NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Dunia Zei tadinya hanya sebatas sawah berlumpur dan beratnya cangkul di pundak. Sampai akhirnya, Turnamen Musim Semi mengubah segalanya. Di atas arena, Zei melihat Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih bertarung. Gerakannya bukan sekadar bela diri, melainkan tarian maut yang terlampau indah untuk disaksikan oleh mata seorang petani miskin.

​Sejak detik itu, Zei menolak takdir lahirnya. Ia tak butuh pedang pusaka; dengan Qi elemen tanah yang brutal dan alat tani yang ia tempa menjadi senjata, Zei menantang dunia persilatan. Ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen, menghancurkan cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya tak lebih dari sampah yang bermimpi menyentuh bintang.

​Di saat para pendekar lain bertarung demi kekuasaan dan keabadian, alasan Zei mengayunkan senjatanya sangat sederhana dan naif: ia hanya ingin membuktikan diri pantas berdiri di panggung yang sama, dan melihat sang bulan menari di hadapannya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

​GONGGG!

​Gema dengungan gong perunggu belum sepenuhnya luruh di udara ketika Gao sang Jagal menghentakkan tumitnya. Seketika, gelombang Qi elemen logam yang teramat dingin dan setajam belati meledak, menyapu seluruh penjuru arena kuarsa putih. Udara di sekitar Zei mendadak dicekik oleh aroma karat darah yang menyengat, disusul tekanan hawa membunuh yang begitu pekat hingga membuat penonton di barisan terdepan merinding pucat.

​Gao memamerkan seringai iblisnya, sepasang kapak raksasa di tangannya mulai memancarkan pendar kelabu maut yang siap mencincang mangsa.

​Tanpa sekerat peringatan, Gao melesat. Fisiknya yang menyerupai beruang gunung bergerak dengan kecepatan tak masuk akal, didorong letupan energi logam dari tapak kakinya. Kapak raksasanya menyapu horizontal, membelah udara dengan desingan yang memekakkan telinga.

​Zei, yang urat-uratnya belum sepenuhnya pulih, lekas merendahkan kuda-kudanya. Ia memanggil Qi bumi secara instan, memicu pendaran Zirah Sisik Naga di bawah sisa-sisa jubah raminya.

​BUMMM!

​Bilah kapak Gao menghantam lengan kiri Zei yang terangkat menangkis. Benturan itu meledakkan dentang nyaring bak dua tebing besi yang saling bertabrakan. Namun, kebuasan Gao berada di dimensi yang jauh berbeda dari lawannya sebelumnya. Momentum kapak itu terlampau masif, memaksa kedua tumit Zei amblas meremukkan panggung kuarsa sedalam beberapa inci. Sisa kain rami di lengannya hancur menjadi serpihan debu, dan garis darah segar perlahan merembes dari kulit legam Zei—pertahanan Sisik Naganya berhasil digores oleh ketajaman elemen logam tingkat tinggi.

​Zei meringis menelan perih, tubuhnya terdorong mundur terbawa momentum. Koloseum seketika meledak oleh sorak-sorai bengis, menanti sang anak lumpur berakhir menjadi cacahan daging di bawah kaki Gao.

​"Hanya segini napasmu, Tikus Sawah?!" raung Gao. Ia mengangkat kedua kapak kembarnya tinggi-tinggi ke udara, bersiap mengeksekusi tebasan vertikal penjemput maut. "Kembalilah ke tanah!"

​Melihat maut menganga di atas kepalanya, kepanikan justru menguap dari mata Zei. Di tengah dentuman jantungnya yang berpacu gila, gema wejangan Tetua Gu semalam menyambar jernih di benaknya. 'Logam lahir dari rahim bumi, maka bumi adalah penguasa mutlaknya. Jangan bodohi dirimu dengan tameng daging. Gunakan gravitasi planet ini sebagai penjara mereka.'

​Zei menarik napas dalam-dalam. Kali ini, ia tidak menarik Qi buminya ke lengan. Sebaliknya, ia mengosongkan sisa energi dari inti dantian-nya, memompanya deras bagai air bah melewati telapak kaki kanan, lalu menyuntikkannya secara ekstrem ke dalam panggung kuarsa tepat di bawah pijakan Gao melalui teknik Bumi Bergeser.

​Tepat pada sepersekian detik sebelum bilah kapak membelah dahinya, panggung kuarsa padat di bawah Gao mendadak bergolak melunak. Lantai batu itu mencair pekat layaknya rawa lumpur penghisap dalam satu kedipan mata. Kedua tungkai Gao yang tengah menumpu beban maksimal serangannya, langsung amblas tertelan sedalam lutut.

​"Apa?!" rahang Gao jatuh, terpekik ngeri kala pijakannya sirna ditelan bumi.

​Sebelum sang jagal sempat menarik kakinya, Zei menghentakkan telapak kaki kirinya. Rawa kuarsa cair itu seketika mengeras kembali, berubah wujud menjadi pasak batu beralaskan kekuatan planet yang mencengkeram kaki Gao hingga mustahil digerakkan walau seujung rambut. Momentum vertikal kapak raksasa itu langsung terserap habis, melenceng kaku dan menghantam ruang hampa hanya sejengkal dari pelipis Zei.

​"Sekarang, biarkan bumi yang menelan logammu," desis Zei, pupil matanya berkilat sedingin malam.

​Memanfaatkan posisi Gao yang terpasung mati, Zei merangsek masuk merobek jarak pertahanan. Sadar nyawanya terancam, Gao lekas mengaktifkan mekanisme Zirah Landaknya; puluhan duri baja mencuat brutal dari pelindung dadanya, siap merobek jantung Zei jika ia terus melangkah.

​Namun, sang anak lumpur telah membaca arah angin. Sembari melesat, tangan kanan Zei menyapu puing-puing kuarsa yang hancur di udara, memadatkannya dengan Qi bumi tingkat tinggi hingga serpihan itu membentuk gauntlet bergerigi batu alam yang menyelimuti kepalan tangannya.

​Memodifikasi fondasi Jurus Membajak Bumi menjadi hantaman lurus jarak pendek, Zei melesatkan tinju kuarsanya menembus celah duri, tepat menghantam titik pusat meridian di ulu hati Gao.

​PRAKKK!

​Zirah baja murni milik Gao yang tersohor mustahil ditembus, seketika retak merayap dan hancur berantakan diterjang kemurnian energi planet yang masif. Hantaman Zei tak berhenti di sana; ia melepaskan ledakan susulan yang bersarang di dada Gao, mengirimkan gelombang kejut yang melumpuhkan seluruh jaringan meridian logam sang jagal dari dalam.

​HOEKKK!

​Gao memuntahkan gumpalan darah sepekat lumpur hitam. Sepasang kapak mautnya terlepas kelon, berdenting jatuh di atas kuarsa, disusul tubuh besarnya yang merosot berlutut hancur di hadapan Zei. Napasnya putus-putus, wajahnya seputih kapas; seluruh tenaga dalamnya telah dibungkam paksa oleh pasak bumi Zei.

​Wasit turnamen melangkah gontai, wajahnya terdistorsi oleh ketidakpercayaan yang memuncak. Setelah memastikan sang jagal kehilangan kesadaran tempurnya, ia mengayunkan bendera dengan tangan bergetar. "Pemenang... Zei dari Desa Danau Keruh!"

​Koloseum kembali meledak oleh gemuruh histeria kepanikan. Dua kali berturut-turut, seorang rakyat jelata tanpa panji sekte sukses meremukkan monster kota lewat pembantaian yang teramat brutal dan menentang nalar.

​Zei menurunkan lengannya yang kebas, membiarkan pelindung kuarsanya meluruh kembali menjadi debu tertiup angin. Sebelum Gao benar-benar tenggelam dalam ketidaksadaran dan ambruk ke lantai, jagal bayaran itu mendongak, menatap Zei dengan paduan teror dan penghormatan yang ganjil.

​"Kau... iblis sejati, Petani," bisik Gao, suaranya berupa parauan basah karena darah. "Namun... berhati-hatilah. Tikus-tikus di Sekte Taring Besi... takkan membiarkanmu bernapas di luar gerbang kota setelah kau meremukkan ladang koin emas mereka..." Usai meludahkan peringatan itu, mata Gao berputar putih, raganya terhempas mencium tanah.

​Zei berdiri tegak bagai pilar langit di jantung arena, membiarkan badai sorak-sorai itu melewatinya. Ia mendongak perlahan, menembus awan buatan menuju tribun VIP. Di sana, tepat di sisi Qian Yue’er yang kini menatapnya dengan intensitas yang mengunci napas, berdirilah seorang pria paruh baya berbalut jubah abu-abu mewah dengan sulaman taring emas melingkar di pundaknya.

​Sang Master Sekte Taring Besi.

​Pria itu menatap lurus membelah jarak menuju Zei. Sepasang matanya memancarkan hawa membunuh yang begitu pekat dan hitam, seolah tengah mencabik-cabik raga Zei hidup-hidup dari kejauhan. Zei mengepalkan tinjunya erat-erat, membalas tatapan maut itu tanpa berkedip. Anak lumpur itu akhirnya sadar; rentetan kemenangannya hari ini memang memangkas jaraknya menuju rembulan di langit, namun di saat yang bersamaan, ia baru saja membangunkan naga-naga buas yang siap menelannya hidup-hidup di bumi.

1
yulius hans
kok ngak tamat sich
Mamat Stone
sehat dan sukses selalu Thor 💪💪💪
Danzo28: aminnn
terimakasih ya
selanjutnya
sehat selalu 🥳🥳
total 1 replies
Mamat Stone
🤔
Mamat Stone
/Determined//Determined//Determined/
Mamat Stone
/Angry//Angry//Angry/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
😈/Determined/😈
Mamat Stone
😈/Angry/😈
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
buktikan merah Mu Jagoan Neon 😈
Mamat Stone
waktunya Jagoan Neon beraksi 😈
Mamat Stone
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!