NovelToon NovelToon
DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MHKaylid_

Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".

"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"

bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.

Mariska tersenyum licik.

"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."

"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.

"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."

Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.

Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.

"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.

"Jangan sampai gadis itu lolos!"

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.

Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Tawa yang beberapa saat lalu memenuhi ruang kerja perlahan mereda.

Leonardo masih memeluk dinosaurus kesayangannya sambil sesekali melirik Alyssa dengan wajah yang masih sedikit malu karena aksi mengintipnya ketahuan.

Lucas mengusap kepala putranya.

"Sudah."

"Pergilah bermain sebentar."

Leonardo mengangguk.

"Baik, Daddy."

Sebelum keluar, bocah itu menoleh kepada Alyssa.

"Kak Alyssa."

"Iya?"

"Nanti..."

"Kalau Daddy buka salon..."

"...aku boleh potong rambut gratis ya?"

Alyssa langsung tertawa.

"Boleh."

Lucas menghela napas panjang sambil menggeleng.

"Ayah tidak akan membuka salon."

Leonardo terkekeh.

"Siapa tahu."

Lalu ia berlari keluar.

"Bye!"

Pintu tertutup.

Kemanakah bocah yang akan berbakti tadi?.

Seteleah Alyssa membantunya ketika terjatuh Leonardo merasakan sedikit ketulusan juga kenyaman darinya.

Ruangan kembali sunyi.

Beberapa detik kemudian...

Ekspresi Adrian yang semula ikut tersenyum perlahan berubah serius.

Ia melirik Alyssa.

"Nona Alyssa."

"Ya?"

"Boleh saya meminta izin berbicara dengan Tuan sebentar?"

Alyssa langsung mengerti.

"Oh..."

"Iya."

"Aku akan keluar."

Lucas mengangguk pelan.

"Terima kasih."

Setelah Alyssa keluar dan pintu tertutup rapat...

Senyum di wajah Adrian benar-benar menghilang.

Ia berjalan mendekati meja kerja Lucas.

Kemudian mengeluarkan sebuah tablet.

"Laporan terbaru."

Lucas langsung berubah serius.

"Apa hasil pengawasan?"

Adrian membuka beberapa foto satelit dan laporan intelijen.

"Tadi pagi."

"Patrick mengadakan rapat darurat."

Lucas menyilangkan tangan.

"Marah?"

Adrian mengangguk.

"Bukan hanya marah."

"Ia mengamuk."

Lucas mengangkat sebelah alis.

"Ceritakan."

Adrian menggeser layar.

"Beberapa orang kepercayaannya dieksekusi."

Lucas tidak tampak terkejut.

"Berapa?"

"Enam orang."

"Hanya karena operasi semalam gagal."

Lucas menghela napas pelan.

"Itu memang caranya."

Adrian kembali membuka foto berikutnya.

"Gudang yang kita serang semalam sekarang sudah kosong."

"Semua dipindahkan."

"Termasuk jalur logistik."

Lucas memperhatikan foto-foto itu dengan saksama.

"Lalu?"

"Patrick juga membubarkan hampir seluruh tim keamanan lamanya."

Lucas akhirnya menoleh.

"Diganti?"

"Iya."

"Dengan orang-orang yang lebih berpengalaman."

Adrian memperbesar salah satu foto.

"Sebagian besar mantan tentara bayaran."

"Mantan anggota pasukan khusus dari beberapa negara."

"Beberapa di antaranya bahkan pernah bekerja sebagai kontraktor militer."

Lucas menyipitkan mata.

"Dia mulai serius."

Adrian mengangguk.

"Patrick sadar kita berhasil menembus pertahanan pertamanya."

"Kesalahan itu tidak akan ia ulangi."

Lucas berdiri perlahan.

Ia berjalan menuju jendela besar.

Tatapannya mengarah ke halaman mansion, tempat Leonardo sedang bermain bersama pengawal.

"Kalau begitu..."

"...kita juga harus mengubah cara bermain."

Adrian menunggu perintah.

Lucas berbicara tanpa menoleh.

"Selama ini..."

"...kita selalu bereaksi."

"Sekarang..."

"...kita yang menyerang."

Adrian mengangguk mantap.

"Apa perintah Anda?"

Lucas berbalik.

"Hubungi Divisi Intelijen Laurent."

"Ya."

"Aku ingin satu orang."

"Yang terbaik."

Adrian langsung mengerti.

"Tuan ingin mengirim penyusup."

"Bukan sembarang penyusup."

Lucas menatap tajam.

"Aku ingin seseorang yang bisa hidup berbulan-bulan di tengah musuh tanpa diketahui."

Adrian berpikir beberapa saat.

"Ada satu orang."

"Siapa?"

"Damian."

Lucas terdiam sesaat.

"Dia masih di luar negeri?"

"Sudah kembali tiga minggu lalu."

Lucas mengangguk.

"Kalau begitu panggil Damian."

Adrian mencatat cepat.

"Baik."

Lucas melanjutkan.

"Selain itu..."

"Aku juga ingin satu detektif."

"Bukan polisi."

"Bukan orang luar."

"Seseorang dari perusahaan kita."

Adrian langsung menjawab.

"Kalau begitu hanya ada satu nama."

Lucas tersenyum tipis.

"Elena?"

Adrian mengangguk.

"Ya."

"Selama lima belas tahun menjadi penyelidik internal."

"Belum pernah gagal."

Lucas kembali berjalan ke meja.

"Suruh dia datang."

"Saya akan menghubunginya."

Adrian berhenti sejenak.

"Tuan."

Lucas mengangkat kepala.

"Apa kita benar-benar akan menyelidiki masa lalu Nona Alyssa?"

Lucas menjawab mantap.

"Bukan."

Adrian tampak bingung.

"Maksud Anda?"

"Aku tidak tertarik pada masa lalunya."

"Yang ingin kutahu..."

"...adalah alasan Patrick."

"Kenapa dia begitu terobsesi."

Adrian mengangguk perlahan.

"Benar juga."

Lucas mengambil foto ancaman yang dikirim kepada Alyssa.

Ia meletakkannya di meja.

"Lihat."

Adrian memperhatikan.

"Patrick rela..."

"Menculik Isabel."

"Membuat jebakan."

"Mengorbankan puluhan anak buah."

"Hanya demi satu wanita."

Lucas mengetukkan jarinya di atas foto.

"Itu bukan tindakan yang dilakukan hanya karena dendam biasa."

Adrian ikut berpikir.

"Tuan curiga ada sesuatu."

Lucas mengangguk.

"Sesuatu yang jauh lebih besar."

Adrian membuka kembali catatannya.

"Patrick juga sempat mengatakan..."

"'Alyssa adalah alat tular yang sah dari Isabel untuk keluarga Patrick.'"

Lucas mengulang pelan.

"'Alat tular.'"

"Aneh."

"Sangat aneh."

Adrian mengangguk.

"Kami sudah mencari istilah itu."

"Tidak ada yang cocok."

Lucas berpikir cukup lama.

"Lalu..."

"Bagaimana dengan Isabel?"

"Riwayatnya?"

Adrian membuka berkas lain.

"Itulah masalahnya."

"Data Isabel hampir kosong."

Lucas menatapnya.

"Kosong?"

"Hanya ada catatan sepuluh tahun terakhir."

"Sebelumnya seperti dihapus."

Lucas langsung memahami.

"Seseorang sengaja membersihkannya."

"Ya."

Lucas menyandarkan tubuhnya di kursi.

"Berarti..."

"Semua ini memang sudah direncanakan sejak lama."

Adrian mengangguk.

"Tuan."

"Silakan."

"Bagaimana kalau..."

"...Nona Alyssa sebenarnya bahkan tidak tahu apa yang dimiliki Isabel?"

Lucas menjawab tanpa ragu.

"Aku yakin."

Adrian terlihat heran.

"Yakin?"

"Kalau Alyssa tahu..."

"...ia tidak akan terus bertanya dengan wajah seperti itu."

Lucas mengingat bagaimana Alyssa selalu tampak kebingungan setiap kali Patrick disebut.

Tatapan itu...

Tidak bisa dipalsukan.

Ia benar-benar tidak mengerti.

Lucas berkata pelan,

"Dia hanya korban."

Adrian menghela napas.

"Kasihan."

Lucas menatap berkas di depannya.

"Justru karena itu..."

"...aku harus menemukan jawabannya lebih dulu."

Beberapa saat kemudian...

Interkom berbunyi.

"Maaf mengganggu, Tuan."

Suara Maria terdengar dari luar.

"Ada apa?"

"Nona Alyssa bertanya..."

"...apakah luka Tuan sudah lebih baik."

Lucas terdiam beberapa detik.

Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis.

"Katakan padanya."

"Perbannya masih rapi."

Adrian tersenyum kecil.

"Kalau begitu saya pergi dulu untuk menjalankan perintah."

Lucas mengangguk.

"Sampaikan kepada Damian."

"Mulai hari ini..."

"...dia hidup sebagai bayangan."

"Tidak boleh ada yang tahu identitasnya."

"Termasuk Patrick."

"Baik."

"Dan Elena."

"Iya."

"Beri semua akses yang ia perlukan."

"Selidiki seluruh hubungan antara Patrick."

"Isabel."

"Dan Alyssa."

"Aku ingin tahu..."

"...kenapa Patrick bersedia memulai perang sebesar ini hanya demi mengejar satu orang."

Adrian menundukkan kepala.

"Perintah diterima."

Ia berbalik meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup perlahan.

Lucas kembali menatap foto ancaman yang masih berada di atas meja.

Tatapannya berubah tajam.

Ia bergumam pelan,

"Patrick..."

"Kalau kau mengira aku hanya akan melindungi Alyssa..."

"...kau salah."

"Aku akan membongkar seluruh rahasia yang selama ini kau sembunyikan."

Di luar ruang kerja, Alyssa berdiri di ujung koridor sambil membawa nampan berisi teh hangat yang baru dibuatnya.

Ia tidak mendengar isi pembicaraan Lucas dan Adrian.

Namun ia melihat Adrian keluar dengan wajah yang jauh lebih serius dibanding saat masuk.

Tanpa Alyssa sadari...

Sejak hari itu, roda penyelidikan mulai berputar.

Bukan lagi sekadar misi penyelamatan Isabel.

Melainkan pencarian sebuah rahasia lama yang menghubungkan Patrick, Isabel, dan Alyssa—rahasia yang mungkin akan mengubah hidup mereka semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!