NovelToon NovelToon
Terbelenggu Dendam

Terbelenggu Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: syitahfadilah

Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Sudah seminggu berlalu sejak Indri mulai bekerja di Haris Group. Perlahan, ia mulai memahami ritme perusahaan.

Meski masih banyak belajar, Indri selalu datang lebih awal dan pulang paling akhir. Ia ingin membuktikan kepada semua orang bahwa dirinya pantas diberi kesempatan kedua.

Di balik kaca ruang kerja, Haris memperhatikan putrinya dengan senyum bangga. "Dia benar-benar berubah," gumamnya.

Vano yang sedang menyerahkan laporan ikut melihat ke arah Indri.

"Semoga yang terjadi di masa lalu benar-benar menjadi pembelajaran berharga baginya."

Haris mengangguk pelan.

"Papa juga berharap begitu."

Di ruang kerjanya, Indri tengah memeriksa proposal kerja sama dengan Evara Capital. "Perusahaan ini luar biasa," katanya pelan.

Sekretarisnya, Nisa, mengangguk. "Pak Evan dikenal sangat cerdas. Dalam lima tahun terakhir, perusahaannya berkembang sangat cepat."

Indri membalik halaman terakhir.

"Kalau kerja sama ini berhasil, perusahaan Papa akan semakin berkembang."

Belum sempat ia menutup berkas itu, telepon di mejanya berdering.

"Bu Indri, Pak Evan sudah tiba."

"Silakan antar ke ruang rapat."

"Baik."

Beberapa menit kemudian.

Evan memasuki ruang rapat dengan langkah tenang.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi, Pak Evan," balas Indri sambil tersenyum sopan.

Hari itu hanya mereka berdua yang membahas rincian kerja sama sebelum dipresentasikan kepada Haris.

Evan memperhatikan cara Indri berbicara. Tenang. Profesional.

Sangat berbeda dari perempuan jahat yang selama ini hidup dalam ingatannya.

Namun, bayangan penderitaan Laura yang menangis histeris kembali memenuhi pikirannya.

Ia mengepalkan jemari di bawah meja.

"Jangan tertipu oleh perubahan itu," batinnya. "Dia tetap penyebab Laura kehilangan hidupnya."

"Bu Indri?" Suara Evan membuyarkan lamunan Indri.

"Maaf?"

"Bagaimana pendapat Anda tentang proyek ini?"

Indri sedikit gugup.

"Menurut saya, proyek ini memiliki potensi besar. Namun risikonya juga cukup tinggi."

Evan mengangguk tipis.

"Pendapat yang menarik."

Untuk pertama kalinya, ia mengakui dalam hati bahwa Indri memang memiliki kemampuan.

Sayangnya, hal itu tidak mengurangi sedikit pun keinginannya untuk membalas dendam.

Selesai rapat, Evan berjalan menuju parkiran.

Asistennya, Rio, sudah menunggu.

"Bagaimana, Pak?"

"Dia mulai percaya kepadaku."

"Lalu bagaimana selanjutnya, Pak?"

"Mulai besok jalankan tahap pertama."

Rio mengangguk. "Sabotase?"

"Bukan." Evan menatap gedung Haris Group. "Buat dia meragukan dirinya sendiri. Jangan sampai ada yang menghubungkannya denganku."

"Mengerti, Pak."

Keesokan harinya...

Indri memimpin rapat kecil bersama beberapa manajer.

Ia telah menyiapkan presentasi semalaman. Namun, saat layar proyektor dinyalakan, seluruh data menghilang.

"Apa?" Indri membelalak.

File presentasi yang semalam selesai ia kerjakan kini kosong.

Beberapa manajer mulai saling berpandangan.

Dimas menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Bu Indri, apakah Anda belum siap?"

"Tidak... semalam datanya masih ada." Indri mulai panik.

"Saya rasa pekerjaan seperti ini tidak bisa mengandalkan alasan."

Suasana rapat menjadi canggung.

Indri berusaha tetap tenang.

"Maaf. Saya akan menjadwalkan ulang rapat ini." Ia menundukkan kepala sebelum meninggalkan ruangan.

Begitu pintu tertutup, napasnya terasa berat. Ia yakin ada yang tidak beres.

Sementara itu, di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari kantor, Rio menutup laptopnya. "Selesai, Pak."

Evan yang duduk di kursi belakang hanya bertanya singkat.

"Tidak ada yang curiga?"

"Tidak, Pak."

"Bagus." Evan menatap keluar jendela. Ia tidak tersenyum.

Tidak juga merasa puas.

Yang ia rasakan hanyalah kekosongan yang selama ini mengisi hidupnya sejak kehilangan Laura.

"Ini baru permulaan," ucapnya lirih.

Sore harinya. Indri masih duduk sendirian di ruang kerja.

Semua karyawan telah pulang.

Ia kembali memeriksa laptopnya.

"Aneh. Tidak mungkin file itu hilang sendiri."

Ketukan pelan terdengar. "Masuk," ujarnya.

Yang datang ternyata Haris.

"Kamu belum pulang?"

Indri segera menutup laptop.

"Aku masih ingin mengecek beberapa pekerjaan,Pa."

Haris duduk di hadapannya.

"Papa dengar rapatmu tadi tidak berjalan lancar."

Indri menunduk. "Maaf, Pa."

Haris tersenyum hangat.

"Semua orang pernah melakukan kesalahan. Yang penting bukan seberapa sering kamu jatuh. Tapi seberapa kuat kamu bangkit."

Mata Indri mulai berkaca-kaca.

"Aku tidak ingin mengecewakan Papa."

"Kamu tidak mengecewakan siapa pun." Haris menggenggam tangan putrinya. "Percayalah, kamu tidak sendirian."

Di balik pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, seseorang diam-diam memperhatikan ayah dan anak itu.

Dimas. Tatapannya sulit diartikan.

Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirim sebuah pesan singkat.

"Tahap pertama berhasil. Dia mulai kehilangan kepercayaan diri."

Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk.

"Lanjutkan. Jangan bertindak gegabah."

Nama pengirimnya hanya terdiri dari satu huruf. E.

Dimas tersenyum tipis.

Tanpa disadari Indri, bukan hanya satu orang yang sedang memainkan hidupnya.

Permainan itu telah dimulai dari dalam perusahaan, dan setiap langkah yang diambilnya perlahan mengarah pada jebakan yang telah disiapkan dengan sangat rapi.

***

Hujan turun sejak dini hari.

Butiran air membasahi jendela kamar Indri yang masih terjaga di depan laptopnya. Semalaman ia mencoba mengembalikan data presentasi yang hilang, tetapi hasilnya nihil.

Ia memijat pelipisnya.

"Apa benar aku ceroboh?"

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Namun, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.

Pagi itu, Haris memperhatikan lingkar hitam di bawah mata putrinya. "Kamu begadang lagi?"

Indri tersenyum tipis.

"Aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku."

Haris menghela napas. "Indri, Papa tidak menempatkanmu di perusahaan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain."

"Lalu?"

"Papa hanya ingin kamu percaya pada dirimu sendiri."

Indri terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru paling sulit ia lakukan. Ia tak banyak berbicara lagi, setelah sarapan ia langsung pamit berangkat ke kantor.

Sesampainya di kantor, Nisa langsung menghampirinya.

"Bu Indri, saya sudah meminta tim IT memeriksa laptop Ibu."

"Hasilnya?"

"Mereka bilang file itu dihapus."

Indri mengernyit. "Dihapus?"

"Iya, Bu."

"Tapi saya tidak pernah menghapusnya."

"Itulah yang aneh, Bu."

Pembicaraan mereka terhenti oleh kedatangan Dimas sambil membawa map. "Bu Indri."

"Ada rapat evaluasi sepuluh menit lagi."

Tatapan Dimas tampak biasa.

Namun entah mengapa, Indri merasa pria itu selalu memperhatikannya.

Di sisi lain kota.

Rio menyerahkan laporan kepada Evan. "Tim IT menemukan jejak penghapusan file."

Evan membaca laporan itu tanpa perubahan ekspresi.

"Apakah mereka bisa membuktikan siapa pelakunya?"

"Tidak,Pak."

"Bagus."

Rio ragu sejenak sebelum bertanya. "Pak..."

"Kalau Indri benar-benar menyesali perbuatannya, kenapa kita tetap melakukan ini?"

Ruangan mendadak sunyi.

Evan menutup map perlahan.

Wajahnya datar, namun sorot matanya begitu tajam. Dan

justru itu membuat Rio tidak berani bertanya lagi.

Siang hari...

Rapat evaluasi berlangsung cukup tegang. Salah satu direktur memprotes keterlambatan proyek.

"Kalau seperti ini terus, kerja sama dengan Evara Capital bisa gagal."

Dimas ikut menimpali.

"Tim pemasaran juga belum menerima revisi dari Bu Indri."

Indri mengangkat kepala.

"Maaf, revisi itu sudah saya kirim kemarin sore."

"Tidak ada yang menerimanya."

Indri langsung membuka surel di laptopnya. Matanya membelalak.

Email itu tidak ada. Padahal ia yakin sudah mengirimkannya. "Aneh..."

Direktur lain mulai berbisik.

"Kesalahan lagi?"

Haris yang duduk di ujung meja akhirnya angkat bicara. "Cukup. Jangan mengambil kesimpulan sebelum semuanya diperiksa."

Suasana rapat kembali tenang.

Namun wajah Indri semakin pucat.

Selesai rapat, Vano menghampiri Indri yang sedang berdiri sendirian di balkon kantor.

"Masih memikirkan rapat tadi?"

Indri mengangguk. "Apa menurutmu aku memang tidak mampu bekerja di sini?"

Vano tersenyum tipis.

"Aku pernah membuat kesalahan yang jauh lebih besar."

Indri menatapnya.

"Semua orang berhak memperbaiki hidupnya. Tapi, kalau kamu terus meragukan dirimu sendiri, orang lain akan semakin mudah menjatuhkanmu."

Indri menghela napas panjang.

"Terima kasih."

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke rumah, ia merasa Vano tidak lagi memandangnya sebagai perempuan yang hanya membawa masalah.

Sore menjelang...

Evan datang ke Haris Group untuk menandatangani beberapa dokumen. Di lobi, ia melihat Indri sedang membantu seorang petugas kebersihan memungut berkas yang terjatuh.

"Maaf, Bu," kata petugas itu gugup.

"Tidak apa-apa." Indri tersenyum sambil membantu menyusun kembali dokumen.

Evan memperhatikan dari kejauhan. Rio berdiri di sampingnya. "Itu tidak sesuai dengan cerita yang Bapak ceritakan tentang dia."

Evan tidak menjawab.

Tatapannya terus mengikuti Indri hingga perempuan itu menghilang di balik pintu lift.

Beberapa detik kemudian, ia berkata pelan. "Orang bisa berubah."

Rio menoleh.

"Lalu kenapa Bapak masih ingin membalas dendam?"

Evan mengepalkan tangannya, ia merasa terjebak dengan ucapannya sendiri.

"Tapi perubahan tidak bisa menghidupkan adikku kembali."

Malam itu...

Indri kembali membuka laptopnya di rumah. Ia menemukan sebuah file baru yang tidak pernah ia buat. Dengan penasaran, ia membukanya.

Layar langsung menampilkan sebuah foto lama. Foto seorang perempuan muda dengan perut besar. Dalam foto itu memperlihatkan perempuan tersebut tampak kesakitan didalam ruangan bersalin.

Indri membeku.

Perempuan itu adalah Laura.

Napasnya tercekat.

"Tidak mungkin..."

Di bagian bawah foto, hanya ada satu kalimat pendek.

"Apakah kamu masih ingat wajah perempuan yang hidupnya kamu hancurkan?"

Tangan Indri bergetar hebat.

Dadanya naik turun menahan panik. Seseorang bukan hanya sedang mengawasinya.

Orang itu juga mengetahui semua rahasia kelam yang selama ini berusaha ia kubur. Dan untuk pertama kalinya sejak bebas dari penjara, Indri benar-benar merasa masa lalunya telah datang mengetuk pintu.

1
Eva Karmita
Evan kah...??
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
Nurlinda: 💃💃💃🕺🕺🕺
total 1 replies
ken darsihk
Rio berbalas pesan dngn siapa ya ??
Eva Karmita
kasih vote untuk Evan .. siap tahu Mak otor berbaik hati buat Evan hidup lagi 😩🤣🤣

sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁
Nurlinda: 😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
ken darsihk
secangkir kopi meluncur thor 😍
Nurlinda: Mamaciii 😘🙏🙏
total 1 replies
ken darsihk
Lanjuttt thor
Aditya hp/ bunda Lia
hamilkan .... bapaknya udah kamu bunbun
Eva Karmita
Indri kamu akan menyesal karena sudah membunuh calon ayah anakmu ...
ken darsihk
Fix Indri hamil anak nya Evan
ken darsihk
Nekat juga Indri kenapa sampai sekeji itu , kenapa juga Indri tidak belajar dari pengalaman yng sudah 2
Eva Karmita
berharap Evan tidak meninggal 😭💔... Indri kenapa kamu kejam sekali,, sekali lagi kamu membuat kesalahan menghilangkan nyawa orang seperti itu 😭...,, berharap semoga saja di rahim mu tumbuh benih Evan waktu itu biar kamu makin merasa bersalah dengan calon anakmu...🥺😔
ken darsihk
Semoga Indri mengurungkan niat nya itu
ken darsihk
Janganlah mengulang kesalahan yng sama Indri , fikir kan dampak nya untuk keluarga mu
Eva Karmita
sudah aku kasih vote ya Mak 🥰🥰
Nurlinda: tengkyu 😘🙏🙏
total 1 replies
Eva Karmita
apa rencana Indri akan berjalan lancar atau Indri berubah haluan.... astaghfirullah semoga Indri tidak berbuat yg membahayakan hidupnya sendiri,, sabar Indri jgn mengambil keputusan yang salah .. ingat masih ada keluarga mu yg bisa di minta tolong atau tidak lebih baik kamu pergi yg jauh saja di mana tidak ada orang yang mengenali mu... biarkan Evan hidup dlm penyesalan seumur hidup nya
Eva Karmita
Evan kalau cemburu ya cemburu aja ngak usah bawa" masa lalu yang pahit ... kasihan Indri selalu jadi bahan hinaan mu van 🥺 ... kalau memang kamu benci yg tinggal kamu jauhi untuk apa kamu dekati hanya menambah luka baru 💔😔 , ingat Van jangan terlalu benci nanti kamu malah sakit hati melihat Indri menjauh
ken darsihk
Indri sudah menderita dan terluka Evan , dan kamu selalu datang menabur kan garam di luka itu 😠😠😠
Aditya hp/ bunda Lia
Tuh denger kamu Evan ... jangan sibuk ajah ngurusin dendam
ken darsihk
He he cemburu kata kan saja bos 😂😂😂
Aditya hp/ bunda Lia
kayaknya cembukor tuh mas Evan 😂
Eva Karmita
mulai ada percikan api kecil di hati Evan 🤣🤣🤣
Nurlinda: 🤫🤫🤫🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!