Ye Chenlong adalah aib terbesar Klan Ye.
Di hari ujian bakat, ia dinyatakan memiliki bakat kultivasi terburuk sepanjang sejarah. Tunangannya memutuskan pertunangan di depan semua orang, keluarganya mengusirnya tanpa belas kasihan, bahkan nyawanya hampir berakhir di hutan terlarang.
Namun, di ambang kematian...
Darah yang telah tertidur selama ribuan tahun akhirnya terbangun.
Bukan kekuatan yang langsung membuatnya tak terkalahkan, melainkan serpihan ingatan dari leluhur Naga Purba yang menuntunnya menuju teknik kuno, warisan yang hilang, dan rahasia yang sengaja dikubur oleh dunia.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak kebenaran yang terungkap.
Mengapa Klan Naga Purba dimusnahkan?
Siapa yang memburu seluruh pewaris garis darah naga?
Dan mengapa namanya telah tercatat dalam takdir jauh sebelum ia dilahirkan?
Ketika seluruh dunia menganggapnya sampah...
Tak seorang pun menyadari bahwa naga yang mampu mengguncang langit telah membuka matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3:PEDANG USANG DAN CINCIN
saat akan mengambil, tiba tiba ada pelayan masuk.
tentu ye wuchen langsung menatap pelayan itu.
"ada apa"
"kenapa kau terburu buru"
melihat ye wuchen, pelayan itu langsung menunduk.
"maaf patriark."
"saya mendapatkan informasi kalau tuan muda hao dan tuan muda Chenlong sedang dalam pertarungan perjanjian"
mendengar ini kening ye wuchen langsung mengkerut.
"pertarungan perjanjian?"
"benar patriark"
"hamba tak tau apa penyebabnya, tapi saya menerima ini saat berjaga di depan tadi"
pelayan itu menyodorkan sebuah surat, ye wuchen membaca surat itu.
"perjanjian hutan terlarang?"
"kenapa bisa?"
setelah membaca itu, ye wuchen langsung berlari ke arena pertarungan.
Perjanjian hutan terlarang adalah, perjanjian dalam pertarungan turun temurun dari klan ye. biasanya ini adalah perjanjian menggantikan perjanjian hidup dan mati, karena siapapun yang masuk ke hutan terlarang itu tak pernah ada yang berhasil kembali.
saat sampai ke arena, orang orang sudah berkumpul, bahkan ye Chenlong dan ye hao sudah ada di atas panggung batu.
"tunggu" teriak ye wuchen.
menyadari kehadiran ye wuchen semua orang yang ada di sini langsung membungkuk ke arahnya.
dan ye Hao yang pertama berbicara.
"maaf ayah, bukannya aku lancang, tapi ini demi nama baik klan kita"
"nama baik klan?"
"ye Hao, Chenlong masih kakak kandungmu."
"apa hanya dengan nama baik klan kau tega melakukan ini"
mendengar ini, ye hao melirik ke arah tetua pertama, tetua pertama yang menyadari ini dia langsung mengangguk, dan maju.
"maaf lancang patriark"
"tapi yang di katakan tuan muda hao benar, jika tidak melakukan ini, bukankah akan menyinggung klan su."
"mereka akan menganggap kita menghina mereka dengan tak menyingkirkan aib nona muda klan su."
ye wuchen langsung menatap tetua pertama.
"bukankah kita sudah sepakat akan membiarkan Chenlong pergi dari klan dan hidup bebas"
tetua pertama, mengeluarkan satu surat lain.
"maaf patriark, ini adalah surat lanjutan dari klan su"
"di sini mereka sudah mengatakan kalau mereka tak ingin membiarkan ye Chenlong hidup, jika dia masih hidup itu akan menjadi aib besar klan mereka"
"jika anda tak percaya, anda bisa membacanya sendiri, lagi pula pertarungan ini adalah keringanan untuk ye chenlong, dengan memberikan dia kesempatan melawan"
"dan ye Chenlong, juga sudah menandatangani penyataan pertarungan ini"
ye wuchen mengambil surat itu, dan surat pertarungan.
semuanya benar, bahkan ada tanda tangan ye Chenlong di sana, dengan begini dia sama sekali tak bisa menghentikan-nya lagi.
tatapan ye wuchen beralih ke ye Chenlong, namun Chenlong hanya mengangguk.
tak bisa berbuat apa apa lagi, ia hanya bisa melambaikan tangannya, dan duduk di sana.
Setelah ye wuchen duduk, akhirnya semuanya di lanjutkan.
ye chenlong, menatap tenang ke arah ye hao, begitu pula sebaliknya.
DING.....
terlah bunyi ini, ye hau langsung menyerang terlebih dahulu.
ia melesat dan menebas langsung.
namun yang ye hao tak tau, walau Chenlong tak memiliki kultivasi. tapi ia telah berlatih kekuatan jiwa sejak usianya 5 tahun.
jadi, setiap serangan ye Hao dapat dia hindari dengan mudah oleh ye Chenlong.
beberapa tebasan, bahkan tak ada yang mampu mengenai ye chenlong sama sekali.
"kakak, apa kau monyet. hanya bisa melompat sedai dari tadi"
"hao"
"sebagai lelaki kau terlalu banyak berbicara"
ye hao menatap Chenlong dengan penuh kebencian, ia tak menutupinya lagi.
"Chenlong, jangan salahkan aku"
"aku sudah memberimu keringanan sebelumnya"
dalam sekejap jubah ye hao berkibar, kekuatan alam bumi menengah meletus.
kali ini dia menatap ye Chenlong dengan penuh seringaian.
"aku mau lihat"
"bagaimana, sampah sepertimu akan menahan kekuatan tuan muda ini"
beberapa pedang di pinggir arena mulai bergetar satu persatu.
sampai, satu per satu melesat keluar dari sarungnya. terbang langsung dan melayang di dekat ye Hao.
para murid yang menyaksikan ini langsung, melongo bahkan beberapa ada yang bergetar.
"bukan kah, ini"
"ya, ini kan teknik seribu pedang"
"jadi, tuan muda hao sudah menguasainya, padahal teknik ini sangat sulit di kuasai"
mendengar pujian demi pujian ini ye hao mulai melengkungkan bibirnya.
"bagaimana, Chenlong. apa kau sudah tau perbedaan kekuatan kita yang bagai langit dan bumi itu"
ye Chenlong, sama sekali tak merubah ekspresinya.
ia masih menatap Chenlong dengan tenang.
"jika ingin bertarung maka majulah, tak usah banyak berbicara"
"kurang ajar"
"matilah, sampah"
dalam sekejap, pedang yang sedari tadi melayang di sekitarnya, kini melesat cepat, mengarah langsung ke arah ye Chenlong.
menghadapi ini, ye Chenlong menutup matanya kekuatan jiwanya menyebar.
dengan sedikit gerakan, pedang pedang itu lewati tubuhnya, bahkan tak ada satupun pedang yang menyentuh kulitnya.
"apa yang terjadi"
"kenapa sampah itu bisa dengan mudah menghindari serangan tuan muda hao"
"tidak, ini tidak mungkin."
"aku tau"
"tuan muda hao pasti sengaja melakukan ini karena tak ingin membuat malu sampah itu"
"ia, kau benar."
mendengar perbincangan murid ini, ye Hao langsung mengeratkan genggaman pedangnya.
Ia menatap dengan sinis ke arah ye Chenlong.
"bagaimana sampah ini bisa melakukan itu, apakah dia sebenarnya dia memiliki kultivasi" batin ye hao.
namun setelah beberapa saat, ia menggeleng.
"tak mungkin, aku sama sekali tak merasakan lonjakan qi dari tubuhnya"
"pasti ini hanya kebetulan" lanjut dalam hati.
perlahan, lonjakan qi terjadi lagi.
perlahan petir petir kecil terlihat di pedang ye hao.
"sampah, bersyukurlah kau bisa merasakan kekuatan seriusku sebelum kematianmu" batin ye hao.
kali ini, tubuhnya mesat bagai petir.
menghantam langsung ke arah ye Chenlong.
ya chenlong yang menyadari ini, dia buru buru menghindar.
tebasan ye hao langsung menghantam panggung batu.
bom....
qi meletus dari sana, panggung batu yang tenang sedikit bergetar.
bahkan ye Chenlong yang sudah mundur beberapa meter di paksa mundur sampai ke pinggir panggung batu.
namun sebelum dia menyetabil-kan diri, ye hao sudah berada di depannya dengan pedang yang sudah mengayun.
"berhenti"
bom.....
semua orang menatap pedang ye hao yang tertahan dengan dua jari.
"patriark" seru meraka.
ye hao langsung mundur, dan membungkukkan kepala.
sedangkan ye wuchen menaruh tangan di belakang punggungnya.
"hao'er, apa kamu lupa di pertarungan ini di larang membunuh"
"maaf ayah"
"aku terbawa suasana"
patriark klan ye, menatap sekitar.
"sudah, kalian bubarlah, pertarungan sudah selesai"
mereka benar benar bubar termasuk ye chenlong yang kembali ke kamarnya.
saat tengah berkemas, pintu kamarnya di buka.
sang ayah masuk dan langsung duduk di kasur.
"maaf, ayah tak bisa melindungimu"
"bukan ayah tak mau"
"tapi kau tau sendiri bagaimana posisi ayah"
"terimalah ini, walau pedang ini tampak usang dan berkarat. tapi ini adalah peninggalan satu satunya senjata peninggalan leluhur"
"dan, ini adalah cincin penyimpanan yang ia tinggalkan."
ye wuchen menepuk pundak putranya.
"untuk sekarang kau mungkin belum bisa membukanya, tapi ayah percaya suatu saat kau akan mendapatkan kekuatanmu dan membangkitkan garis darahmu"
"hanya itu yang ayah sampaikan, ayah tak bisa lama lama di sini."
"chen'er. kau hanya perlu tau ayah menyayangimu"
setelah mengatakan itu, ye chen langsung pergi tanpa menunggu jawaban.
ye chenlong hanya menatap punggung ayahnya, sembari menggenggam erat pedang dan cincin di tangan.