Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
.
Sementara itu, di pagi yang sama di perusahaan milik Sebastian Group...
Pagi itu suasana perusahaan berjalan seperti biasa. Para karyawan mulai memasuki gedung, beberapa langsung menuju lift, sementara sebagian lainnya sibuk membawa dokumen menuju departemen masing-masing.
Namun, ketenangan itu mendadak terusik ketika sebuah mobil berhenti di depan lobi utama. Terutama ketika pintu mobil terbuka dan seorang pria turun dengan langkah cepat.
Beberapa karyawan yang kebetulan berada di lobi langsung saling melirik karena tahu persis bahwa yang datang adalah Reno Sebastian putra dari pemilik perusahaan.
Namun ada sesuatu yang membuat penampilan Reno hari itu berbeda. Kacamata hitam menutupi kedua matanya dan masker hitam menutupi hampir seluruh wajahnya. Adalah sesuatu yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Kenapa Tuan Muda pakai masker?" bisik seorang karyawan pada temannya begitu Reno berlalu.
"Apa beliau sedang sakit?"
"Sakit apa? Badannya saja kelihatan segar begitu."
“Ya mana kita tahu.”
"Eh… jangan-jangan wajahnya kenapa-kenapa?"
Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar. Bahkan Doni, asistennya yang sudah menunggu di dekat lift, tampak terkejut melihat penampilan atasannya.
"Tuan..."
Reno hanya melirik tanpa suara.
Doni menelan ludah. Merasa ragu untuk bertanya. Tetapi kalau tidak bertanya dia merasa penasaran. "Anda... baik-baik saja?"
“Aku baik-baik saja,” jawab Reno cepat.
"Baik, Tuan." Doni mengangguk cepat. Namun dalam hati asistennya itu justru semakin bertanya-tanya. Kalau baik-baik saja kenapa wajahnya ditutup masker seperti orang yang sedang menghindari wartawan?
Reno mengepalkan tangannya erat, sama sekali tidak ingin siapapun tahu bahwa wajahnya menyimpan bekas penghajaran orang tuanya semalam.
Begitu pintu ruang kerjanya yang menjabat sebagai Wakil Direktur tertutup, Reno langsung melepas kacamata dan masker. Pria itu berjalan menuju sofa lalu menjatuhkan tubuhnya dengan kasar.
Brak!
Seolah ingin melampiaskan kekesalan pria itu menggunakan kepalan tangannya untuk menghantam meja dengan keras.
"Sialan!" teriaknya keras. Tapi Sedetik kemudian pria itu menyentuh bibirnya yang terasa berdenyut. "Ah… "
Rasa sakit itu membuat ingatannya kembali pada kejadian semalam saat dirinya yang harus berlutut di hadapan papanya dan menerima pukulan demi pukulan sebagai akibat dari batalnya pernikahan dengan Alena.
Bahkan hingga saat ini wajahnya masih terasa nyeri. Itulah alasan mengapa ia datang ke kantor dengan kacamata hitam dan masker. Reno menghela napas panjang lalu menyadarkan tubuhnya dengan mata terpejam.
Namun semua rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan satu hal yang terus mengganggu pikirannya..Sejak semalam ia sudah berkali-kali mencoba menghubungi Alena, tetapi tidak pernah berhasil.
Reno kembali kembali menegakkan punggungnya kemudian mengambil ponselnya yang ada dalam saku jas. Mata dan ujung jarinya bergerak mencari nama Alena kemudian menekan tombol panggil.
"Tuut..."
Beberapa detik kemudian panggilan terputus. Reno mencoba lagi, tetapi hasilnya tetap sama.
Reno mengerutkan keningnya. "Kemana sebenarnya Alena ini? Kenapa sama sekali tidak bisa dihubungi?" tanyanya entah pada siapa.
Pria itu mencoba sekali lagi tapi tetap saja tidak tersambung. Dan hal itu membuatnya semakin kesal..
"Alena..." geramnya seraya meletakkan ponsel di atas meja dengan kasar lalu mengusap wajahnya dengan dua telapak tangannya yang besar. Namun, sedetik kemudian pria itu kembali meringis saat tanpa sadar menyentuh lebam yang ada di wajahnya.
Tiba-tiba saja pria itu terdiam dengan mata membulat sempurna. Tidak mungkin sudah dua hari lamanya Alena tidak membuka ponsel. Karena sejauh yang ia kenal Alena hampir tidak pernah jauh dari ponsel karena pekerjaannya. Tapi kenapa Alena sama sekali tidak bisa dihubungi?
Sebuah praduga tiba-tiba muncul di kepala Reno, membuat pria itu seketika membeku.
"Apa jangan-jangan..." Reno kembali mengambil ponselnya dan menatap nomor Alena. "Tidak mungkin kan dia memblokir nomorku?" Seketika itu juga jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Tidak!” pria itu menggelengkan kepalanya cepat. “Dia mungkin memang marah tapi tidak mungkin sampai memblokir nomorku.”
Reno membuka ponselnya kemudian menghubungi Doni agar masuk ke dalam ruangannya.
Beberapa detik kemudian terdengar ketukan di pintu.
"Masuk."
Doni membuka pintu dan mendekat ke arah Reno. Seketika itu juga matanya terbelalak ketika melihat wajah atasannya. Namun, Ia sama sekali tak berani bertanya.
“Apa ada yang harus saya kerjakan?" tanya Doni.
Reno bisa merasakan tatapan mata Dani yang begitu penasaran saat melihat wajahnya. Namun pria itu sama sekali tidak peduli.
"Berikan ponselmu."
Doni mengerutkan kening, namun tak berani bertanya. Pria itu hanya mengambil ponselnya dari saku kemudian memberikannya kepada Reno.
Reno mengambil ponsel Doni lalu memasukkan nomor Alena. Setelah itu jari jempolnya menekan ikon hijau untuk memanggil.
Doni yang berdiri di samping meja memperhatikan dengan bingung. Namun sekali lagi asisten itu hanya diam tanpa bertanya.
Di tempatnya, Reno duduk dengan ujung jari yang berkali-kali mengetuk pahanya sendiri. Satu detik, dua detik. Hingga mata pria itu terbelalak ketika mendengar nada sambung dari seberang.
"Tersambung…? Berarti nomor Alena aktif?"
Tubuh Reno seolah menjadi kaku. Dia tidak bisa menghubungi Alena dengan ponselnya tetapi bisa menghubungi dengan ponsel Doni. Apa itu artinya dirinya benar-benar diblokir?
“Ya, halo… maaf ini siapa?”
Terdengar suara Alena dari seberang sana membuat Reno menelan ludahnya dengan susah payah.
“Halo… ini siapa?”
Suara Alena kembali terdengar karena Reno masih terdiam.
“Halo…?”
Reno tergeragap. Pria itu buru-buru menetralkan dirinya. Berdehem berkali-kali sebelum kemudian menjawab—
“Alena, ini aku. Aku—”
Tuut!
Panggilan diputus secara sepihak membuat Reno kembali terbelalak.