NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08

Dengan modal empat ratus lima puluh tael, Bai Anshu dan Bai Hanzi pergi berbelanja semua kebutuhan rumah tangga dan pembuatan sabun.

Lokasi pertama yang dituju adalah toko biji-bijian.

Beras poles wangi, gandum putih, tepung terigu, millet, semua dibeli masing-masing tujuh puluh kati dan menghabiskan satu tael seratus wen.

"Kakak, ini berat. Kita antarkan dulu pada paman Dayan ya..?"

"Ayo...!"

Bagi Bai Anshu, beban di punggungnya tidaklah berat, sebab ia memiliki kekuatan kayu dengan pondasi tubuh yang kokoh.

Namun untuk Hanzi, bocah itu masih ringkih karena proses detoks tubuhnya belum selesai seluruhnya.

"Paman Dayan, kami titip ini semua dulu ya..?" kata Anshu begitu sampai digerobak sapi.

Pei Dayan mengiyakan "sini, biar paman rapikan..!"

Semua biji-bijian diturunkan kekabin gerobak, setelahnya dua bersaudara kembali berbelanja.

Garam, gula merah dan batu, kecap, arak beras, kertas minyak, dibeli dalam jumlah banyak sampai menghabiskan empat tael perak.

Peralatan tulis lengkap juga Anshu dan Hanzi borong untuk keperluan belajar mereka.

"Bagaimana kalau kita membeli baju dan sepatu..?" tanya Anshu, melihat sebuah toko kain yang sepi pengunjung.

"Aku terserah kakak saja." jawab Hanzi.

Bai Anzhu menggandeng tangan sang adik, membawanya ketoko yang ia incar.

Gadis kecil berusia kisaran sepuluh tahun menyambut kakak beradik itu.

Didalam ada sepasang suami istri dengan seorang remaja pria yang duduk lemah dikursi roda.

"Selamat datang saudara perempuan, adik...!"

"Salam nona...!" balas Anshu dan Hanzi.

Sang nyonya bangkit, turut serta menyapa.

"Apa yang nona dan tuan muda kecil butuhkan..? toko kami menyediakan banyak pilihan." kata wanita pemilik toko.

"Nyonya, aku ingin membeli dua puluh kati kapas, dua set perlengkapan jahit, lima jubah, sebelas selimut, lima gulungan kain katun halus, enam gulungan kain katun kasar, sebelas pasang sepatu, dan sepuluh pakaian jadi." kata Anshu.

Pemilik toko jelas saja kaget, mana bisa bocah seusia putri bungsunya dengan pakaian tambal sulam dan aus, membeli sebanyak itu.

"Ah, nona muda, silahkan pilih mana yang kau sukai."

Ayah, ibu dan putri, berlomba menurunkan semua kain dengan motif berbeda yang diminta oleh pelanggannya.

Pilihan Bai Anshu jatuh pada setiap kain dengan warna-warna lembut bermotif bunga serta polos.

Alas kaki juga ia ambil sesuai nomor, memperkirakan dari tinggi dan besar badan orang yang ingin ia hadiahkan.

Tuan toko menghitung cepat menggunakan sempoanya, setelah seluruh pilihan Anshu dan Hanzi terkumpul.

"Nona muda, semuanya empat puluh tujuh tael sembilan puluh sen. Untuk harga langganan, yang sembilan puluh koin kami hilangkan." kata tuan toko meringis.

Dalam hati pemilik butik itu, kesemuanya ragu apakah dua bocah customernya ini mampu membayar.

Ibarat berjudi, mereka mengandalkan keberuntungan.

Jika cuma dipermainkan, tinggal maki atau lempar saja kedua bocah gila ini.

Bai Anshu mengeluarkan selembar uang kertas lima puluh tael dari dompetnya.

Wajah-wajah tegang skeptis pemilik toko, sontak saja berbinar terang begitu uang pembayaran ditangan.

Nyonya toko dan putrinya menyusun belanjaan kakak beradik kekeranjang dengan teramat rapi.

"Ini produk terbaru dari toko kami, semoga nona muda menyukainya." tuan toko memberikan bonus dua kantung uang satin dengan bordiran taburan bintang kecil.

"Woah, cantik sekali. Terimaksih tuan, terimakasih..!" ucap Anshu bersemangat.

Sebelum pergi, Bai Anshu menguliti raga remaja lelaki secara menyeluruh.

"Patah kaki dengan tulang hancur. Bisa disembuhkan melalui operasi."

"Nyonya, tuan, bolehkah aku memeriksa kaki tuan muda..?"

Alis pasangan suami istri menukik tajam, menatap penuh selidik dan waspada pada Bai Anshu.

Remaja lelaki pun sama, menghunuskan tatapan dingin pada bocah perempuan seusia adiknya itu.

"Em, kebetulan aku mengerti beberapa tehnik ilmu pengobatan. Jika kalian percaya, mungkin aku bisa membantu."

"Heh, kau jangan coba-coba menipu kami. Tabib ilahi saja tidak bisa menyembuhkan aku, apa lagi bocah ingusan sepertimu." sahutan garang lelaki remaja dari kursi rodanya.

"Ada pepatah mengatakan, jangan dilihat dari penampilan luarnya atau dari nama besar seseorang, sebelum kita mengenalinya dengan baik. Karena apa yang ada dipermukaan belum tentu itu yang sebenarnya." balas santai Bai Anshu.

Wajah keluarga pemilik toko terperangah, memindai sekali lagi visual Ansu dan Hanzi dari ujung kaki hingga kepala.

Seharusnya kedua bocah ini adalah anak seorang petani. Tapi bagaimana bisa bahasa dan perilaku keduanya bak putri bangsawan.

Orangtua serta kedua anaknya kompak terbatuk kecil, sebelum memulihkan ekspresi mereka.

"Nona muda, kalau memang kau mengerti tentang pengobatan, cobalah lihat kaki putraku." izin dari nyonya toko.

Sekali lagi, mereka akan berjudi.

Kalau memang bocah ini bisa merubah diagnosa sepuluh tabib yang sebelumnya sudah mereka undang, itu adalah sebuah keberkahan.

Meski enggan, lelaki remaja akhirnya mengizinkan Anshu memeriksa kakinya.

Dengan bantuan kekuatan kayu, sangat mudah bagi Bai Anshu mempelajari cidera parah itu.

"Mata kaki bergeser, tulang kering patah menjadi lima bagian, kondisi ini sudah berlangsung selama enam bulan." ucap Bai Anshu.

Mimik wajah melongo dari keempat pemilik toko tersaji didepan iris mata Anshu dan Hanzi.

"Bisa sembuh dengan rekontruksi ulang melalui operasi. Proses penyembuhan sampai bisa berjalan lagi paling cepat enam bulan lambatnya satu tahun."

"Benarkah...?"

Bai Anshu mengangguk yakin.

"Nona muda, kau sedang tidak bercanda kan..?"

"Tentu saja tidak." jawab tegas Anshu.

Senyum merekah terbit dari bibir pemilik toko. Bahkan si nyonya sudah menguraikan airmata karena ada secercah harapan bagi kesembuhan putra kebanggaannya.

"Untuk saat ini aku belum memiliki pisau bedah, tapi aku bisa memberikan obat untuk memperbaiki sel dan otot yang cidera."

"Nona, tolong berikan itu kepada kami." pinta tuan toko.

"Datanglah kedesa Huanshan besok, namaku Bai Anshu. Nanti malam aku akan meracik obatnya."

"Baik nona muda, terimakasih...!"

Kakak beradik pamit, mengantarkan belanjaan kegerobak sebelum kembali pergi membeli susu domba, daging dan lemak babi, roti daging, serta beberapa kotak kue.

Dalam perjalanan pulang, Anshu membagikan dua roti daging dan sekotak kue pada para penumpang serta putra kepala desa.

"Paman Dayan sangat ahli menyelam dan berenang, bisakah paman nanti mencarikan aku kerang air tawar..?" pinta Anshu.

"Kerang air tawar...?"

Anshu mengangguk "yang ukurannya setelapak tangan paman, dua koin untuk satu kerang."

"Shu-ya, apa kau serius..?" tanya kompak orang-orang digerobak.

"Ya, aku membutuhkan banyak."

"Kalau putraku ikut mencari bagaimana..?"

"Ya, suamiku juga..?"

"Boleh, siapa pun yang mau mengumpulkannya akan aku berikan upah."

Bai Anshu menjabarkan kriteria kerang yang ia inginkan.

Wajib besar, segar dan dalam kondisi hidup.

"Sesampainya dirumah aku akan memberitahu suamiku." ucap bersemangat bibi Gong.

Ibu-ibu yang lain pun menyahuti dengan penuh kegembiraan.

Setibanya didesa, Pei Dayan mengantarkan dua bersaudara Bai sampai didepan tempat tinggal mereka, sebab belanjaan keduanya sangat banyak.

Sepuluh wen ongkos yang diberikan Bai Anshu, berikut dengan bonus sekotak kue, dua roti daging dan satu kati gula batu.

1
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
Dewiendahsetiowati
kayak dikit deh authornya nulis,apa ceritanya bagus jadi gak sadar sudah habis bacanya😭😭
SENJA
bagus jangan kasih kendor
Erna Fkpg
nah kan nyesel dikasih bisnis besaralah meremehkan karena pakaian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!