Dikhianati. Ditinggalkan. Ditindas.
Itu yang Miracle dapat setelah 5 tahun berjuang untuk Morgan mantan suaminya.
Tapi Miracle bukan wanita yang bisa diinjak lalu dibuang. Tiga tahun kemudian, namanya jadi momok di dunia bisnis. Dia kembali bukan untuk balikan. Dia kembali untuk membeli perusahaan itu. Dan untuk membuat Morgan berlutut di hadapannya.
Siapkah kamu menyaksikan seorang "Mantan Istri" merebut kembali tahtanya?
Kita ikuti sepak terjang mantan istri CEO...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Bertemu Ibu
Pukul. 06.30 WIB.
Ruang Tamu Miracle. Matahari masuk dari jendela. Morgan kebangun duluan, ia masih di sofa dengan selimut menjuntai jatuh ke lantai.
Di sofa sebelahnya terlihat Miracle sedang tidur nyenyak. Posisinya duduk, kepala menyender di sandaran sofa. Duhh..kasihan, seorang Direktur yang dulu dia sakiti begitu peduli.
Rambut Miracle tergerai lepas, biasanya rapi banget, walaupun acak-acakan tapi tetap cantik.
"Memang cantik, tapi kalau nggak galak..."
"Ngomong apa?" tanya Miracle dengan mata setengah tertutup.
"Kamu dengar?"
"Dengarlah karena aku punya dua telinga." sahutnya. Ia lalu duduk seraya merapikan anak rambutnya yang. Masih mengantuk, tapi aura CEO tetap terlihat, tegas dan dingin.
"Aku nggak bisa tidur nyenyak. Maaf sudah ngerepotin kamu."
"Nggak apa-apa, soalnya kamu demam. jangan berpikir yang berlebihan. Kalau kamu tidak sakit aku tidak ijinin kamu nginap, aku jaga nama baik dan tidak ingin ada fitnah di antara kita." ucap Miracle berdiri.
"Aku masih sakit." ucap Morgan nencari perhatian.
Hening 5 detik.
Miracle berdiri, ia menatap Morgan.
"Kamu mau mandi, kalau mau ganti baju ada baju kaos dan celana training. Ukurannya hampir sama. Atau kebesaran tapi gapapa."
"Baju kamu?"
"Bukan, punya Giovanni. Masalah?"
"Sorry aku tidak suka." Morgan tersenyum lebar, ia merasa menjadi badut di permainjan oleh Miracle.
"Nggak suka...ya sudah. Aku ke dapur dulu."
Miracle ke dapur, ternyata bibi sudah siap mengantar sarapan. Tadi Miracle mau masak bubur ayam sederhana, keburu bibi yang bikin.
"Bi...Pria di ruang tamu itu mantan suami ku, kemarin dia demam di kantor, aku bawa kesini. Kami tidak ada melakukan apapun yang menyimpang, bibi saksi ya jika tuan Gio nanyain."
"Bibi sudah tahu, nona tidak mungkin berbuat macam-macam."
Miracle merapikan sarapan di atas meja. Ia teringat Giovanni, sudah dua hari ia pergi dari Apartment Arka. Miracle bertengkar dengan Gio, gara-gara pria itu membela ibunya dan Amanda.
Gio mengatakan bahwa Amanda baru datang dari luar negeri sudah berjasa membantu Nusantara Corp memberi dana talangan untuk proyek sebanyak satu triliun, padahal dana itu Miracle yang melobi ayahnya supaya mau menolong Nusantara Corp.
Waktu ia pergi dari Apartment Arka, Gio tidak mau berpisah dan dia menangis, tapi Miracle sudah sakit hati dengan keluarga Gio. Ia juga memblokir nomer hape Gio dan memutuskan hubungan kerja dengan Nusantara Corp dan menghentikan dana kepada PT. Holliday
pimpinan pak Ramsey. ayahnya Amanda.
Mungkin saat ini mereka bingung dan saling menyalahkan, karena perusahan raksasa Wijaya Group tiba-tiba memutuskan kerja sama dengan Nusantara Corp.
Apa mereka masih bisa sombong?
"Hemm...sudah melamunnya, pasti mikirin pria Br*ngsek itu" ucap Morgan seraya duduk.
Miracle menoleh, ia tersenyum geli melihat Morgan memakai kemeja putihnya yang dulu, terlihat kebesaran walaupun lengannya sudah digulung.
"Non, buahnya semua di keluarkan?"
'Boleh, taruh di meja makan."
"Kamu masak banyak begini buat aku?"
"Buat pembantu dan kebetulan kamu ada di sini, jangan kepedean deh." ucap Miracle mengambil piring untuk Morgan.
"Suasananya bikin terharu, seandainya kita bisa mengulang kembali. Sudahlah... aku tak ingin berandai-andai dan menyalahkan diri. Semua itu pelajaran pahit supaya bisa mawas diri."
"Semua itu terjadi karena kamu sombong, egois dan tidak pernah bersyukur. Aku banyak menemukan orang begini yang haus validasi." ucap Miracle ketus.
"Aku mengakui tuduhanmu semoga kedepannya aku bisa merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Makasih sudah mau membantu ku dalam segala hal. Makasih juga sudah jagain aku semaleman."
"Sudah-sudah, kita makan..."
Mereka makan bareng. Di luar hujan sudah berhenti, sinar mentari menyelinap masuk lewat kisi-kisi jendela. Udara mulai hangat. Miracle menghabiskan suapan terakhir.
Kriinggg...Kriinggg..
Hape Miracle berbunyi. Notif: "Rapat Direksi Jam sembilan di Wijaya Group."
Miracle langsung menghubungi papanya, tapi tidak bisa, ia lalu menghubungi mamanya.
[Hallo..maa, papa mana?]
[Hallo..Sayank, kamu datang ke perusahan, papa tidak bisa karena mendadak harus ke luar negeri]
[Oke..ntar lagi aku kesana]
[Mana tunggu di kantor, ada yang mau mama omongin]
[Ya ma..sampai ketemu]
"Morgan, aku mau ke perusahan Wijaya, papa ke luar negeri, maaf ya kalau aku mengusir mu. Aku tak ingin ada lain kali, mungkin ini terakhir kali kita bertemu."
"Mira kamu sadis."
"Sorry...aku berbenah dulu." ucap Miracle.
Lamborghini itu melaju dengan kecepatan sedang. Biasanya setiap pagi hujan, untung hari ini cuaca sangat cerah.
Miracle sampai di perusahan Wijaya pukul. 08.00 WIB. Di lobby depan ia sudah disambut oleh para Direksi.
"Selamat pagi nona."
"Pagi semua, aku mau menemui mama dulu. pukul. 09 kita baru Morning briefing. Lebih pagi dari biasanya karena aku akan evaluasi kembali data keuangan."
"Tapi..tapi..Direktur utama sedang kerja bisnis ke luar begeri."
"Papa sebagai Direktur utama sudah memberi mandat penuh kalau aku boleh evalusi ulang Devisi keuangan. Aku dapat info kalau ada kebocoran di bagian ini."
"Siap nona, saya persiapkan dulu berkasnya."
"Kasih tahu bagian keuangan dan HR..."
"Siap nona.." ucap pak Aditya asisten pribadi papanya.
"Pagi nona, mama anda sudah menunggu di ruangan Direktur."
"Aku sekarang kesana, tolong bawakan dua mangkok bubur kesukaan mama."
"Siap nona."
Miracle melangkah tenang ke room Direktur. Ia tahu kalau karyawan papanya takut kalau ia datang, karena Miracle tegas dan tidak bisa diajak kompromi.
Pak Wijaya masih bisa mengampuni pak Aditya karena hubungan kekerabatan, tapi bu Sonya kepala Divisi HR, tidak mau tinggal diam, ia diam-diam melaporkan kalau pak Aditya korupsi.
"Mama..aku datang, tidak telat khan?!" sapa Miracle setelah berada diruangan Direktur Utama milik papanya.
"Sini mama peluk, kangen sekali...kenapa kamu bersikeras membantu Morgan, dia jahat tidak bisa dipercaya." ucap Nyonya Mahendra memeluk Miracle.
"Pulanglah..mama semakin tua dan butuh kamu untuk di ajak sharing. Banyak hal yang perlu dibicarakan. Umur terus bertambah, keluarga Wijaya harus punya penerus."
"Maa..aku trauma mendengar perjodohan atau pernikahan. Aku mau hidup sendiri."
"Sayank...semua keluarga pernah punya konflik rumah tangga, tergantung kita menyikapinya. Jika kamu tak cocok dan terasa menyakitkan boleh dibuang, itu hal lumrah. Begitu juga laki-laki merasa bosan dan dia merasa hidupnya monoton, dia beralih ke wanita lain. Itu bagi mereka hal yang lumrah. Sebenarnya yang selalu disalahkan perempuan."
"Maa...aku merasa tersakiti apabila suami selingkuh, tidak punya uang masih bisa di maklumi."
"Mama pesan gitu aja, pulanglah...kamu sudah seharusnya duduk di kursi papa dan memimpin Wijaya Group. Papa semakin tua, sedangkan volume kerja tinggi, membuat papa stres. Jika kamu ingin melihat papa lebih lama hidup, kendalikan Wijaya Group supaya paman mu dan sepupumu behenti berulah." ucap Nyonya Mahendra dengan mata berkabut.
*****
ini yang namanya ingat wajah ea ingat rasanya....
tapi rasa itu tak selalu nyaman....