Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 teman lama nadia
Di sisi lain kota, jauh dari apartemen yang masih diterangi lampu ruang tamu tempat Nadia menunggu, Adrian duduk di sebuah restoran mewah yang menghadap langsung ke gemerlap lampu Jakarta malam hari. Suasana restoran itu tenang.
Alunan musik piano mengalun pelan di sudut ruangan, bercampur dengan suara percakapan para pengunjung yang terdengar samar. Cahaya lampu berwarna keemasan membuat tempat itu terasa hangat dan nyaman.
Di hadapan Adrian duduk seorang wanita berusia beberapa tahun lebih tua darinya.
Namanya Bianca Pradana.
Salah satu senior partner di firma hukum tempat mereka bekerja.
Wanita yang dikenal cerdas, tegas, dan memiliki reputasi yang hampir tidak pernah tercoreng selama bertahun-tahun berkarier.
Malam itu Bianca mengenakan gaun hitam sederhana yang membuat penampilannya terlihat elegan tanpa berlebihan.
Sesekali wanita itu tersenyum saat berbicara.
Dan Adrian membalasnya dengan senyum yang sudah lama tidak muncul di hadapan Nadia.
"Masih memikirkan penghargaan Nadia?" tanya Bianca pelan sambil mengaduk minumannya.
Adrian menghela napas tipis.
"Terlalu terlihat ya?"
Bianca hanya tersenyum kecil.
"Mukamu selalu mudah dibaca kalau sedang kesal."
Adrian menunduk sebentar.
Tatapannya jatuh pada gelas di depannya.
Di dalam firma hukum mereka, nama Nadia memang sedang berada di puncak.
Semua orang membicarakan keberhasilannya.
Semua orang memujinya.
Semua orang menganggap Nadia adalah pengacara terbaik yang dimiliki firma.
Dan semakin tinggi Nadia dipuji, semakin sering Adrian mendengar namanya dibandingkan dengan istrinya.
Perbandingan yang awalnya bisa ia abaikan.
Namun lama-kelamaan mulai melukai harga dirinya.
Bianca memperhatikan pria di hadapannya dalam diam.
Sebagai senior yang sudah cukup lama mengenal Adrian, ia tahu betul perubahan yang terjadi pada pria itu dalam beberapa bulan terakhir.
Dan terlihat memikul beban yang tidak pernah benar-benar ia ceritakan kepada siapa pun.
"Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri," ucap Bianca akhirnya.
Adrian tersenyum hambar.
"Mungkin."
"Tidak semua orang harus menjadi yang paling hebat."
Kali ini Adrian tertawa pelan.
Namun tawa itu terdengar lebih seperti kelelahan daripada kebahagiaan.
Sayangnya, Bianca adalah satu-satunya orang yang menyadari hal itu.
Satu-satunya orang yang mendengarkan tanpa menghakimi.
Satu-satunya orang yang membuat Adrian merasa dirinya tidak sedang dibanding-bandingkan dengan siapa pun.
Percakapan mereka berlanjut pada berbagai hal.
Tentang hal-hal sederhana yang sudah lama tidak Adrian bicarakan dengan Nadia.
Selalu terlihat mampu mengatasi semuanya sendiri.
Hingga tanpa sadar Adrian berhenti menceritakan apa yang ia rasakan.
Dan kini, kekosongan yang seharusnya ia bicarakan kepada istrinya perlahan justru ia bagikan kepada wanita lain.
Sebuah batas yang awalnya tampak tidak berbahaya.
Namun perlahan membawa mereka ke arah yang tidak seharusnya.
Sementara itu, di apartemen mereka, Nadia masih menunggu.
Tanpa mengetahui bahwa malam ini suaminya sedang duduk berdua dengan wanita lain, berbagi cerita yang seharusnya menjadi miliknya sebagai seorang istri.
Adrian tidak mengetahui satu hal.
Wanita yang duduk di hadapannya malam itu ternyata bukan orang asing dalam kehidupan Nadia.
Bianca Pradana pernah menjadi teman satu sekolah Nadia saat SMA.
Mereka berada dalam angkatan yang sama, bahkan beberapa kali berada di kelas yang sama. Namun hubungan mereka tidak pernah bisa disebut dekat.
Saat itu Nadia dikenal sebagai siswi pendiam yang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada berkumpul bersama teman-temannya.
Aktif dalam berbagai organisasi sekolah.
Dan selalu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada.
Meski saling mengenal, mereka tidak pernah benar-benar berteman.
Hanya sebatas menyapa jika bertemu di koridor sekolah atau sesekali bekerja sama dalam tugas kelompok.
Setelah lulus SMA, kehidupan membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Nadia mengejar mimpinya melalui beasiswa dan perjuangan panjang.
Sedangkan Bianca melanjutkan pendidikan hukum di luar negeri sebelum membangun kariernya di berbagai firma besar.
Bertahun-tahun berlalu tanpa kontak.
Sampai akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali.
Enam bulan yang lalu, kedatangan Bianca di firma hukum tempat Nadia bekerja sempat menjadi pembicaraan hangat.
Rekam jejak wanita itu cukup mengesankan.
Pengalamannya menangani berbagai kasus korporasi membuat manajemen firma langsung menempatkannya pada posisi strategis meski baru bergabung.
Hari pertama Bianca datang ke kantor, Nadia hampir tidak mengenalinya.
Wanita yang dulu ia lihat mengenakan seragam abu-abu putih kini berdiri dengan setelan formal mahal dan aura profesional yang kuat.
Namun Bianca langsung mengenalinya.
"Nadia?"
Saat itu Nadia menoleh dari tumpukan berkas di mejanya.
Untuk beberapa detik keduanya saling menatap sebelum akhirnya senyum tipis muncul di wajah Bianca.
"Kita satu SMA dulu."
Mereka sesekali berbicara saat makan siang kantor atau ketika terlibat dalam proyek yang sama.
Bianca bahkan beberapa kali memuji kemampuan Nadia secara terbuka di depan rekan kerja lain.
Hal yang membuat Nadia cukup menghargainya.
Karena berbeda dengan sebagian orang yang merasa terancam oleh pencapaiannya, Bianca justru terlihat profesional dan objektif.
Setidaknya itulah yang Nadia pikirkan.
Sementara itu, dalam enam bulan terakhir, Bianca dan Adrian justru semakin sering bertemu karena menangani beberapa klien besar yang sama.
Namun kedekatan sering kali tumbuh dari hal-hal sederhana yang tampak tidak berbahaya.
Percakapan setelah jam kerja.
Makan malam setelah rapat yang berakhir larut.
Saling bertukar cerita tentang tekanan pekerjaan.
Hingga tanpa disadari, mereka mulai mengenal sisi pribadi satu sama lain.
Sisi yang tidak terlihat di kantor.
Dan malam ini, di restoran yang diterangi cahaya lampu keemasan, Bianca memperhatikan Adrian yang tampak jauh lebih lelah daripada biasanya.
Tatapan wanita itu sedikit melembut.
Sementara Adrian, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, merasa ada seseorang yang benar-benar mendengarkan apa yang selama ini ia simpan sendirian.
Sebuah kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Diam-diam.
Tanpa mereka sadari.
Dan tanpa diketahui Nadia sama sekali.
Bianca menatap Adrian dalam diam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas pelan. Sorot matanya yang biasanya tegas kini terlihat lebih lembut, seolah ada sesuatu yang sedang ia tahan di balik sikap profesionalnya.
“Aku masih ingat kejadian bulan lalu,” ucap Bianca pelan, suaranya tidak setinggi biasanya. “Tentang Nadia…”
Nama itu membuat Adrian sedikit menegang. Tangannya yang semula memegang gelas perlahan berhenti bergerak.
Malam itu, ingatan tentang rumah sakit kembali muncul begitu saja di kepalanya. Ruang putih yang dingin. Aroma obat yang menusuk. Dan Nadia yang terduduk lemah dengan mata sembab, menahan sesuatu yang bahkan tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Keguguran itu terjadi begitu cepat.
Terlalu cepat.
Sebelum mereka benar-benar sempat mempersiapkan diri menjadi orang tua.
Bianca menundukkan pandangannya sebentar, seperti ikut merasakan beratnya momen itu. “Kalian pasti sangat terpukul.”
Adrian mengalihkan tatapannya ke arah jendela restoran. Di luar, hujan mulai turun perlahan, membasahi kaca dengan pola yang tak beraturan.
“Dia… terlihat kuat,” jawab Adrian akhirnya, suaranya rendah. “Tapi aku tahu dia sebenarnya tidak baik-baik saja.”
Bianca mengangguk pelan. “Nadia memang selalu seperti itu sejak SMA. Terlihat kuat, tapi terlalu sering memendam semuanya sendiri.”
Ada jeda singkat yang terasa berat di antara mereka.
Adrian mengusap wajahnya perlahan, seperti mencoba menyingkirkan beban yang terus menempel di pikirannya. “Aku bahkan nggak tahu harus bersikap bagaimana setelah itu. Dia cepat sekali kembali bekerja… seolah tidak terjadi apa-apa.”
Bianca menatapnya dengan tenang. “Setiap orang punya cara sendiri untuk bertahan.”
Suara Bianca terdengar lembut, hampir seperti bentuk pengertian yang tidak menghakimi.
“Dan kamu juga tidak bisa terus menyalahkan dirimu sendiri.”
Adrian tersenyum kecil, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. “Aku hanya merasa… aku gagal jadi suami yang benar di saat dia paling butuh aku.”
Bianca terdiam. Tatapannya kali ini berubah lebih dalam, bukan hanya sebagai rekan kerja, tetapi sebagai seseorang yang memahami beban yang sedang dipikul Adrian.
“Kadang orang yang paling terlihat kuat justru yang paling sering merasa sendirian,” ucapnya pelan. “Termasuk kamu, Adrian.”
Kata-kata itu menggantung di udara, menekan sesuatu yang sudah lama tidak pernah benar-benar diucapkan di hati Adrian.
Sementara itu, di tempat lain yang jauh lebih sunyi, Nadia masih belum tahu bahwa luka yang sama sebenarnya pernah mereka tanggung bersama.
Dan bahwa diam-diam, luka itu belum benar-benar sembuh sepenuhnya.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah