neo-Veridia, ingatan bisa diperjualbelikan. Rian, seorang penata memori, menemukan kristal ingatan terlarang yang memperlihatkan dirinya di masa depan—atau masa lalu yang telah dihapus dari otaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wildyan NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyusupan ke Archivia pusat
Suara tembakan laser dari senapan Leon menghantam lantai tepat di samping kaki Rian, memicu lelehan kaca dan percikan api. Rian tidak membuang waktu. Dengan membopong Maya yang masih lemah dan menggenggam erat koper perak *Neura-Pulse*, ia menerobos pintu darurat menuju lorong belakang laboratorium Sektor Nol.
"Tangkap mereka!" jerit suara Leon dari balik speaker interkom yang meraung-raung. "Sektor Nol dalam bahaya! Jangan biarkan Dr. Vance mendekati Inti Pemancar Archivia Pusat!" perintahnya kepada para prajurit yang sedang berjaga.
Lorong-lorong Sektor Nol berbeda jauh dengan Distrik Bawah yang kumuh. Di sini, dinding-dinding dilapisi porselen putih berkilau, diterangi garis-garis lampu neon dingin. Namun di balik keindahan futuristik itu, tempat ini adalah jantung dari tirani Neo-Veridia—ruang di mana seluruh takdir warga kota ditentukan oleh ribuan server data memori.
Di ujung lorong, dua prajurit Penjaga Kategori bersenjata berat bersiap menghadang dengan perisai energi terangkat.
"Serahkan koper itu dan menyerahlah!" teriak salah satu prajurit.
Rian menatap pendar keemasan pada koper *Neura-Pulse*. Ia memutar tombol frekuensi pada alat tersebut, lalu mengarahkannya lurus ke arah para prajurit. Tanpa menunggu tembakan musuh, Rian menekan tombol pelepas pulsa singkat.
*BZZZZT—WHUMP!*
Gelombang kejut syaraf tak terlihat melesat membelah udara. Perisai energi musuh bergetar hebat sebelum meledak secara internal. Kedua prajurit itu tersungkur seketika, sirkuit helm dan sinapsis otak mereka lumpuh sementara oleh induksi frekuensi tinggi.
"Alat itu... mengonsumsi banyak daya, Rian," bisik Maya, suaranya parau seraya menunjuk indikator baterai pada koper yang meredup menjadi kuning. "Sisa gelombang *Neura-Pulse* hanya bisa dipicu satu kali lagi." Maya terlihat hawatir sembari terus mengingatkan Rian.
"Satu kali sudah cukup," jawab Rian mantap. "Asalkan kita bisa menancapkannya langsung ke Inti Pemancar Utama." Rian tampak yakin dengan rencananya itu.
Mereka menyeberangi jembatan kaca melayang yang menghubungkan laboratorium Sektor Nol dengan Archivia Pusat—sebuah katedral data raksasa berbentuk silinder bertingkat sepuluh. Di tengah-tengah katedral melayang sebuah pilar kaca raksasa yang berisi *Menara Pemancar Utama*, memancarkan pendar cahaya kebiruan yang menyilaukan. Di sinilah seluruh sinyal ingatan puluhan ribu warga kota Neo-Veridia berpusat.
Di atas konsol pemancar utama, layar raksasa menghitung mundur jadwal eksekusi *Reset Massal*: **00:15:00**.
Hanya tersisa lima belas menit sebelum Proyek Oblivion aktif secara otomatis dan memutihkan ingatan seluruh kota. Sudah tak banyak waktu lagi bagi mereka berdua.
Rian menuntun Maya mendekati konsol utama. Tangannya bergerak secepat kilat menembus papan ketik holografis, memasukkan baris demi baris kode enkripsi yang baru saja pulih di dalam ingatan biologisnya.
*Akses Otentikasi: Dr. Rian Vance terkonfirmasi.*
*Sistem Siap Menginstal Algoritma Pembalik.*
Namun, saat Rian mengangkat koper perak untuk mencocokkan kabel transmisi *Neura-Pulse* ke slot utama pemancar, sebuah desis pintu pneumatik berbunyi di belakang mereka.
Dua sosok berseragam kelabu melangkah masuk ke katedral data. Leon berdiri di depan, senapan laras pendek teracung lurus ke arah dada Rian. Di sampingnya, berdiri sosok yang mengejutkan: Elena, dengan lengan mekanis baru yang memancarkan pendar merah membara.
"Kau melangkah terlalu jauh, Saudaraku," kata Leon, matanya memancarkan amarah yang terdistorsi oleh kegilaan. "Kau berdiri di ambang fajar baru Neo-Veridia, dan kau memilih untuk menghancurkannya."