Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penumpang yang Tertinggal
Jasa Travel Gas Rem
Hari ini adalah tanggal 21 dimana sebuah mobil MPV yang akan mengangkut delapan orang penumpang siap berangkat ke tempat tujuan melalui jalur yang baru.
Belum sampai jam enam pagi Bono sesuai janji sudah datang ke tempat travel.
"Pagi mbak Nisa",
"Selamat pagi pak Bono",
"Mamanya mana mbak?",
"Mama biasa ke sini jam siang Pak",
"Mobilnya yang mana mbak?",
"Yang putih pak Bono",
"Ini kunci sama surat-suratnya",
"Saya periksa dulu mbak mobilnya",
Sebelum memastikan mobilnya siap untuk bekerja.
Bono terlebih dahulu menghampiri para driver yang lain yang juga akan berangkat di pagi hari yang sama.
"Assalamualaikum",
"Waalaikumsalam",
"Pak Bono, apa kabar Pak?",
"Alhamdulillah sehat",
"Bagaimana kabar kalian semua?",
Mereka semua sesama sopir sudah saling mengenal dengan baik dan akrab.
"Aku menggantikan Bakri",
"Kalian pada mau kemana?",
"Sebagian dari kami ke arah barat dan selatan",
"Hanya beberapa mobil yang menuju ke timur dan tenggara",
"Pak Bono sendiri mau kemana?",
"Aku akan lewat jalur baru",
"Bagaimana medannya?",
"Apakah kalian juga sudah pernah lewat sana?",
"Selamat Pak",
"Jasa Travel Gas Rem, Bapak yang akan menjadi orang pertama kali yang lewat sana",
Sesudah sarapan lalu kopi dan sebat dua sebat.
Setiap sopir kembali fokus kepada tunggangan yang akan mereka bawa sendiri-sendiri.
Selama perjalanan jauh nanti. Mereka yang akan bertanggung jawab.
Kepada para penumpang dan juga laju kereta besi yang berukuran memanjang.
"Bau apa ini?",
"Astaghfirullah",
Bono menemukan sumber bau yang tidak sedap di dalam mobil yang sedang diperiksanya.
Supaya tidak membuat gaduh dan heboh kepada para sesama sopir dan para penumpang yang sudah mulai menampakkan diri.
Bono hanya memberitahu dan memanggil Nisa.
"Ada apa pak?",
"Ya Tuhan.... Bau sekali ini pak",
"Tolong dibersihkan dan dibuang ya pak",
"Iya mbak Nisa",
"Aku ambilkan semprotan pengharum ruangan dulu",
"Bagaimana seekor bangkai tikus tiba-tiba ada di dalam mobil yang sudah ditutup rapat dan dikunci?",
Bono dan Nisa sama-sama sulit untuk mempercayai.
Padahal mobil putih ini waktu terakhir kali dipakai, sesudahnya langsung dicuci dan dibersihkan.
06:25
"Lima menit lagi kita berangkat ya... ",
Di dalam mobil yang akan disetir oleh Bono para penumpang yang sudah datang masuk satu persatu.
Mereka memilih bangku duduk yang dirasa paling nyaman.
Tapi belum semua penumpang yang seharusnya berjumlah delapan orang itu muncul.
Rama, Dinda dan Lukas yang satu keluarga.
Kemudian ada seorang mahasiswi cantik berkacamata yang bernama Nali.
Dan seorang kakek yang terlebih dahulu mengajak berkenalan dan mencairkan suasana yang namanya adalah Kristo.
Baru lima orang penumpang yang hadir sesuai dengan tiket dan pemesanan.
Masih butuh tiga orang penumpang lagi yang belum terlihat di tempat travel gas rem dan ditunggu.
06:40
Seharusnya Bono sudah tancap gas dari sepuluh menit yang lalu.
Tapi kaki kanannya harus lebih dahulu bersabar dan menahan.
Nisa pun datang menghampiri mobil putih yang kursinya masih juga belum penuh.
"Berangkat sekarang Pak Bono",
"Satu orang penumpang batal berangkat",
"Dua orang penumpang menunggu di pertigaan lampu merah dekat dengan pom bensin",
"Siap mbak Nisa",
"Bismillahirrahmanirrahim",
"Mari semuanya kita berangkat",
"Silahkan jangan lupa berdoa, sesuai dengan kepercayaannya masing-masing",
Tempat duduk
Rama, Dinda dan Lukas duduk di bangku paling belakang.
Mereka bertiga berjejer bersebelahan.
Nali duduk di bangku belakang sopir. Sedangkan Kristo duduk di bangku samping pintu.
Tepat di depan Lukas yang memilih duduk di bangku pojok kiri belakang yang dekat dengan kaca jendela.
"Katanya mobil ini bakalan full delapan orang pak?",
Rama yang penasaran bertanya kepada Bono.
"Yang dua menunggu di pertigaan lampu merah dekat dengan pom bensin",
"Yang satu lagi batal berangkat",
"Yang satu kenapa batal berangkat pak?",
"Kalau alasannya kenapa aku tidak tahu persis mas",
"Kalian mau permen?",
"Tadi aku mampir ke pasar beli permen jahe wangi",
"Untuk penyegar mulut dan penghangat tenggorokan",
Kristo menawarkan permen berbentuk bulat berwarna coklat kepada para penumpang yang lain.
"Tidak pak terimakasih",
"Aku mau satu dulu saja",
"Terimakasih pak",
Satu orang penumpang yang batal berangkat
"Kamu kenapa ngos-ngosan begitu?",
Malam hari masih belum selesai.
Seorang remaja yang dijadwalkan akan berangkat esok pagi bersama para penumpang yang lain melewati jalur baru terbangun karena sebuah mimpi.
"Aku mimpi buruk nek",
Remaja yang tinggal bersama neneknya itu menghampiri kasur tidur nenek untuk mengadu.
"Kamu mimpi apa sampai gemetaran begitu?",
"Aku mimpi dikejar-kejar anjing hitam nek",
"Berapa jumlah anjing hitam yang ada di dalam mimpi mu itu?",
"Ada lima nek",
"Apakah kelima-limanya mengejar mu semua?",
"Iya nek",
"Kalau begitu... ",
"Batalkan perjalanan mu esok hari",
"Kamu tidak usah pulang dulu ke kampung",