Pacar Palsu, Jodoh Asli
Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Nama yang Muncul Berulang
Jakarta diguyur hujan sejak pagi.
Langit berwarna abu-abu pekat, seolah kota itu sedang menyimpan sesuatu yang tidak ingin diketahui siapa pun.
Almira Valencia Pradipta sedang menatap layar laptopnya ketika kilatan petir terlihat di balik jendela ruang kantor.
Namun pikirannya tidak sedang memikirkan cuaca.
Pikirannya tertuju pada satu hal.
Sebuah nama.
Nama yang terus muncul.
Berulang kali.
Dan semakin sering ia melihatnya, semakin besar rasa tidak nyaman yang muncul dalam dadanya.
Semuanya bermula dua hari setelah kepulangan mereka dari Makassar.
Tim audit internal Valencia Group akhirnya berhasil mengumpulkan sebagian besar log akses yang diminta Almira.
Awalnya ia hanya berniat memeriksa aktivitas akun otorisasi tingkat tinggi yang ditemukan Reynard.
Namun semakin dalam ia menggali, semakin banyak pola yang mulai terlihat.
Dan pola itu selalu berujung pada satu nama.
Nusantara Connect.
Sebuah perusahaan teknologi logistik yang selama ini bertugas mengelola sebagian sistem distribusi digital proyek mereka.
Perusahaan itu bukan pemain besar.
Bukan juga perusahaan terkenal.
Namun namanya muncul terlalu sering.
Dalam laporan.
Dalam akses sistem.
Dalam jalur data.
Dalam berbagai aktivitas yang tidak seharusnya berkaitan langsung.
Terlalu sering.
Dan itu membuat Almira curiga.
Pukul sepuluh pagi, ponselnya bergetar.
Nama Reynard muncul di layar.
Almira langsung mengangkat.
"Aku juga mau meneleponmu."
"Itu kabar buruk."
kata Reynard.
"Karena biasanya berarti kita menemukan masalah yang sama."
Almira menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Katakan."
"Aku menemukan satu nama."
Almira menatap layar laptopnya.
Lalu menghela napas.
"Jangan bilang Nusantara Connect."
Hening.
Kemudian suara Reynard terdengar.
"Kamu juga?"
Dua jam kemudian.
Mereka kembali duduk berhadapan di ruang rapat kecil yang biasa digunakan untuk pertemuan kerja sama.
Tidak ada direksi.
Tidak ada staf.
Hanya mereka berdua.
Dan tumpukan dokumen.
Banyak sekali dokumen.
"Aku sudah memeriksa seluruh laporan akses."
kata Almira.
"Dan?"
"Nusantara Connect muncul tujuh belas kali."
Reynard menggeser beberapa lembar data.
"Aku menemukan dua puluh tiga."
Almira mengerutkan dahi.
"Itu terlalu banyak."
"Persis."
Mereka mulai menyusun semua informasi yang dimiliki.
Perusahaan itu memang memiliki hubungan resmi dengan proyek.
Namun hubungan tersebut sangat terbatas.
Secara teori, mereka hanya menyediakan dukungan perangkat lunak.
Tidak lebih.
Namun kenyataannya berbeda.
Jejak digital mereka muncul di berbagai area yang tidak seharusnya bisa diakses.
Dan itulah masalahnya.
"Siapa pemilik perusahaan ini?"
tanya Almira.
Reynard membuka berkas.
"Lumayan menarik."
"Kenapa?"
"Karena sulit ditemukan."
Almira mengangkat alis.
Sulit ditemukan bukanlah sesuatu yang biasa dalam dunia bisnis.
Perusahaan legal biasanya memiliki struktur yang jelas.
Pemegang saham.
Direktur.
Laporan publik.
Jejak administrasi.
Namun Nusantara Connect terasa berbeda.
Seolah seseorang sengaja menyembunyikan lapisan tertentu.
"Semakin aku melihatnya, semakin aku tidak suka."
gumam Almira.
"Aku juga."
jawab Reynard.
"Kita mulai terdengar seperti pasangan tua."
Reynard hampir tersedak kopi.
"Maaf?"
"Abaikan."
"Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu?"
"Aku juga tidak tahu."
Untuk pertama kalinya dalam rapat itu, suasana menjadi sedikit lebih ringan.
Namun ketenangan tersebut tidak berlangsung lama.
Karena beberapa menit kemudian salah satu staf IT masuk ke ruangan.
Membawa informasi baru.
Dan informasi itu membuat suasana langsung berubah.
"Pak Reynard."
"Ya?"
"Kami menemukan sesuatu."
Staf tersebut menyerahkan tablet.
Reynard membaca isinya.
Lalu perlahan wajahnya berubah serius.
Sangat serius.
Almira langsung tahu bahwa kabar itu tidak baik.
"Apa?"
Reynard menyerahkan tablet tersebut.
"Lihat sendiri."
Almira membaca cepat.
Kemudian membeku.
Karena laporan itu menunjukkan bahwa beberapa data proyek mereka baru saja diakses lagi.
Pagi ini.
Hanya beberapa jam yang lalu.
Dan akses tersebut berasal dari server yang sama.
Server yang terhubung dengan Nusantara Connect.
"Itu berarti mereka masih aktif."
kata Almira.
"Ya."
jawab Reynard.
"Dan mungkin mereka belum tahu kalau kita sudah menemukan jejaknya."
"Semoga."
Namun keduanya tahu bahwa harapan itu tidak terlalu kuat.
Setelah staf keluar, suasana kembali sunyi.
Hanya suara hujan yang terdengar dari luar jendela.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Masing-masing sibuk berpikir.
Mencari kemungkinan.
Mencari langkah berikutnya.
Sampai akhirnya Almira mengangkat kepala.
"Kita perlu menemui mereka."
Reynard langsung mengangguk.
"Aku juga berpikir begitu."
Rencana pun segera dibuat.
Mereka tidak bisa langsung menuduh.
Tidak punya cukup bukti.
Namun mereka bisa melakukan kunjungan resmi.
Atas nama evaluasi proyek.
Cara yang aman.
Cara yang legal.
Dan yang paling penting...
Tidak membuat pihak lain langsung waspada.
Keesokan harinya.
Gedung Nusantara Connect ternyata jauh lebih sederhana daripada yang dibayangkan.
Terletak di kawasan bisnis yang tidak terlalu mencolok.
Bangunannya modern.
Rapi.
Namun tidak mewah.
Ketika mobil mereka berhenti di depan gedung, Almira memandangi papan nama perusahaan tersebut.
"Jujur?"
katanya.
"Apa?"
"Aku mengira tempatnya akan lebih besar."
Reynard tersenyum tipis.
"Aku juga."
Mereka disambut oleh manajer operasional perusahaan.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun bernama Bastian.
Ramah.
Profesional.
Dan tampak sangat percaya diri.
"Tuan Reynard, Nona Almira."
Selamat datang."
"Terima kasih."
Mereka berjabat tangan.
Lalu diajak berkeliling kantor.
Selama hampir satu jam mereka mengamati operasional perusahaan.
Semuanya tampak normal.
Terlalu normal.
Sekali lagi.
Dan Almira mulai membenci kata itu.
Karena setiap kali sesuatu terlihat terlalu normal, biasanya ada sesuatu yang disembunyikan.
Ketika sesi diskusi dimulai, Reynard langsung mengambil peran.
"Kami sedang melakukan evaluasi menyeluruh."
kata Reynard santai.
Bastian mengangguk.
"Tentu."
"Kami menemukan beberapa aktivitas sistem yang cukup menarik."
Senyum Bastian tidak berubah.
"Menarik seperti apa?"
Almira memperhatikan reaksinya.
Tidak ada gugup.
Tidak ada panik.
Tidak ada perubahan berarti.
Pria itu sangat terlatih.
Atau memang tidak tahu apa-apa.
Pertemuan berlangsung hampir dua jam.
Namun mereka tidak mendapatkan banyak hal.
Setidaknya tidak secara langsung.
Karena setiap pertanyaan selalu dijawab dengan rapi.
Setiap data memiliki penjelasan.
Setiap akses memiliki alasan.
Semuanya terdengar masuk akal.
Namun entah kenapa tetap terasa salah.
Saat mereka meninggalkan gedung, hujan kembali turun.
Lebat.
Mobil belum datang.
Mereka terpaksa berteduh di bawah kanopi depan gedung.
"Bagaimana menurutmu?"
tanya Almira.
Reynard memasukkan kedua tangan ke saku.
"Bastian tahu sesuatu."
"Atau dia sangat pandai berpura-pura."
"Itu juga mungkin."
Mereka terdiam.
Memandangi hujan.
Lalu tanpa sadar berdiri sedikit lebih dekat karena percikan air mulai mengenai pakaian mereka.
Tidak ada yang mempermasalahkan.
Karena perhatian mereka sedang tertuju pada hal lain.
Atau setidaknya mereka mencoba meyakinkan diri seperti itu.
Beberapa detik kemudian ponsel Almira berbunyi.
Pesan dari Nadia.
Ia membukanya.
Dan langsung menyesal.
Nadia:
"Aku baru lihat foto kalian di lobi Nusantara Connect."
Almira berkedip.
Cepat sekali.
Nadia:
"Kenapa setiap kali aku membuka media sosial, kamu selalu bersama Reynard?"
Almira menutup mata.
"Kamu kenapa?"
tanya Reynard.
Almira menunjukkan layar ponselnya.
Reynard membaca pesan itu.
Lalu tertawa.
Benar-benar tertawa.
Dan itu membuat Almira semakin kesal.
"Ini tidak lucu."
"Sedikit lucu."
"Tidak."
"Sangat lucu."
Mobil akhirnya tiba.
Mereka masuk ke dalam.
Namun sebelum kendaraan bergerak, Reynard tiba-tiba melihat sesuatu.
Di lantai belakang mobil.
Sebuah map.
Tipis.
Berwarna abu-abu.
"Ini milikmu?"
tanya Reynard.
Almira menggeleng.
"Bukan."
Reynard mengambilnya.
Kemudian membuka halaman pertama.
Dan ekspresinya langsung berubah.
Almira ikut melihat.
Lalu jantungnya berdetak lebih cepat.
Karena di halaman pertama terdapat logo Nusantara Connect.
Dan di bawahnya tertulis daftar transaksi internal yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
Lebih mengejutkan lagi...
Salah satu nama yang tercantum dalam dokumen tersebut sangat mereka kenal.
Nama itu bukan milik staf gudang.
Bukan milik perusahaan teknologi.
Bukan pula milik karyawan proyek.
Melainkan salah satu direktur senior yang berada di lingkaran dalam kerja sama mereka.
Seseorang yang seharusnya tidak terhubung dengan data tersebut.
Mobil mulai bergerak meninggalkan gedung.
Sementara Almira dan Reynard saling menatap.
Mereka akhirnya menemukan sesuatu.
Sesuatu yang nyata.
Sesuatu yang berbahaya.
Dan mungkin...
Sesuatu yang akan mengubah seluruh arah penyelidikan mereka.