Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rantai Pengintai dan Rahasia di Balik Kain Ihram
Sinar matahari pagi menembus kaca depan ruko konveksi, membawa kehangatan baru setelah badai konfrontasi kemarin berlalu. Di dalam ruko, aroma teh melati hangat menguar manis.
Dr. Adrian duduk dengan sangat tegap di kursi kayu depan meja administrasi, sedang mendengarkan penjelasan Kirana mengenai progres potongan kain katun seruni untuk seratus busana ibadah pesanan ruang ibadah rumah sakit.
"Untuk bagian bordir di tepian kerudungnya, Dokter Adrian bisa memilih motif minimalis agar tetap terkesan rapi dan anggun saat dikenakan nanti," ucap Kirana dengan nada suara yang teramat sangat lembut dan profesional, menjaga pandangan matanya ke arah lembar katalog kain.
Dr. Adrian tersenyum tipis—sebuah senyuman yang teramat teduh dan menenangkan jiwa. "Saya ikut saja apa pilihan terbaik dari kamu, Kirana. Saya yakin, wanita dengan keteguhan hati luar biasa seperti kamu tahu mana yang terbaik dan paling pantas."
Kirana tidak menyadari bahwa kalimat santun dr. Adrian itu bukan sekadar pujian bisnis biasa, melainkan sebuah pendekatan halus dari seorang pria yang mulai menaruh rasa hormat dan ketertarikan spiritual mendalam padanya. Kirana murni berpikir bahwa sang dokter muda hanya bersikap ramah sebagai seorang pelanggan premium.
Namun, ketidaksadaran Kirana berbanding terbalik dengan kepekaan Aisyah. Begitu dr. Adrian berpamitan dengan mengucap salam yang sangat santun, Aisyah langsung melompat mendekati Kirana dengan wajah kocak yang dipenuhi senyuman absurd.
"Ciyeeeee... Kirana! Uhuk-uhuk! Uhuk!" goda Aisyah heboh sembari menyenggol-nyenggol pelan lengan Kirana menggunakan sikunya.
"Aduh, ada yang dibilang wanita berhati luar biasa nih! Dokter Adrian itu gantengnya tidak masuk akal, berbudi luhur, sopan, dan auranya sejuk banget membuat suasana yang tenang! Kamu nggak ngerasa apa-apa, Kirana?! Dia itu lagi modus halus tahu!"
Wajah Kirana seketika merona merah jambu, mencubit pelan pinggang sahabatnya itu. "Aisyah, jaga bicara kamu. Dokter Adrian itu pelanggan kita. Jangan membuat gosip yang tidak-tidak, ah!"
"Halah, alasan! Tapi pipimu merah tuh kayak tomat matang! Hahaha!" tawa Aisyah meledak jenaka, mencairkan suasana ruko menjadi sangat ceria.
Di balik kebahagiaan kecil di dalam ruko, atmosfer kegelapan sedang mengintai di seberang jalan gang. Di dalam sebuah mobil sewaan yang terparkir di bawah pohon rindang, Dimas duduk mencengkeram erat setir mobilnya dengan sepasang mata yang menyala merah oleh api cemburu yang luar biasa dahsyat. Egois dan merasa dirinya lah yang paling berhak memiliki Kirana karena sejarah masa lalu, membuat Dimas nekat memata-matai Kirana dari kejauhan.
Melihat bagaimana dr. Adrian keluar dari ruko dengan senyuman hangat, dan melihat Kirana yang tampak begitu ceria dari balik kaca, dada Dimas seperti dihantam ribuan belati. "Sialan! Siapa dokter itu?! Kirana tidak boleh dimiliki pria lain! Dia itu milikku! Harusnya aku yang di sana!" desis Dimas sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, memukul setir mobil dengan penuh frustrasi.
Namun, di tengah kebutaan mata hatinya yang sedang mengintai Kirana, Dimas sama sekali tidak menyadari satu hal krusial... Di belakang mobil sewaannya, berjarak sekitar lima puluh meter, sebuah mobil Alphard hitam mewah juga sedang berhenti mematung.
Di dalam mobil mewah tersebut, Ibu Ratna duduk dengan napas yang memburu sesak dan wajah yang kian memanas bagaikan terbakar api neraka. Benar, Ratna diam-diam membuntuti suaminya dari ibu kota! Menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Dimas rela meluangkan waktu berhari-hari hanya untuk mengintai ruko Kirana, membuat monster cemburu di dalam dada Ratna meledak ke titik puncaknya.
Tanpa membuang waktu lagi, Ibu Ratna langsung menekan nomor telepon Ayah Dimas dengan jemari tangan yang gemetar hebat menahan amukan batin. "Ayah! Dimas sudah tidak waras! Dia mengabaikan pekerjaannya di kantor hanya untuk mengintai perempuan yang memeluk keyakinan baru itu di kota seberang setiap hari! Tolong Ratna, Ayah! Bawa Dimas pulang sekarang juga!"
Malam harinya, panggilan darurat memaksa Dimas untuk menginjakkan kakinya di rumah besar orang tuanya. Suasana di dalam ruang utama keluarga Wijaya terasa teramat sangat dingin, mencekam, dan laksana sebuah ruang persidangan eksekusi mati.
Dimas melangkah masuk dengan langkah kaki yang teramat lelah. Di dalam ruangan itu, Ayah Dimas sudah duduk di kursi kebesarannya dengan wajah merah padam menahan murka tingkat tinggi, sementara di sampingnya ada Ibu Ratna yang memasang wajah kuyu penuh air mata palsu hasil manipulasi.
Belum sempat Dimas membuka mulutnya untuk bertanya kenapa dirinya dipanggil secara mendadak malam-malam begini, Ayah Dimas langsung bangkit berdiri dengan gerakan yang sangat cepat.
PLAAAKKK!!!
Satu tamparan yang teramat sangat kuat, keras, dan membahana langsung mendarat dengan telak di pipi kanan Dimas. Sentakan tamparan itu membuat tubuh Dimas terhuyung mundur dua langkah ke belakang, menyisakan bekas telapak tangan yang memerah legam di kulit wajahnya yang tirus.
"Anak tidak tahu diri! Anak tidak tahu terima kasih!" bentak Ayah Dimas dengan suara bariton yang menggelegar hebat, meruntuhkan seisi rumah mewah tersebut.
"Kamu sudah buta mata hatimu, Dimas! Kamu mengabaikan proyek dewan direksi perusahaan hanya untuk mengemis perhatian dari perempuan kelas bawah yang memeluk keyakinan baru itu?! Kamu harusnya bersyukur sepenuhnya karena sudah Ayah nikahkan dengan Ratna! Wanita yang setara, layak dalam hal kasta, harta, dan status sosial apa pun untuk mendampingi darah Wijaya! Tapi kelakuanmu benar-benar memalukan nama baik keluarga kita!"
Dimas memegang pipinya yang terasa teramat sangat panas dan berdenyut nyeri. Dia perlahan menegakkan kepalanya. Di bawah sorotan lampu kristal gantung, sepasang mata Dimas yang selama berbulan-bulan ini redup laksana mayat hidup, kini berbalik memancarkan kilatan kemurkaan yang teramat dahsyat. Sisa-sisa kesabaran batinnya sudah resmi habis tak bersisa detik itu juga!
Dimas tertawa sumbang—sebuah tawa getir, perih, dan penuh dengan keputusasaan yang teramat sangat dramatis.
"Layak? Setara? Bersyukur Ayah bilang?!" suara Dimas mulai meninggi, bergetar hebat menahan sesak yang seperti mau meledakkan dadanya.
"Ayah... tolong berhenti bersikap seolah-olah pernikahan ini terjadi karena Ayah memikirkan masa depan dan kebahagiaan hidupku! Cukup, Ayah! Cukup!"
Ayah Dimas tertegun kaku, matanya membelalak lebar melihat anak bungsunya berani mendongak melawan otoritasnya.
"Dimas! Berani kamu—"
"Kenapa aku tidak berani, Ayah?! Karena aku sudah tahu semua rahasia busuk di balik perjodohan sialan ini!" teriak Dimas meledak sejadi-jadinya, air mata kemarahan dan luka batin yang teramat perih mengalir deras membasahi pipinya yang ditampar tadi.
Ibu Ratna yang duduk di sofa seketika melongo kaku dengan tubuh yang gemetar hebat, firasat buruk langsung menghantam kepalanya.
"Ayah dan Ibu nekat memaksa aku menikahi Ratna, bahkan sampai menggunakan ancaman nyawa bunuh diri, bukan karena kasta keluarga kita yang tinggi, Ayah! Kalian memaksa aku karena rasa utang budi yang teramat sangat besar kepada Ratna! Dua tahun yang lalu, saat bisnis ayah sedang goyah dan kalian tidak punya uang, Ratna lah yang membiayai seluruh ongkos perjalanan spiritual Ayah dan Ibu ke tempat suci menggunakan uang pribadinya! Ayah dan Ibu menjual masa depan dan kebahagiaan hidup anak kandung kalian sendiri hanya demi membayar utang budi berkedok simbol kesucian itu, kan?!"
BOOM!!!
Rahasia besar dari itu bener-bener resmi diledakkan oleh Dimas di tengah ruang keluarga! Ayah Dimas seketika berdiri mematung kaku seperti patung batu dengan wajah yang berubah pucat legam bagaikan mayat, lidahnya kelu sekujur tubuh, keangkuhannya sebagai kepala keluarga Wijaya runtuh hancur berkeping-keping karena aib utang budinya dikuliti habis oleh anaknya sendiri! Sementara Ibu Ratna hanya bisa menangis histeris ketakutan karena tameng pelindungnya kini telah mati kutu tak berdaya!
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia