Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Sangkar Emas Baskoro
Langkah kaki Mita terasa begitu berat saat melewati ambang pintu ruang kerja. Suara ketukan pintu yang ditutup rapat di belakangnya terdengar seperti vonis hakim yang mengunci kebebasannya.
Namun, rupanya Baskoro tidak sendiri di ruangan itu. Di sudut sofa kulit dekat jendela, Diana sudah duduk tanpa bergeming. Ibu kandung Sam itu hanya diam menatap kosong ke arah lantai, wajahnya pucat dan kaku, memancarkan aura kesedihan sekaligus kepasrahan yang mendalam.
"Duduk, Mita," ujar Baskoro tanpa nada tinggi, namun sarat akan perintah yang tidak boleh dibantah.
Mita memilih duduk di ujung kursi, merapatkan kedua lututnya dengan sisa-sisa tubuh yang masih gemetar. "Iya, Om."
Baskoro menatap Mita lekat-lekat.
"Kamu sudah dengar semuanya di luar tadi, bukan? Tentang apa yang Sam katakan?" tanya Baskoro langsung pada intinya.
Mita menelan ludah dengan susah payah.
"Iya, Om. Mita... Mita tidak sengaja mendengar semuanya."
"Bagus kalau begitu. Jadi Om tidak perlu berputar-putar lagi," Baskoro memperbaiki posisi duduknya, mencondongkan tubuh ke depan. "Samudra itu keras kepala. Dia masih muda, darahnya masih bergejolak, dan dia belum paham apa yang terbaik untuk masa depannya serta masa depan keluarga ini. Tapi Om tahu apa yang terbaik."
Baskoro menghela napas sejenak, sorot matanya melembut namun tetap mengintimidasi. "Mita, sejak orang tuamu tiada, Om dan Tante Diana sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Tapi, statusmu di luar sana akan selalu dipandang sebagai anak angkat yang tidak punya ikatan hukum."
Pria itu mengetukkan jarinya ke meja. Tok. Tok.
"Dengan menikahi Sam, kamu akan resmi menjadi bagian dari keluarga Kusuma. Kamu akan memiliki nama, posisi, dan perlindungan penuh. Ini adalah cara Om menunaikan janji Om di depan makam kedua orang tuamu untuk menjamin hidupmu sampai akhir."
Airmata Mita kembali merebak, namun dia sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh.
"Tapi... Mas Sam tidak mencintai Mita, Om," cicit Mita akhirnya, mengumpulkan sisa keberaniannya yang paling dalam. "Mas Sam... sudah memiliki wanita lain yang dia cintai."
Mita melihat sudut mata Diana sedikit berkedut mendengar kalimat itu, namun sang ibu tetap memilih bungkam dan tidak bergerak dari posisinya.
Sementara itu, Baskoro tidak tampak terkejut. Dia justru mendengus pelan, sebuah senyuman sinis terukir di sudut bibirnya. "Cinta? Hubungan anak muda yang didasari nafsu sesaat seperti itu tidak ada artinya di dunia nyata, Mita. Samudra adalah calon CEO Kusuma Group. Dia tidak bisa menikah dengan sembarang wanita yang hanya akan mengincar hartanya atau mengacaukan fokusnya memimpin perusahaan."
Baskoro menatap Mita dengan tajam, mengunci pandangan gadis remaja yang baru lulus SMA itu.
"Om hanya percaya padamu. Kamu anak yang penurut, tahu balas budi, dan Om tahu kamu tidak akan pernah mengkhianati keluarga ini. Pernikahan ini akan tetap dilaksanakan bulan depan, setelah pesta kelulusanmu."
Mita mematung. Kata 'tahu balas budi' yang diucapkan Baskoro telak menghantam jantungnya. Itu bukan sekadar pujian, melainkan sebuah peringatan tak kasatmata. Sebuah pengingat bahwa menolak perintah ini berarti dia adalah seorang pengkhianat yang tidak tahu diri atas nyawa yang telah dikorbankan orang tuanya demi pria di hadapannya ini.
"Om tidak mau mendengar ada penolakan darimu, Mita. Om harap kamu bisa membujuk Samudra agar dia bisa menerima kenyataan ini dengan cepat. Kamu mengerti?"
Mita mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Ruangan itu terasa begitu dingin dan hampa, terutama dengan kehadiran Diana yang terus duduk membeku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membelanya maupun membela putra kandungnya sendiri. Lidah Mita terasa kelu, terkunci rapat oleh belenggu utang budi yang begitu pekat. Tidak ada celah untuk lari. Tidak ada ruang untuk membantah.
Dengan perlahan dan hati yang hancur berkeping-keping, Mita mengangguk. "Iya, Om. Mita mengerti."(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)