Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.
Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.
Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.
Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.
Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.
Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecanggungan yang Merayap
Yuda menatap rak tinggi itu sekali lagi. Lalu matanya turun ke rak di bawahnya yang lebih rendah, lebih mudah dijangkau. Sebuah solusi praktis, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari.
“Kenapa gak diletakin disini aja?” katanya, sambil menunjuk rak yang sedikit lebih rendah.
Ucapannya meluncur begitu saja, tanpa maksud apa pun selain mempermudah.
Namun gadis itu menoleh cepat.
Ekspresinya berubah. Bukan marah, tapi jelas tidak setuju. Alisnya mengernyit, bibirnya mengatup tipis, seperti seseorang yang menahan keberatan agar tetap sopan.
“Di situ bukan letak bagiannya atuh,” katanya. Nada suaranya masih kecil, tapi kali ini tegas. “Dan itu bikin repot pustakawannya.”
Ia berhenti sejenak, menatap Yuda dari balik kacamatanya. Tatapan itu bukan tajam, melainkan menyelidik, seperti sedang menimbang sesuatu.
“Atau jangan-jangan,” lanjutnya, ragu tapi jujur, “kamu, ya, yang sering naruh buku bukan pada tempatnya?”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa niat melukai.
Namun Yuda terdiam.
Ada sensasi asing yang menjalar di dadanya, bukan karena dimarahi, tapi karena… tertangkap basah oleh dunia yang sama sekali bukan miliknya. Ia terbiasa menghadapi omelan pelanggan, tapi ini berbeda. Tidak ada suara tinggi. Tidak ada amarah. Hanya aturan kecil yang ia langgar tanpa sadar.
Ia mengusap tengkuknya, refleks lama.
“Bukan,” katanya cepat, lalu ralat. “Maksudku… aku jarang ke perpustakaan.”
Senyumnya muncul lagi, tapi kali ini canggung. Terlalu jujur. Terlalu terbuka.
Ia merasa sedikit malu. Sedikit terintimidasi. Seperti anak sekolah yang ditegur karena tidak tahu tata tertib.
Gadis itu terdiam, seolah baru menyadari bahwa ucapannya barusan mungkin terlalu jauh. Kerutan di dahinya melunak, meski sikapnya masih tegak.
“Oh,” katanya pelan.
Keheningan kembali menyelip di antara mereka. Bukan keheningan yang canggung. Lebih seperti jeda, sebelum sesuatu yang baru dimulai.
Gadis itu terdiam beberapa detik. Tatapannya turun, lalu kembali naik. Kerutan di wajahnya perlahan mengendur, digantikan raut yang lebih lunak.
“Maaf deh,” katanya akhirnya. “Tadi aku agak… sotoy ehe.”
Yuda menggeleng cepat, seolah tak ingin hal kecil itu menjadi beban. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, gadis itu sudah melanjutkan.
“Ehm... kalo gitu,” ucapnya ragu, lalu tersenyum kecil, “aku bantuin nyari buku yang kamu mau deh.”
Kalimat itu membuat Yuda menegang.
Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Buku yang ia cari?
Tak ada.
Ia tidak pernah datang ke tempat seperti ini dengan tujuan membaca. Yang ia baca setiap hari hanyalah barisan huruf di layar ponsel, nama orang asing, alamat rumah, instruksi singkat yang harus segera dipenuhi. Rak buku ini adalah dunia yang tak ia kenal.
“Eh—” Ia menarik napas, panik kecil merayap. “Aku…”
Otaknya berputar cepat, mencari sesuatu, apa pun, agar ia tak terlihat seperti orang yang tersesat tanpa alasan. Dan di antara tumpukan ingatan tentang paket-paket yang pernah ia antar, satu judul tiba-tiba muncul.
Sebuah buku. Kardus cokelat. Tulisan yang sempat ia baca sekilas.
Judul itu keluar begitu saja dari mulutnya, dengan keyakinan yang dipaksakan.
“Anu yang itu, 'Kemana Perginya Langit Saat Senja',” katanya. Menyebutkan judulnya dengan jelas.
Gadis itu membeku.
“Hah?” Ia menatap Yuda , kaget tak disembunyikan. “Kamu… nyari buku anak-anak?”
Kata-kata itu jatuh ringan, tapi menghantam tepat di dada.
Wajah Yuda langsung terasa panas. Tubuhnya yang tinggi dan tegap seakan menyusut beberapa senti. Ia berdiri kaku di antara rak-rak, merasa seluruh perpustakaan tiba-tiba memperhatikannya meski sebenarnya tidak ada siapa pun.
“Bukan, maksudku—” Ia tersenyum kikuk, tangannya kembali ke tengkuk. “Aku cuma… pernah lihat judulnya.”
Kalimat itu terdengar semakin buruk ketika diucapkan.
Ia tertawa kecil, getir. Senyum yang ingin menutup rasa malu, tapi justru menampakkannya dengan jelas. Di hadapan gadis itu, ia bukan kurir yang terbiasa menghadapi apa pun. Ia hanya seseorang yang salah bicara, dan kini ingin menghilang di antara rak buku.
Gadis itu masih menatapnya, matanya membesar di balik kacamata. Terkejut, tapi tidak mengejek.
Lalu memiringkan kepala sedikit. Nada suaranya tetap lembut, hampir seperti sedang menyampaikan fakta yang tak perlu dibesar-besarkan.
“Itu… menurutku juga buku yang bagus sih” katanya polos. “Biasanya dibaca sebelum tidur.”
Kalimat itu sederhana. Tidak ada nada mengejek. Tidak ada senyum menahan tawa. Dan justru karena itulah, Yuda merasa semakin tenggelam.
Di dalam kepalanya, suara lain langsung menyahut.
Dasar bego Kenapa lu malah menyebut judul itu.
Ia menelan ludah, menatap rak buku tanpa benar-benar melihatnya.
Tapi, yang menerima paket itu seumuran denganku.
Pembelaan itu muncul cepat, seolah ingin menyelamatkan harga diri yang mulai runtuh.
Buku anak-anak tidak selalu untuk anak-anak.
Namun pikiran lain segera membantah, lebih kejam.
Tapi bisa jadi, dia kakaknya.
Argumen itu terasa masuk akal. Terlalu masuk akal. Dan justru karena itu, pertahanannya goyah.
Ia berdiri diam, bahunya menegang. Matanya kosong, tubuhnya ada di antara rak buku, tapi pikirannya sibuk bertarung dengan dirinya sendiri. Semua kemungkinan diputar ulang, seperti paket yang salah alamat.
Dan di tengah kekacauan itu, satu kesimpulan muncul, pendek dan pahit.
Gue emang bego
Kata-kata itu berhenti di kepalanya, menggema.
Sementara itu, gadis itu memperhatikannya dengan kening sedikit berkerut. Yuda tiba-tiba terdiam terlalu lama. Tatapannya lurus ke depan, senyumnya menghilang, seperti seseorang yang lupa di mana ia berdiri.
“Loh?” Gadis itu ragu. “Kamu gak apa-apa?”
Ia tak tahu bahwa di balik kebisuan itu, baru saja terjadi perdebatan sengit. Bukan antara dua orang, melainkan antara kelelahan dan harga diri.
Gadis itu terus menatap kurir yang masih berdiri kaku di depannya. Tatapannya kosong, seolah sedang memikirkan sesuatu yang jauh. Terlalu jauh untuk ukuran situasi sesederhana ini.
Astaga…
Di dalam kepalanya, suara pertama muncul, tajam dan menyalahkan.
Kamu cewek culun. Kenapa malah nyeletuk begitu di depan orang asing? Polos banget dah.
Ia menekan bibirnya, jari-jarinya meremas tepi buku yang masih ia pegang. Hatinya mengerut, membayangkan betapa ucapannya barusan mungkin terdengar merendahkan. Ia tak pernah bermaksud demikian.
Namun pikiran lain segera menyela, defensif.
Apa katamu? Mana kutahu itu bikin dia tiba-tiba speechless? Toh dia juga aneh, masa nyari buku khusus anak-anak di rak dengan judul “pengetahuan umum”.
Argumen itu terasa masuk akal, setidaknya untuk sesaat. Ia mendongakkan kepala sedikit, mencoba membenarkan dirinya sendiri. Situasinya memang ganjil. Siapa pun bisa salah paham.
Tapi suara ketiga datang, lebih dingin. Lebih terlatih.
Jangan ngotot! Mana ilmu psikologi yang sedang kamu pelajari untuk menghadapi ujian semester nanti?
Ia terdiam.
Semua teori tentang empati, komunikasi, dan bahasa nonverbal tiba-tiba terasa jauh dari jangkauan. Di hadapan orang sungguhan, teori itu runtuh dengan mudah.
Satu kesimpulan akhirnya mengendap di benaknya, sederhana dan pahit.
Aku benar-benar cewek bodoh.
Ia mengangkat pandangan lagi.
Di depannya, Yuda masih bengong.
Di dalam dirinya, ia pun sama.
Dua orang asing berdiri di antara rak buku, masing-masing terjebak dalam kepala sendiri, tanpa tahu bahwa yang satu sedang berdebat sama sengitnya dengan yang lain.
Dan perpustakaan itu, dengan segala keheningannya, membiarkan mereka begitu saja.
Diam dan canggung.