Agatha Tatjana Putri gadis biasa yang bukan cucu atau anak dari kiai atau ustadz, yang bar-barnya bisa bikin orang berkali-bali istighfar, gadis biasa yang tiba-tiba di sukai hingga dilamar oleh anak Kiai pemilik pesantren ternama.
Gus Zayn Raffan El-fatih anak pertama dari pemilik ponpes Al-Muhadzirin ponpes yang banyak di minati, termasuk Gus Zayn nya sendiri banyak yang minat. paras yang hampir sempurna, dan pewaris.
Pertemuan yang tak pernah ia bayangin, bisa merubah jalan hidupnya, yang tadinya berniat untuk kuliah malah tinggal di lingkungan pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisqttz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Ponpes Al-Muhadzirin.
Setelah sholat zuhur, Agatha merasa bosen berada di ndalam terus, ia meminta izin kepada Ummi Farah dan Abah Hamdan untuk melihat sekeliling pesantren.
Agatha berkeliling pesantren, ada yang melihatnya dengan sorotan tajam, dan ada juga yang melihatnya kagum.
saat sedang asik berkeliling sambil melihat-lihat sekitar, tiba-tiba ia melihat sebuah pohon mangga yang lebat buahnya.
Agatha melihat ke sekeliling setelah merasa aman, ia tanpa babibu langsung memanjat pohon itu dengan ke ahliannya.
Agatha memetik mangga yang terlihat sudah hampir mau matang, lalu mengigit nya dan memakannya.
"Ternyata enak juga tinggal disini, pertama gua ngerasa ga sendiri, kedua gua bisa belajar agama, dan " monolog nya sambil mengunyah buah mangga.
" Ini si yang paling gua suka disini ada pohon buah uwahhh" ucapnya.
"Nikmat mana lagi yang kau dustakan. "
dirasa sudah puas memakan mangga, lalu ia menutup matanya sambil merasakan angin yang menerimanya. sambil mengayunkan kakinya, tiba tiba sendal yang ia kenalan terjatuh.
Bruk..
"Ups!! " Agatha menutup mulutnya pakai tangan saat sendalnya jatuh mengenai seseorang di bawah sana.
Orang itu melihat barang yang menyentuh kepalanya, ia mengambil sendal itu lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat ke atas pohon
Ia melihat siapa yang berada disana, lalu membuang napas kasar saat tahu siapa yang berada di sana.
belum ia berkata dia melihat sahabat nya sudah tertawa puas menertawakan dirinya.
"Puas? " kata Zayn kepada Ali membuat Ali langsung menutup mulutnya.
ya yang tertimpa sendal tadi adalah Zayn yang sedang berkeliling melihat pesantren sambil di temani oleh Ali.
"Maaf Gus" ucap Ali.
Zayn dengan malas, lalu berkata "Agatha mau turun atau mau di hukum? " tanya Zayn.
Agatha bukan nya menjawab ia malah menampilkan senyumnya yang merekah
"Turun Agatha!! " titah Zayn.
"Iya iya ini juga mau turun bawel, sabar dong kalau di buru-buru nanti yang ada gue ja___" belum selesai ngucap ia terpeleset saat ingin menginjak ranting yang lain.
Agatha jatuh kebawah dan untungnya dan yang kesekian kalinya ia tidak jatuh dan mencium tanah, Agatha di tangkap oleh Zayn dan kini ia berada di gendongan lelaki itu dan masih menutup matanya.
Ali yang sempat panik akhirnya bernapas dengan lega, "Hampir jatuh. "
"Akmm" Zayn berdehem membuat Agatha membuka matanya perlahan, dan pertama kali ia lihat adalah manik lelaki itu.
"Ganteng! " gumamnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Zayn.
Zayn menurunkan Agatha dari gendongannya. "Lo tuh ya, Astagfirullah lo tuh perempuan loh" ucap Zayn sambil beristiqhfar.
"Emang perempuan. emang lo ga bisa liat apa! " jawab Agatha sambil memakai sendal nya yang tadi menimpa Zayn.
Ali terkekeh pelan, "Maksud Gus Zayn itu, lo perempuan tapi tingkah kaya lelaki pake manjat segala," ucapnya.
Agatha hanya ber'oh' ria. "Makasih ya Gus ganteng, gua pamit dulu Assalamu'alaikum, " ucap Agatha langsung berlari menjauh dari Zayn sebelum lelaki itu mengamuk dan menghukumnya.
Ali yang melihat itu menggeleng kepalanya, "Cantik tapi bar-bar, " ucap Ali, yang mendapat tatapan tajam dari Zayn.
••••••
Dirasa aman ia segera menekankan langkahnya dan berjalan santai sambil melihat kekiri kekanan, beberapa kali ia berdecak kagum.
saat sedang fokus melihat ke arah kanan ia menabrak seseorang yang baru saja berbelok.
Bruk.
Agatha terjatuh ke lantai dan juga seseorang yang ia tabrak juga.
"Aw.. pantat gue sakit, " rintih Agatha sambil memegang yang sakit.
Orang yang baru di tabrak nya itu berdiri dan melihat tajam kearah Agatha, merasa tidak suka di tatap Agatha bangun dan merapihkan roknya.
"Gue tau gue cantik, jadi jangan lihat gue kaya gitu, " ucap Agatha pede.
"Ck. masih cantikan juga gua, " ucap Maya.
Agatha kaget dengan tutur seseorang yang ada di hadapannya, lalu melihat dari atas lalu ke bawah dan ke atas lagi.
"Ngapain lo ngeliatin gua kaya gitu? " tanya Maya.
Agatha hanya menggelengkan kepalanya pelan, "Lo santri baru disini? " tanya Maya.
"Kenapa emang kalau gue baru disini? " tanya balik Agatha.
"Pantes ga punya akhlak, " ucap Maya.
"What!! " pekik Agatha. "Lo bilang gue ga punya akhlak, tau apa lo tentang akhlak gue? " Agatha mengepalkan tangannya.
"Emang iya toh, buktinya kalau lo punya Akhlak setelah menabrak orang harus nya lo minta maaf, " ucap Maya.
Belum sempat Agatha berkata kembali, tiba tiba ada yang memanggilnya.
"Ning Agatha! " pekik Zahra yang berada di belakangnya.
Agatha melihat Zahra dengan alis yang terangkat. "Ning ngapain berada di sini? " tanya Zahra sambil melirik ke arah Maya.
Maya yang mendapat lirikan dari Zahra memutar matanya malas.
"Niatnya si mau lihat-lihat eh tahu nya ketemu sama manusia ini, " ucap Agatha.
"Zahra tadi kamu panggil dia apa? 'Ning' dia bukan santri baru disini? " tanya Maya.
Zahra menggelengkan kepalanya, "Ummi dan Abah yang membawanya kesini, dia juga tidak berada di asrama, dia tinggal di ndalam" jelas Zahra.
Belum sempat Maya bicara lagi Agatha sudah di tarik pergi dari hadapan Maya.
"Kamu ngapain toh, bersama Maya? " tanya Zahra.
"Oh dia Maya, gue tadi gak sengaja nabrak dia, " jelas Agatha.
Zahra merasa tenang saat mendengar jawaban Agatha.
"Tapi ning tidak di apa-apain kan? " tanya Zahra. Agatha hanya menggelengkan kepalanya.
"Alhamdulillah, Maya itu sering bully santri baru soalnya ning, " jelas Zahra, Agatha berhenti sejenak.
"Bully? " Zahra mengangguk, "Gue pikir di SMA doang ternyata di Ponpes juga ada. "
Kini mereka sudah berada di ndalam, Zahra pamit untuk kedapur setelah sampai, dan Agatha kembali ke dalam kamarnya.
•••••
Keesokan harinya, pagi hari yang begitu cerah, sinar matahari yang terlihat dari upuknya. Hari ini Agatha akan kembali ke Apartemen nya karna lebam di wajahnya dan luka di kakinya sudah semakin membaik.
Ummi dan Abah sebenarnya masih menginginkan Agatha agar tinggal lebih lama di sini, namun gadis itu menolak karna ada kuliah yang harus ia jalanin.
Setelah sarapan tadi Agatha sudah pamit dengan Abah dan Ummi, setelah menempuh perjalanan 1 jam lama nya akhirnya ia sampai di apartemen Agatha.
Agatha keluar dari mobil, begitu juga dengan Zayn dan Laila yang ikut keluar.
"Makasih Gus Lai sudah mengantar Agatha, " ucap Agatha.
Laila memeluk Agatha erat seakan tidak ingin melepasnya.
"Laila pasti bakal kangen sama kakak, " ucap Laila.
Agatha membalas pelukan itu, dan mengusap punggung Laila, "Nanti kita ketemu lagi ya, dan kalau ada waktu kamu bisa main kok kesini" ucap Agatha.
Laila mengangguk dan melepas pelukannya, "Kita balik, " ucap Zayn.
"Kalian gak mau mampir dulu? " tanya Agatha.
"Masih ada urusan," ucap Zayn, Agatha hanya tersenyum mendengarnya.
"Baik, Hati-hati di jalan."
Setelah sampai ia langsung membuka pintu, dan melihat sekeliling, 'Sepi' hanya ada dirinya tidak seperti tempat Ummi dan Abah yang banyak orang, Agatha langsung duduk di sofa dan menyalakan TV.
saat sedang asik menonton TV tiba-tiba bel berbunyi, ia langsung mendekat dan membukanya.
"Teteh? " pekik seseorang saat melihat Agatha, dan langsung memeluknya.
"Nai udah, ayuk masuk" Agatha melepas pelukannya dan mengajak Nai masuk kedalam.
"Teteh dari mana saja, Kak Mela nyari teteh, udah dua hari dia selalu ke tempat Nai Nai. " kata gadis itu.
Namanya Naila usia nya 15 tahun, biasa di panggil Nai Nai, Naila ini adalah tetangga nya di apartemen.
"MasyaAllah lupa Nai, teteh lupa ngabari kak Mela. ponsel teteh dari kemarin mati karna lupa di charger, " jelas Agatha.
Agatha langsung berlari ke arah kamar dan mengambil charger untuk handphone nya.
Agatha membuka jilbab, dan menaruh nya di senderan sofa, mata Naila terus fokus kepada Agatha tanpa berkedip.
"Awas nanti copot tuh mata Nai, " ucap Agatha membuat fokus Naila hilang.
Naila tersenyum, "Teteh cantik"
Pipi Agatha memanas mendapat pujian dari bocah di sampingnya.
"Kan emang teteh selalu cantik, " ucap nya.
••••••
Kini dua gadis sedang berkeliling supermarket untuk memilih makanan dan bahan-bahan masakkan, sudah hampir 15 menit melihat-lihat tapi belum juga menemukan apa yang mereka inginkan.
"Mel? " panggil Agatha.
"Emm"
"Gue pegel," rengek Agatha.
Mela tahu apa maksud sahabatnya ini dan lalu menganggukan, Agatha tersenyum senang mendapat jawaban dari Melda.
gadis itu lngsung naik ke troli, dan Mela yang mendorong.
"Berat banget, banyak dosa lo ya" ucap Mela.
"Ia beberapa hari ini gua dosa banget, sering napat Gus ganteng di ponpes, " ucap Agatha.
"Ck.kaga ngajak ngajak lo, " ucap Mela sambil menaruh beberapa snak.
"Mal, lo udah siap buat masuk kuliah minggu depan? " tanya Agatha tiba-tiba.
Mela mengerutkan dahinya, "Iya kenapa emang? lo belum siap? " tanya Mela.
Agatha diam tidak menjawab ia malah memainkan snak yang ia pegang.
Mela yang melihat itu sedikit curiga apa sahabat nya ini ada masalah atau apa.
"Agatha? " panggil Mela, Agatha sadar lalu berdehem sebentar sebelum menjawab, "Kaya nya gue ga mau kuliah deh, gue pengen mondok aja. "
Mela mengerutkan dahinya, menatap curiga pada sahabatnya itu, "Bukan kerna si Gus Gus itukan? "
Agatha menggelengkan kepalanya lemah, "Gue pengen belar agama labih Mel. "
"Mama lo? " tanya Mela.
"Mungkin nanti gua bakal bicarain itu sama mama gua, kalau di izinin gue gak bakal kuliah dan milih buat tinggal di pesantren aja. "
Mela anggukan kepalanya, ia paham maksud dari sahabatnya, dan selalu dukung apapun keputusan yang di ambil Agatha.
"Mau mondok dimana? " tanya Mela.
"Al-Muhadzirin! " ucapnya sambil membuka snak yang ia pegang.
Mela menghentikan langkahnya, sebelum ia memekik membuat Agatha membulatkan matanya.
"Hah! SERIUS LO? " pekik Mela, kaget dengan jawaban sahabatnya itu.
Tak!
Agatha melempar snak tepat di mengenai Mela, "Berisik bego, biasa aja dong gak usah dramatis gitu. " sedang, Mela hanya memperlihatkan deretan giginya.
"Ponpes Al-Muhadzirin, pondok yang terkenal dan banyak di minati, milik Abah Hamdan? "
Agatha hanya mengangguk, membenarkan perkataan Mela.
•
•
•
•
Huhhh! segini dulu ya pren nanti lagi kita lanjut....
see you next chapter! bye bye bye.....