NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30:

Pukul 07.15 WIB.

Sinar matahari pagi menembus dinding kaca lantai teratas Wijaya Tower di kawasan Jakarta Selatan. Ruang konferensi melingkar itu terasa begitu dingin dan hampa, layaknya seluruh udara telah dibekukan oleh ancaman perang bisnis yang tak terelakkan.

Eleonora duduk anggun di ujung meja mahoni. Mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan tatanan rambut tanpa celah, wanita paruh baya itu menyesap kopi hitamnya lambat-lambat. Dua pengacara bersetelan serba hitam duduk bersiap di sisinya, memangku tumpukan dokumen pengalihan saham.

Pintu kaca bergeser tanpa suara.

Arka melangkah masuk lebih dulu. Langkah kakinya mantap, terdengar tegas menapak lantai marmer. Kemeja hitam polosnya yang digulung rapi sebatas siku makin mempertegas bahunya yang tegap.

Di sampingnya, Kirei berjalan tenang. Masih dibalut seragam sekolah yang dilapisi blazer hitam formal, tangannya menggenggam erat sebuah map tipis berwarna perak. Tak ada keraguan di raut wajah Ketua OSIS itu.

Eleonora meletakkan cangkirnya hingga berdentik halus di porselen. "Kalian datang lebih cepat lima belas menit. Keputusan bijak."

Arka tak membalas sapaan ibunya. Ia memutar kursi di seberang meja, menggesernya sedikit agar Kirei bisa duduk nyaman, sebelum ia sendiri mengambil tempat tepat di samping istrinya.

"Waktu kita enggak banyak, Mama," sahut Arka datar dan dingin. "Serahkan cetakan foto dan salinan berkas rahasia itu sekarang."

Eleonora tersenyum tipis—senyuman penuh rasa percaya diri. Ia memberi isyarat kecil pada pengacaranya. Dalam hitungan detik, amplop cokelat tebal berisi draf pengalihan sepuluh persen saham Wijaya Corp serta kaset bukti digital didorong ke tengah meja.

"Tanda tangani ini dulu, Kirei," ujar Eleonora santai, menatap Kirei dari balik bulu matanya. "Begitu tinta pulpen kamu menempel di kertas ini, seluruh artikel tuduhan pernikahan rahasia kalian bakal Mama hapus permanen. Kamu bisa balik jadi siswi teladan tanpa skandal yang bikin Kakek kamu jantungan."

Kirei menarik amplop itu. Jemarinya membuka lembar demi lembar, memindai tiap klausa dengan ketelitian tinggi.

"Klausulnya rapi banget, Tante Eleonora," Kirei mendongak, menancapkan tatapannya lurus ke mata Eleonora. "Saham ini bukan cuma pindah kepemilikan, tapi juga memberi Tante hak suara penuh buat merombak jajaran direksi Wijaya Corp pekan depan."

"Tentu saja," Eleonora menyandarkan punggung ke kursi, melipat kedua tangannya di dada. "Itu harga yang harus dibayar Keluarga Wijaya atas perlindungan yang Mama berikan dari imbas kebangkrutan Hartono Corp."

"Perlindungan?" Arka terkekeh rendah—tawa sumbang yang menyebarkan hawa mencekam di ruangan. "Mama sebut pemerasan ini perlindungan?"

"Ini bisnis, Arka!" nada bicara Eleonora mendadak naik, matanya berkilat gusar. "Kamu masih terlalu hijau buat mengerti! Kalau Mama enggak mengambil alih saham ini, seluruh aset keluarga kita di Inggris bakal disita atas tuduhan kerja sama ilegal dengan Aditama!"

"Kami paham betul, Tante," potong Kirei lugas, menghentikan luapan emosi Eleonora. Kirei membuka map perak di tangannya, membiarkan berkas di dalamnya mendarat tepat di atas dokumen pengalihan saham. "Sayangnya... Tante yang kurang teliti membaca peta permainan."

Eleonora menyipitkan mata. "Apa maksud kamu?"

Kirei menggeser lembaran baru itu ke hadapan Eleonora. "Itu laporan audit independen atas transaksi keuangan cabang perusahaan Tante di London selama tiga tahun terakhir. Lengkap dengan salinan obrolan rahasia antara asisten pribadi Tante dan Almarhum Aditama."

Raut wajah Eleonora membeku. Jemarinya yang dihiasi cincin berlian bergetar tipis saat menyentuh tepi kertas itu.

"Tante mengancam bakal menyebarkan foto pernikahan rahasia kami ke media," lanjut Kirei, suaranya tenang tapi bergema kuat di ruangan. "Tapi kalau laporan ini sampai ke tangan otoritas bursa saham London hari ini... bukan cuma investasi Tante yang hangus, Tante sendiri yang bakal terseret ke sel tahanan atas tuduhan penggelapan aset internasional."

"D-dari mana kamu dapat dokumen ini?!" desis Eleonora dengan wajah yang mendadak pucat. Ia menatap Arka tak percaya. "Arka! Kamu membocorkan rahasia perusahaan keluarga kita sendiri ke cewek ini?!"

Arka mencondongkan badan ke depan, menumpu kedua siku di atas meja. Tatapannya mengunci ibunya tanpa goyah sedikit pun.

"Bukan Kirei yang mencari dokumen itu, Mama," bisik Arka tegas. "Gue sendiri yang mengumpulkannya selama dua tahun terakhir—sejak Mama mengasingkan gue di rumah minimalis itu dan memanfaatkan rasa bersalah gue atas kematian Papa."

Eleonora tersentak kaget, bersandar lemas ke kursi seolah kehilangan seluruh tenaganya.

"Gue diam selama ini karena gue masih menganggap Mama sebagai ibu gue," lanjut Arka, suaranya memberat menahan rasa sakit yang akhirnya pecah. "Tapi waktu Mama mencoba menghancurkan Kirei... Mama sendiri yang memutuskan hubungan itu."

Hening langsung menyergap. Dua pengacara di samping Eleonora hanya bisa saling pandang tanpa berani mengeluar suara.

Kirei meletakkan lembar kesepakatan baru di meja. "Serahkan seluruh bukti asli foto pernikahan kami, tarik seluruh pengacara Tante dari rumah Kakek, dan kembali ke London hari ini tanpa menyentuh Wijaya Corp lagi. Maka laporan audit ini enggak akan pernah sampai ke otoritas bursa."

Eleonora menatap Kirei, lalu beralih pada Arka. Di mata anak laki-lakinya itu, tak ada lagi sosok remaja yang bisa dikendalikan dari jauh. Yang tersisa hanyalah seorang pria tegap yang berdiri kokoh menjadi benteng untuk istrinya.

Dengan jemari bergetar dan keheningan yang menyiksa, Eleonora membubuhkan tanda tangan di surat penarikan diri tersebut. Ia berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun, melangkah cepat meninggalkan ruang konferensi bersama rombongannya.

Pukul 12.00 WIB.

Terik siang menyengat hangat area taman di atap Wijaya Tower. Angin berhembus cukup kencang, menerbangkan helai rambut Kirei yang sedang berdiri di tepi pembatas kaca sambil memandangi lanskap Jakarta dari ketinggian.

Langkah kaki teratur terdengar mendekat. Kehangatan sebuah jaket kulit hitam mendadak hinggap di bahunya.

Arka melingkarkan tangannya di pinggang Kirei dari belakang, mendaratkan dagu di bahu cewek itu, lalu menyesap aroma sampo Kirei penuh kelegaan.

"Semuanya sudah benar-benar selesai, Bu Ketua," bisik Arka hangat.

Kirei mengusap lembut punggung tangan Arka yang tertaut di perutnya. "Lo enggak apa-apa, Arka? Bagaimanapun juga... dia ibu lo."

Arka terkekeh tipis—sebuah tawa lepas tanpa beban. "Gue enggak apa-apa. Malah rasanya... beban di bahu gue menguap semua."

Arka memutar tubuh Kirei hingga mereka berhadapan. Di bawah langit Jakarta yang cerah, tatapan Arka terkunci lembut pada wajah istrinya.

"Makasih ya, Kirei," bisik Arka rendah, mengusap pipi Kirei. "Makasih sudah bertahan di samping gue dan enggak pernah menyerah."

Kirei tersenyum manis, membetulkan kerah kemeja Arka. "Sama-sama, Pak Suami. Lagian... kan ada denda tinta merah kalau gue menyerah gitu aja."

Arka tertawa, lalu menunduk menyatukan dahi mereka. Hembusan napas hangat saling menyapu.

"Soal aturan baru kita..." bisik Arka, bibirnya menyentuh sudut bibir Kirei dengan sangat lembut, membuat dada Kirei berdesir hebat. "...gue mau klaim jatah peluk malam ini tanpa alasan denda lagi."

Pipi Kirei mendadak merona, tapi ia tak menolak saat Arka menarik tubuhnya ke dalam dekapan yang erat, hangat, dan penuh kemenangan.

Namun, di sudut pintu keluar menuju tangga darurat atap gedung, sebuah lensa kamera jarak jauh tampak berkedip pelan.

Seorang pria berseragam hitam menyunggingkan senyum miring dari balik bayangan pintu, mengetikkan pesan singkat di ponselnya:

"Target sudah mengira permainan selesai. Eksekusi tahap akhir siap dijalankan saat acara wisuda sekolah pekan depan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!