Cerita ini adalah fiktif belaka, semua yang terjadi adalah khayalan Author semata, nama pemeran dan lokasi hanyalah sebuah karangan Author.
Utari Candra Kirana bertemu kembali dengan orang yang selama ini dia benci. Selama mereka berpisah tidak pernah lagi mendengar bahkan bertemu dengan laki-laki yang sudah menyakiti hati nya begitu dalam. Disaat hidupnya mulai damai dan bahagia bersama sang putri, tiba-tiba harus berhadapan dengan laki-laki yang sudah menorehkan luka di hati Tari. Sialnya dia harus bertemu sepanjang hari dan berusaha berinteraksi dengan nya walaupun masih ada kebencian yang terpancar dari sorot mata nya.
Reksa Arya Nugraha laki-laki yang sudah menggores luka di hati seorang wanita yang dulu mencintai nya dengan tulus. Karena sebuah ide konyol para sahabatnya, dia melakukan sebuah tindakan yang fatal dan bahkan membuat perempuan itu membencinya.
" Kamu tahu, orang paling aku benci? jawabannya adalah KAMU, REKSA ARYA NUGRAHA !!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Opa Pram..(Revisi)
Tari mengingat acara sekolah Sofia besok. Dia ingin mencoba untuk meminta bantuan pada Wisnu. Walaupun memang dia ragu kalau Wisnu mau membantunya kali ini.
"Hallo.." Tari membuka suara saat panggilan telepon nya di angkat oleh orang di seberang sana.
"Ya, ada apa kamu telpon?" dengan suara terdengar dingin langsung to the point.
"Mas Wisnu, apa aku bisa minta tolong?" terdengar suara hembusan nafas yang terdengar kasar dari seberang sana.
"Tolong apa, sebulan ini kamu bahkan sudah menghilang, kenapa sekarang tiba-tiba telpon?" dengan suara yang terdengar kesal Wisnu bicara.
"Soal surat cerai kita kamu bisa langsung kirim ke alamat ku nanti. Aku cuma minta tolong sebelum surat cerai itu keluar, bisa nggak sekali saja kamu temui Sofia di sekolah. Besok Father days aku minta___
"Hehh...Tari ! kamu itu sudah di ceraikan sama mas Wisnu, jadi nggak perlu lagi minta-minta buat ketemu anak har*m kamu itu! Ingat itu!!"
"Eeehhh....
Tuttt...tuttt..tuuttt..
Panggilan itu pun terputus secara sepihak. Tari menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan menatap ke arah bi Marni.
"Gimana kalau bibi minta tolong mang Tomo?"
"Nggak perlu bi, biar nanti Tari yang minta ijin sama nyonya Hanum buat hadir di acara Sofia." Tari tak enak hati kalau menyusahkan orang lain.
"Yakin?" Tari mengangguk dan tersenyum tipis.
Di rumah Wisnu terlihat Sella istri baru Wisnu sedang marah-marah pada laki-laki itu.
"Kamu benar-benar mas, aku bilang jangan pernah berani-beraninya kamu ketemu sama mantan istri kamu itu!" dengan nafas memburu, Sella marah pada Wisnu soal Tari. "Ingat, kalian sudah nggak ada hubungan apapun. Aku sudah blok nomer dia. Sampai kamu berani buka dan komunikasi sama dia atau sama anak har*m nya itu, awas kamu mas !!" Sella mengancam Wisnu untuk tidak lagi berkomunikasi atau bahkan bertemu dengan Tari juga Sofia.
"Sel, dia cuma minta tolong buat Sofia saja." Wisnu masih mencoba bicara baik-baik pada istrinya itu.
"Halahhh...itu hanya alasan saja. Ujung-ujungnya dia akan minta uang dari kamu. Belum lagi dia akan godain kamu. Jangan-jangan kamu masih mau sama janda kamu itu, hah!!"
"Cukup Sella!! Ingat, aku sudah milih kamu. Bahkan aku sudah turuti semua kemauan kamu. Dari usir dia tanpa sepeserpun uang. Aku pun sudah masukin gugatan cerai juga. Masih kurang puas!" Wisnu beranjak dari tempat duduknya dan memilih pergi meninggalkan Sella karena malas berdebat.
Wisnu terlihat keluar rumah dan berjalan ke sebuah warung untuk membeli sebungkus rokok.
"Pak Wisnu, ini rokoknya. Ini kembaliannya. Oh iya, sekarang mba Tari sama Sofia tinggal dimana pak? maaf, bukan mau ikut campur. Saya nggak pernah lihat pak Wisnu cekcok sama mba Tari, bahkan kami ibu-ibu di komplek sini kagum sama mba Tari yang kelihatan sederhana dan baik." Wisnu yang mendengar penuturan si ibu warung pun hanya tersenyum kecil.
"Dia pulang kampung bu, saya pulang dulu Bu, permisi.."
Wisnu terlihat meninggalkan warung kelontong itu. Tapi telinganya masih mendengar para ibu-ibu yang kebetulan sedang belanja di warung itu terdengar jika mereka berteman dengan Tari.
"Sayang sekali ya, kenapa harus istri sah yang di cerai. Benar-benar laki-laki nggak bersyukur tuh pak Wisnu.." ucapan salah satu ibu yang terdengar di telinga Wisnu.
"Yah biasa bu, kalau laki-laki baru punya duit banyak, lupa daratan."
"Tapi, kenapa dia lebih milih pelakor sih, udah begitu...istri nya sekarang itu..ihhhh...judesnya amit-amit deh.."
"Sudah ibu-ibu, mungkin ini jalan terbaik buat mba Tari lepas dari laki-laki yang nggak pandai bersyukur."
Pembahasan soal Tari jelas terdengar di telinga Wisnu yang kebetulan duduk di pos ronda di dekat warung itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari di mana Sofia harus mengikutsertakan sang ayah pada kegiatan sekolah nya.
"Bun, Fia nggak usah sekolah saja ya? " Tari yang sedang mengelap piring di dapur menghentikan pergerakan nya. Lalu dia menoleh ke arah Sofia.
"Mau ngapain nggak masuk sekolah hemm? Fia, ingat kata bunda. Apapun yang Fia dengar, cuekin saja.Ngerti? Nanti bunda ke sekolah Fia, bunda coba minta ijin sama nyonya Hanum buat ikut di acara sekolah kamu." Fia mengangguk dengan wajah yang terlihat tak bersemangat.
"Mau sama pak Tomo saja Fia?" tiba-tiba saja pak Tomo dan bi Marni muncul dan pak Tomo menawarkan untuk dia datang ke sekolah Fia.
"Nggak usah pak Tomo, biar bunda saja. Bun, Fia berangkat dulu ya.. Assalamualaikum.."
"Wa'alaikum salam.." ketiga orang dewasa itu pun menatap kepergian Sofia dengan tatapan kasihan..
"Tari, apa kamu yakin mau ke sekolah Fia?" Tari mengangguk mendengar pertanyaan dari bi Marni.
"Iya bi, Tari mau coba ijin sama nyonya Hanum." bi Marni hanya mengangguk.
Di sekolah , Sofia menatap sekitarnya yang terlihat ramai dari biasanya. Para murid lainnya terlihat sibuk menyambut kedatangan ayah mereka atau anggota keluarga mereka.
"Sofia, papa kamu nggak datang?" salah satu teman satu kelas Sofia tiba-tiba saja bertanya pada Sofia.
"Ayah aku kerja." Sofia dengan wajah sedihnya menjawab pertanyaan temannya.
"Kakek atau om kamu juga nggak datang?" Sofia hanya dia tak berniat menjawab. "Terus, kamu nggak ikut lomba dong?" Sofia hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah.
" Wah..kamu kasihan banget sih Fia, kamu mau di kelas saja, ayo kita keluar...nggak apa-apa kok nggak ikut lomba." beberapa teman Sofia menarik tangan Sofia untuk keluar dari kelas.
Walaupun berat Sofia pun keluar dari kelasnya. Terlihat lapangan sekolah sudah ramai penuh sesak. Terdengar sorak sorai di area lapangan yang sedang mengadakan acara lomba untuk memperingati Father days.
Di keramaian sekolah Sofia, beberapa guru terlihat mendampingi ketua yayasan untuk berkeliling melihat keadaan sekolah.
Terlihat salah satu guru yang merupakan kepala sekolah di mana Sofia bersekolah terlihat bicara dan menjelaskan apa saja yang sedang para murid dan orang tua yang ada di sekolah itu lakukan.
Pramana Adi Nugraha terlihat mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan kepala sekolah. Namun matanya menangkap sosok bocah kecil yang duduk sendiri di lorong kelas. Tatapan matanya yang terlihat sendu menatap kebersamaan murid-murid lain bersama ayah atau keluarga mereka di lapangan sekolah membuat laki-laki paruh baya itu merasa sedih.
Kaki Pram melangkah mendekat ke arah bocah itu dan membuat kepala sekolah dan beberapa guru terlihat saling pandang.
"Sofia.." Pram memanggil nama bocah berseragam putih merah itu sedang duduk termenung.
Sofia yang sedari tadi duduk termenung, sontak menoleh ke sumber suara.
Mata Sofia seketika melebar saat melihat sosok laki-laki paruh baya yang merupakan majikan sang bunda.
"Tua...
"Kamu kenapa disini sendirian, maaf ya , Opa Pram telat.." Sofia menatap bingung mendengar ucapan Pramana saat mengatakan kalimat manis itu.
Pram mendekatkan dirinya ke arah Sofia dan membungkuk kan badannya lalu membisikkan sesuatu pada Sofia.
"Mulai sekarang, panggilnya Opa Pram yaa.." Sofia mengangguk lemah tanpa berkomentar apapun.
Sedangkan Pram melihat anggukan dari bocah di hadapannya tersenyum tipis dan menepuk pelan kepala bocah itu. Kedua nya tersenyum manis dan seolah siap memerankan peran mereka. Wajah yang tadi terlihat murung kini terlihat berseri manis saat sebuah cahaya kecil yang di berikan oleh orang yang tak dia sangka-sangka.
Bersambung
like + 🌹✍️😉