NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 03

~

...Boncengan Sama Anak Tetangga~...

Pagi datang terlalu cepat.

Hari Minggu biasanya menjadi bagian paling nyaman bagi Naira. Setidaknya sebelum minggu ini datang.

Ketika ayam baru mulai berkokok, ibunya sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar sambil berteriak dari luar.

“Bangun. Ayo ke pasar.”

Naira yang masih setengah sadar hanya mengerang pelan di balik selimut.

Padahal biasanya ibunya tidak pernah mengajaknya ke pasar. Kata wanita itu, Naira lebih sibuk membeli makanan daripada membantu belanja.

Namun minggu ini jelas berbeda.

Setelah berjalan beberapa ratus meter dari rumah, mereka menaiki angkot pagi yang sudah penuh sesak oleh para pedagang.

Aroma di dalamnya bercampur menjadi satu.

Solar.

Gorengan berminyak.

Dan bau tubuh orang-orang yang sudah berkeringat sejak pagi.

Naira sampai sedikit pusing dibuatnya.

Pagi masih terlalu pucat ketika mereka tiba di pasar yang becek oleh sisa hujan semalam. Sandal Naira beberapa kali terkena cipratan lumpur saat berjalan mengikuti ibunya ke sana kemari.

Benar-benar seperti anak ayam mengikuti induknya.

Sampai matanya menangkap sebuah gerobak kecil di sudut pasar.

Pukis hangat.

Aroma manisnya langsung tercium jelas—mentega, tepung, dan sedikit santan yang membuat wanginya terasa gurih.

“Tunggu sebentar.”

Ibunya langsung sadar ke mana arah pandang Naira tertuju.

Naira menoleh dengan bibir sedikit mencebik.

“Baik, Bu.”

“Enaknya masak apa hari ini?” tanya ibunya sambil memilih sayuran.

Naira ikut memperhatikan dagangan di depan mereka. Tangannya terlipat di depan dada sementara jemari kanannya mengusap dagu pelan.

“Lodeh kayaknya enak.”

Ia masih sibuk mengamati isi lapak.

“Ditemenin tempe goreng renyah sama sambal bawang.”

Ibunya mengangguk setuju.

“Ide bagus.”

Mata Naira kembali bergerak memperhatikan dagangan lain.

“Kalau dingin begini enak juga bikin lepet jagung, Bu.”

“Ya sudah, ibu belanja dulu. Sana jajan.”

Wajah Naira langsung berbinar.

“Baik, Nyonya.”

Ia segera berjalan menuju antrean penjual pukis dengan langkah cepat.

Matahari sudah mulai naik ketika mereka selesai berbelanja.

Dengan beberapa kantong belanjaan di tangan, Naira berjalan sedikit miring karena bebannya.

“Ibu belanja banyak banget.”

“Sama buat nanti siang.”

Naira langsung menoleh.

“Masih masakin buat Om Seno?”

Ibunya mengangguk kecil.

“Mereka kan nggak punya perempuan di rumah.”

Naira terdiam sesaat sebelum akhirnya bertanya pelan,

“Arka udah nggak punya ibu?”

“Nggak. Sudah lama.”

Langkah ibunya sedikit melambat.

“Makam ibunya juga di kampung ini.”

“Ha?”

Naira menoleh cepat.

“Terus kenapa lama nggak pulang ke sini?”

“Bapaknya kerja di kota. Arka juga lanjut militer. Jadi makin susah pulang.”

“Oh…”

Belum sempat percakapan mereka berlanjut, suara motor terdengar mendekat.

Naira memperhatikannya.

Dari kejauhan ia langsung mengenali pria yang semalam dijodohkan dengannya.

Penampilan Arka jauh lebih santai pagi ini. Kaos berlengan pendek yang dipakainya memperlihatkan belang matahari di lengannya, dipadukan dengan celana hitam selutut dan sandal sederhana.

“Nak Arka,” sapa ibu Naira lebih dulu.

Sementara Naira hanya memberi senyum sopan.

Arka membalas anggukan kecil.

“Tadi Om Doyok minta saya jemput kalian.”

“Syukurlah.” Ibunya langsung terkekeh kecil sambil menepuk pundak Naira. “Bapakmu masih ingat nasib kita.”

Naira justru menatap motor itu ragu.

Joknya terlalu sempit untuk tiga orang.

Apalagi dua penumpangnya memakai rok.

“Aku jalan kaki aja,” ucap Naira cepat.

Namun ibunya langsung menggeleng.

“Masih jauh. Nanti kamu capek.”

Wanita itu menoleh ke arah Arka.

“Kalau dua kali jemput gimana, Nak?”

“Tidak apa-apa, Bu. Saya tidak merasa direpotkan.”

Tanpa menunggu lama, ibu Naira langsung naik lebih dulu ke motor. Meninggalkan Naira yang hanya bisa menatap dengan sedikit kesal.

Ibu benar-benar tega meninggalkannya sendiri.

Ia mendecakkan lidah pelan sambil berjalan lebih lambat. Belanjaan berat itu tetap harus dibawa sendiri olehnya.

Beberapa menit kemudian Arka kembali muncul di depannya.

Pria itu tetap memasang senyum sopan yang sama.

“Ayo naik.”

Naira menelan ludah pelan.

Jemarinya mengerat pada plastik belanja sambil memandangi jok motor yang kini terasa makin sempit.

Arka sengaja menggeser duduknya lebih maju, hampir menempel pada tangki motor agar memberi ruang lebih untuknya.

“Ayo,” ucap pria itu lagi pelan. “Nanti pekerjaan rumahnya nggak selesai.”

Seolah baru tersadar, Naira buru-buru naik ke motor dengan posisi duduk menyamping.

“Pegangan.”

Deg.

Satu kata itu justru membuat gugupnya semakin menjadi.

Di jok sesempit itu, sambil membawa belanjaan, satu-satunya tempat aman untuk berpegangan hanyalah—

Arka.

“Nai?”

Suara Arka terdengar lembut dari depan.

“Oh… iya.”

Dengan ragu Naira memegang ujung kaos di sisi pinggang pria itu. Jemarinya terasa sedikit basah karena gugup.

Sementara Arka hanya mengangkat sudut bibirnya tipis sebelum mulai menjalankan motor pelan.

Mereka melewati jalanan kampung yang mulai ramai. Ladang-ladang sudah dipenuhi para petani. Beberapa orang menoleh saat motor itu lewat.

Bahkan seorang anak kecil sampai memutar badan demi melihat mereka lebih lama.

Naira langsung menunduk malu.

Bisa saja anak tadi salah satu muridnya.

Belum selesai rasa malunya, mereka melewati segerombolan ibu-ibu yang baru pulang dari tukang sayur keliling. Bisik-bisik kecil langsung terdengar ketika motor Arka melintas.

Dan Naira tahu jelas beberapa pasang mata mengikuti mereka sampai jauh.

Mereka baru sampai di rumah ketika suara gergaji dan palu terdengar dari samping rumah.

Ayah Naira rupanya sedang memperbaiki genteng.

“Wah…”

Om Seno menjadi orang pertama yang menggoda begitu melihat mereka turun dari motor.

“Udah akrab aja?”

Naira hanya tersenyum malu.

“Terima kasih,” ucapnya singkat pada Arka sebelum buru-buru berjalan menuju keran air di dekat teras.

Ia membasuh kaki yang kotor oleh lumpur pasar.

Naira berharap suara gemericik air bisa menenggelamkan detak jantungnya yang sejak tadi bertalu-talu.

“Hati-hati.”

Naira menoleh dan mendapati Arka berdiri tepat di belakangnya.

****

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!