NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Beberapa hari telah berlalu. Berkat ketangguhan jiwa Diandra yang tak mau menyerah, tubuh Gia pulih dengan kecepatan yang mengejutkan tim medis.

Luka-luka memar di kulitnya mulai memudar menjadi warna kekuningan, meski rasa nyeri masih sesekali menusuk saat ia bergerak tiba-tiba.

"Hari ini kamu boleh pulang, Gia," ucap Dokter paruh baya itu sambil menyerahkan sebuah amplop kecil ke tangan Diandra.

Diandra menatap isi amplop itu—beberapa lembar uang saku. Matanya yang tajam seketika melembut.

"Om, ini..."

"Ambil saja untuk ongkos sekolah dan makanmu beberapa hari ke depan. Kalau ada apa-apa, atau jika anak-anak itu mengganggumu lagi, langsung hubungi Om. Mengerti?"

Dokter itu mengusap kepala Diandra dengan tulus, memperlakukannya seperti anak sendiri.

Sebagai dokter yang sering merawat luka-luka Gia, ia tahu betapa berat hidup gadis yatim piatu ini.

Diandra mengangguk kecil. "Terima kasih, Om."

Dokter itu mengantarkan Diandra menggunakan mobil tuanya menuju sebuah gang sempit di pinggiran kota.

Mereka berhenti di depan sebuah rumah petak kecil yang tampak kusam dan sedikit kotor.

Debu tebal menyelimuti jendela, dan terasnya dipenuhi daun-daun kering yang tak tersapu.

Setelah berpamitan dengan sang dokter, Diandra melangkah masuk.

Bau apek langsung menyambut penciumannya. Bagi seorang CEO yang terbiasa hidup di penthouse mewah, tempat ini lebih mirip gudang daripada tempat tinggal. Namun, ia tidak punya pilihan.

Ia melangkah menuju tempat tidur kecil di sudut ruangan.

Di bawah bantal yang sudah menipis, ia menemukan sebuah buku bersampul lusuh. Sebuah buku harian.

Diandra duduk di tepi ranjang dan mulai membalikkan halaman demi halaman.

Di dalamnya, Gia mencurahkan seluruh rasa sakitnya.

Bukan hanya tulisan, ada sebuah foto yang terselip di halaman tengah.

Di dalam foto itu, Gia tampak tersenyum canggung di antara sekelompok remaja.

Ada Ferdian yang merangkul bahu Gia dengan senyum yang kini terlihat sangat muak di mata Diandra.

Di sampingnya ada Kinanti dan beberapa siswa lainnya yang tampak ceria.

"Jadi ini mereka," desis Diandra, jarinya mengusap wajah Ferdian di foto itu dengan penuh kebencian.

"Kalian berpura-pura menjadi teman hanya untuk menghancurkan gadis malang ini."

Diandra membaca catatan terakhir Gia: 'Aku sangat bahagia hari ini, Ferdian mengajakku ke gudang belakang untuk memberi kejutan. Dia bilang dia sangat mencintaiku.'

Tangan Diandra gemetar menahan amarah. Kejutan yang dimaksud Gia ternyata adalah maut yang hampir merenggut nyawanya.

Ferdian dan gengnya pasti mengira mereka sudah berhasil menyingkirkan Gia ke dasar sungai.

Mereka belum tahu bahwa mangsa mereka telah bangkit kembali.

"Kalian membunuh Gia yang lemah," gumam Diandra sambil menutup buku harian itu dengan keras.

"Tapi kalian tidak sadar telah membangunkan singa di dalam tubuhnya. Tunggu aku di sekolah besok."

Tatapan mata Diandra yang biasanya dingin kini berkilat penuh rencana.

Diandra sang CEO tidak pernah kalah dalam persaingan bisnis, dan ia tidak akan membiarkan anak-anak nakal ini lolos begitu saja.

Diandra berdiri di depan cermin kecil yang retak di dalam rumah petak Gia.

Ia menatap bayangan gadis SMA itu dengan tatapan yang sangat asing bagi raga aslinya.

Rambut Gia yang panjang, kusam, dan berantakan tampak seperti beban bagi Diandra.

Gadis ini terlalu lama menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut itu agar tidak terlihat oleh dunia.

"Gia, hidupmu yang lemah sudah berakhir," gumam Diandra dingin.

Ia menyambar sebuah gunting karat yang ia temukan di dapur.

Tanpa ragu sedikit pun, ia memotong rambut panjang itu hingga sebatas bahu dengan potongan bob yang tajam dan modern.

Setelah itu, ia membersihkan wajahnya, merapikan alisnya yang berantakan, dan berdiri tegak dengan dagu terangkat—pose khas seorang penguasa korporat.

Ia membuang semua baju lusuh Gia dan memilih seragam sekolah yang paling rapi.

Meskipun tubuh ini mungil, aura yang dipancarkan sekarang adalah aura seorang wanita yang mampu menjatuhkan lawan bisnis dalam hitungan detik.

Sementara itu, di SMA Harapan Bangsa, suasana sedang diselimuti duka yang dibuat-buat.

Ferdian berdiri di depan kantor guru dengan wajah yang disedih-sedihkan, menyeka air mata palsu yang tidak pernah jatuh.

"Saya melihatnya sendiri, Pak. Gia terpeleset dan jatuh ke sungai yang deras. Saya mencoba menolong, tapi arus terlalu kuat," bohong Ferdian kepada kepala sekolah dan para guru.

Kinanti berdiri di belakangnya, menunduk sambil bahunya bergetar, seolah sedang menangis hebat.

Padahal, di balik telapak tangannya, ia sedang tersenyum penuh kemenangan.

Kabar itu menyebar cepat ke seluruh penjuru sekolah.

Gia, siswi yatim piatu yang selalu menjadi sasaran perundungan, dinyatakan meninggal dunia.

Tak ada yang benar-benar peduli, namun pihak sekolah merasa perlu menunjukkan rasa simpati.

"Anak-anak, besok pagi sebelum jam pelajaran dimulai, kita akan berkumpul di lapangan," ucap salah satu guru wali kelas di depan murid-murid.

"Kita akan mengadakan doa bersama untuk mendiang Gia. Semoga jiwanya tenang di sana."

Ferdian dan gengnya saling bertukar pandang di barisan belakang.

Mereka merasa sangat aman. Di pikiran mereka, rahasia pembunuhan itu sudah terkubur selamanya di dasar sungai bersama jasad Gia.

"Sempurna," bisik Ferdian pada Kinanti saat mereka berjalan menuju kantin.

"Besok kita hanya perlu memasang wajah sedih sebentar, lalu semuanya selesai."

Mereka tidak pernah membayangkan bahwa besok pagi, doa bersama itu tidak akan menjadi upacara perpisahan, melainkan awal dari mimpi buruk yang akan menghancurkan hidup mereka.

Karena "Gia" yang akan datang besok, bukan lagi gadis yang bisa mereka injak-injak.

Sementara itu di tempat lain Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman, namun Pratama seolah sudah terbiasa dengan itu.

Di ruang VVIP yang sunyi, hanya terdengar suara ritmis dari monitor jantung yang memantau kondisi Diandra.

Pria itu duduk di sisi ranjang, memegang waslap hangat dan menyeka lengan istrinya dengan sangat lembut, seolah takut kulit itu akan pecah jika ia menekan terlalu kuat.

"Sayang, apakah kamu mendengarku?" bisik Pratama parau.

Matanya yang biasanya tajam dan penuh wibawa kini tampak redup oleh kelelahan dan kesedihan.

Ia meletakkan waslap itu, lalu merogoh saku jasnya.

Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cokelat artisan premium yang ia bawa langsung dari Kanada.

Ia meletakkannya di atas nakas, tepat di samping vas bunga lili putih kesukaan Diandra.

"Aku merindukanmu, dan aku sudah membelikan cokelat kesukaanmu. Kamu bilang ingin makan ini saat aku pulang, kan? Bangunlah, Diandra. Aku di sini."

Pratama menundukkan kepalanya, menyandarkan keningnya di punggung tangan istrinya yang terpasang infus.

Keheningan ruangan itu membuat rasa sesak di dadanya semakin menjadi-jadi. Ia adalah pria yang bisa mengendalikan ribuan karyawan, namun di depan tubuh istrinya yang tak berdaya, ia merasa tak berguna.

Tiba-tiba, ia teringat panggilan telepon aneh beberapa hari lalu.

Suara gadis remaja yang mengaku sebagai istrinya.

"Kenapa suara itu terdengar begitu putus asa sekaligus otoriter di saat yang sama? pikir Pratama.

Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran tak masuk akal itu. Namun, instingnya sebagai seorang pria yang mencintai Diandra merasa ada sesuatu yang tertinggal.

Keheningan itu pecah saat pintu terbuka pelan. Mita masuk dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin, membawa tas kulit berisi kotak makanan mewah.

Ia memasang senyum manis yang dipaksakan, berusaha keras menarik perhatian kakak iparnya.

"Mas Pratama, kamu belum makan dari siang. Aku bawakan menu favoritmu," ucap Mita dengan nada lembut yang dibuat-buat.

Ia sengaja berdiri sangat dekat dengan Pratama, berharap pria itu akan menoleh padanya.

Namun, Pratama tidak bergeming. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah kotak makanan itu.

Baginya, Mita hanyalah gangguan di tengah fokusnya menjaga sang istri.

Merasa diabaikan, Mita berdeham kecil untuk menutupi rasa malunya.

"Mas, kalau begitu, aku pamit pergi dulu. Oh ya, besok pagi aku harus ke SMA untuk mewakili Mbak Diandra. Pihak sekolah mengundang kita untuk acara doa bersama bagi siswi mereka yang meninggal dunia. Mbak Diandra kan donatur tetap di sana, jadi aku pikir aku yang harus hadir."

Mita sudah membayangkan dirinya berdiri di atas panggung, memberikan pidato sebagai perwakilan keluarga CEO yang murah hati.

Ia ingin mulai membangun citra sebagai pengganti Diandra.

"Tidak perlu," sahut Pratama tiba-tiba. Suaranya datar namun tegas.

Mita tertegun. "Maksudnya, Mas?"

"Biar aku yang datang ke sekolah itu besok pagi," ucap Pratama sambil meletakkan handuk kecil ke wadahnya. "Dan kamu, besok pagi berangkatlah ke Yogyakarta. Aku ingin kamu memantau langsung proyek pengembangan di sana. Itu tugas yang lebih penting daripada sekadar seremoni."

Wajah Mita seketika berubah pucat. Yogyakarta? Itu berarti ia akan jauh dari Pratama dan jauh dari pusat kekuasaan kakaknya selama berhari-hari.

Ia mencengkeram erat tali tasnya hingga kuku-kukunya memutih.

"Tapi Mas, aku bisa melakukan keduanya. Aku ingin sekali mewakili Mbak Diandra di acara sekolah itu..."

Pratama menoleh perlahan, melirik ke arah Mita dengan tatapan yang sangat dingin.

Tatapan itu seolah mampu menembus kebohongan Mita, membuatnya langsung membungkam mulutnya sendiri.

"Aku tidak suka mengulang perintah, Mita," desis Pratama.

"Pergi ke Jogja, atau lepaskan posisimu di perusahaan."

Mita menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak punya pilihan selain mengangguk patuh, meski di dalam hatinya ia berteriak penuh amarah.

Ia segera berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah menghentak.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!