Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!
Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.
Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Tiffany
Jika ada hal yang lebih berbahaya daripada kompetitor bisnis yang agresif di pasar modal, itu adalah seorang wanita sosialita yang egonya terluka parah.
Bagi Tiffany Mahardika, kekalahan beruntun yang ia alami sejak kedatangan Aulia Putri di lantai 42 KALUMPERRI CORP bukan sekadar masalah persaingan asmara biasa.
Itu adalah penghinaan terhadap kasta sosialnya.
Bagaimana mungkin seorang sekretaris biasa yang bahkan harus menghemat uang untuk membayar kontrakan bulanan bisa menatapnya dengan pandangan sedingin es, membantah argumennya di depan dewan direksi, dan kini, secara rahasia menjamu Khatyr Ali Fatih di dalam penthouse pribadinya?
"Pak Ujang?" gumam Tiffany sinis, menatap pantulan dirinya di cermin meja rias mewahnya malam itu.
Tangannya yang mengenakan cincin zamrud mengencangkan pegangan pada botol parfum mahalnya.
"Alasan konyol macam apa itu? Khatyr bahkan tidak pernah membiarkan asisten pribadinya yang dulu untuk masuk ke area lift privatnya, tapi malam itu... aroma saus pasta dan kehangatan di ruangan itu jelas bukan untuk seorang sopir paruh baya!"
Tiffany tidak bodoh.
Insting wanitanya berteriak keras bahwa ada hubungan yang sangat tidak wajar di antara Khatyr dan sekretaris galaknya tersebut.
Dan ia tidak akan pernah membiarkan reputasi dirinya sebagai calon menantu idaman keluarga Fatih hancur begitu saja tanpa perlawanan.
Ia meraih ponsel pintarnya yang berlapis emas, menekan sebuah nomor kontak privat yang hanya ia gunakan untuk urusan-urusan "khusus" di luar hukum publik.
"Halo, ini Tiffany," ujar Tiffany dengan nada suara yang sangat dingin dan ketat begitu panggilan tersambung.
"Aku membutuhkan layanan terbaik dari agensimu. Cari tahu segala hal tentang Aulia Putri. Di mana dia tinggal, ke mana dia pergi setelah jam kantor selesai, dengan siapa dia bertemu, dan yang paling penting... aku ingin foto atau bukti rekaman visual apa pun yang membuktikan bahwa dia sedang merayu Khatyr Ali Fatih di luar jam kerja. Aku ingin bukti yang cukup kuat untuk menghancurkan kariernya selamanya."
"Baik, Mbak Tiffany. Tim kami akan segera bergerak besok subuh," jawab sebuah suara pria yang berat di seberang sana sebelum panggilan terputus.
Tiffany tersenyum licik, menatap layar ponselnya dengan binar mata yang dipenuhi oleh kebencian yang mendalam.
"Kita lihat saja, Aulia Putri. Seberapa tinggi kamu bisa terbang sebelum aku mematahkan sayapmu dan menyeretmu kembali ke kubangan asalmu."
Hari Rabu pagi di lantai 42 Kalumperri Corp berjalan dengan ritme profesional yang sangat rapi.
Aulia Putri duduk di meja kerjanya, mengetik laporan analisis portofolio investasi triwulan ketiga dengan konsentrasi penuh.
Kacamata baca berbingkai tipis bertengger manis di hidung mancungnya, dan rambut cokelat panjangnya disanggul rapi tanpa celah, menampilkan sosok sekretaris eksekutif yang sangat disiplin dan tak tersentuh oleh urusan pribadi.
Di dalam ruangannya, Khatyr sedang serius meninjau rencana otomatisasi sistem distribusi logistik baru bersama tim Sterling Capital melalui panggilan video.
Semuanya tampak sangat sempurna, hingga jam makan siang tiba.
Aulia memutuskan untuk tidak makan siang di pantry lantai eksekutif hari ini demi menghindari gosip canggung dengan Murni yang terus-menerus menggodanya tentang "menu sarapan rahasia" dari Khatyr.
Ia membawa tas selempangnya, menuruni lift, dan berjalan menuju sebuah kafe bernuansa kaca minimalis yang terletak di seberang jalan Gedung Kalumperri Corp.
Kafe itu cukup tenang, dengan alunan musik akustik lambat yang menenangkan.
Aulia memesan segelas iced americano dan seporsi salad ayam panggang, lalu mengambil tempat duduk di sudut dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah jalanan Sudirman yang sibuk.
Namun, baru saja ia menyuapkan garpu pertamanya, bayangan sesosok wanita yang sangat familier mendadak menghalangi sinar matahari sore yang menembus jendela kaca.
Tiffany Mahardika berdiri di sana.
Malam itu, ia mengenakan setelan blazer mini berwarna merah muda cerah yang sangat modis, dipadukan dengan kacamata hitam desainer berukuran besar yang diletakkan di atas kepalanya.
Di tangannya, ia menjinjing tas Chanel putih berantai emas murni.
Tanpa permisi, Tiffany langsung menarik kursi kayu di hadapan Aulia dan duduk dengan keangkuhan mutlak yang mengintimidasi.
"Selamat siang, Sekretaris Aulia Putri," sapa Tiffany dengan nada suara yang sengaja dibuat manis namun sarat akan racun kepalsuan.
Aulia perlahan meletakkan garpunya.
Ia menatap Tiffany dengan pandangan mata yang sangat tenang di balik kacamata bacanya, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan atau kepanikan sedikit pun.
"Selamat siang, Mbak Tiffany," jawab Aulia dengan senyum profesionalnya yang dingin dan tak tergoyahkan.
"Ada yang bisa saya bantu? Jika ini menyangkut jadwal pertemuan resmi Mahardika Group dengan Pak Khatyr, mohon maaf karena Anda harus menghubungi protokol di lantai bawah terlebih dahulu."
Tiffany tertawa kecil, sebuah tawa meremehkan yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Aulia.
"Jadwal pertemuan resmi? Oh, ayolah, Aulia. Kita berdua tahu aku tidak datang ke sini untuk urusan bisnis membosankan milik ayahku."
Tiffany mencondongkan tubuh cantiknya ke depan meja, menatap Aulia dengan sepasang mata yang menyipit tajam penuh ancaman.
"Aku datang ke sini untuk memberikanmu sebuah peringatan ramah," bisik Tiffany dengan nada suara yang sangat dingin.
"Makan malam romantis dengan pasta carbonara di penthouse Khatyr malam minggu kemarin... apakah rasanya cukup enak bagi seorang wanita kelas pekerja sepertimu?"
Mendengar kata-kata "makan malam" dan "penthouse", jantung Aulia seketika berdegup sangat kencang, seolah-olah baru saja melompat dari tebing tinggi.
Namun, sebagai seorang manajer risiko yang terlatih menghadapi krisis, ia tidak membiarkan sedikit pun emosi panik merusak ekspresi wajah datarnya.
"Saya rasa Anda salah paham, Mbak Tiffany," jawab Aulia dengan nada suara yang sangat tenang dan stabil tanpa getaran sedikit pun.
"Malam itu saya memang datang ke apartemen Pak Khatyr murni untuk mengantarkan dokumen audit penting Sumatra yang mendesak, sekaligus mendiskusikan taktik hukum bersama Sterling Capital demi keselamatan aset perusahaan."
"Kebohongan yang sangat rapi, Aulia," potong Tiffany sinis, bibirnya yang dilapisi lipstik merah menyala menyunggingkan senyuman kemenangan yang licik.
Ia merogoh tas tangannya, lalu melemparkan beberapa lembar foto fisik berukuran kecil ke atas meja marmer di hadapan Aulia.
Aulia melirik foto-foto tersebut dan seketika menahan napasnya.
Foto pertama menampilkan dirinya yang sedang melangkah keluar dari lobi penthouse Senopati pada hari Sabtu malam dengan mengenakan kardigan krem santai.
Foto kedua memperlihatkan Khatyr yang sedang membukakan pintu mobil Maybach untuknya di lobi apartemen minimalis miliknya dengan senyuman hangat.
Dan foto ketiga... foto yang paling mematikan... menampilkan bayangan mereka berdua di balkon penthouse Khatyr, di mana Khatyr tampak sedang memeluk bahunya dari belakang di bawah temaram lampu luar.
Seseorang telah membuntuti dan memata-matai mereka dengan sangat rapi di luar jam kantor.
"Foto-foto ini diambil oleh penyelidik swasta terbaik yang kusewa dari Singapura, Aulia," bisik Tiffany penuh kemenangan, matanya berkilat penuh kebencian yang mendalam.
"Dan bayangkan apa yang akan terjadi jika foto-foto ini mendarat di atas meja kerja Pak Haryo, dewan direksi, atau yang paling menyenangkan... ke seluruh portal media bisnis nasional besok pagi?"
Tiffany mengetuk foto tersebut dengan kuku indahnya.
"Judul beritanya pasti akan sangat menarik: 'Sekretaris Pribadi KALUMPERRI CORP Menggunakan Skema Ranjang demi Mendikte Keputusan Strategis CEO Pemalas'. Seluruh reputasi mandiri dan akademis yang kamu banggakan itu akan hancur dalam sekejap, Aulia.
Kamu akan dicap sebagai wanita penggoda murahan yang merusak tata kelola perusahaan raksasa, dan nama baikmu akan di-blacklist dari seluruh dunia bisnis Asia Tenggara seumur hidupmu!"
Aulia Putri merasakan seluruh tubuhnya mendadak terasa sangat dingin dan kaku seolah-olah disiram air es di tengah salju.
Seluruh ketakutan terdalamnya tentang hancurnya harga diri profesionalnya akibat rumor asmara kini telah terhampar nyata di atas meja marmer di hadapannya.
Namun, di tengah gelombang kepanikan yang luar biasa hebat itu, sirkuit otak cerdas Aulia mulai bekerja dengan kecepatan penuh.
Ia menatap foto-foto tersebut, menilai sudut pengambilan gambarnya, lalu mendongak menatap Tiffany dengan pandangan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dingin, tajam, dan penuh dengan keberanian yang tidak terduga.
"Tindakan Anda ini sangat menarik, Mbak Tiffany," ujar Aulia dengan nada suara yang begitu tenang dan lambat, namun sarat akan kekuatan yang mengintimidasi balik.
Tiffany mengernyitkan dahinya, sedikit terkejut karena tidak melihat reaksi menangis atau memohon dari sekretaris yang ia ancam. "Menarik? Apa maksudmu?!"
Aulia perlahan memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Tiffany dengan senyum tipis yang penuh kelicikan taktis.
"Pertama, mengenai foto-foto ini. Tindakan menyewa penyelidik swasta untuk membuntuti, memata-matai, dan mengambil gambar tanpa izin di area privat apartemen eksekutif yang dikelola oleh Kalumperri Land... adalah pelanggaran berat terhadap Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal 31 mengenai intersepsi ilegal, serta Pasal 32 mengenai pelanggaran privasi fisik."
Aulia mengetuk foto tersebut dengan ujung jarinya yang lentik.
"Jika foto-foto ini sampai menyebar ke publik, tim hukum Kalumperri Corp tidak hanya akan menuntut agensi penyelidik swastamu ke jalur pidana, tapi kami juga akan menyeret nama Tiffany Mahardika dan Mahardika Group sebagai dalang utama di balik tindakan spionase korporat ilegal ini.
Bayangkan bagaimana reaksi para pemegang saham Mahardika Group saat mengetahui putri tunggal pemilik perusahaan mereka terancam hukuman penjara lima tahun hanya karena masalah kecemburuan pribadi yang kekanak-kanakan?"
Wajah Tiffany yang semula memancarkan kemenangan, kini perlahan-lahan mulai memucat.
"Kamu... kamu hanya menggertak! Kamu tidak akan berani melakukannya karena reputasimu sendiri juga akan hancur!"
"Reputasiku memang akan terganggu, Mbak Tiffany," sahut Aulia dengan nada suara yang sangat tenang namun menghujam langsung ke jantung pertahanan lawan.
"Tapi aku tidak memiliki apa-apa untuk dipertahankan selain pekerjaanku. Sementara Anda? Anda memiliki nama baik keluarga, warisan Mahardika Group, dan masa depan sosialita Anda di kalangan elit Jakarta yang dipertaruhkan. Jika kita berdua harus hancur bersama... aku pastikan Anda yang akan jatuh dari ketinggian yang paling menyakitkan."
Aulia bangkit berdiri dari kursinya, merapikan blazernya dengan gerakan yang sangat anggun dan berkelas.
Ia mengambil tas selempangnya, lalu menatap Tiffany yang kini duduk mematung dengan tubuh yang gemetar hebat menahan amarah dan ketakutan yang luar biasa.
"Makan siang saya sudah selesai, Mbak Tiffany. Terima kasih atas foto-foto yang sangat indah ini. Saya sarankan Anda segera menghubungi agensi penyelidik swastamu dan meminta mereka untuk menghapus seluruh file cadangannya sebelum tim hukum kami mendeteksi alamat IP mereka sore ini," ucap Aulia dengan senyum kemenangan yang paling menawan, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari kafe dengan langkah tegap yang dipenuhi karisma anggun.
Namun, begitu ia melangkah keluar dari pintu kaca kafe dan berdiri di trotoar jalanan Sudirman, seluruh pertahanan ketenangan Aulia seketika runtuh.
Kedua lututnya terasa sangat lemas hingga ia harus berpegangan pada pilar beton jalanan.
Air mata hangat mulai menggenang di sudut matanya yang bulat.
Ia baru saja memenangkan konfrontasi verbal dengan Tiffany, namun ia tahu... ancaman ini belum sepenuhnya selesai.
Foto-foto itu nyata, dan rahasia asmara mereka kini berada di ujung tanduk yang sangat tipis.
Aulia meremas tas selempangnya erat-erat, menatap langit Jakarta yang mendadak terasa mendung.
Ia harus segera kembali ke lantai 42.
Ia harus menemui Khatyr.
Karena kali ini, badai asmara rahasia mereka tidak lagi sekadar tentang aturan kantor... melainkan tentang pertarungan harga diri dan kelangsungan hidup masa depan cinta mereka selamanya.