Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: MALAM PERTAMA DI NERAKA EMAS & PERSIAPAN MENUJU SEKOLAH ELIT
Bab 3: Malam Pertama Di Neraka Emas & Persiapan Menuju Sekolah Elit
Suara jangkrik dari arah taman belakang terdengar bersahut-sahut, menyelinap masuk melalui celah jendela kecil berteralis besi di kamar pojok lantai dasar. Malam telah larut, dan jam dinding kuno di lorong pelayan baru saja berdentang sebanyak sebelas kali. Di lantai dua bangunan utama, keluarga Elrod mungkin sedang menikmati tidur nyenyak di atas kasur bulu angsa yang empuk, atau mungkin Alethea sedang tersenyum puas di dalam kamar mewahnya karena berhasil menendang sang putri kandung asli ke tempat pembuangan.
Sementara di sini, di ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang pengap, Valerie Vespera masih terjaga.
Udara malam yang dingin terasa menusuk kulitnya lewat sela-sela sweter rajut birunya yang longgar. Debu-debu halus yang beterbangan di udara sempat membuatnya terbatuk kecil beberapa kali, namun sepasang mata hitam pekat milik Valerie tetap terkunci lurus pada layar ponsel pintarnya yang retak seribu. Cahaya biru dari ponsel itu memantul di wajahnya yang tirus, memancarkan kilat kalkulatif yang sangat dingin.
Kruk...
Perut Valerie berbunyi nyaring. Dia meremas bagian tengah tubuhnya itu dengan sebelah tangan tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. Sejak menginjakkan kaki di rumah ini sore tadi, tidak ada satu pun pelayan yang datang mengetuk pintunya untuk mengantarkan makanan. Valerie tahu ini bukan karena para pelayan teledor. Di kehidupan lalunya, atas hasutan dan akting ketakutan Alethea—yang mengisyaratkan kepada kepala pelayan bahwa Valerie adalah gadis panti asuhan yang temperamental dan tidak suka diganggu—para pelayan sengaja mengisolasi Valerie demi mengambil hati si anak emas palsu.
Di kehidupan pertamanya dulu, Valerie muda akan menangis kelaparan di sudut ruangan ini. Dia akan merasa terhina, lalu nekat menggedor pintu dapur utama sambil marah-marah, yang berakhir dengan dirinya dicap sebagai "gadis liar tak tahu tata krama" oleh kakak-kakak kandungnya karena berani membentak pelayan di malam hari.
"Kelaparan egois ini tidak akan membunuhku," bisik Valerie pada kesunyian malam. Suaranya terdengar begitu datar, tanpa ada nada mengasihani diri sendiri. "Tapi kemiskinan dan ketergantungan pada belas kasihan Elrod yang akan membunuhku secara perlahan."
Valerie mengabaikan rasa perih di lambungnya. Fokus utamanya malam ini adalah mengamankan posisi finansialnya sebelum fajar menyingsing. Dia membuka kembali aplikasi brokernya untuk memastikan antrean beli saham INOV (PT Inovasi Semesta Tbk) miliknya sudah terkunci di sistem bursa sebelum pasar dibuka esok pagi.
Saldo digital akun anonimnya tertulis jelas: Rp0,00 (Setelah dikonversi seluruh Rp300.000,00 miliknya ke dalam bentuk 60 lot saham di harga Rp50 per lembar).
Bagi orang-orang di rumah ini, tiga ratus ribu rupiah mungkin tidak cukup untuk membeli sebotol air mineral premium yang biasa disajikan di meja makan Gilbert Elrod. Tapi bagi Valerie, tiga ratus ribu ini adalah benih dari sebuah kekaisaran finansial yang akan menelan Elrod Corp bulat-bulat.
"Besok pagi jam sembilan, pasar akan dibuka. Dan jam dua siang, dunia keuangan kalian akan berguncang," gumam Valerie dengan senyuman tipis yang teramat tajam. Dia mematikan layar ponselnya, meletakkannya di samping bantal usangnya, lalu memejamkan mata. Dia butuh menghemat energi. Besok adalah hari pertamanya menginjakkan kaki di SMA Elit Garuda, dan dia harus tampil prima untuk menghadapi panggung sandiwara baru.
Keesokan paginya, Valerie terbangun tepat saat jam dinding tua di lorong pelayan berdentang lima kali. Tubuhnya terasa agak kaku karena tidur di atas dipan kayu yang keras tanpa alas kasur yang layak, namun matanya langsung terbuka lebar penuh kesadaran. Tidak ada setitik pun rasa kantuk atau malas di sepasang mata hitam itu.
Dia bangkit, berjalan ke kamar mandi umum pelayan di bagian belakang dengan membawa handuk kecil dari pantinya, membersihkan diri dengan air dingin yang menyegarkan, lalu kembali ke kamar untuk bersiap.
Valerie membuka lemari pakaian kecil yang miring di sudut kamar. Di dalamnya, sudah tergantung sepasang seragam sekolah SMA Elit Garuda. Sebuah kemeja putih berbahan premium dengan lambang rajutan elang emas di dada kiri, dipadukan dengan rok lipit bermotif tartan berwarna biru dongker. Namun, saat Valerie memakainya, kemeja itu terasa agak longgar di tubuhnya yang tirus akibat kurang gizi selama di panti.
"Formalisasi status sosial yang menggelikan," komentar Valerie pendek saat berkaca di cermin kecil yang buram.
Dia menyisir rambut hitam bergelombangnya dengan rapi, lalu menyampirkan tas ransel kain kanvas usangnya di satu bahu. Dia sengaja tidak memakai perhiasan atau riasan apa pun. Di dalam tasnya, selain buku catatan kecil dan pulpen dua ribu rupiah, hanya ada ponsel retak seribu yang kini menjadi senjata paling mematikan di tangannya.
Saat Valerie melangkah keluar dari lorong belakang menuju area lobi depan untuk berangkat, dia berpapasan dengan ibunya, Victoria Elrod, dan Alethea yang sudah tampil sangat memukau. Alethea mengenakan seragam sekolah yang sudah dimodifikasi oleh penjahit pribadi keluarga agar pas di tubuhnya yang sintal, lengkap dengan tas ransel bermerek Chanel seharga puluhan juta rupiah dan sepatu kulit mengkilap.
Begitu melihat Valerie berjalan dengan seragam yang agak longgar dan tas kanvas usangnya, Alethea langsung memasang wajah terkejut yang dramatis. Dia buru-buru menggandeng lengan Victoria dengan manja.
"Mama... lihat Kak Valerie. Seragamnya kok kelihatan kebesaran begitu ya?" suara Alethea terdengar begitu lembut, penuh perhatian yang dibuat-buat, namun nadanya sengaja dikeraskan agar para pelayan yang sedang menyapu lobi bisa mendengar. "Apa Alethea boleh membelikan Kak Valerie tas baru sepulang sekolah nanti? Alethea gak tega lihat Kak Valerie pakai tas usang itu ke sekolah kita... nanti teman-teman di Garuda bisa menggunjingkan nama baik keluarga Elrod..."
Victoria menghela napas panjang, menatap Valerie dengan pandangan yang rumit dan dipenuhi rasa risih yang mendalam. "Valerie, kalau kamu butuh barang-barang baru, kamu bisa bilang ke Mama. Jangan sengaja memakai barang usang dari panti asuhanmu itu ke sekolah. Papa dan Mama tidak pernah melarangmu membeli sesuatu, asalkan kamu tahu tempat."
Kalian tidak melarang, tapi kalian juga tidak pernah memberi saya fasilitas, akses kartu, atau uang sepeser pun sejak saya tiba kemarin, batin Valerie dingin. Di kehidupan lalu, Valerie yang berdarah panas akan langsung berteriak protes karena merasa disudutkan. Dia akan berteriak: "Gimana gue mau beli tas baru kalau Mama bahkan gak ngasih uang sepeser pun dari kemarin?!" Dan tebak apa yang terjadi? Alethea akan menangis, lalu Christian atau Nicholas akan datang membentak Valerie karena dianggap tidak sopan pada ibu kandungnya.
Kali ini, Valerie hanya berdiri tegak dengan postur yang sempurna. Wajahnya sedingin es mati saat menatap lurus ke mata Victoria.
"Tidak usah, Nyonya Victoria," jawab Valerie dengan nada suara yang sangat tenang dan formal. Panggilan 'Nyonya' itu kembali membuat dada Victoria terasa seperti dihantam batu besar. "Tas ini masih berfungsi dengan baik untuk membawa buku. Saya tidak suka membuang-buang waktu dan energi untuk memikirkan gengsi dari sebuah merek yang fungsinya sama saja."
Victoria tersentak, wajahnya mengeras karena egonya sebagai sosialita kelas atas merasa tersinggung oleh ketidaktertarikan Valerie. "Ya sudah kalau itu maumu! Oh, iya, hari ini mobil jemputan utama hanya cukup untuk Alethea dan teman-teman gengnya karena mereka ada proyek kelompok yang harus dibawa pagi ini. Kamu bisa naik bus umum atau taksi sendiri di depan gerbang kompleks."
Alethea yang berdiri di balik punggung Victoria diam-diam menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat tipis. Dia tahu betul bahwa kompleks perumahan elite keluarga Elrod ini sangat luas dan eksklusif. Untuk mencapai halte bus atau pangkalan taksi terdekat di luar gerbang utama, Valerie harus berjalan kaki sejauh hampir lima kilometer di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat.
Di kehidupan pertamanya, Valerie akan menangis mendengar keputusan tidak adil ini. Dia akan memohon-mohon agar bisa disempit-sempitkan di dalam mobil, namun abang keduanya, Christian, langsung mendorongnya menjauh dan menutup pintu mobil tepat di depan wajahnya.
Sekarang? Valerie bahkan tidak berkedip. Dia hanya mengangguk kecil dengan ekspresi datar yang abai. "Baik."
Tanpa membuang kata-kata atau menunggu pamit, Valerie langsung berbalik badan. Dia melangkah mandiri dengan punggung tegak lurus melewati pintu besar kediaman Elrod. Langkah kakinya yang dibalut sepatu kain tipis bergesek konstan dengan aspal jalanan kompleks yang sepi. Angin pagi menerpa rambut hitamnya yang terurai, dan setiap meter jarak yang memisahkannya dari rumah Elrod justru terasa seperti langkah menuju kebebasan mutlaknya.
Sambil berjalan kaki menyusuri jalanan kompleks yang dikelilingi pohon-pohon palem mewah, Valerie merogoh ponsel pintarnya. Jam digital di layar menunjukkan pukul 09.02 pagi.
Pasar saham telah resmi dibuka dua menit yang lalu.
Valerie membuka aplikasi brokernya dengan detak jantung yang sangat stabil. Begitu grafik berkode INOV muncul di layarnya, sepasang mata Valerie langsung berkilat penuh kemenangan yang mengerikan.
Grafik saham INOV yang tadinya berupa garis lurus horizontal mati di angka Rp50 selama berbulan-bulan, mendadak melesat vertikal ke atas membentuk garis hijau tebal yang memotong papan bursa. Meskipun berita resmi baru akan dirilis jam dua siang nanti, namun beberapa investor institusi besar tingkat tinggi tampaknya sudah mulai mencium pergerakan insider trading dan langsung melakukan aksi borong tanpa ampun.
Harga saham INOV pagi ini langsung melonjak:
Rp50 $\rightarrow$ Rp58 $\rightarrow$ Rp67... dan terus meroket hingga terkunci di batas tertinggi harian, Auto Rejection Atas (ARA) pada kenaikan +35% di harga Rp67,5 per lembar saham.
Karena tidak ada satu pun orang yang mau menjual sahamnya di tengah sentimen gila ini, antrean beli melonjak hingga jutaan lot. Dan Valerie Vespera adalah salah satu dari sedikit orang di dunia yang sudah mengamankan posisi paling bawah di harga Rp50 sejak tadi malam.
Valerie melakukan kalkulasi cepat di dalam kepalanya. Sesuai dengan memori masa depannya, saham INOV akan terus mengalami ARA berjilid-jilid setiap hari tanpa henti selama dua minggu berturut-turut. Uang tiga ratus ribu rupiah milik Valerie yang dibelikan 60 lot saham, dalam waktu singkat akan mengalami efek bola salju yang sangat masif murni dari kapitalisme pasar.
Valerie menghentikan langkah kakinya tepat di depan gerbang kompleks luar. Dia menatap layar ponselnya yang menampilkan portofolio hijaunya yang mulai mekar, lalu beralih menatap langit pagi yang cerah di atas kota metropolitan.
Sebuah senyuman dingin yang teramat anggun dan menakutkan terukir di bibir indahnya.
"Selamat menikmati ilusi kemenangan kalian untuk sementara waktu, keluarga Elrod. Manjakanlah ular kecil kalian yang bernama Alethea itu dengan seluruh kemewahan yang kalian miliki," bisik Valerie dengan nada suara yang penuh dengan racun kemenangan yang tenang. "Karena dari dalam kamar pojok bekas gudang yang kalian berikan, aku akan memastikan bahwa nama Valerie Vespera adalah nama terakhir yang akan meruntuhkan seluruh martabat finansial dan merobek takhta bisnis kalian di dunia ini."
Dengan langkah yang mantap dan dipenuhi oleh aura dominasi yang tak kasat mata, Valerie melangkah masuk ke dalam bus kota yang baru saja berhenti di depannya, bersiap untuk menginjakkan kaki di SMA Elit Garuda sebagai awal dari penulisan ulang takdirnya yang absolut.
Bersambung....
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
......................