Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3—Memijat Janda Muda
Bima dengan sigap menyelubungkan lengannya di bawah lutut dan punggung Rasti. Begitu tubuh mungil kakak iparnya itu terangkat, Bima tertegun sejenak. Tubuh Rasti terasa begitu ringan di pelukannya, sementara Rasti sendiri langsung tersentak kaget.
Biasanya, jangankan mengangkat orang, membawa sekarung beras kecil saja sudah membuat Bima terengah-engah. Namun sekarang, Bima membawanya seolah Rasti hanya seberat kapuk.
Sentuhan yang tidak terhindarkan itu membuat keduanya sama-sama canggung. Selama ini Bima jarang memiliki tenaga untuk membantu pekerjaan berat, sehingga perubahan mendadak tersebut terasa sulit dipercaya bagi mereka berdua.
"Bima... k-kamu kuat ngangkat Mbak?" bisik Rasti terperangah. Wajahnya dipenuhi keterkejutan melihat perubahan Bima.
"Bisa, Mbak. Tenang saja," jawab Bima
Bima melangkah mantap menuju kamar pribadi Rasti yang hanya dibatasi oleh kelambu kain tipis. Ruangan sempit itu hanya berisi sebuah ranjang kayu tua dengan kasur kapuk yang sudah mengempis, namun aromanya sangat familier—aroma wangi yang menenangkan dari sabun murah dan kehangatan khas seorang wanita.
Dengan perlahan, Bima merebahkan tubuh Rasti ke atas kasur. Posisi mereka mendadak menjadi dekat
Rasti dapat merasakan embusan napas Bima yang hangat dan beraroma segar, sama sekali tidak ada sisa bau jamu atau obat-obatan yang biasanya selalu melekat pada pemuda itu.
"Bima..." Rasti menatap mata Bima yang kini tampak berbinar tajam, tidak lagi sayu dan layu. "Kamu... kamu beneran gak apa-apa? Kulitmu hangat banget, terus... Mbak gak mendengar suara napasmu yang sesak lagi."
Bima tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh percaya diri yang belum pernah Rasti lihat sebelumnya. "Mbak Rasti, sebuah keajaiban baru saja terjadi di sungai tadi. Penyakit yang menyiksaku selama ini sudah sembuh total. Aku gak akan merepotkan Mbak lagi. Sekarang, giliran aku yang menjaga Mbak."
Mendengar penuturan Bima, mata Rasti berkaca-kaca antara percaya dan tidak. Namun bukti fisik di depannya tidak bisa berbohong. Sosok Bima kini tampak jauh lebih tegap dan atletis, tidak lagi kurus kering hingga tulang rusuknya menonjol.
"Syukurlah... Ya Tuhan, syukurlah..." lirih Rasti lega, tanpa sadar mencengkeram lengan Bima yang kini terasa padat berotot.
"Sekarang, biarkan aku mengobati kaki Mbak yang keseleo," ujar Bima mengalihkan perhatian agar suasana tidak terlalu emosional.
Bima berlutut di tepi ranjang, lalu perlahan mengangkat kaki kanan Rasti.
bima memijat kaki tersebut. sensasi relaksasi yang mengalir di kakinya benar-benar tidak bisa dibendung oleh tubuh Rasti yang lelah. Setiap usapan jemari Bima memberikan efek ketenangan yang sangat dalam, sekaligus menyelimuti tubuh Rasti dengan getaran energi murni yang membuat bulu kuduknya meremang karena saking ringannya rasa sakit itu menguap.
Rasti mencoba menggerakkan kakinya berputar perlahan untuk memastikan rasa sakitnya benar-benar berkurang.
"Mbak... kaki Mbak sudah tidak kaku lagi. Aliran darah di pergelangan juga sudah lancar," bisik Bima, berusaha menekan gejolak batinnya sendiri agar tetap bersikap profesional sebagai seorang tabib baru.
Bima kembali memeriksa kondisi kaki Rasti dengan saksama untuk terakhir kalinya sebelum melepaskan pegangannya.
"Bima... tapi badan Mbak masih terasa agak dingin dan lemas di bagian atas..." lirih Rasti, menatap Bima dengan sepasang mata yang sayu karena kelelahan fisik setelah beraktivitas seharian dalam kondisi menahan sakit.
"Boleh... boleh minta tolong periksa bagian yang lain juga?"
Bima sempat ragu karena ia tidak ingin melakukan kesalahan saat menggunakan kemampuan barunya yang dahsyat ini.
"Bagian mana yang terasa paling dingin dan kaku, Mbak?" tanya Bima sambil kembali fokus mengamati aura tubuh Rasti.
"Bagian punggung!" sahut Rasti pelan.
"Oh, baik, Mbak," ujar Bima, mengembuskan napas lega sekaligus merasakan sedikit ketegangan yang mendadak mengendur dari kepalanya.
Rasti kemudian memosisikan dirinya agar mempermudah terapi.
Bima pun mulai memijat area punggung Rasti dengan hati-hati menggunakan penyaluran hawa hangat berkekuatan rendah.
Namun, begitu telapak tangannya menyentuh area punggung bagian tengah, pandangan khusus Mustika Hijau di mata Bima menangkap sesuatu yang tidak biasa. Ini bukan sekadar titik saraf yang kelelahan karena bekerja keras atau salah tidur. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap—sebuah titik energi berwarna hitam pekat yang tampak menggeliat di bawah jaringan kulitnya.
Dalam pengetahuan mistis yang mendadak mengalir di kepala Bima, aliran kehidupan yang memancarkan warna hitam pekat hanya merujuk pada satu hal buruk: pengaruh gaib negatif yang sengaja dikirimkan.
'Jangan-jangan... Mbak Rasti kena guna-guna?' batin Bima terkejut setengah mati
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊