Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.
Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.
Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.
Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.
Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Pemangsa dan Pion
lMatahari kembar mulai terbenam perlahan di ufuk barat.
Bagi orang lain, pemandangan langit yang berwarna jingga kemerahan ini mungkin terlihat indah, romantis, atau damai. Tapi bagi gua, warna itu cuma satu arti: waktu siang sudah habis, dan makhluk-makhluk buas yang berburu di kegelapan akan segera keluar dari sarangnya.
Gua berjalan menyusuri pinggiran hutan yang makin lama makin gelap. Tangan gua menyeret sisa daging kelinci bertanduk yang masih segar, simpanan makanan gua untuk beberapa hari ke depan.
Efek peningkatan tenaga dari inti energi yang gua serap tadi benar-benar luar biasa. Tubuh gua terasa jauh lebih kuat, lebih cepat, lebih tahan banting — tapi ada satu hal lain yang ikut tumbuh: rasa lapar. Bukan lapar biasa, tapi rasa lapar yang datang dari naluri dasar sistem di dalam tubuh gua, yang terus mendesak, menyuruh gua terus mencari, terus makan, terus menyerap energi yang makin besar, makin kuat.
Tiba-tiba, kemampuan Gluttony’s Sight di mata gua berkedip terang dengan warna merah menyala.
Ada tiga titik aura bahaya, tiga makhluk buas, sedang bergerak cepat dan mengepung satu titik kecil di bawah tebing batu tidak jauh dari tempat gua berdiri.
Awalnya gua sama sekali tidak berniat ikut campur. Di dunia ini, yang lemah dimakan yang kuat. Makhluk saling berburu, saling memangsa — itu hal yang biasa, itu aturan utama yang tidak akan pernah berubah.
Tapi saat gua mengintip pelan-pelan dari balik semak, pemandangan di bawah sana bikin pikiran gua berubah.
Yang dikepung bukan hewan liar, bukan makhluk aneh. Itu seorang anak perempuan, usianya mungkin baru tujuh atau delapan tahun. Dan yang mengepungnya adalah tiga ekor Shadow Wolf — serigala besar berbulut hitam legam, bertaring tajam, yang dikenal sebagai salah satu pemangsa paling berbahaya di daerah ini.
Gua diam sejenak, cuma mengamati. Suara tangis dan teriakan takut anak itu terdengar jelas sampai ke tempat gua berdiri, tapi gua sama sekali tidak tergerak.
Kalau gua biarkan saja, sebentar lagi anak itu pasti akan mati dimakan. Bagi orang lain mungkin itu hal yang menyedihkan, tapi bagi gua? Itu cuma berarti gua kehilangan satu sumber informasi.
Gua baru datang ke dunia ini, tidak tahu di mana gua berada, tidak tahu bagaimana cara kerjanya, tidak tahu siapa yang berkuasa di sini. Anak kecil ini adalah satu-satunya makhluk hidup yang berakal dan bisa diajak bicara yang gua temukan sejauh ini. Kalau dia mati, gua bakal kehilangan petunjuk, bakal bingung sendiri lebih lama lagi.
‘Jangan bertindak bodoh,’ bisik suara di dalam pikiran gua, dingin dan jelas. ‘Menolong orang lemah cuma akan bikin kamu buang waktu, bikin kamu terlibat urusan yang tidak perlu, dan ujung-ujungnya cuma akan menghambat langkah kamu untuk jadi lebih kuat.’
Tapi di sisi lain, gua juga tahu: kalau dia selamat, gua bisa dapat semua informasi yang gua butuhkan.
Tanpa pikir panjang lagi, tanpa ada rasa kasihan, tanpa ada rasa ingin jadi pahlawan, gua langsung melesat keluar dari tempat persembunyian.
Kecepatan gua sekarang sudah di level yang sama sekali berbeda dari manusia biasa. Dalam sekejap mata, gua sudah berdiri tepat di belakang serigala yang paling depan.
Gua mengumpulkan seluruh tenaga di tangan kanan, lalu menghantam rahang bawah makhluk itu sekuat tenaga. Pukulan itu begitu keras sampai tulang rahangnya hancur seketika. Serigala itu jatuh mati sebelum sempat tahu apa yang baru saja terjadi.
Dua serigala yang tersisa langsung menoleh, marah besar dan siap menyerang. Tapi dengan kekuatan dan kelincahan tubuh yang sudah meningkat, mereka tidak ada bedanya dengan anak-anak kecil di mata gua sekarang.
Satu per satu, gua mengalahkan mereka. Patahkan leher, hantamkan kepala ke batu, sampai semuanya terbaring diam di tanah.
Darah makhluk itu bercipratan ke lengan dan baju gua. Gua sama sekali tidak merasa kasihan pada mereka, juga tidak merasa bangga atau puas karena baru saja menyelamatkan nyawa seseorang.
Bagi gua, ini semua cuma soal hitung-hitungan. Gua memberi nyawa pada anak ini — sebagai gantinya, gua dapat informasi, dapat petunjuk jalan, dapat apa saja yang gua butuhkan dari dia. Itu saja.
Setelah semuanya tenang, gua berbalik dan menatap gadis kecil itu yang masih duduk meringkuk di sudut batu, tubuhnya gemetar hebat karena takut.
Saat ia menatap gua, matanya langsung berbinar, penuh rasa takjub dan harapan. Seolah-olah gua ini dewa penolong yang turun dari langit khusus untuk menyelamatkannya.
Naif sekali.
"Kamu dengar gua baik-baik," suara gua terdengar datar, dingin, tanpa nada ramah sedikit pun, langsung memotong perasaan berlebihan yang ia rasakan. "Serigalanya sudah mati. Kamu selamat. Tapi jangan salah paham, jangan berharap gua akan memeluk kamu, menghibur kamu, atau merasa kasihan sama kamu. Gua cuma melakukan apa yang gua anggap berguna buat gua sendiri."
Wajah gadis itu berubah. Ia tampak bingung, bahkan sedikit takut mendengar nada bicara gua yang begitu dingin. Tapi ia tetap berani bicara, menceritakan kalau ibunya sedang sakit keras, dan di desa tempat ia tinggal tidak jauh dari sini.
Gua mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya — bukan karena peduli dengan nasibnya, tapi supaya gua tahu letak desa itu, seperti apa keadaan di sana, apa saja yang ada di sana.
Bagi gua, desa itu bisa jadi tempat gua berhenti sementara, tempat gua dapat makanan, tempat gua dapat barang-barang berguna, tempat gua cari tahu lebih banyak hal tentang dunia ini.
"Nama aku Carmelia," ucapnya pelan.
Gua tidak peduli siapa namanya, tidak peduli siapa orang tuanya, tidak peduli apa saja yang terjadi pada dirinya di masa lalu. Semua itu tidak ada gunanya buat gua sekarang.
"Dengar Carmelia," potong gua tegas. "Gua akan antar kamu pulang ke desa kamu — tapi ada satu syarat. Selama perjalanan, kamu harus tunjukkan jalan yang benar, jangan bikin salah arah. Dan yang paling penting: jangan bikin repot, jangan bikin ribet, jangan bikin gua buang waktu cuma karena kamu lemah atau takut. Paham?"
Ia mengangguk cepat, sekuat tenaga. Matanya masih takut, tapi di sisi lain ia juga terlihat lega karena tidak ditinggalkan sendirian di tempat asing yang berbahaya ini.
Gua mengambil beberapa jenis tanaman obat dan makanan yang gua temukan di sepanjang jalan, lalu memberikannya padanya.
Bukan karena gua baik hati, bukan karena gua kasihan. Cuma supaya ia punya tenaga cukup untuk berjalan sampai desa. Kalau sampai ia lemas atau pingsan di tengah jalan, gua harus berhenti, harus menunggu, bahkan harus menggendongnya — itu semua cuma akan membuang waktu gua yang sangat berharga.
"Terima kasih... Kak Yudha," ucapnya pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
Gua tidak menjawab, tidak tersenyum, tidak mengangguk. Gua langsung berjalan lebih dulu, biarkan dia berjalan di belakang mengikuti langkah gua.
Saat ia berjalan di samping gua, tangannya kecil sesekali menyentuh atau menggenggam ujung baju gua, seolah takut kalau ia lepas sedikit saja, gua akan hilang dan ia akan ditinggalkan lagi.
Gua sama sekali tidak merasakan apa-apa saat kulit gua bersentuhan dengan tangannya yang kecil dan hangat. Tidak ada rasa haru, tidak ada rasa sayang, tidak ada perasaan apa pun.
Di dalam pikiran gua cuma ada satu hal: bagaimana cara gua bertahan hidup, bagaimana cara gua makin kuat, bagaimana cara gua mendapatkan apa yang gua butuhkan di dunia yang tidak kenal ampun ini.
Untuk saat ini, gadis kecil ini cuma satu hal: alat bantu gua, penunjuk jalan gua menuju desa. Kalau suatu saat nanti dia sudah tidak berguna lagi, atau malah jadi beban yang menghalangi langkah gua — gua tidak akan ragu, tidak akan berpikir dua kali, gua akan langsung meninggalkannya begitu saja.
Di dunia ini, cuma ada dua jenis makhluk: yang menjadi pemangsa, atau yang menjadi mangsa. Yang berkuasa, atau yang cuma jadi alat dan pion buat orang lain.
Saat ini, Carmelia adalah pion yang gua butuhkan. Dan selama dia berguna, gua akan memakainya sampai habis, sampai kehabisan manfaatnya.
Mungkin di matanya, di hatinya, dia mengira gua ini pelindung, pahlawan, orang baik yang mau menolong orang lemah. Dia salah besar.
Gua cuma pemangsa yang baru saja menemukan jalan masuk ke tempat berburu yang lebih luas, lebih besar, lebih banyak isinya.
[Yudha sudah punya "pion" untuk bantu dia masuk ke daerah pemukiman manusia. Apakah di desa nanti dia akan menemukan sumber makanan dan energi yang jauh lebih baik dan lebih kuat daripada apa yang ada di hutan ini? Tulis pendapat kalian di bawah ya!]