NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Bekas Tunangan Palsu

"Kamu mau terus menghindariku sampai kapan?"

Pertanyaan Darren menggantung di antara suara gerimis dan aroma kain baru dari dalam Maison de Belle.

Naomi berdiri di ambang pintu, satu tangan masih memegang handle kaca. Di belakangnya, Tiffany sudah bersiap seperti penjaga keamanan pribadi, hanya kurang pentungan. Sementara Darren bersandar di mobil sport hitamnya dengan wajah terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyerbu hidup orang lain sejak pagi.

"Sampai kamu mengerti arti kata berhenti," jawab Naomi.

Darren mengangkat alis. "Aku mengerti. Aku hanya tidak setuju."

"Itu bukan jawaban normal."

"Aku memang tidak pernah normal kalau urusannya kamu."

Tiffany mengeluarkan suara muntah kecil. "Pak CEO, kalau mau gombal, sewa billboard. Jangan halangi pintu usaha orang."

Darren meliriknya. "Tiffany Lin."

"Wah, tahu nama gue. Menakutkan."

"Aku tahu kamu sahabat Naomi."

"Bagus. Berarti kamu juga tahu aku punya hak moral untuk mengusir kamu."

Naomi memijit pelipis. "Tiff."

Darren justru tersenyum kecil. "Aku tidak akan masuk kalau Naomi tidak mengizinkan."

"Bagus," kata Naomi cepat. "Aku tidak mengizinkan."

"Kalau begitu aku tunggu di luar."

"Darren."

"Aku punya payung."

Seolah membuktikan, Billy yang entah sejak kapan muncul dari mobil belakang segera berlari membawa payung hitam besar. Wajahnya tampak pasrah. "Bos, hujannya makin deras."

Darren tidak mengambil payung itu. Matanya tetap pada Naomi. "Kamu belum makan malam."

"Itu bukan urusanmu."

"Perutmu sakit kalau telat makan."

Naomi membenci cara tubuhnya bereaksi pada kalimat itu. Ia memang belum makan sejak bubur siang tadi. Perutnya kosong, tetapi yang lebih mengganggu adalah dada yang terasa penuh.

"Aku bisa mengurus diriku sendiri."

"Aku tahu." Darren menatapnya dengan suara lebih pelan. "Tapi aku ingin ikut mengurus."

Naomi hampir goyah.

Hampir.

Sebelum ia sempat menjawab, suara mobil lain berhenti mendadak di tepi jalan. Sebuah sedan merah masuk terlalu dekat ke depan boutique, membuat Billy cepat mundur. Pintu terbuka, lalu seorang perempuan turun dengan gaun krem mahal, rambut cokelat tertata sempurna, dan tas desainer menggantung di lengan.

Vanessa Shen.

Naomi mengenal wajah itu dari foto-foto acara amal dan majalah bisnis. Putri Vincent Shen, sosialita yang selalu tersenyum seperti hidup tidak pernah menolak permintaannya.

Malam itu, senyumnya tajam.

"Darren," panggil Vanessa, suaranya cukup keras untuk didengar beberapa orang yang berteduh di depan ruko sebelah. "Jadi ini alasan kamu menolak makan malam dengan keluargaku?"

Tiffany menoleh pada Naomi. "Siapa lagi ini?"

Naomi tidak menjawab. Matanya tertuju pada tangan Vanessa yang langsung meraih lengan Darren dengan akrab.

Gerakan itu sederhana. Namun bagi Naomi, rasanya seperti ada pintu lama yang dibuka paksa.

Empat tahun.

Mungkin selama itu Darren memang tidak sendirian.

Mungkin semua pesan yang hilang, semua telepon yang tidak tersambung, semua malam ketika ia hampir mati karena merasa dibuang, hanya berarti satu hal: Darren sudah memilih hidup lain.

Naomi menegakkan punggung. Ia tidak akan hancur di depan perempuan ini.

Darren menurunkan pandangannya ke tangan Vanessa di lengannya. Ekspresinya berubah dingin.

"Lepas."

Vanessa membeku sesaat, lalu tertawa manis. "Kamu marah? Aku hanya khawatir. Tante bilang kamu sibuk sekali belakangan ini, ternyata sibuk mengejar perempuan lain."

Beberapa orang mulai berbisik. Di dalam boutique, dua pegawai yang belum pulang menatap dari balik rak kain. Tiffany maju setengah langkah, tetapi Naomi menahannya.

Vanessa melihat Naomi dari ujung kepala sampai kaki. Senyumnya melebar.

"Kamu Naomi, kan?" katanya. "Aku sering dengar namamu. Ternyata benar, kamu cantik. Tidak heran Darren punya nostalgia."

Kata nostalgia diucapkan seperti sesuatu yang sudah lewat masa berlakunya.

Naomi tersenyum tipis. "Terima kasih sudah datang ke toko saya. Kalau mau pesan gaun, silakan buat janji lewat admin."

Tiffany hampir tertawa.

Wajah Vanessa mengeras, tetapi ia cepat menutupinya. "Aku tidak datang untuk pesan gaun. Aku datang menjemput tunanganku."

Kalimat itu jatuh seperti kaca pecah.

Tunanganku.

Naomi merasakan ujung jarinya dingin. Ia tidak menatap Darren. Ia takut matanya akan bertanya sebelum mulutnya sempat membangun tembok.

Darren bersuara lebih dulu.

"Vanessa."

Hanya satu nama, tetapi nadanya membuat Billy menunduk dan Tiffany berhenti bergerak.

Vanessa tetap tersenyum, meski bibirnya mulai kaku. "Apa? Aku salah bicara? Bukankah semua orang tahu keluarga kita sedang membicarakan pertunangan?"

"Keluargamu yang membicarakan."

Vanessa memucat.

Darren melangkah mundur dari tangannya, seolah sentuhan tadi meninggalkan noda. "Aku tidak pernah setuju."

"Darren, jangan mempermalukanku di depan orang luar."

"Kalau takut malu, jangan membuat kebohongan di depan umum."

Bisik-bisik di sekitar mereka makin jelas. Seseorang bahkan mengangkat ponsel, tetapi Billy cepat memberi isyarat pada dua pengawal untuk menurunkannya dengan sopan.

Naomi tetap berdiri di ambang pintu. Wajahnya tenang, tetapi dadanya berdenyut sakit. Ia ingin percaya. Ia tidak mau percaya. Dua keinginan itu saling mencakar sampai napasnya terasa tipis.

Vanessa menatap Naomi, lalu mendesis pelan, "Kamu puas? Kamu pikir kamu bisa kembali setelah empat tahun dan mengambil posisi yang bukan milikmu?"

Naomi mengangkat mata. "Saya tidak mengambil apa pun."

"Jangan pura-pura polos."

"Saya juga tidak perlu pura-pura menjadi tunangan seseorang."

Tiffany langsung menutup mulut, tetapi matanya berbinar puas.

Wajah Vanessa merah. "Kamu!"

Ia hendak maju, tetapi Darren sudah berdiri di antara mereka. Tidak menyentuh Naomi, tidak menoleh, tetapi seluruh tubuhnya menjadi dinding.

"Pergi," kata Darren.

Vanessa menatapnya tidak percaya. "Kamu mengusirku demi dia?"

"Aku mengusirmu karena kamu mengganggu istriku."

Naomi membeku.

Tiffany ikut membeku. Billy batuk keras, seperti tersedak udara.

Darren seolah baru menyadari kata yang keluar dari mulutnya. Namun ia tidak menariknya kembali. Matanya tetap dingin pada Vanessa.

Vanessa tertawa pendek. "Istri? Kamu sudah gila?"

"Calon istriku," koreksi Darren, suaranya tetap datar. "Dan satu-satunya perempuan yang akan menerima nama Wijaya dariku."

Naomi menoleh tajam. "Darren."

Darren tidak menatapnya. Ia tahu kalau ia menatap Naomi sekarang, mungkin keberaniannya pecah menjadi permohonan.

Vanessa menggenggam tasnya sampai buku jarinya memutih. "Keluargaku tidak akan tinggal diam."

"Silakan." Darren tersenyum tanpa hangat. "Aku juga sudah terlalu lama diam."

Untuk beberapa detik, Vanessa tampak seperti ingin menampar seseorang. Namun pengawal Darren berdiri tidak jauh, Billy menatapnya dengan wajah minta maaf yang tidak berguna, dan orang-orang sekitar sudah melihat cukup banyak. Akhirnya ia mundur.

"Kamu akan menyesal," katanya pada Naomi.

Naomi menahan tatapannya. "Saya sudah pernah menyesal untuk hal yang jauh lebih besar."

Vanessa masuk ke mobilnya dengan pintu dibanting keras. Sedan merah itu pergi, menyisakan percikan air di aspal dan bisikan yang masih berputar di udara.

Tiffany menghela napas panjang. "Oke. Itu lumayan seru. Tapi bagian calon istri tadi perlu dibahas pakai kursi dan mungkin benda tajam."

Naomi tidak tertawa.

Ia menatap Darren. "Apa maksudmu?"

Darren akhirnya berbalik. Hujan membasahi ujung rambutnya, membuat wajahnya tampak lebih pucat. Semua kenakalan hilang dari matanya.

"Dia bukan siapa-siapa," ucapnya.

"Kamu pikir itu cukup?"

"Tidak." Darren melangkah satu langkah mendekat, lalu berhenti sebelum melewati batas yang tidak Naomi izinkan. "Tapi itu kebenaran pertama yang harus kamu dengar."

Naomi menelan sesuatu yang pahit di tenggorokannya.

Darren menatapnya, suara rendahnya jatuh lebih dalam dari hujan.

"Yang kuinginkan hanya kamu. Selalu."

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!