NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Benang Merah di Papan Catur

Sore itu, langit Jakarta berubah warna menjadi jingga keemasan yang samar. Cahaya matahari yang mulai redup memantul di kaca-kaca gedung tinggi, menciptakan kilau yang dingin namun indah.

Di SMA Wijaya, bel pulang baru saja berbunyi.

Seperti biasa, murid-murid berhamburan keluar kelas, membawa kebebasan kecil yang hanya bertahan beberapa jam sebelum esok kembali memanggil mereka ke rutinitas yang sama.

Di antara keramaian itu, Anya Clarissa berjalan pelan.

Kepalanya sedikit tertunduk. Buku sosiologi tebal dipeluk di dada. Rambutnya yang dikepang dua bergoyang kecil mengikuti langkahnya.

Sosok yang sama.

Sosok yang tidak pernah diperhatikan.

Namun di balik semua itu, pikirannya jauh lebih tajam dari siapa pun yang melintasinya.

Hari ini Arsen memandangnya lebih lama dari biasanya.

Itu bukan kebetulan.

Anya tahu itu.

Dan hal-hal yang “tidak kebetulan” selalu berbahaya.

Setelah keluar dari gerbang sekolah, Anya tidak langsung pulang seperti murid lain.

Ia berjalan beberapa ratus meter, melewati jalan kecil yang mulai sepi, lalu berbelok ke gang sempit di antara dua bangunan tua.

Di ujung gang itu, sebuah mobil van hitam tanpa plat mencolok sudah menunggu.

Pintu terbuka otomatis.

“Naik, Queen,” suara Tulus terdengar dari dalam.

Anya masuk tanpa bicara.

Begitu pintu tertutup, suasana berubah total.

Kacamata dilepas.

Rambut diurai.

Dan wajah itu kembali.

Bukan Anya Clarissa.

Tapi seseorang yang jauh lebih dingin.

“Arsen mulai mengamati lebih agresif,” lapor Tulus sambil membuka layar tablet. “Dia sudah meminta data tambahan dari sistem sekolah.”

Anya menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Dia tidak akan menemukan apa pun.”

“Masalahnya bukan data,” kata Tulus pelan. “Masalahnya adalah instingnya.”

Anya tersenyum tipis.

“Insting tidak bisa membuktikan apa pun.”

Tapi di dalam dirinya, ia tahu satu hal:

insting seperti Arsen adalah jenis ancaman yang tidak bisa dihapus hanya dengan data palsu.

Di sisi lain kota.

Gedung Rafardhan Group berdiri seperti monolit gelap yang menembus langit.

Di lantai paling atas, ruang kerja Arsen sunyi.

Hanya suara pendingin ruangan dan ketukan jari di meja marmer yang terdengar.

Klik.

Klik.

Klik.

Di layar depannya, dua file terbuka berdampingan:

Anya Clarissa

dan

Queen Gisella

Arsen menatap keduanya tanpa berkedip.

“Tidak masuk akal,” gumamnya pelan.

Baskoro berdiri di belakangnya. “Tuan, semua data menunjukkan Anya Clarissa hanya murid beasiswa biasa. Tidak ada koneksi ke dunia bisnis mana pun.”

Arsen tidak langsung menjawab.

Matanya masih terpaku pada layar.

“Dan Queen Gisella?” tanyanya akhirnya.

Baskoro ragu sepersekian detik.

“Tidak ada wajah. Tidak ada identitas. Hanya jejak transaksi global dan pengaruh pasar.”

Arsen menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Dua dunia.

Satu terlalu kecil.

Satu terlalu besar.

Dan entah kenapa… keduanya terasa seperti satu pola yang sengaja disembunyikan.

“Cari hubungan tidak langsung,” perintah Arsen tiba-tiba.

Baskoro mengangguk. “Baik, Tuan.”

Namun Arsen belum selesai.

“Dan satu lagi,” katanya pelan. “Pantau semua interaksi Anya di sekolah. Semua.”

Baskoro sedikit terkejut. “Itu termasuk hal pribadi—”

“Lakukan.”

Suaranya tidak tinggi.

Tapi cukup untuk mengakhiri perdebatan.

Keesokan harinya.

SMA Wijaya kembali seperti biasa.

Tapi tidak bagi Arsen.

Ia berdiri di koridor utama dekat mading, pura-pura membaca pengumuman OSIS.

Namun sebenarnya, ia menunggu.

Menunggu satu orang.

Beberapa menit kemudian, Anya muncul.

Langkahnya seperti biasa: pelan, tertunduk, tidak mencolok.

Saat melewati Arsen—

“Anya Clarissa.”

Langkah Anya berhenti.

Tidak sepenuhnya, hanya sedikit.

Cukup untuk Arsen menyadarinya.

“Ya, Kak?” suara Anya kecil, ragu, seperti biasa.

Arsen menoleh.

Matanya tajam.

“Aku lihat kamu sering pulang lewat gang belakang.”

Anya berkedip pelan.

“…Iya, Kak. Lebih dekat ke rumah.”

Jawaban sederhana.

Terlalu sederhana.

Arsen menatapnya lama.

“Tidak aman,” katanya akhirnya.

Anya sedikit terkejut. “Hah?”

Arsen berbalik.

“Mulai besok, jangan lewat sana lagi.”

Lalu pergi.

Seperti itu saja.

Tanpa penjelasan.

Tanpa alasan.

Tapi yang lebih mengganggu Anya bukan perintah itu.

Melainkan cara Arsen mengatakannya—

seperti seseorang yang sudah mulai peduli tanpa sadar.

Sementara itu, di dalam mobil van hitam.

Tulus menatap layar CCTV yang terhubung ke kamera kecil di seragam salah satu murid.

“Ada perubahan pola,” katanya.

Anya yang sedang melepas kacamata berhenti sejenak.

“Jelaskan.”

“Arsen tidak hanya mengamati,” lanjut Tulus. “Dia mulai mengintervensi.”

Anya terdiam.

Intervensi bukan sekadar curiga.

Itu langkah berikutnya.

Langkah dari seseorang yang mulai ingin mengendalikan situasi.

Bukan hanya memahami.

Di sekolah, Selene tidak tinggal diam.

Ia memperhatikan semuanya.

Tatapan Arsen ke Anya.

Cara Arsen berbicara.

Cara Arsen… berhenti memperhatikannya.

Dan itu menyakitkan egonya.

Di kantin siang itu, Selene berdiri di depan Anya.

“Hey,” katanya pelan tapi penuh racun. “Kamu pikir kamu siapa?”

Anya menatapnya kosong.

“Maaf?”

Selene tersenyum tipis.

“Aku akan pastikan kamu sadar tempatmu.”

Beberapa murid mulai memperhatikan.

Anya tidak menjawab.

Tidak perlu.

Namun dari kejauhan, di ujung koridor kaca, seseorang sedang memperhatikan.

Arsen.

Dan kali ini, tatapannya tidak sekadar dingin.

Ada sesuatu yang berbeda.

Lebih tajam.

Lebih fokus.

Seolah Selene bukan masalah utama.

Tapi Anya-lah pusat dari semuanya.

Malam turun lagi.

Di mobilnya, Anya menatap kota yang bergerak di luar jendela.

“Arsen makin masuk ke lingkaran,” kata Tulus.

Anya diam lama.

Lalu tersenyum kecil.

“Kalau dia sudah masuk,” katanya pelan, “berarti dia sudah tidak bisa keluar dengan mudah.”

Mobil melaju di jalan gelap.

Dan di atas kota itu, dua orang tanpa sadar sedang menarik benang yang sama—

hingga papan catur mereka mulai saling bertabrakan tanpa izin.

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!